17 Agustus: Merdeka Tapi Tidak Independen | ||
| ||
“Saya harap Anda tidak memikirkan kolonialisma dalam bentuk klasik sebagaimana yang diketahui baik oleh kami bangsa Indonesia, maupun oleh saudara-saudara kami dari berbagai bagian Asia dan Afrika. Kolonialisme juga memiliki penampilan yang modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan juga kontrol fisik yang dilakukan sekelompok kecil orang asing dalam sebuah bangsa. Kolonialisme adalah musuh yang sangat pintar dan ambisius, dan dia muncul dalam berbagai kedok. Kolonialisme tidak menyerahkan (bangsa) jarahannya dengan begitu saja. Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kolonialisme itu menampilkan dirinya, dia tetaplah sesuatu yang jahat, dan dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini.”
Kini, setelah 57 tahun berlalu sejak Sukarno menyampaikan pidato yang heroik itu, bangsa Indonesia tak kunjung lepas, bahkan semakin dalam berada dalam cengkeraman, dari kolonialisme modern. Kolonialisme modern itu kini muncul dengan istilah-istilah yang terasa keren, seperti Structural Adjustment Programme, soft loan, foreign investment, atau liberalisme pasar. Kolonialisme modern itu muncul dalam bentuk ratifikasi UU yang tunduk pada penjajahan organisasi internasional. Misalnya, Indonesia sejak tahun 1994 telah menjadi anggota WTO dan diratifikasi dengan UU no. 7 tahun 1994. Namun, meskipun WTO mengklaim bahwa tujuan organisasi ini adalah “to improve the welfare of the peoples of the member countries” (untuk meningkatkan kemakmuran bangsa-bangsa negara anggota), kenyataannya, 18 tahun setelah begabung dengan WTO, Indonesia semakin lama justru semakin bergantung pada produk pangan impor. Negeri yang subur serta memiliki curah hujan tinggi dan banyak sumber daya manusia ini, setiap tahunnya harus menganggarkan dana sebesar 50 trilyun rupiah untuk mengimpor kedelai, gandum, daging sapi, susu, gula, bahkan garam. Indonesia, negara dengan garis pantai terpanjang di dunia; negara yang seharusnya kaya garam, justru per tahunnya mengimpor garam senilai 900 milyar rupiah.
Lalu, kemana para petani kita? Mengapa negeri yang subur ini harus mengimpor bahan pangan? Sebabnya, karena Indonesia tunduk pada Perjanjian Pertanian (AOA, Agreement on Agriculture). Melalui AOA, WTO mewajibkan negara-negara anggotanya untuk membuka pasar domestik untuk barang-barang impor dan sebaliknya, negara-negara anggota juga berhak melakukan ekspor ke negara manapun. Secara garis besar, ada tiga bidang yang diatur oleh AOA, yaitu: market acces (mewajibkan negara-negara menurunkan tarif dasar impor pertanian), domestic support (mewajibkan dibatasinya subsidi dan proteksi pemerintah terhadap sektor pertanian dalam negeri), dan export subsidy (mewajibkan dibatasi atau bahkan dihapuskannya subsidi ekspor produk pertanian).
Dua eksportir utama pertanian dunia, yakni AS dan Uni Eropa sangat diuntungkan oleh perjanjian seperti ini. Karena tarif dasar impor diturunkan, mereka bisa menjual produk mereka dengan harga murah di negara-negara berkembang. Sebelum adanya aturan AOA, umumnya produk impor dikenai pajak tinggi, sehingga harganya lebih tinggi dari produk dalam negeri. Dengan demikian, konsumen harus memilih: membeli produk impor yang berharga mahal namun berkualitas tinggi, atau produk lokal dengan harga murah meski kualitasnya tak sebagus produk impor. Namun, adanya penurunan tarif impor membuat harga barang impor seringkali malah lebih murah dari produk lokal. Akibatnya, produsen pertanian dalam negeri mengalami kerugian dan kemunduran. Selain itu, larangan subsidi dan proteksi terhadap pertanian membuat para petani menjadi rentan. Harga produk mereka fluktuatif, ketersediaan benih dan pupuk juga tidak terjamin dan harganya tidak stabil. Petani Indonesia juga tidak mendapatkan subsidi ekspor sehingga jika mereka mengekspor produk, harganya akan mahal sehingga sulit bersaing dengan produk dari AS atau Uni Eropa. Apalagi, petani-petani Indonesia umumnya miskin, memiliki lahan yang sempit, tidak terorganisasi, dan lemah. Sebaliknya, AS dan Uni Eropa justru melakukan pelanggaran terhadap AOA dengan tetap mensubsidi petani. Selain itu, mereka juga memiliki teknologi pertanian yang maju, modal yang besar, dan struktur organisasi yang kuat. Karena itulah mereka berhasil membanjiri negara-negara berkembang dengan produk-produk pertanian mereka, yang harganya lebih murah dari produk lokal. Dalam persaingan pasar bebas seperti ini, jelas petani Indonesia semakin tersingkir. Pemerintah yang seharusnya melindungi mereka, malah lebih tunduk kepada penjajah yang berkedok organisasi internasional. Kolonialisme modern hari ini juga muncul dalam kedok pakar-pakar ekonomi yang telah dididik puluhan tahun di negara-negara Barat, lalu mereka mendidik ekonom-ekonom di Indonesia dengan tesis-tesis yang menyesatkan. Mereka menjadi pejabat, peneliti, dan dosen, yang berkoar-koar bahwa kemajuan ekonomi akan bisa dicapai bila para pelaku pasar dibiarkan bebas tanpa intervensi pemerintah. Faktanya, para pelaku ekonomi yang kuat, melakukan berbagai intervensi kepada pemerintah Indonesia bahkan sejak pembuatan undang-undang. Mereka membiayai pembuatan UU di Indonesia, dengan imbalan hutang. Dalam posisi bargaining yang lemah ini, kalaupun pemerintah berniat intervensi demi membela rakyatnya sendiri, juga tetap akan kalah. Rizal Ramli (2012) menuliskan contoh-contoh kasus pembuatan UU yang dibiayai oleh hutang luar negeri. Asian Development Bank menawarkan pinjaman U$300.000.000,00 dengan syarat Pemerintah Indonesia membuat Undang- Undang Privatisasi BUMN. Bank Dunia memberikan pinjaman U$400.000.000 dengan syarat Indonesia membuat Undang-Undang Privatisasi Air. Melalui UU ini, air yang seharusnya dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat (berdasarkan UUD 1945) malah diswastanisasi. Begitu pula Undang-Undang Migas. Ketika undang-undang dalam negeri dibiayai asing (itupun dalam bentuk hutang yang harus dibayar berikut bunganya), hampir pasti isinya akan berpihak kepada asing, bukan kepada rakyat. Sungguh ini sebuah penjajahan yang terang-terangan, namun entah mengapa tak disadari oleh para pakar ekonomi itu. Ketika UU persaingan bisnis sudah ‘diatur’, dimanakah letak keadilan dalam ‘kebebasan pasar’? Tak heran bila Stiglitz (2002) mengumpamakan kebebasan pasar ini sebagai berikut, “Negara-negara berkembang dan miskin bagaikan kapal layar kecil yang langsung disuruh berlayar di lautan buas, padahal lubang-lubang di kapal itu belum ditambal, kaptennya belum di-training, dan pelampung/alat pengaman belum dipasang di kapal kecil itu.” Penjajahan hari ini, tidak lagi dilakukan oleh tentara asing, melainkan muncul dalam bentuk perusahaan multinasional. Mereka merangsek pasar Indonesia. Pengusaha domestik tersingkir karena tak kuat bersaing. Mulai dari penghapus pensil dan serutan pensil, hingga air mineral, teh, gula, rokok, sabun, pasta gigi, komputer, danhandphone, semua disediakan oleh perusahaan-perusahaan asing (atau perusahaan lokal yang dimiliki asing). Indonesia hanya menjadi pasar dan penyedia sumber daya murah bagi perusahaan multinasional itu. Yang lebih jahatnya, perusahaan-perusahaan multinasional itu lebih suka menguasai modal, bukan properti. Dengan cara ini, mereka lebih leluasa memindahkan modalnya kemanapun yang lebih menguntungkan. Ngaire Woods (2001) menyebutnya, footloose modern bussiness, dimana pemodal dengan mudah keluar dari sebuah negara bila pemerintah negara itu tidak memberlakukan kebijakan liberal yang menguntungkan mereka. Hari ini pemodal bisa buka pabrik di negara A, namun bila esok hari negara B yang menawarkan upah buruh lebih rendah, dia akan menutup pabrik di A dan buka pabrik di negara B. Sama sekali tidak dipedulikan bagaimana nasib para buruh yang secara mendadak menjadi penganggur. Bahkan, untuk menghindarkan diri dari kewajiban UU Tenaga Kerja, para pemilik modal memberlakukan sistem outsourcing dan sistem kontrak. Misalnya, untuk tenaga kebersihan, perusahaan A tidak langsung mempekerjakan pegawai, melainkan memakai jasa perusahaan kebersihan. Perusahaan kebersihan ini yang merekrut pegawai untuk kemudian bekerja di perusahaan A. Para pegawai itu mendapat gaji dari perusahaan kebersihan, bukan dari perusahaan A. Perusahaan kebersihan pun umumnya menggunakan sistem kontrak, per-3 bulan, atau bahkan per bulan, sehingga si pegawai sewaktu-waktu bisa kehilangan pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Sistem ini tak lebih dari perbudakan abad modern. Bila uraian ini dilanjutkan lagi, saya rasa, saya tak sanggup menahan air mata. Jadi, mari kita kembali kepada pidato Sukarno di depan Konferensi Asia Afrika. Lima puluh dua tahun yang lalu, Sukarno telah memperingatkan bahwa kekuatan kolonial tidak akan begitu saja melepaskan bangsa jarahannya. Mereka sepakat untuk menarik mundur pasukan bersenjata mereka. Namun, penjajahan puluhan tahun telah berhasil menginternalisasi nilai-nilai penjajahan kepada kaum pribumi. Inilah yang dianalisis Fanon dalam bukunya “Black Skin, White Mask”. Kolonialisme justru diinternalisasi oleh bangsa terjajah sehingga mereka justru punya mentalitas penjajah, dan bahkan ingin untuk menjadi mirip (menyamai) penjajah. Mereka silau dan kagum pada penjajah dan memandang apa-apa yang datang dari penjajah (=Barat) adalah sesuatu yang hebat dan benar. Pada perayaan 17 Agustus di tahun 2012 ini, kita perlu menyadari, bahwa kita sudah merdeka dari penjajahan bersenjata, tapi belum independen. Kita masih bergantung kepada para penjajah, masih mengagumi mereka, dan bahkan masih menjadi budak mereka. Lalu apa yang harus kita lakukan? Agaknya, kesadaran diri, kebangkitan harga diri, dan kemauan untuk melepaskan diri dari hegemoni pemikiran kaum penjajah adalah kuncinya. Ingatlah kata Sukarno, “Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kolonialisme itu menampilkan dirinya, dia tetaplah sesuatu yang jahat, dan dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini.” | ||
Senin, 20 Agustus 2012
Jumat, 17 Agustus 2012
| Suriah dan Kebohongan Media Mainstream | |
Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.
| |
Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.
Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC. Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias. Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah. Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut. Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer." Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci." Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun. Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika. Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar. Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO. TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar. Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi. Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. | |
Rabu, 15 Agustus 2012
Sosok Dibalik Bos Besar SBY dan Demokrat
Hartati Murdaya Poo, Wanita Paling Sakti di Indonesia
Saya pernah ungkap siapa itu Hartati Murdaya Poo. Wanita paling sakti di Indonesia. Majikan SBY & Ani SBY. Pernah juga jadi majikan Megawati. Kenapa Hartati Murdaya disebut sebagai Majikan SBY, Ani SBY atau Megawati? Karena mereka bisa berkuasa jadi presiden karena uang Hartati MP. Sebagai konglomerat, Hartati dan suaminya royal membantu dana politik untuk capres-capres atau partai-partai besar seperti PDIP dan Demokrat. | |
Akhir 2003, Hartati mendapatkan "petunjuk ilahi" bahwa masa keemasan Megawati akan berakhir. SBY akan jadi penguasa baru. Tanda-tanda alam sudah ada. Hartari yang dulu sangat akrab dengan Megawati, pelan-pelan tarik diri. Mulai jarang main ke istana atau kemanggisan. Dia mulai dekati SBY & Ani SBY. Tapi suami Hartati, Murdaya Poo tetap jaga gawang. Tetap tempel Mega dan Taufik Kemas. Jaga-jaga jika Mega masih terpilih jadi Presiden.
Puncaknya ketika Mega marah besar pada SBY karena SBY menipu Megawati 4 kali tentang niat atau rencana SBY maju dalam pilpres 2004. SBY sebagai menkopolhukam ditanya 4 kali oleh Presiden Mega apakah ada rencana maju dalam pilpres atau tidak. SBY dengan tegas jawab : TIDAK ! Namun ternyata, intelejen dan staf-staf Megawati lapor bahwa SBY terus secara intensif buat persiapan untuk maju nyapres melalui Partai Demokrat. Megawati marah. Tidak mau lagi ajak SBY keliling daerah. Tidak undang SBY dalam rapat-rapat kabinet. SBY dicuekin. SBY pun ngambek dan mengadu ke pers.
Curhat dan keluh kesah SBY atas perlakuan "zalim" Presiden Megawati dimuat berbagai media nasional. SBY mengeluh dicuekin Megawati. Curhat Menkopulhukam SBY itu langsung direspon oleh Bapak Negara Taufik Kemas dengan ejekan SBY : SBY Jenderal Cengeng !! Media muat sebagai headline. Akibat ejekan Taufik Kemas terhadap SBY yang dimuat besar-besaran oleh media massa, popularitas SBY melambung. Meroket. SBY dapat simpati pers & rakyat.
Kemudian SBY undurkan diri sebagai Menkopolhukam kabinet Gotong Royong Megawati. SBY masih terlunta-lunta. Dia dikasih kantor dan modal oleh Hartati. Dengan mundurnya SBY sebagai menkopolhukam, Partai Demokrat yang tadinya hanya diurus oleh Ani SBY dan Subur Budhisantoso pun mulai dilirik SBY. SBY semula tak yakin dan tak percaya debgan partai demokrat. Tidak mau mengurus dengan serius. Ketum PD Prof Subur sering mengeluh minimnya perhatian SBY pada PD. Tapi Ani SBY selalu yakinkan Prof Subur : "wes Prof ga usah mikirin SBY. Ntar SBY urusan saya. Kita bangun aja PD baik-baik. Ntar Bapak juga ikut".
Saat itu yang banyak bantu pendanaan partai demokrat adalah Hartati & Ventje. Hartati akrab banget dengan SBY & Ani SBY. Kemana-mana selalu bersama-sama. Ketika Hartati berhasil peroleh kredit haram 1.5 triliun dari Bank Mandiri dengan agunan tanah asset negara 33 ha di kemayoran, dia juga bantu PD. Diduga keras sebagian uang haram 1.5 Trilium dari bank mandiri itu masuk ke PD. Hanya 200 M yang digunakan untuk bangun kompleks PRJ. Selain diduga mengalir ke Partai Demokrat, uang haram 1.5 Triliun itu juga digunakan untuk take over 40% saham PT. Metropolitan Kencana.
Jadi, bisa dikatakan, Hartati Mudaya Poo ini adalah pemegang saham mayoritas di Partai Demokrat. Owner PD. Posisinya pun sekarang Dewan Pembina. Ketika SBY berkuasa jadi Presiden RI, Hartati Murdaya adalah Ratu Republik Indonesia. Semua proyek pemerintah & BUMN tak lepas dari tangannya. Pejabat-pejabat tinggi, menteri, dirjen, kepala Lembaga, direksi BUMN dan seterusnya tidak ada yang berani sama Hartati. Melawan? Pecat !
Hartati hanya tidak berkutik jika berhadapan dengan kepala daerah non Demokrat karena tangan kekuasaan SBY tidak sampai kesana seperti Bupati Buol. Kini Hartati sudah jadi tersangka kasus Suap Buol. KPK akan segera tahan. Buruaaaan !! Ntar HMP kabur dan KPK RI tidak bisa kembangkan kasus lain. Jika KPK RI kembangkan kasus korupsi HMP, rakyat RI pasti akan geger. Korupsinya dimana-mana sejak 15 tahun terakhir ini. SBY terancam jatuh ! Puluhan bahkan ratusan pejabat tinggi republik ini bakal nyusul jadi tersangka bersama HMP. Ada juga kasus korupsi bea masuk 300 M. Kasus korupsi bea masuk film Impor 300 M itu sempat heboh di media massa. Terus hilang lenyap karena intervensi HMP. Dirjen BC dipecat !
Jika KPK RI serius mau usut kasus korupsi HMP yang jumlahnya berjibun dan kerugian negara puluhan triliun itu, DPR harus dukung KPK RI. DPR harus segera cairkan anggaran KPK untuk sewa atau beli gedung baru dan rekrut ratusan penyidik. Indonesia gonjang ganjing, istana gempa ! Saya cukupkan dulu tentang HMP. Tidak boleh terlalu detail. Nanti KPK tidak bisa bekerja dan istana/cikeas mencak-mencak sama saya.
Sepak Terjang Kompol Gatot Subroto & Hubungannya Dengan Keluarga Cikeas
Yang menjadi Bendahara kelompok pengajiannya keluarga SBY adalah Kompol Gatot Subroto yang sekampung dengan SBY di Pacitan, Jatim. Kompol Gatot Subroto ini awalnya bintara polisi yang ambil Secapa Polri. Hebatnya, Kompol Gatot Subroto menduduki jabatan Kasie Satpas SIM Polda Metro Jaya di Jl. Daan Mogot sejak th 2004-2010. Bayangkan dia duduki jabatan basah dan empuk selama 6 tahun, melintasi 5 Kapolda Metro Jaya. Kompol Gatot Subrto menjabat Kasie Satpas SIM Polda Metro th 2004 sejak Kapolda-nya Irjen Firman Gani, Irjen Adang Firman, Irjen Wahyono, Irjen Timur Pradopo dan Irjen Sutarman.
Jarang ada Kasie SIM menjabat selama itu, tak sembarangan orang bisa menjabatnya. Jika tidak ada bekingan orang kuat dan uang banyak, jabatan Kasie SIM hanya sebatas mimpi. Soal kemampuan nomor dua, disini tidak berlaku aturan resmi. Kompol Gatot Subroto ini sering salah tingkah dan memerah wajahnya kalau diledek… “Anda layak dapat penghargaan MURI dan Guiness Book of Record”.
Suatu ketika, Kompol Gatot Subroto pernah menjawab ketika ditanya mengenai ini, katanya: “Begini, saya ini memang ahlinya ilmu perkalian, penambahan dan pembagian, makanya saya dipercaya menduduki jabatan itu cukup lama. Setiap hari Satpas SIM Polda Metro sedikit mengeluarkan 3.000 SIM baru, belum lagi SIM perpanjangan. Sudah menjadi rahasia umum kalau mengurus SIM sendiri itu susahnya minta ampun . Tapi urus melalui biro jasa dijamin lulus, asal mau bayar Rp 500rb (SIM C) dan paling murah Rp 800rb (SIM A). Belum SIM kategori lain, kebayang setoran Biro Jasa ke Satpas SIM…
Yang lebih hebat lagi, begitu Kompol Gatot Subroto selesai menduduki jabatan Kasie Satpas SIM pada th 2010. Diapun langsung menduduki jabatan yang lebih #basah dan empuk di Direktorat Lalulintas Polda Metro. Yaitu menjadi Kasie STNK Polda Metro Jaya hingga sekarang. Anehnya lagi, posisi Kasie STNK yang sebelumnya Pos Kompol, ketika dijabat Gatot kok menjadi AKBP. Why?
Saking hebatnya Kompol Gatot Subroto ini, pada acara perpisahannya sebagai Kasie SIM Polda diadakan pesta yg sangat mewah. Kompol Gatot Subroto yang juga mantan Kasatlantas Bekasi ini pernah menolong “muka” Irjen Pol Djoko Soesilo. Irjen Pol Djoko Soesilo saat itu menjabat sebagai Dirlantas Polda Metro Jaya. Irjen Pol Djoko Soesilo ini dulu sempat tersandung kasus jual beli bantuan khusus nomor cantik Sekretariat Negara. Beberapa tahun lalu marak jual beli dua angka nomor cantik nopol bantuan Sekneg oleh Ditlantas Polda Metro Jaya. Nomor cantik ini sebetulnya TIDAK utk diperjual belikan ke masyarakat umum & hanya diperuntukkan bagi pjbt Negara. Tidak tanggung-tanggung, dua nomor cantik ini harganya cukup fantastis, bisa sampai Rp 100 – Rp 200 juta. Nah uang dari hasil jual beli nomor cantik ini tidak masuk ke kas Negara dan masuk ke kantong pejabat Ditlantas Polda Metro Jaya.
Kompol Gatot Subroto yang dekat dengan Seskab Sudi Silalahi ini berperan dalam menyelamatkan posisi Djoko. Karena jasa besar Kompol Gatot Subroto inilah Irjen Pol Djoko Soesilo menghadiahi Gatot sebagai Kasie SIM. Itulah sekelumit kisah andalan anak kesayangan Irjen Djoko Soesilo karena hubungan #khusus Kompol Gatot dengan Cikeas.
Sumber: @TrioMacan2000Rakyat
| |
Minggu, 05 Agustus 2012
PEMBANTAIAN ATAS NAMA "DEMOKRASI" DI SYRIA
Bandingkan 2 peristiwa berikut yang terekam kamera dan beredar di mesia massa internasional. Yang pertama adalah gambar mayat-mayat pemberontak yang masih mengenakan seragam tempur lengkap dengan peluru melekat di pinggang. Gambar tersebut dirilis oleh pemerintah Syria.
Kemudian gambar berikutnya, video yang baru saja beredar di media-media massa online yang dirilis oleh pemberontak di Aleppo: Sekelompok orang berpakaian sipil diseret ke sebuah tempat lapang di bawah terik matahari. Pakaian mereka berlepotan darah yang masih mengalir dari tubuh mereka setelah menjalani "interogasi". Orang-orang bersenjata (pemberontak) berteriak-teriak di sekeliling mereka, "Allahu Akbar!". Sebagian lainnya berteriak, "Hidup Free Syrian Army!" Di sudut lain sebagian pemberontak mengabadikan peristiwa itu dengan "smartphone" mereka. Selanjutnya para tawanan itu dihadapkan pada tembok, dan tidak lama kemudian seorang eksekutor menembak kepala orang-orang itu dari jarak dekat.
