Minggu, 17 Juni 2012

Antara Serdadu Israel dan Hitler



"Aku harus segera pulang. Ibuku sedang menungguku. Ia pasti khawatir kalau aku tidak segera pulang," kata Mona, gadis Palestina 9 tahun sembari mendekap perutnya yang berlubang dan mengucurkan darah segar akibat ditembak tentara Israel. Di tangan yang satunya masih tergenggam permen coklat yang baru dibelinya di kedai di ujung kampung.

Seorang tenaga medis yang kemudian datang menggendongnya tahu persis apa yang tengah di hadapi Mona, yaitu maut yang tidak mungkin lagi dielakkan. Bahkan bagi seorang laki-laki dewasa yang sehat, tertembak di bagian perut oleh tembakan jarak dekat, kecuali segera mendapat pertolongan intensif, akan membawa kepada kematian. Bukan kematian yang biasa karena kematian yang dihadapi adalah kematian yang diiringi dengan rasa sakit yang sangat hebat.

Namun Mona, dengan kepolosannya, masih dapat memikirkan ibunya, yang mungkin akan marah jika melihat baju barunya kotor karena rembesan darah yang mengucur deras dari lukanya.

"Aku harus segera pulang. Ibuku pasti khawatir karena aku tidak segera pulang." Tidak lama kemudian Mona, gadis kecil yang tidak berdosa itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tangan masih menggenggam permen coklat.

Di sudut lain tidak jauh dari tempat Mona menghembuskan nafasnya, seorang tentara Israel yang telah menembak Mona, memandang dingin drama kemanusiaan yang menyayat hati itu. Ia, satu di antara sebagian besar orang Israel yang memandang nyawa orang-orang Palestina tidak lebih berharga daripada seekor lalat.

Di tempat lain, di waktu lain di Gaza Palestina, tepatnya pada tgl 15 Oktober 1994, Iman Darweesh Al Hams, gadis Palestina berumur 13 tahun tengah tergeletak di tanah dengan wajah tertelungkup. Ia menderita luka-luka karena tembakan patroli pasukan Israel yang memergokinya. Kemudian datanglah seorang perwira Israel berpangkat kapten. Dengan dingin ditembaknya Iman dari jarak dekat. Selanjutnya dengan tenang sang kapten memberikan perintah kepada pasukannya melalui radio, "Ini komandan. Setiap benda yang bergerak di dalam zona pengawasan, bahkan jika benda itu adalah seorang anak kecil berumur tiga tahun, harus dibunuh."

Seorang serdadu yang masih mempunyai hati nurani melaporkan tindakan sang kapten ke mahkamah militer. Sang kapten pun harus menjalani tiga persidangan militer dalam jangka waktu 2 tahun sejak kejadian penembakan. Dan tebak apa yang didapatkan oleh sang kapten kemudian? : Promosi menjadi Mayor dan ganti rugi senilai 83.000 shekel.

Saya ingat dengan kisah tentang Profesor Roger Garraudy, seorang muallaf asal Perancis saat masih muda. Ketika itu, ketika terjadi perang kemerdekaan Aljazair, Garraudy muda yang kala itu menjadi kader komunis, turut membantu pejuang Aljazair melawan tentara kolonial Perancis. Suatu saat ia tertangkap pasukan kolonial dan langsung dijatuhi hukuman mati.

Komandan pasukan kolonial memerintahkan para serdadu lokal untuk mengeksekusi Garraudy. Serdadu-serdadu lokal itu, yang beragama Islam, menolak dengan alasan orang Islam tidak membunuh orang yang sudah menyerah dan tidak bersenjata. Akhirnya, Garraudy pun urung dihukum mati. Dan karena terkesan dengan sikap para serdadu lokal Aljazair, Garraudy tertarik untuk mempelajari Islam. Roger Garraudy kemudian dikenal sebagai pembela rakyat Palestina yang tangguh.

Saya juga ingat dengan Hitler yang telah memerintahkan pasukannya untuk tidak "menghabisi" pasukan ekspedisi Inggris dan sisa-sisa pasukan Perancis yang terkepung di kota pantai Dunkirk di masa awal Perang Dunia II. Akibatnya ratusan ribu pasukan Inggris dan Perancis itu berhasil menyelamatkan diri dengan berlayar ke Inggris dan kembali berperang melawan Jerman.

Boleh jadi Hitler berusaha membujuk Inggris dan Perancis untuk tidak melibatkan diri dengan masalah yang sedang dihadapi Jerman dengan Polandia dan Uni Sovyet yang menurut Hitler telah menjadi "jew occupied nations" atau negara-negara yang jatuh dalam kekuasaan keji kaum yahudi dan karenanya harus dibebaskan. Namun yang pasti, Hitler masih lebih manusiawi dibanding sang kapten tentara Israel. Setidaknya Hitler tidak menembak mati seorang gadis berumur 13 tahun yang tengah terluka dan tergeletak di tanah dengan wajah tertelungkup.


Catatan:

Dalam rangka membujuk Inggris untuk tidak melibatkan diri dalam perang, Hitler mengutus wakilnya, Rudolf Hess untuk bernegosiasi dengan pemerintah Inggris. Namun bukannya menyambut Hess sebagai tamu negara pembawa perdamaian, Hess justru ditahan bak seorang kriminal dan kemudian dibunuh secara diam-diam di dalam tahanannya.

Hitler membunuh 6 juta orang yahudi? Anda pasti bercanda. Pada tahun 1990 lalu pemerintah Polandia telah merevisi jumlah korban holocoust di Polandia dari 4,5 juta menjadi 1,5 juta. Dan Anda masih berteriak-teriak 6 juta orang? Selain itu para pemujaholocoust tidak pernah bisa membuktikan satu orang pun, hanya satu orang saja di antara jutaan yang dituduhkan, yang meninggal karena gas beracun Jerman. Dan Anda masih berteriak-teriak 6 juta orang?


Keterangan gambar: Jenazah Mona dan ibunya.

"Useful Idiots"



Orang-orang yang Disebut "Useful Idiots"


---------
Ayah, saya harus mengakui bahwa pada saat itu saya menyukai membunuh orang," pengakuan Che Guevara tentang pembunuhan pertama yang dilakukan Che terhadap seorang lawan politiknya, dengan menembaknya di kepala.
---------

Mungkin John Reed, wartawan Amerika peliput peristiwa sejarah Revolusi Bolshevik, merasa bangga dengan dedikasinya kepada komunisme. Karena buku karangannya, "Ten Days That Shocked the World", namanya termasyur di seluruh dunia. Negara Uni Sovyet pun mengangkatnya sebagai pahlawan. Namun apabila ia tahu apa tanggapan Lenin dan para pemimpin Uni Sovyet tentang orang-orang sepertinya, orang liberal Amerika yang bersimpati kepada komunisme, ia pasti akan menangis. Oleh Lenin ia dan orang-orang sepertinya dicap sebagai "orang-orang idiot yang bermanfaat" (useful idiot).

Lenin, sebagaimana para pemimpin komunis Uni Sovyet berdarah yahudi, tahu apa hakikat dari komunisme: alat yang efektif untuk menghancurkan tatanan lama seperti negara, bangsa, dan agama, untuk digantikan dengan tatanan baru dimana orang-orang yahudi menjadi penguasanya.

Untuk itu semua, dalam rangka menghancurkan suatu bangsa dengan segala sejarahnya yang telah terbentuk ratusan tahun, komunisme selalu menerapkan satu pola strategi yang sama di manapun berada: pembunuhan besar-besaran atas masyarakat terdidik dan meninggalkan sisanya orang-orang bodoh dan kriminal yang mudah dikendalikan.

Maka beruntunglah William Dudley Pelley, seorang wartawan Amerika lainnya yang dikirim untuk meliput komunisme Uni Sovyet paska revolusi Bolshevik tahun 1918. Dengan mata kepala sendiri Pelley menyaksikan kekejian orang-orang komunis. Mereka membantai rakyat Rusia, orang-orang kristen yang taat dan sederhana, dengan keji. Pelley menyaksikan mayat-mayat, termasuk wanita dan anak-anak berjejer di sepanjang jalan di kota-kota hingga di pelosok desa. Ia juga menyaksikan cara-cara pembunuhan yang paling keji: para petani disula dan disalib di jendela rumahnya sendiri. Ia juga menyaksikan pembantaian di satu sekolah anak-anak. Orang-orang komunis menyerbu satu ruangan yang penuh dengan anak-anak dan gurunya, menembakinya dalam jarak dekat hingga darah dan ceceran otak terserak hingga atap.