Ada perbedaan mencolok antara kedua rekaman video tersebut di atas. Yang pertama adalah tentara Syria membunuh pemberontak bersenjata dalam pertempuran sengit. Sedang yang kedua pemberontak membunuhi warga sipil tak bersenjata. Meski pemberontak mengklaim mereka adalah anggota milisi pendukung pemerintah, tuduhan itu tentu saja tidak bisa diverifikasi. Lagipula banyak kasus dimana pemberontak membunuhi warga sipil hanya karena mereka menolak membantu pemberontak, atau sekedar untuk menakut-nakuti warga untuk tidak berani melawan perintah mereka. Di kantong-kantong pertahanan pemberontak yang terkepung, pemberontak biasa menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup. Dalam kasus-kasus lainnya pemberontak menculik warga demi mendapat imbalan makanan dan uang dari keluarga korbannya, namun mengembalikan mereka sudah dalam keadaan meninggal meski keluarganya sudah memberikan apa yang mereka tuntut. Motivasi lainnya dengan pembunuhan-pembunuhan itu adalah menakut-nakuti warga sehingga mereka lari dari kampung halamannya untuk menjadi pengungsi di negara lain sehingga tuduhan bahwa "pemerintah telah menindas rakyat sendiri", terlegitimasi. Untuk menambah ketakutan, pembunuhan itu terkadang dilakukan dengan cara-cara di luar bayangan: mutilasi, membedah perut wanita hamil dan mengeluarkan janinnya.
Inilah orang-orang yang oleh media-media massa barat awalnya disebut sebagai "demonstran tak bersenjata". Kemudian setelah terdapat terlalu banyak "demonstran tak bersenjata" yang memegang senjata, mereka disebut sebagai "aktifis bersenjata" dan "pejuang demokrasi melawan pemerintah yang represif". Mereka adalah orang-orang yang dilatih, diberi gaji dan senjata oleh negara-negara barat, Turki dan beberapa negara Arab.
Korban dalam video ekskusi pemberontak di atas adalah keluarga atau suku Al Berri, salah satu keluarga besar di Aleppo. Pemuka mereka yang turut dieksekusi bernama Hassan Berri Bin Zino.
Pada akhir bulan Mei lalu, lebih dari 100 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, dibantai secara keji. Anak-anak diberondong senapan dan digorok lehernya saat tengah tidur. Awalnya media massa menuduh pembantaian itu dilakukan oleh pasukan pemerintah dan milisi pendukungnya. Sebagian besar masyarakat awam di seluruh dunia percaya, dengan tuduhan itu, meski bagi yang mampu berfikir kritis sedikit saja akan mempertanyakan tuduhan itu. Bagaimana mungkin pemerintah yang terancam mendapat serangan intervensi asing melakukan aksi yang justru mengundang intervensi itu?
Namun kemudian kebenaran terkuak, pembantaian itu dilakukan oleh para pemberontak, dan korbannya sebagian besar adalah masyarakat sipil yang tidak mendukung pemberontak. Namun akan-anak kecil yang tidak mengerti apapun itu, dibantai juga.
Bulan lalu media-media massa ramai memberitakan tentang pembantaian di desa Tremseh. Kembali media massa dan para pejabat barat menuduh pemerintah Syria sebagai pelakunya. Namun kemudian terbukti bahwa para korban "pembantaian" adalah pemberontak bersenjata yang tewas melaui pertempuran sengit melawan pasukan pemerintah. Para pemberontak itu sebelumnya meneror warga Tremseh, yang kemudian meminta bantuan pada pasukan pemerintah terdekat.
Kini setelah kekejaman-kekejaman itu begitu gamblang dilakukan oleh pemberontak, media dan pemerintah negara-negara barat berusaha "cuci tangan" dengan mengklaim bahwa hanya sebagian kecil dari pemberontak yang merupakan teroris Al Qaida. Namun video pembantaian di Aleppo tersebut di atas membuktikan bahwa tidak ada yang bisa membedakan antara Al Qaida dengan para "pejuang demokrasi".
Berbagai tindak kekejian tersebut di atas merupakan refleksi dari tindakan orang-orang yahudi kala mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya dahulu. Cara-cara seperti itu pulal-ah yang dilakukan orang-orang arab badui munafik kala membantai keluarga Rosulullah di Karbala dahulu kala. Dan kini, kedua golongan itu bersekutu membantai rakyat Syria. Namun Allah tidak pernah diam.
Ref:
"Cold-blood massacres in Syria exemplifies West’s ‘Pro-Democracy Movement’"; Finian Cunningham; Press TV; 2 Agustus 2012
Kemudian gambar berikutnya, video yang baru saja beredar di media-media massa online yang dirilis oleh pemberontak di Aleppo: Sekelompok orang berpakaian sipil diseret ke sebuah tempat lapang di bawah terik matahari. Pakaian mereka berlepotan darah yang masih mengalir dari tubuh mereka setelah menjalani "interogasi". Orang-orang bersenjata (pemberontak) berteriak-teriak di sekeliling mereka, "Allahu Akbar!". Sebagian lainnya berteriak, "Hidup Free Syrian Army!" Di sudut lain sebagian pemberontak mengabadikan peristiwa itu dengan "smartphone" mereka. Selanjutnya para tawanan itu dihadapkan pada tembok, dan tidak lama kemudian seorang eksekutor menembak kepala orang-orang itu dari jarak dekat.
Ada perbedaan mencolok antara kedua rekaman video tersebut di atas. Yang pertama adalah tentara Syria membunuh pemberontak bersenjata dalam pertempuran sengit. Sedang yang kedua pemberontak membunuhi warga sipil tak bersenjata. Meski pemberontak mengklaim mereka adalah anggota milisi pendukung pemerintah, tuduhan itu tentu saja tidak bisa diverifikasi. Lagipula banyak kasus dimana pemberontak membunuhi warga sipil hanya karena mereka menolak membantu pemberontak, atau sekedar untuk menakut-nakuti warga untuk tidak berani melawan perintah mereka. Di kantong-kantong pertahanan pemberontak yang terkepung, pemberontak biasa menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup. Dalam kasus-kasus lainnya pemberontak menculik warga demi mendapat imbalan makanan dan uang dari keluarga korbannya, namun mengembalikan mereka sudah dalam keadaan meninggal meski keluarganya sudah memberikan apa yang mereka tuntut. Motivasi lainnya dengan pembunuhan-pembunuhan itu adalah menakut-nakuti warga sehingga mereka lari dari kampung halamannya untuk menjadi pengungsi di negara lain sehingga tuduhan bahwa "pemerintah telah menindas rakyat sendiri", terlegitimasi. Untuk menambah ketakutan, pembunuhan itu terkadang dilakukan dengan cara-cara di luar bayangan: mutilasi, membedah perut wanita hamil dan mengeluarkan janinnya.
Inilah orang-orang yang oleh media-media massa barat awalnya disebut sebagai "demonstran tak bersenjata". Kemudian setelah terdapat terlalu banyak "demonstran tak bersenjata" yang memegang senjata, mereka disebut sebagai "aktifis bersenjata" dan "pejuang demokrasi melawan pemerintah yang represif". Mereka adalah orang-orang yang dilatih, diberi gaji dan senjata oleh negara-negara barat, Turki dan beberapa negara Arab.
Korban dalam video ekskusi pemberontak di atas adalah keluarga atau suku Al Berri, salah satu keluarga besar di Aleppo. Pemuka mereka yang turut dieksekusi bernama Hassan Berri Bin Zino.
Pada akhir bulan Mei lalu, lebih dari 100 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, dibantai secara keji. Anak-anak diberondong senapan dan digorok lehernya saat tengah tidur. Awalnya media massa menuduh pembantaian itu dilakukan oleh pasukan pemerintah dan milisi pendukungnya. Sebagian besar masyarakat awam di seluruh dunia percaya, dengan tuduhan itu, meski bagi yang mampu berfikir kritis sedikit saja akan mempertanyakan tuduhan itu. Bagaimana mungkin pemerintah yang terancam mendapat serangan intervensi asing melakukan aksi yang justru mengundang intervensi itu?
Namun kemudian kebenaran terkuak, pembantaian itu dilakukan oleh para pemberontak, dan korbannya sebagian besar adalah masyarakat sipil yang tidak mendukung pemberontak. Namun akan-anak kecil yang tidak mengerti apapun itu, dibantai juga.
Bulan lalu media-media massa ramai memberitakan tentang pembantaian di desa Tremseh. Kembali media massa dan para pejabat barat menuduh pemerintah Syria sebagai pelakunya. Namun kemudian terbukti bahwa para korban "pembantaian" adalah pemberontak bersenjata yang tewas melaui pertempuran sengit melawan pasukan pemerintah. Para pemberontak itu sebelumnya meneror warga Tremseh, yang kemudian meminta bantuan pada pasukan pemerintah terdekat.
Kini setelah kekejaman-kekejaman itu begitu gamblang dilakukan oleh pemberontak, media dan pemerintah negara-negara barat berusaha "cuci tangan" dengan mengklaim bahwa hanya sebagian kecil dari pemberontak yang merupakan teroris Al Qaida. Namun video pembantaian di Aleppo tersebut di atas membuktikan bahwa tidak ada yang bisa membedakan antara Al Qaida dengan para "pejuang demokrasi".
Berbagai tindak kekejian tersebut di atas merupakan refleksi dari tindakan orang-orang yahudi kala mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya dahulu. Cara-cara seperti itu pulal-ah yang dilakukan orang-orang arab badui munafik kala membantai keluarga Rosulullah di Karbala dahulu kala. Dan kini, kedua golongan itu bersekutu membantai rakyat Syria. Namun Allah tidak pernah diam.
Ref:
"Cold-blood massacres in Syria exemplifies West’s ‘Pro-Democracy Movement’"; Finian Cunningham; Press TV; 2 Agustus 2012
TENTARA SYRIA REBUT MARKAS PEMBERONTAK DI ALEPPO
Tentara Syria, hari Rabu (1/8), menyerbu dan berhasil merebut markas komando pemberontak yang terletak di distrik Salahuddin, Utara Aleppo, yang selama ini menjadi jantung pertahanan pemberontakan di kota terbesar di Syria ini.
Menurut laporan resmi pemerintah Syria, tentara berhasil merebut komplek sekolah yang selama ini dijadikan sebagai markas komando pemberontak dan menewaskan tidak kurang dari 150 pemberontak. Koresponden media Iran, "Press TV" melaporkan bahwa situasi di Aleppo kini mulai tenang menyusul direbutnya markas komando tersebut di atas. Namun pertempuran masih terjadi di pinggiran kota.
Sementara itu klaim media-media dan pejabat barat tentang penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh tentara pemerintah Syria terhadap pemberontak, terbantahkan sudah. Menurut jubir tim pengawas PBB di Syria, Sausan Ghosheh, pemberontak juga memiliki persenjataan berat yang membuat tentara pemerintah berhak menggunakan persenjataan beratnya. Menurut Ghosheh pemberontak memiliki tank-tank dan rudal jinjing. Pemberontak telah beroperasi di Aleppo sejak tgl 20 Juli, setelah mereka terdesak dan lari dari pertempuran di Damaskus.
Di sisi lain beredar video yang beredar di media-media online yang menggambarkan pemberontak mengeksekusi para pendukung pemerintah yang tertangkap, melanggar konvensi perang Genewa yang melindungi tawanan perang dan masyarakat sipil. Pemerintah Syria menuduh pemberontak telah melakukan "kejahatan-kejahatan yang mengerikan" terhadap rakyat sipil di Aleppo dan Damaskus.
Dalam 2 suratnya yang dikirim kepada DK PBB dan Sekjen PBB, menlu Syria Walid al-Muallem mengatakan, Selasa (31/7), bahwa pemberontak yang didukung dan dibiayai oleh Saudi, Qatar dan Turki, telah menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dan membunuhi rakyat sipil yang tidak mendukung mereka.
MAYAT PEMBERONTAK SENGAJA DIBAKAR
"Satu hari kami menerima 30, hari lainnya 40 orang terluka, tidak termasuk mayat. Beberapa hari lalu kami menerima 30 orang terluka dan sekitar 20 mayat, namun setengah dari mayat itu tidak bisa dikenali karena sudah hancur," kata seorang paramedis sebuah klinik yang berada di kawasan yang dikuasai pemberontak di Aleppo sebagaimana dikutip kantor berita "Reuters", tgl 30 Juli lalu.