Meski angkanya berbeda-beda (berkisar antara 20 juta hingga 100 juta), para ahli sejarah sepakat rejim komunis Sovyet telah membunuh puluhan juta rakyat Rusia. Komunisme Cina juga telah membunuh puluhan juta rakyat Cina dalam satu gerakan politik yang disebut dengan Revolusi Kebudayaan pada tahun 1960-an. Ditambah pembunuhan-pembunuhan massal yang terjadi di Indochina, Amerika Latin, Afrika dll, maka komunisme adalah mesin pembunuh massal terbesar dalam sejarah manusia.

Atas kekejian itu Palley menjadi sadar apa hakikat dari komunisme yang sebelumnya ia kagumi. Ia berbalik haluan menjadi seorang penentang komunisme yang gigih. Ia bukan lagi "orang bodoh yang bermanfaat" sebagaimana John Reed. Bukunya yang berjudul "Dupes Of Judah - A Challenge To The American Legion - Shall we go to War this time to save Germany’s Jews or Sassoon’s Yellow River Dope Trade?" menjadi karya fonumental yang membongkar sisi gelap komunisme serta motif di belakang terjadinya berbagai peperangan besar di dunia.

Kini "useful idiot" telah berbubah menjadi beberapa bentuk. Salah satunya adalah sekelompok orang yang menamakan diri "Anti Racist Activists" (ARA).
Mereka umumnya berkulit putih Amerika Utara, pengangguran atau pekerja paruh waktu, pengguna obat-obatan terlarang yang setiap akhir pekan berkumpul mengadakan aksi-aksi demonstrasi yang sering berujung kekerasan. Mereka lebih suka menyerang orang-orang kulit putih anti-yahudi/zionisme/globalisasi/neo-liberalisme/perang.

Mereka bekerja untuk melindungi kepentingan yahudi yang terancam akibat terbongkarnya praktik-praktik jahat dan konspirasi orang-orang yahudi dalam berbagai peristiwa kejahatan di dunia akhir-akhir ini (Skema Ponzi Bernard Madoff, krisis keuangan global, Tragedi WTC, dll). Terima kasih kepada internet, media massa bebas terakhir yang masih bertahan yang telah membongkar kejahatan-kejahatan itu. Berkat internet, pendaratan manusia ke bulan juga telah terbongkar sebagai hoax belaka. Program super mahal pendaratan manusia ke bulan, bersama peperangan-peperangan yang dilakukan Amerika merupakan faktor penting penyumbang defisit keuangan pemerintah Amerika yang harus ditutupi dengan hutang kepada para kapitalis yahudi dengan bunga yang mencekik leher rakyat.

Dalam aksi-aksinya para aktivis ARA biasanya bergaya hippies dengan bandana dan penutup wajah di kepala, menggemari musik rock grunge, menyerukan gerakan cinta lingkungan secara ekstrim. Mereka tidak pernah benar-benar bekerja untuk hal-hal yang mereka gembar-gemborkan. Fantasi mereka tentang masyarakat egaliter sebagaimana impian Karl Marx sebenarnya hanyalah ilusi dan tidak lebih dari upaya perbudakan seluruh umat manusia oleh segelintir penguasa jahat. Para penguasa komunis hidup sebagai kasta tertinggi struktur sosial masyarakatnya. Di korea Utara negara komunis itu bahkan telah menjadi kerajaan dimana kekuasaan diturunkan dari seorang ayah ke anaknya.

Para aktifis ARA jarang mengutuk Israel atas kebiadabannya di Palestina. Mereka justru menyerang siapapun yang menunjukkan ekspresi kebencian terhadap Israel atau yahudi.