Pernyataan paramedis tersebut seolah mengkonfirmasi berita-berita tentang mayat-mayat pemberontak yang sengaja dibakar sendiri oleh rekan-rekannya dalam upaya menyembunyikan identitas mereka mengingat sebagian besar dari mereka berkebangsaan asing.
Dari waktu ke waktu keberadaan pemberontak yang sebagian besar adalah orang asing, semakin jelas saja. Dari pengakuan fotografer Belanda Jeroen Oerlemans, yang pernah ditahan para pemberontak yang menyebut mereka "tidak satupun yang merupakan orang Syria", serta keberadaan Brigade Ummah, satuan pemberontak Libya binaan NATO, di medan perang Syria.
Tentu saja hal ini tidak "mengenakkan" negara-negara yang terlibat dalam konspirasi anti-Syria. Klaim mereka bahwa pemerintah Syria memerangi rakyatnya sendiri terbantahkan dengan keberadaan orang-orang asing itu. Maka untuk mengatasi terbongkarnya identitas kewarganegaraan pemberontak, diduga kuat para pemberontak sengaja membakar mayat rekan-rekannya beserta seluruh identitas yang melekat padanya. Media yang melaporkan modus "mengerikan namun menarik" itu di antaranya adalah "Press TV" Iran.
Namun demikian media-media barat pura-pura tidak mengetahui praktik keji tersebut. Alih-alih media-media barat lebih suka memberitakan pembelotan seorang diplomat Syria di Inggris, Khaled al-Ayoubi. Dengan ancaman, sogokan sekoper uang, dan janji menjadikannya pejabat tinggi setelah presiden Syria berhasil disingkirkan, tentu saja banyak orang-orang lemah yang bersedia melakukan pengkhianatan seperti Ayoubi dan banyak pejabat Syria lainnya yang terlalu lama hidup nyaman di luar negeri. Namun masih banyak pejabat dan perwira militer Syria yang loyal dan siap mempertahankan negaranya hingga titik darah penghabisan sebagaimana mereka bertempur di Damaskus, Homs dan kini di Aleppo.
Sumber:
thetruthseeker.co.uk; 30 Juli 2012
Press TV, 2 Agustus 2012
"Aleppo rebels under fire, Syrian fighter jet flies over"; Erika Solomon; Reuters; 30 Jul 2012
Menurut laporan resmi pemerintah Syria, tentara berhasil merebut komplek sekolah yang selama ini dijadikan sebagai markas komando pemberontak dan menewaskan tidak kurang dari 150 pemberontak. Koresponden media Iran, "Press TV" melaporkan bahwa situasi di Aleppo kini mulai tenang menyusul direbutnya markas komando tersebut di atas. Namun pertempuran masih terjadi di pinggiran kota.
Sementara itu klaim media-media dan pejabat barat tentang penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh tentara pemerintah Syria terhadap pemberontak, terbantahkan sudah. Menurut jubir tim pengawas PBB di Syria, Sausan Ghosheh, pemberontak juga memiliki persenjataan berat yang membuat tentara pemerintah berhak menggunakan persenjataan beratnya. Menurut Ghosheh pemberontak memiliki tank-tank dan rudal jinjing. Pemberontak telah beroperasi di Aleppo sejak tgl 20 Juli, setelah mereka terdesak dan lari dari pertempuran di Damaskus.
Di sisi lain beredar video yang beredar di media-media online yang menggambarkan pemberontak mengeksekusi para pendukung pemerintah yang tertangkap, melanggar konvensi perang Genewa yang melindungi tawanan perang dan masyarakat sipil. Pemerintah Syria menuduh pemberontak telah melakukan "kejahatan-kejahatan yang mengerikan" terhadap rakyat sipil di Aleppo dan Damaskus.
Dalam 2 suratnya yang dikirim kepada DK PBB dan Sekjen PBB, menlu Syria Walid al-Muallem mengatakan, Selasa (31/7), bahwa pemberontak yang didukung dan dibiayai oleh Saudi, Qatar dan Turki, telah menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dan membunuhi rakyat sipil yang tidak mendukung mereka.
MAYAT PEMBERONTAK SENGAJA DIBAKAR
"Satu hari kami menerima 30, hari lainnya 40 orang terluka, tidak termasuk mayat. Beberapa hari lalu kami menerima 30 orang terluka dan sekitar 20 mayat, namun setengah dari mayat itu tidak bisa dikenali karena sudah hancur," kata seorang paramedis sebuah klinik yang berada di kawasan yang dikuasai pemberontak di Aleppo sebagaimana dikutip kantor berita "Reuters", tgl 30 Juli lalu.
Pernyataan paramedis tersebut seolah mengkonfirmasi berita-berita tentang mayat-mayat pemberontak yang sengaja dibakar sendiri oleh rekan-rekannya dalam upaya menyembunyikan identitas mereka mengingat sebagian besar dari mereka berkebangsaan asing.
Dari waktu ke waktu keberadaan pemberontak yang sebagian besar adalah orang asing, semakin jelas saja. Dari pengakuan fotografer Belanda Jeroen Oerlemans, yang pernah ditahan para pemberontak yang menyebut mereka "tidak satupun yang merupakan orang Syria", serta keberadaan Brigade Ummah, satuan pemberontak Libya binaan NATO, di medan perang Syria.
Tentu saja hal ini tidak "mengenakkan" negara-negara yang terlibat dalam konspirasi anti-Syria. Klaim mereka bahwa pemerintah Syria memerangi rakyatnya sendiri terbantahkan dengan keberadaan orang-orang asing itu. Maka untuk mengatasi terbongkarnya identitas kewarganegaraan pemberontak, diduga kuat para pemberontak sengaja membakar mayat rekan-rekannya beserta seluruh identitas yang melekat padanya. Media yang melaporkan modus "mengerikan namun menarik" itu di antaranya adalah "Press TV" Iran.
Namun demikian media-media barat pura-pura tidak mengetahui praktik keji tersebut. Alih-alih media-media barat lebih suka memberitakan pembelotan seorang diplomat Syria di Inggris, Khaled al-Ayoubi. Dengan ancaman, sogokan sekoper uang, dan janji menjadikannya pejabat tinggi setelah presiden Syria berhasil disingkirkan, tentu saja banyak orang-orang lemah yang bersedia melakukan pengkhianatan seperti Ayoubi dan banyak pejabat Syria lainnya yang terlalu lama hidup nyaman di luar negeri. Namun masih banyak pejabat dan perwira militer Syria yang loyal dan siap mempertahankan negaranya hingga titik darah penghabisan sebagaimana mereka bertempur di Damaskus, Homs dan kini di Aleppo.
Sumber:
thetruthseeker.co.uk; 30 Juli 2012
Press TV, 2 Agustus 2012
"Aleppo rebels under fire, Syrian fighter jet flies over"; Erika Solomon; Reuters; 30 Jul 2012
Syria, Medan Kekalahan Besar Israel/Amerika Selanjutnya
Syria bakal menjadi ladang kekalahan besar Israel/Amerika dan sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah menyusul kekalahan mereka di Gaza (2009) dan Lebanon (2006). Demikian pernyataan seorang pejabat tinggi militer Iran.
Dalam wawancaranya dengan televisi Iran "Al Alam", Senin (30/7), Wakil Panglima AU Iran Brigjen Massoud Jazayeri mengatakan bahwa peperangan yang tengah terjadi di Syria merupakan proyek lanjutan dari Perang 22 Hari Gaza tahun 2008-2009 dan Perang 33 Hari Lebanon tahun 2006 dimana Israel/Amerika berupaya mendapatkan pijakan strategis yang lebih kukuh di kawasan Timur Tengah. Namun dalam 2 peperangan tersebut Israel/Amerika mengalami kekalahan telak. Dan Israel/Amerika bakal mengalami kekalahan yang lebih besar di Syria.
"Sebuah front besar yang dipimpin Amerika dan zionisme global, sekali lagi berusaha menjerumuskan kawasan ini sebagai medan perang demi meraih tujuan jangka panjang mereka," kata Jazayeri.
Dalam Perang 22 Hari Gaza akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009 dunia menyaksikan HAMAS dan Jihad Islam yang didukung Iran, Hizbollah dan Syria berhasil memukul mundur pasukan Israel meski untuk itu harus ditebus dengan tewasnya 1.400 warga Palestina di Gaza, 300 di antaranya anak-anak.
Adapun dalam Perang 33 Hari di Lebanon tahun 2006, Hizbollah dan kelompok-kelompok perlawanan anti-Israel di Lebanon berhasil memukul mundur Israel dari Lebanon dengan menimbulkan korban besar di pihak militer Israel.
Dalam perspektif Syria saat ini, Jazayeri melihat sekutu-sekutu Israel yaitu Amerika bersama-sama Uni Eropa dan beberapa negara Arab menggalang kekuatan untuk menumbangkan pemerintahan Syria untuk digantikan dengan pemerintahan yang pro Israel/Amerika, namun pemerintah, rakyat dan tentara Syria sejauh ini "mampu mengendalikan keadaan".
"Ada kesungguhan pada pemerintah Syria untuk melancarkan serangan penuh terhadap musuh, karena tidak ada cara lain kecuali mengusir para teroris, musuh dan agresor dari bumi Syria," kata Jazayeri.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Syria memiliki teman-teman tidak hanya di dalam kawasan, namun juga luar kawasan. Namun sejauh ini teman-teman Syria masih yakin bahwa pemerintah Syria bisa mengatasi keadaan sendiri.
"Sejauh ini belum ada urgensi bagi teman-teman dan sekutu Syria untuk masuk ke kancah pertempuran dengan kekuatan penuh, dan perkiraan kami hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat," tambahnya.
Ia juga membantah rumor tentang keberadaan tentara reguler Iran di Syria yang membantu pemerintah. Menurutnya dukungan Iran kepada pemerintah Syria sejauh ini masih dalam batas dukungan "spiritual" dan "ekonomi". Namun dukungan itu bisa berubah tergantung pada situasi di lapangan.
"Dukungan kami sangat tergantung pada kondisi di lapangan. Tanpa harus mengatakan, kami akan menjawab ancaman dengan ancaman pula," kata Jazayeri.
Mengenai paluang Iran terlibat langsung dalam konflik di Syria, Jazayeri mengatakan, "Kami sangat sensitif terhadap sekutu-sekutu kami dan gerakan perlawanan di kawasan ini, dan tidak akan membiarkan musuh untuk menang."
TENTARA SYRIA LAKUKAN PEMBERSIHAN DI ALEPPO
Setelah kekalahan telak di Damaskus dan Homs, kekuatan pemberontak kini terkonsentrasi di Aleppo, kota kuno sekaligus kota terpenting di Syria setelah Damaskus, yang menjadi penghubung urat nadi perdagangan Syria dengan Turki. Meski gagal merebut seluruh distrik di Aleppo setelah menarik diri dari Damaskus, pemberontak telah membangun kantong-kantong pertahanan di beberapa distrik di kota Aleppo. Kini pasukan Syria memusatkan perhatiannya pada kota ini.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Syria Senin kemarin (30/7), tentara Syria telah berhasil membersihkan sebagian besar distrik di Aleppo dari pasukan pemberontak. Pada hari Minggu (29/7) pasukan Syria berhasil membersihkan kawasan Salahuddin dan Hamdaniya yang terletak di barat laut Aleppo. Saat ini pertempuran masih terjadi di selatan distrik Sokari dan pusat kawasan Bab al-Hadid.
Tentara Syria memulai operasi pembersihan pada hari Sabtu (28/7) di daerah pinggiran barat daya Aleppo. Pada hari Minggu tentara menggagalkan penyusupan besar-besaran pemberontak dari perbatasan Turki.
Menghadapi senjata-senjata berat tentara Syria serta tanpa dukungan rakyat Syria, para pemberontak hampir tidak mempunyai harapan untuk selamat dari pembersihan. Menlu Syria Walid al-Muallem dalam konperensi pers bersama dengan Menlu Iran Ali Akbar Salehi di Tehran, Minggu (29/7) mengatakan, "Kami yakin seluruh kekuatan pemberontak kini telah terkumpul di Aleppo dan mereka pasti akan dikalahkan."
MENHAN AMERIKA PANIK
Kekalahan demi kekalahan serta kondisi kritis yang kini dialami pemberontak di Syria membuat menhan Amerika Leon Panetta, panik. Pada hari Minggu (29/7) Panetta membuat pernyataan keras yang menggambarkan kepanikan.
"Jika mereka terus melakukan serangan brutal terhadap rakyatnya sendiri di Aleppo, menurut saya hanya akan membuat Assad berakhir di peti mati," kata Panetta kepada para wartawan.
"Apa yang telah dan sedang dilakukan Assad terhadap rakyatnya membuat jelas bahwa pemerintahannya akan segera berakhir. Ia telah kehilangan semua legitimasinya," tambahnya.
KAPAL-KAPAL PERANG CINA MENUJU SYRIA?
Sementara itu pada hari Minggu kemarin kalangan inteligen dan analis internasional dikejutkan dengan berita tentang kedatangan 4 kapal perang Cina melintasi Terusan Suez ke arah Laut Mediterania. Meski belum ada konfirmasi resmi, para analis yakin kapal-kapal tersebut bergerak menuju Syria untuk bergabung dengan angkatan laut Rusia yang sudah berada di sana, sebagai peringatan kepada barat untuk tidak melakukan intervensi terhadap Syria.
Laporan tersebut juga menambah kuat desas-desus yang sempat beredar bulan lalu mengenai latihan militer besar-besaran yang akan digelar bersama oleh Rusia, Cina, Syria dan Iran, meski tidak ada pernyataan resmi dari negara-negara tersebut.
Kedatangan kapal-kapal tersebut terjadi saat pertempuran di Syria memasuki tahap penentuan dimana para pemberontak kini terjepit di Aleppo setelah mengalami kehancuran dalam pertempuran di Damaskus, Homs dan kota-kota lainnya.
Cina dan Rusia yang keduanya adalah sekutu Syria telah 3 kali menveto Resolusi PBB yang bisa menjadi jalan bagi dilakukannya intervensi militer barat atas Syria. Cina, sebagaimana Rusia menolak dengan tegas setiap upaya penggulingan pemerintahan Syria secara inkonstitusional dan menyerukan dunia internasional untuk tidak melibatkan diri dalam urusan domestik Syria.
Ref:
"Syria, imminent site of third US heavy defeat in region: Iran Cmdr"; Press TV; 30 Juli 2012
"Syrian army clears two Aleppo districts of armed gangs"; almanar.com.lb; 30 Juli 2012
"US rages at Syria forces success against rebels in Aleppo"; Press TV; 30 Juli 2012
"Chinese Warship Crosses Suez, Possibly Bound for Syria"; antiwar.com; 29 Juli 2012
Dalam wawancaranya dengan televisi Iran "Al Alam", Senin (30/7), Wakil Panglima AU Iran Brigjen Massoud Jazayeri mengatakan bahwa peperangan yang tengah terjadi di Syria merupakan proyek lanjutan dari Perang 22 Hari Gaza tahun 2008-2009 dan Perang 33 Hari Lebanon tahun 2006 dimana Israel/Amerika berupaya mendapatkan pijakan strategis yang lebih kukuh di kawasan Timur Tengah. Namun dalam 2 peperangan tersebut Israel/Amerika mengalami kekalahan telak. Dan Israel/Amerika bakal mengalami kekalahan yang lebih besar di Syria.
"Sebuah front besar yang dipimpin Amerika dan zionisme global, sekali lagi berusaha menjerumuskan kawasan ini sebagai medan perang demi meraih tujuan jangka panjang mereka," kata Jazayeri.
Dalam Perang 22 Hari Gaza akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009 dunia menyaksikan HAMAS dan Jihad Islam yang didukung Iran, Hizbollah dan Syria berhasil memukul mundur pasukan Israel meski untuk itu harus ditebus dengan tewasnya 1.400 warga Palestina di Gaza, 300 di antaranya anak-anak.
Adapun dalam Perang 33 Hari di Lebanon tahun 2006, Hizbollah dan kelompok-kelompok perlawanan anti-Israel di Lebanon berhasil memukul mundur Israel dari Lebanon dengan menimbulkan korban besar di pihak militer Israel.
Dalam perspektif Syria saat ini, Jazayeri melihat sekutu-sekutu Israel yaitu Amerika bersama-sama Uni Eropa dan beberapa negara Arab menggalang kekuatan untuk menumbangkan pemerintahan Syria untuk digantikan dengan pemerintahan yang pro Israel/Amerika, namun pemerintah, rakyat dan tentara Syria sejauh ini "mampu mengendalikan keadaan".
"Ada kesungguhan pada pemerintah Syria untuk melancarkan serangan penuh terhadap musuh, karena tidak ada cara lain kecuali mengusir para teroris, musuh dan agresor dari bumi Syria," kata Jazayeri.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Syria memiliki teman-teman tidak hanya di dalam kawasan, namun juga luar kawasan. Namun sejauh ini teman-teman Syria masih yakin bahwa pemerintah Syria bisa mengatasi keadaan sendiri.
"Sejauh ini belum ada urgensi bagi teman-teman dan sekutu Syria untuk masuk ke kancah pertempuran dengan kekuatan penuh, dan perkiraan kami hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat," tambahnya.
Ia juga membantah rumor tentang keberadaan tentara reguler Iran di Syria yang membantu pemerintah. Menurutnya dukungan Iran kepada pemerintah Syria sejauh ini masih dalam batas dukungan "spiritual" dan "ekonomi". Namun dukungan itu bisa berubah tergantung pada situasi di lapangan.
"Dukungan kami sangat tergantung pada kondisi di lapangan. Tanpa harus mengatakan, kami akan menjawab ancaman dengan ancaman pula," kata Jazayeri.
Mengenai paluang Iran terlibat langsung dalam konflik di Syria, Jazayeri mengatakan, "Kami sangat sensitif terhadap sekutu-sekutu kami dan gerakan perlawanan di kawasan ini, dan tidak akan membiarkan musuh untuk menang."
TENTARA SYRIA LAKUKAN PEMBERSIHAN DI ALEPPO
Setelah kekalahan telak di Damaskus dan Homs, kekuatan pemberontak kini terkonsentrasi di Aleppo, kota kuno sekaligus kota terpenting di Syria setelah Damaskus, yang menjadi penghubung urat nadi perdagangan Syria dengan Turki. Meski gagal merebut seluruh distrik di Aleppo setelah menarik diri dari Damaskus, pemberontak telah membangun kantong-kantong pertahanan di beberapa distrik di kota Aleppo. Kini pasukan Syria memusatkan perhatiannya pada kota ini.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Syria Senin kemarin (30/7), tentara Syria telah berhasil membersihkan sebagian besar distrik di Aleppo dari pasukan pemberontak. Pada hari Minggu (29/7) pasukan Syria berhasil membersihkan kawasan Salahuddin dan Hamdaniya yang terletak di barat laut Aleppo. Saat ini pertempuran masih terjadi di selatan distrik Sokari dan pusat kawasan Bab al-Hadid.
Tentara Syria memulai operasi pembersihan pada hari Sabtu (28/7) di daerah pinggiran barat daya Aleppo. Pada hari Minggu tentara menggagalkan penyusupan besar-besaran pemberontak dari perbatasan Turki.
Menghadapi senjata-senjata berat tentara Syria serta tanpa dukungan rakyat Syria, para pemberontak hampir tidak mempunyai harapan untuk selamat dari pembersihan. Menlu Syria Walid al-Muallem dalam konperensi pers bersama dengan Menlu Iran Ali Akbar Salehi di Tehran, Minggu (29/7) mengatakan, "Kami yakin seluruh kekuatan pemberontak kini telah terkumpul di Aleppo dan mereka pasti akan dikalahkan."
MENHAN AMERIKA PANIK
Kekalahan demi kekalahan serta kondisi kritis yang kini dialami pemberontak di Syria membuat menhan Amerika Leon Panetta, panik. Pada hari Minggu (29/7) Panetta membuat pernyataan keras yang menggambarkan kepanikan.
"Jika mereka terus melakukan serangan brutal terhadap rakyatnya sendiri di Aleppo, menurut saya hanya akan membuat Assad berakhir di peti mati," kata Panetta kepada para wartawan.
"Apa yang telah dan sedang dilakukan Assad terhadap rakyatnya membuat jelas bahwa pemerintahannya akan segera berakhir. Ia telah kehilangan semua legitimasinya," tambahnya.
KAPAL-KAPAL PERANG CINA MENUJU SYRIA?
Sementara itu pada hari Minggu kemarin kalangan inteligen dan analis internasional dikejutkan dengan berita tentang kedatangan 4 kapal perang Cina melintasi Terusan Suez ke arah Laut Mediterania. Meski belum ada konfirmasi resmi, para analis yakin kapal-kapal tersebut bergerak menuju Syria untuk bergabung dengan angkatan laut Rusia yang sudah berada di sana, sebagai peringatan kepada barat untuk tidak melakukan intervensi terhadap Syria.
Laporan tersebut juga menambah kuat desas-desus yang sempat beredar bulan lalu mengenai latihan militer besar-besaran yang akan digelar bersama oleh Rusia, Cina, Syria dan Iran, meski tidak ada pernyataan resmi dari negara-negara tersebut.
Kedatangan kapal-kapal tersebut terjadi saat pertempuran di Syria memasuki tahap penentuan dimana para pemberontak kini terjepit di Aleppo setelah mengalami kehancuran dalam pertempuran di Damaskus, Homs dan kota-kota lainnya.
Cina dan Rusia yang keduanya adalah sekutu Syria telah 3 kali menveto Resolusi PBB yang bisa menjadi jalan bagi dilakukannya intervensi militer barat atas Syria. Cina, sebagaimana Rusia menolak dengan tegas setiap upaya penggulingan pemerintahan Syria secara inkonstitusional dan menyerukan dunia internasional untuk tidak melibatkan diri dalam urusan domestik Syria.
Ref:
"Syria, imminent site of third US heavy defeat in region: Iran Cmdr"; Press TV; 30 Juli 2012
"Syrian army clears two Aleppo districts of armed gangs"; almanar.com.lb; 30 Juli 2012
"US rages at Syria forces success against rebels in Aleppo"; Press TV; 30 Juli 2012
"Chinese Warship Crosses Suez, Possibly Bound for Syria"; antiwar.com; 29 Juli 2012
Sabtu, 04 Agustus 2012
Kedubes AS: Pusat Kejahatan Amerika di Indonesia
Tidak ada satu kedutaan besar negara di dunia yang tidak melakukan aktivitas intelijen di negara yang ditempatinya. Urusan penilaian terhadap kondisi negara yang menjadi wilayah kedutaan merupakan tugas wajib duta besar dan diplomat yang bersamanya.
| |
Bagi negara yang tidak memiliki ideologi, keberadaan kedubes paling-paling hanya terbatas pada urusan kerja sama bilateral antarkedua negara di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, dan hankam. Sifatnya pasif.