Dalam satu hal, orang-orang ini mengidap sindrom stockholm. Mereka menjadi sandera tapi kemudian malah jatuh cinta kepada penyanderanya. Negara dan masyarakat barat telah kacau balau dan moralitas mereka telah dijungkirbalikkan (Baru-baru ini terdengar berita adanya pesta seks yang dilakukan ratusan orang di rumah seorang bangsawan Inggris. Seks telah menjadi acara game show di televisi-televisi barat). Dan mereka menyukai semua kondisi ini. Mereka rela menjadi prajurit di baris depan untuk mempertahankan semua kondisi ini.

Dalam impiannya mereka mengira sebagai orang-orang yang melakukan perubahan besar, namun tampak jelas mereka hanya menderita demam impian.

ARA terlibat dalam aksi teror terhadap Ernst Zundel, warga Kanada kelahiran Jerman yang berani membantah kebonongan dongeng holocoust. Aksi teror paling keji mereka adalah membakar habis rumah Zundel, dan polisi Kanada (salah satu jew enslaved nation) tidak melakukan tindakan yang sesuai terhadap para pelaku. Merasa terancam Zundel menyelamatkan diri ke Amerika dengan harapan negara ini masih menjunjung tinggi kebebasan berbicara sebagaiman dijamin dalam konstitusinya. Namun Zundel keliru. Pemerintah Amerika (another jew enslaved goverment) menangkapnya dan mendeportasinya ke Jerman (the most jew enslaved nation), negeri yang menjamin setiap penentang Israel, yahudi dan holocoust akan dipenjara.

Jika Anda orang Jerman dan belum mengalami "mati otak" tentu akan seperti Zundel juga. Setiap saat Anda menonton televisi Anda disuguhi dengan film-film tentang holocoustdisertai tuduhan kepada rakyat bangsa Anda sebagai penjahat perang. Jika pun tuduhan itu benar, Anda pasti akan muak dan tidak tahan untuk memberontak. Apalagi jika Anda tahu kalau tuduhan itu adalah rekayasa penuh tipuan.


Che Guevara

Salah satu idola para "useful idiots" adalah Che Guevara. Ia orang yang kebingungan yang merasa "cool" dengan melakukan "pemberontakan" terhadap kemapanan. Dengan rambut gondrongnya, bandananya, dan motor trailnya.

Para idiot itu tentu tidak tahu kalau Che hanyalah seorang kriminal pembunuh rasis. Suatu saat ia menulis surat kepada ayahnya: "Ayah, saya harus mengakui bahwa pada saat itu saya menyukai membunuh orang." Pada saat yang lain ia menembak seorang anak lelaki 12 tahun di leher belakangnya hingga nyaris putus.

Pada saat lain ia menulis: "Orang-orang kulit hitam, contoh mengagumkan dari ras Afrika yang berhasil mempertahankan kemurnian rasnya berkat kejorokan mereka... orang-orang kulit hitam adalah para pemalas dan pemimpi yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan minuman keras."

Selain rasis, Che juga seorang totaliterian. Totalitaria down to his body hairs, totaliter hingga ke ujung rambutnya, demikian tulis Regis Rubray, seorang penulis Perancis. Che tidak pernah memprotes pembunuhan massal yang dilakukan kamerad-kameradnya, Stalin atau Mao Zedong atau Pol Pot.

Dan tragisnya semua kekaguman kepada Che hanya bersumber pada poto Che yang dibuat oleh fotografer Alberto Korba. Untuk foto itulah para "idiot berguna" itu mencurahkan tenaga dan pikirannya membela yahudi.

Ghost of Ezra Pound




Hantu Ezra Pound


Dikembangkan dari artikel "Ghost of Ezra Pound" karya John Kaminski dalam situs Incogman, 28 Juni 2009.


Hantu dari sastrawan Ezra Pound telah mengajak kita untuk memasuki "perpustakaan berkabut" dari pikiran kita, khususnya ke bagian yang telah disembunyikan oleh sekolah-sekolah publik dan media massa, sebagaimana juga oleh kebanyakan "website internet progresif".