Sementara bagi negara yang memiliki ideologi, duta besar dan diplomat memiliki tugas yang jauh lebih besar dari itu. Mereka bisa memiliki agenda sendiri di luar urusan-urusan resmi terkait dengan negara di mana mereka bertugas. Mereka bisa saja bertugas menghancurkan negara sasaran termasuk memasok senjata dan sejenisnya.
Dalam hubungan diplomatik, telah menjadi konvensi internasional bahwa para diplomat memiliki kekebalan diplomatik, tidak hanya menyangkut fisik/diri diplomatnya tapi juga segala yang bersama dengan diplomat itu seperti barang, dokumen, dan sebagainya. Negara yang dituju tidak boleh memeriksa itu. Makanya, korps diplomatik dalam beberapa kasus di dunia menjadi alat kejahatan yang luar biasa.
Reformasi
Di Indonesia sendiri, peran Amerika sangat besar. Lahirnya era reformasi tak lepas dari keinginan AS setelah Soeharto tak mau lagi tunduk pada pemerintahan Washington. Berbagai jalan dilakukan untuk menjatuhkannya termasuk menggunakan LSM. Terungkap ada dana 26 juta dolar sejak 1995 kepada LSM tersebut dengan kedok mendukung HAM dan kebebasan berekspresi.
Beberapa jam sebelum Soeharto lengser, Menlu AS ketika itu Madeline Albright mengisyaratkan supaya Presiden Soeharto mundur agar krisis terpecahkan. Bersamaan dengan itu, pemerintah AS mengumumkan telah mengirimkan sebuah kapal induk Belleau Wood yang dilengkapi dengan helikopter dan pesawat-pesawat jet tempur serta dua kapal pendukung, lengkap dengan 2000 serdadu marinir ke Teluk Jakarta untuk melakukan "evakuasi militer" (Kompas, 21/5/1998).
Menurut informasi yang berkembang, ketika kerusuhan Mei 1998 meletus, ada pengacakan sinyal di Jakarta sehingga mengganggu komunikasi aparat keamanan. Dugaan kuat, pengacak sinyal itu ada di Kedubes AS di Jakarta.
Dalam temuan Wikileaks terungkap pula betapa besar peran para diplomat yang ada di Jakarta dalam menentukan kebijakan pemerintah Amerika terhadap Indonesia. Secara berkala, para diplomat di Jakarta mengirimkan pengamatannya ke Washington. Semua yang terjadi di Indonesia menjadi bahan laporan.
Sejak Indonesia Merdeka
Tidak hanya di era reformasi, jejak kejahatan Amerika telah terlihat sejak awal kemerdekaan. Aksi nyata mereka terlihat ketika Belanda ingin masuk lagi ke Indonesia pascakemerdekaan.
Masuknya AS itu untuk mematahkan penyebaran komunis di dunia. Keluarlah Truman Doctrine pada 1947, untuk mengepung komunis dan kemudian disusul Marshall Plan tahun berikutnya guna membangun kembali Eropa dari puing-puing akibat PD II. "Ketika tentara kerajaan Belanda kembali datang ke Jawa dan Sumatera pada musim semi 1946, banyak serdadu Belanda mengenakan seragam marinir AS dan mengendarai jeep Angkatan Darat AS." (Gouda & Zaalberg: Indonesia Merdeka Karena Amerika? Politik Luar Negeri AS dan Nasionalisme Indonesia 1920-1949; 2008). Bahkan AS diyakini turut membantu Belanda dalam serangan militer Belanda II atas Yogya pada 18 Desember 1948.
Dalam rangka menjatuhkan pemerintah Soekarno, Amerika membantu pemberontakan PRRI/ PERMESTA. AS menurunkan kekuatan besar. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subic & Clark), Taiwan, dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi pemberontak. Pada 7 Desember 1957, Panglima Operasi AL-AS Laksamana Arleigh Burke memerintahkan Panglima Armada ke-7 (Pacific) Laksamana Felix Stump menggerakkan kekuatan AL-AS yang berbasis di Teluk Subic untuk merapat ke Indonesia dengan kecepatan penuh tanpa boleh berhenti di mana pun. Satu divisi pasukan elit AS, US-Marine, di bawah pengawalan sejumlah kapal penjelajah dan kapal perusak disertakan dalam misi tersebut. Dalih AS, pasukan itu untuk mengamankan instalasi perusahaan minyak AS, Caltex, di Pekanbaru, Riau.
AS memberikan ribuan pucuk senjata api dan mesin, lengkap dengan amunisi dan aneka granat. Amerika juga mendrop sejumlah alat perang berat seperti meriam artileri, truk-truk pengangkut pasukan, aneka jeep, pesawat tempur dan pembom, dan sebagainya. Awalnya Amerika membantah terlibat, namun sebuah pesawat pengebom B-29 milik AS ditembak jatuh oleh sistem penangkis serangan udara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Pilot pesawat itu Allan Lawrence Pope berhasil ditangkap hidup-hidup. Ia terbang atas perintah CIA.
Puncaknya ketika Amerika berada di balik pemberontakan G 30 S/PKI. Banyak dokumen dan literatur membongkar keterlibatan CIA-yang merangkap sebagai diplomat-di dalam peristiwa Oktober 1965 tersebut. Atas nama pembersihan kaum komunis di negeri ini, CIA turut menyumbang daftar nama kematian (The Dead List) yang berisi 5.000 nama tokoh dan kader PKI di Indonesia kepada Jenderal Soeharto. Namun yang dibunuh bukannya 5.000 orang, Kol Sarwo Edhie, Komandan RPKAD saat itu yang memimpin operasi pembersihan ini, terutama di Jawa Tengah dan Timur, menyebut angka tiga juta orang yang berhasil dihabisi, termasuk orang yang tak tahu apa-apa. Inilah tragedi kemanusiaan terbesar setelah era Hitler. Buku "Membongkar Kegagalan CIA" karya Tim Weiner, wartawan The New York Times, mengungkap bagaimana para diplomat AS yang juga perwira CIA berhasil merekrut Adam Malik sebagai agen mereka.
Tim Weiner menulis, "CIA berusaha mengonsolidasi sebuah pemerintah bayangan, sebuah kelompok tiga serangkai yang terdiri atas Adam Malik, Sultan yang memerintah di Jawa Tengah, dan perwira tinggi angkatan darat berpangkat mayor jenderal bernama Soeharto.
"Malik memanfaatkan hubungan dengan CIA untuk mengadakan serangkaian pertemuan rahasia dengan Duta Besar Amerika yang baru di Indonesia, Marshall Green. Sang Duta Besar mengatakan bahwa dia bertemu dengan Adam Malik "di sebuah lokasi rahasia" dan mendapatkan "gambaran yang sangat jelas tentang apa yang dipikirkan Soeharto dan apa yang dipikirkan Malik serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan" buat membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka pimpin, yang disebut Kap-Gestapu.
Doktrin Arthur-Churchill
Pada Perang Dunia II, Jenderal McArthur dan Winston Churchill membuat doktrin yang dikenal kemudian dengan sebutan 'Doktrin McArthur-Churchill'. Iniadalah suatu skenario penguasaan kawasan Asia-Pasifik pasca Perang Dunia II. Khusus bagi Indonesia, doktrin ini membagi Kepulauan Indonesia menjadi tiga kawasan, yakni Kawasan Malesia (Sumatera dan Kalimantan), Kawasan Melanesia (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua), dan Pusat Layanan(Jawa dan Bali).
Menurut doktrin itu, kawasan Malesia disubordinasikan ke Semenanjung Malaysia dan Daratan Asia Tenggara, menjadi 'Great Malesian Region.Sedangkan Kawasan Melanesia disubordinasikan ke Kepulauan Philippines dan negara-negara Pacific (Australia dan sekitarnya), menjadi 'Great Melano-Polynesian Region.' Terakhir Pulau Jawa dan Bali yang menurut rencana akan dijadikan ajang operasi intelijen menggantikan peran strategis Singapura.
Doktrin itu menjadi acuan acuan Amerika dalam menyusun strategi menguasai Indonesia secara geostrategis maupun geopolitik. Tampaknya doktrin ini masih berlaku dan semakin terbukti dengan adanya cengkeraman Amerika yang kian kuat di Indonesia. Bisa jadi Kedubes AS di Jakarta akan menjadi pusat layanan di kawasan ASEAN dan Pasifik seperti yang direncanakan doktrin itu. Sumber :www.satumedia.info | |
Rabu, 01 Agustus 2012
Perang Candu: Modus Kolonialisme Menghancurkan Bangsa dengan Harga Murah!
Istilah Perang Candu dikenal orang, tatkala timbul pertempuran sengit di Cina melawan penjajah di negerinya. Ya, banyak literatur mengatakan bahwa Perang Candu I (1839-1842) adalah peperangan antara Cina versus Britania Raya atau Inggris. Penyulut konflik ialah maraknya opium yang dibawa pedagang Inggris ke Cina, sementara di bawah kekuasaan Dinasti Qing, ia tengah keras menerapkan aturan tentang obat-obatan. Sedangkan Perang Candu II (1856-1860) tak hanya bertempur melawan Inggris tapi Prancis pun terlibat. Menurut beberapa catatan, substansi kedua perang di atas sesungguhnya bukan menjadikan Cina sebagai jajahan, akan tetapi lebih kepada kepentingan perdagangan Barat sekaligus melemahkan daya juang rakyat.
| |
Tidak sedikit nama atau istilah daripada perang tersebut, artinya tak hanya Perang Candu yang sudah populer dimana-mana, namun sering pula disebut Perang Panah, Perang Opium, Perang Cina-Anglo, atau bahkan dinamai sebagai “Pemberontakan Boxer”. Nah, dalam artikel sederhana ini, istilah-istilah tersebut akan digunakan bergantian karena substansinya memang tak berbeda.
Sekilas Pemberontakan Boxer
Konon awal abad ke-19, opium dibawa oleh para pedagang Inggris ke Tiongkok sebagai pengimbang ekspor teh Cina ke Inggris. Di bawah kekuasaan Dinasti Yung Cheng, opium begitu populer karena selain komoditi dagang juga dihisap menggunakan pipa khas dari tanah liat serta diminum dengan arak. Sebenarnya warga dan penduduk memanfaatkan candu untuk pengobatan tradisional, tetapi sebagian menyalahgunakan sekedar mabuk-mabukan. Inilah mapping awal tradisi (buruk) rakyat. Oleh pendatang (asing) kebiasaan masyarakat mengisap candu atau madat ditandai sebagai titik lemah (Achilles, baca: akiles) yang bisa “diletuskan” sewaktu-waktu. Pada gilirannya akiles pun diolah, dieksploitasi serta dipropaganda secara gencar dengan tujuan tertentu, bahwa asap candu menimbulkan “mimpi indah” di dalam tidur!
Zaman Kaisar Ming dan Ching berkuasa, ada kebijakan menutup jalur perniagaan dengan Barat karena anggapan selain mampu memenuhi keperluan rakyatnya sendiri, ia juga tak mau bergantung kepada asing. Sebuah sikap kemandirian yang dahsyat dari Ming, akan tetapi justru inilah embrio konflik. Ya, kebijakan Ming jelas merugikan Inggris, karena hasil produk dan barang-barang Cina semacam sutera, rempah, tembikar serta teh yang dimonopoli Inggris diminati berbagai kalangan di Eropa. Hubungan kedua pihak menegang. Setelah lewat liku-liku perundingan, akhirnya perdagangan dibuka kembali dengan syarat Inggris boleh dagang hanya di Guangzhou (Canton) saja.
Britania Raya memahami kebiasaan madat dan luasnya konsumsi candu di kalangan penduduk. Inilah akiles yang “terpetakan”. Ia pun menyalahi isi kesepakatan dengan memasukkan barang larangan (opium) sebagai komoditi. Tampaknya barang ilegal tadi malah direspon girang sebagian penduduk, terutama para pecandunya. Akhirnya peredaran kembali marak, apalagi Inggris memiliki akses opium ke India secara mudah mengingat geografisnya bersebelahan dengan Cina.
Pada masa Kekasiaran Tao Kwang era 1839-an, diambil suatu langkah tegas guna mengatasi kecanduan dan peredarannya di masyarakat. Adalah Komisaris Lin Tse-Hsu diperintah oleh Kaisar guna memusnahkan candu ilegal di Guangzhou. Sepintas tentang Lin adalah pejabat jujur, ahli kaligrafi, filsuf, sekaligus seorang penyair. Ia terkenal karena konsistensi serta komitmen dalam menentang peredaran opium di Tiongkok. Salah satu inti dan substansi statement Lin yang dijadikan acuan dalam Perang Panah ialah “bahwa konsumsi opium selain akan menghabiskan kekayaan negara, juga membuat tak satupun lelaki mampu bertempur di medan perang!”.
Sudah barang tentu tindakan Lin membuat kemarahan Inggris, kemudian meletuslah Perang Cina-Anglo I (1839-1842). Ya, perang selama tiga tahun itu dimenangkan Inggris. Ada 30.000-an rakyat menjadi korban dan memaksa Cina menandatangani Treaty of Nanjing (1842) dan The British Supplementary Treaty of the Bogue (1843). Inti Treaty of Nanjing atau Perjanjian Nanjing ialah kewajiban Cina membayar upeti 21 juta kepada Inggris sebagai ganti rugi peperangan, membuka kembali perniagaan dengan Barat via pelabuhan-pelabuhan Guangzhou, Jinmen, Fuzhou, Ningbo serta Shanghai, dan Inggris meminta Hong Kong menjadi tanah jajahan.
Sebagaimana diurai sekilas tadi, Perang Boxer II terjadi antara Inggris, Prancis, dan Cina. Sebagai pemicu ialah pencarian kapal The Arrow milik Inggris oleh Cina secara ilegal di Guangzhou. Hal ini membuat geram Inggris dan kembali mengobarkan perang. Lagi-lagi konflik tersebut dimenangkan oleh Barat dan Guangzhou diduduki oleh pasukan Inggris-Prancis. Apaboleh buat, Cina kembali menandatangai Treaty of Nanjing(1858) dimana Prancis, Rusia dan Amerika telah ikut ambil bagian. Isi perjanjian: Cina membuka sebelas pelabuhan, diizinkan pendirian kedutaan negara luar, melegalkan impor candu dan memberi ruang pada aktivitas misionaris Kristen.
Dekade 1859-an ---setahun pasca Perjanjian Nanjing--- perang meletus lagi akibat Cina menghalangi masuknya para diplomat asing ke Beijing, sementara dari pihak Inggris ingin memaksakan beberapa pasal baru di perjanjian. Tatkala Inggris dengan bantuan Perancis berhasil menguasai Beijing, ia dipaksa mematuhi kembali pointers dalamTreaty of Nanjing serta beberapa pasal tambahan, salah satunya ialah Taiwan menjadi milik Barat.
Pada gilirannya Cina menjadi incaran banyak negara seperti Amerika dan Rusia yang coba-coba peruntungan, kemudian diikuti pula yang lain seperti Belanda, Italia, Jerman, Jepang dan seterusnya. Ada sekitar delapan negara Barat melakukan kapling-kapling daerah dan wilayah kekuasaan. Agaknya hal inilah yang membangkitkan semangat rakyat untuk bangkit melakukan perlawanan total terhadap penjajahan yang kemudian populer disebut Perang Candu atau dinamai “Pemberontakan Boxer”, dimana tercatat kaum muslim Cina sangat berperan dalam pertempuran tersebut.
Perang Opium Era Modern
Kendati Perang Candu sudah berlalu beberapa ratus tahun lalu, tampaknya kelompok negara Barat masih sering menggunakan strategi tersebut sebagai modus ampuh kolonial di banyak negara. Hanya saja, dekade 1970-an sewaktu Amerika Serikat (AS) menginvasi Vietnam secara militer malah jadi “senjata makan tuan”, karena Zhou Enlai, Perdana Menteri Vietnam justru memakai strategi perang candu dalam menghadapi penjajahan di negaranya. “Kalau dulu rakyat Cina dilemahkan melalui candu, kini kami akan melemahkan tentara AS dengan candu pula”.
Dan secara berangsur tentara Uncle Sam memang dibuat ketagihan terhadap candu, ganja dan obat-obatan lain sehingga hancur moral tempurnya. Zhou memiliki keyakinan mampu mengalahkan AS meskipun kalah jauh dalam hal teknologi perang dan persenjataan, dan melalui strategi perang candu ia mampu mengusir kaum penjajah di negerinya.
Hingga kini, kelompok negara Barat khususnya Paman Sam, relatif canggih memainkan modus Perang Opium di berbagai negara. Ibarat bola sodok, di tangan Central Intellegence Agency (CIA) perdagangan candu itu seperti pukulan yang mengenai dua bola sekaligus. Bola pertama berupa “rusak”-nya generasi bangsa (lost generation), sedang bola kedua adalah money laundry (pencucian uang) atas bisnis narkoba yang dikerjakan.
Contoh ketika menginvasi Afghanistan setelah peristiwa Whorld Trade Center (WTC), 11 Sepetember 2001, sebenarnya Pentagon punya daftar 25 laboratorium dan gudang obat bius, tetapi ia menolak menghancurkan gudang-gudang tersebut dengan alasan milik CIA dan sekutu lokalnya. Bahkan James Risen mencatat, penolakan untuk menghancurkan laboratorium narkoba justru dari pentolan Neo-Konservatif yang menguasai birokrasi Keamanan Nasional di AS seperti Douglas Feith, Paul Wolfowitz, Zalmay Khalilzad, dan sang patron Donald Rumsfeld.
Sejak Perang Dunia II usai, CIA menggunakan para pedagang narkoba sebagai aset dalam berbagai operasi terselubung di berbagai negara. Artinya selain melindungi para pengedar dari jerat hukum, ada kecenderungan produksi dan arus perdagangan narkoba malah meningkat. Sebaliknya bila ia menurunkan intervensinya maka perdagangan dan produksi narkoba pun menurun. Di Afghanistan misalnya, kenaikkan produksi obat bius karena dukungan CIA kepada kelompok Islam radikal ketika melawan Uni Soviet (1979) dulu. Hal sama terjadi manakala pasukan multinasioal pimpinan Bush Jr menyerbu Afghanistan (2001) berdalih menumpas al-Qaeda dan terorisme pasca WTC, produksi opium seketika meningkat dari 165.000 ton (2006) menjadi 193.000 ton (2007). Kendati dekade 2008-an terdapat penurunan sekitar 157.000 ton semata-mata karena over produksi, barang tidak terserap oleh pasar.
Episode sebelumnya lebih dahsyat lagi. Di Burma (kini Myanmar) misalnya, akibat campur tangan CIA tahun 1950 mampu meningkatkan produksi narkoba dari 40 ton (1939) menjadi 600 ton (1970). Di Thailand pun demikian, dari sebelumnya hanya 7 ton (1939) naik menjadi 200 ton (1968). Luar biasa! Di Laos tidak mau ketinggalan, dari produksi 15 ton tahun 1939 menjadi 50 ton pada tahun 1973. Bahkan catatan Prof Peter Dale Scott untuk kasus di Kolombia (1980) dianggap paling dramatis. Oleh sebab naiknya produksi opium justru diakibatkan kehadiran militer AS dengan modus perang terhadap narkoba. Disini semakin terbukti asumsi Pepe Escobar, bahwa politik praktis itu bukannya yang tersurat melainkan apa yang tersirat (2007). Maksud asumsi Escobar terkait data-data produksi opium di negara-negara tadi adalah: di permukaan seolah-olah Paman Sam gencar memberantas narkoba, namun di bawah permukaan justru mengendalikan produksi dan peredarannya.
Menurut Scott dalam konferensi internasional tahun 1990, adanya campur tangan AS dengan dalih pemberantasan narkoba, bukannya mengurangi justru semakin meningkatan produksi dan arus perdagangan. Ia pun menarik asumsi, bahwa intevensi dan keterlibatan Paman Sam baik militer ataupun politik di suatu negara, adalah bagian dari masalah bukan memecahkan masalah.
Sekali lagi, asumsi Prof Scott yang mutlak dicatat adalah bila CIA melakukan intervensi di sebuah negara maka produksi dan perdagangan narkoba cenderung meningkat, sebaliknya jika ia menurunkan (tensi) intervensinya niscaya produksi dan arus perdagangan narkoba bakal menurun. Ini dia! Dari tesis Scott sebenarnya bisa diambil asumsi lagi, bahwa Perang Candu sebagai modus penjajahan diyakini akan senantiasa melekat dalam ragam dan bentuk kolonialisme yang dikembangkan oleh AS dan sekutu di berbagai negara. Ini yang mutlak diwaspadai.
Pada diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI), Jakarta pimpinan Hendrajit (16/72012) didapat pointers, dalam perspektif kolonialisme, Perang Opium bukan sekedar alternatif strategi tapi merupakan strategi inti. Artinya entah hard power(aksi-aksi militer) ataupun smart power (gerakan asimetris/non militer), bahkan Perang Candu itu sendiri dapat berjalan masing-masing, serentak, atau bergantian dengan intensitas berbeda. Ya, boleh belakangan, duluan atau mungkin simultan. Tergantung analisa intelijen. Intinya membuat marak candu, minuman keras dan narkoba di daerah target sebagai sarana melumpuhkan moral lawan dari sisi internal.
Dalam modus tersebut, terbaca hidden agenda agar supaya dalam suatu “negara target” tidak muncul gerakan dan gejolak politik di tengah masyarakat terutama kalangan elit dan pemuda terkait upaya-upaya perlawanan atas kolonialisme di depan mata. Perang Boxer di Cina merupakan contoh nyata, sesuai isyarat Lin, penduduk atau rakyat dikondisikan tak punya semangat juang, lemah daya tempurnya serta tak memiliki daya lawan atas penjajahan di negeri sendiri. Itulah tujuan pokok Perang Opium dalam aneka modus kolonialisme dimanapun bahkan sampai kapanpun. Retorika pun muncul, adakah Perang Candu kini juga tengah melanda di republik tercinta ini?
Silahkan saudara-saudara mencermatinya! Terimakasih
| |
Selasa, 31 Juli 2012
Agenda 2025 yahudi melenyapkan Indonesia dan Pakistan
1. Freemasory & Iluminati
Hancurkan musuh-musuhnya lewat FINANCE, FOODS, FILMS, FASHION, FANTASY, FAITH, FRICTION, Complicting Ideologis, Industri Senjata / Jadwal Perang, Lembaga Keuangan Internasional, Industri Logistik / Rekonstruksi Pasca Perang, Industri / Penyebaran Candu / Narkoba / Miras / Rokok.
| |
2. Zionisme Internasional
Ciptakan / kendalikan The New World Order, Ciptakan Revolusi Nasional & Perang Dunia, Rekayasa Separatisme dan desintegrasi, Ciptakan Revolusi Sex (Freesex, Homosex, Lesbian), Rusak Keluarga (Domestic Partner, Aborsi), Buat Aliran – Aliran Sesat, Buat / Kuasai Senjata Biologis / Virus / Senjata Cuaca / Pemusnah Massal, Promosikan Sekularisme sebagai agama baru / masa depan, Promosikan Multi Partai.
3. Trio Imperialisme
Ciptakan Program-Program kemiskinan, Kuasai Aset Ekonominya, Kuasai Kekayaan Alamnya, Kuasai Aset Informasinya, Kuasai Sistem Politik dan Hukumnya, Hancurkan Moral Rakyatnya, Hancurkan Militansi Rakyatnya, Suburkan Deislamisasi (Sekularisme, Liberalisme, & Pluralisme), Ramaikan Pemurtadan.
4. Skenario Separatisme dan Agressi dari luar
Terpurukkan Ekonomi Nasionalnya, Pertentangan Elit Politiknya, Suburkan Komflik Horizontalnya, Pecah – belah Militernya, Datangkan “ Pasukan Perdamaian “, Buat serbuan Paradigmatis, Buat Sel-Sel Perlawanan, Invasi Militer Setelah Diciptakan Status Legal Intervention.
5. Penyebaran Pemikiran Sesat
Karl Marx (Materialisme dan Atheisme), Sigmund Froud (Instinc Sexual & Libido), Nietze (Mencari Kepuasan Meski Dengan Kekejian), Charles Darwin (Manusia dari Monyet, yang Kuat harus mengalahkan yang lemah).
6. Penghancuran Dunia Abad 21
Membom Mekkah (Usul Senator Tancredo), Hapuskan Indonesia 2025, Hapuskan Pakistan 2025, Hapuskan beberapa Negara Afrika 2025, Perang Dunia ke III (Untuk Membuat Israel Raya), The New Crusade, Membunuh 3 Miliyar penduduk yang tidak disukai dengan kelaparan & penyakit th 2050 (proyek 2025 diusulkan oleh W. Cohen).
KEYAKINAN AGAMA YAHUDI ì ZIONISME ISRAEL
1. Yahudi yang kita ketahui berkitab suci Taurot (yang diturunkan kepada Nabi Musa as ) tetapi sekarang tidak dipakai sama sekali bahkan sengaja dihilangkan. Taurat yang sekarang telah diubah-ubah oleh Samhandren (Pendeta Yahudi Tertinggi). Sehingga ayat-ayatnya banyak yang baru.
2. Kitab yang sekarang jadi pegangan adalah Thalmud ; bukan berasal dari “ langit “ tetapi sebuah kitab yang berasal dari para penyihir di zaman Mesir Kuno yang menganut ajaran Kaballah (menyembah syetan Lucifer).
3. Para yahudi Zionis Israel yang mempropagandakan sekularisme berpedoman pada hasil rapat “ Pinisepuh Zion “ di Basel ( Swiss ) tahun 1897 yang bernama “ The Protocols Of The The Meetings Of The Elders Of Zion “, yang ingin mendirikan Negara Israel ? Israel Raya dan menguasai Dunia baru lewat tipu daya Demokratisasi, HAM, Privatization, Free Trade, Globalization, dan lain-lain.
4. beberapa ayat Talmut itu antara lain :
· Seoraang robbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkannya. Tuhanpun mengakui bahwa robbi itu memenangkan debat tersebut ( Baba Mezian 59b)
· Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon Ben Yohai, “ Bahkan orang kafir (Gentiles) yang paling baik pun seluruhnya harus dibunuh” (Perjanjian Kecil, Soferin 15)
· Hanya orang-orang yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non yahudi (Gentiles atau Ghoyim) bukanlah manusia melainkan binatang, (Kerithuth 6b).
· Orang-orang non-yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang yahudi (Midraseh Talpioth 225).
· Angka kelahiran orang-orang non-yahudi harus ditekan sekecil mungkin ( Zohar II,4b).
· Tuhan tidak pernah marah kepada orang yahudi melainkan hanya marah kepada orang-orang non-yahudi (Talmud IV/8/4a).
· Orang yahudi harus selalu berusaha untuk menipu orang-orang non-yahudi(Zohar,168a).
· “ Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari ahli kitab Talmud dari pada ayat-ayat Taurat (Talmud Erubin 2a).
DINASTI BUSH ADALAH YAHUDI TULEN “
A. 1. Judul diatas adalah pernyataan, Texe Marrs, Investigator Independen (Amerika/Kristen) yang dituangkan dalam artikel “George Bush, Zionis Double agent, American Traitor “ sebagai kesimpulan 6 tahun penelitiannya.
2. Marrs meneliti dokumen “ Jewish Welfore Board “ Dimana ditemukan Dinasti Bush yang yahudi tersebut sejak dulu ada yang jadi perwira-perwira tentara Amerika Mayor George Bush, Mayor Louis Bush, Mayor Solomon Bush, dan dinasti tersebut sejak dulu sangat dekat dengan pusaran elit Zionis Amerika dan elit lingkaran pusat kelompok Iluminati Amerika. ( Catatan 1 = tentang teroris-teroris zionis dan Iluminati lihat kompilasi penulis yang terakhir “ Mewaspadai 64 Teroris Yahudi Gelobal “ yang telah dibagikan).
3. Marrs menegaskan “ Berkedok sebagai Penganut Kristen Fundamentalis, Bush sebenarnya bekerja sepenuhnya untuk kepentingan zionis yahudi.
4. Marrs tahun 1990 bertemu intelektual Marxis Bouris Lunacef yang penelitiannya, menemukan bahwa Karl Marx, Lenin dan Khruschev adalah yahudi tapi resikonya dia dihukum karena “menyatakan yahudi pada orang yahudi “ adalah tindak kriminil meski ia adalah pejabat tinggi Kremlin
5. Marrs juga menemukan fakta bahwa Hillary Clinton, Madeline Albright, senator John Kery, Jendral Wisley Clark adalah yahudi dan ia menyatakan “ Bush merupakan agent demi kepentingan zionis Israel, yang disusupkan kedalam Amerika Serikat”. George Bush sangat gemar memperajari Talmud seperti juga Karl Marx, Lenin, Trotsky, dan Stalin. ( Catatan 2 : Soal kitab setan Talmud lihat juga kompilasi penulis 64 Teroris Yahudi Global Hal 272)
6. Presiden George Bush setelah dilantik terus mengangkat tokoh-tokoh / pendeta Yahudi Radikal sebagai pejabat Gedung Putih, Komisaris Federal Reserve, Pengawas keuangan Pentagon dan lain-lain.).(catatan 3 : Pantaskh Pimpinan Israel pernah mengatakan : “ We The Jews control America and they know it “ dan prestasi lobi yahudi ( AIPAC ) di Washington tiap tahun mangahasilkan 100 kebijakan yang menguntungkan yahudi dan Israel.).
a. Pembunuhan presiden Lincoln dan Kennedy yang direkayasa yahudi
b. Distori sejarah Islam Amerika (sebelum penemuan pertama Columbus Amerika didatangi laksamana Muslim China yaitu Cheng Ho 7 tahun sebelum kedatangan Columbus dan 5 abad sebelumnya didatangi Kahskhas Ibnu Saeed Ibnu Asad dan mengapa di Amerika nama-nama tempat berbau Arab/Islam dan juga mengapa para pendatang barat Kristen banyak membunuhi orang-orang Indian di Amerika Utara Tengah, Selatan, Sekarang banyak buku-buku yang menulis tentang kedatangn muslim Afrika ke Amerika sebelum Columbus.
c. Dalam zionologi ada peta Israel Raya yang meliputi Irak, Kuwait, Turki Selatan, Sirya, Libanon, Saudi Utara ( Madinah ), dan Mesir Timur yang programnya dibuat sebelum PD I dan Israel Raya adalah target dari PD III yang kita sudah baca telah di umumkan Bush waktu menghadapi nuklir Iran.
d. Artikel “ The New Yerusalem = Secret History of America “ ada peringatan Benyamin Franklin Ford tentang bahaya yahudi di Amerika. Ada tulisan bahwa Amerika adalah Israel Besar dan Israel adalah Amerika Kecil yang kepentingannya sama.
e. Dalam American Influence sebagai dampak ancaman Bush “ ikut kami atau ikut teroris “ dunia dibagi 3 : Sekutu AS, dibawah pengaruh AS, dan anti AS. Sedih melihatnya karena Negara-negara manyoritas Islam masuk sekutu AS, Indonesia masuk dibawah pengaruh AS bersama Libanon dan Yordania sedang yang anti AS adalah Iran, Sirya, dan Palestina (kecuali kubu Abbas meski didukung 20 % rakyatnya).
Program Zionis Yahudi
Indonesia & Pakistan tahun 2025 sudah harus dilenyapkan
Sebuah Dokumen rahasia dengan klarisifikasi not for distrube hasil kajian strategis sebuah tim dibawah pimpinan mantan menteri pertahanan Amerika Serikat William Cohen yang merupakan Gembong Zionis, bocor ke luar dokumen yang dibuat pada tahun 2000 dikaji 15 ahli disipin politik.
Hasil kajian tersebut diberi judul “Asia tahun 2025 dan pengaruhnya terhadap keamanan nasional Amerika Serikat abad 21? menskenariokan bahwa Indonesia dan Pakistan harus dilenyapkan selambat-lambatnya antara tahun 2010 – 2025.
Bagaimanapun juga harus diakui proses pelenyapan Indonesia semakin terasa, baca lagi buku Hebrew must handle the world (Yahudi harus menguasai dunia) Zionis AS tidak akan memakai jalan kekerasan terlebih dahulu, langkah pertama mereka akan memasukan pengaruhnya ke Indonesia lewat media Televisi,cara pergaulan, mode dll. bila cara tersebut tidak berhasil!? maka mereka akan memakai langkah kekerasan/perang
Diawali tahun 2006 dengan banyaknya pengaruh Yahudi yang masuk ke Indonesia seperti krisis multi dimensi, dimulai dari bermunculannya kekuatan separatis serta terorganisirnya perusakan moral generasi muda dengan narkoba,minuman keras dll. yang diback up! kaum kapitalis barat sampai akhirnya kita tidak sanggup lagi untuk mempertahankan negara kita yang bernama Indonesia ini.
Strategi Yahudi Menguasai Dunia
Pada tahun 1773 diadakan pertemuan 13 keluarga yahudi terkemuka dunia di Judenstrasse, Bavaria. Pada pertemuan tersebut dirancang bagaimana mereka harus menguasai dunia. Mereka membuat 25 butir rancangan yang kemudian kurang lebih 124 tahun kemudian rancangan tersebut disahkan menjadi agenda bersama Gerakan Zionis Internasional pimpinan theodore hertzl dalam Kongres zionis internasional I di Basel, Swiss dengan nama Protocol of Zions.
Berikut ini 25 butir rancangan tersebut :
1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, konspirasi harus mewujudkan “hasrat alami” manusia ini. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan ? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.
2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.
3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.
4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapapun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikkan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.
5. Kebenaran adalah kekuatan konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.
6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan konspirasi akan mencapai tingkat dimana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta yahudi.
7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktator. Inilah satu-satunya jalan.
8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah :minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.
9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya.
10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi “tuhan” bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan konspirasi.
11. Perang yang dikobarkan konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.
12. Pemerintahan bentukan konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada keinginan konspirasi. Tidak bisa lain.
13. Konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang yahudi yang menjadi korban sama dengan 1000 orang non-yahudi (gentiles/ghoyim) sebagai balasannya.
14. Setelah konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggung-jawab atas terjadinya kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kepada konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.
15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.
16. Penyusupan ke dalam jantung freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi konspirasi untuk memuluskan tujuannya.
17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.
18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi ini.
19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga ditingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.
20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekuatan non-yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.
21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-yahudi mutlak dilakukan.
22. Meletuskan perang dan memberinya-menjual-senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.
23. Satu rezim terselubung akan muncul setelah konspirasi berhasil melaksanakan programnya.
24. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.
25. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya.
Sumber :Info Dunia Militer | |
Langganan:
Postingan (Atom)