Ezra, siapa? Pound adalah "guru besar" yang telah membimbing sastrawan-sastrawan paling cemerlang Amerika di abad 20: Ernest Hemingway, T.S. Eliot dan sebagainya. Ia adalah pendiri aliran sastra yang disebut modernisme . Namun selain sebagai sastrawan, ia juga aktivis politik yang tangguh sekaligus peneliti sejarah kebudayaan-kebudayaan kuno. Selama perang dunia II Pound menyiarkan keborokan-keborokan Amerika dan menyebarkan ajakan menentang sistem perbankan global. Untuk itu ia diadili dengan tuduhan pengkhianatan dan dihukum 13 tahun hidup di klinik perawatan jiwa. Saat ini, pesan-pesannya tampak semakin jelas dari sebelumnya.

Hantu dari Ezra Pound telah menyampaikan pesan tentang sebuah catatan kuno yang terlupakan: “Admonitions of an Egyptian Sage from a Hieratic Papyrus in Leiden,” yang telah diterjemahkan oleh Alan H. Gardiner pada tahun 1909:

“Negeri mesir tengah dalam kesengsaraan, sistem sosial tidak bekerja, kerusuhan terjadi di mana-mana. Orang-orang asing memangsa rakyat yang tidak berdaya, orang-orang kaya dijarah hartanya dan diusir dari rumahnya oleh orang-orang miskin. Ini bukan bencana lokal, melainkan bencana nasional. Anehnya sang raja fir'aun tidak berdaya apapun."

Mengetahui bahwa penasihat yahudi raja fir'aun telah menghentikan mimpi-mimpinya, hantu Ezra Pound menarik sebuah lembaran berdebu, Ipuwer Papyrus yang terkenal yang di dalamnya tertulis:

"Kota-kota telah hancur, tahun-tahun penuh dengan kebisingan. Kebisingan yang tiada henti. Ikan di danau dan sungai-sungai telah mati. Cacing-cacing dan serangga serta reptil berkembang biak tak terkendali."

Hantu Ezra Pound berkomentar, "Peristiwa-peristiwa yang sangat janggal. Tidak ada pertempuran, kerajaan tidak diserang oleh siapapun. Deskripsinya sangat janggal sebagaimana Revolusi Perancis dan Revolusi Komunis Rusia ... orang-orang kaya dijarah harta bendanya dan terusir dari rumahnya. Ada juga hal-hal yang paralel dengan Amerika modern ... ikan-ikan di danau-danau dan sungai-sungai mati .... kebisingan yang tiada akhir."

Ia kemudian membaca bagian dari tulisan sejarahwan Mesir abad V SM, Manetho: "Sekelompok orang miskin berasal dari timur (bangsa yahudi keturunan Nabi Ishak yaitu nabi Yusuf dan saudara-saudaranya), yang telah mendapatkan kesempatan untuk memasuki negeri ini, dan dengan kakuatannya menguasai negeri ini, tanpa kesulitan atau bahkan tanpa pertempuran."

Manetho menambahkan, "selama 511 tahun, bangsa yahudi menjadi bangsawan di Mesir, mengambil semua yang mereka inginkan dari rakyat Mesir yang tertindas, dan memancing permusuhan dengan tingkah mereka yang arogan di hadapan rakyat Mesir yang dikhianati. Dan akhirnya para pemimpin Mesir berhasil melakukan pemberontakan untuk menumbangkan kekuasaan yahudi. Selanjutnya bangsa Mesir memperbudak orang-orang yahudi sebagai bentuk hukuman."

"Selanjutnya datanglah masa Musa, saat orang-orang yahudi mengeluhkan nasib mereka sebagai budak di Mesir. Dan untuk menghentikan masa perbudakan mereka, Musa mengajukan petisi untuk membawa orang-orang yahudi ke Palestina untuk melanjutkan kehidupan nomadennya."

Itu adalah catatan-catatan pertama tentang apa yang telah dilakukan orang-orang yahudi dan akibat yang mereka tanggung. Hal itu terus-menerus terjadi di waktu-waktu dan tempat-tempat yang berbeda. Nebucadnezar II, raja Babilonia terbesar telah lama mendengar praktik-praktik keji yahudi di Palestina. Maka ia mengirimkan pasukan menyerbu Palestina dan membawa 30.000 orang yahudi sebagai budak ke Irak. Dalam waktu tidak lebih dari 50 tahun kemudian, kerajaan Babilonia pun runtuh karena pengkhianatan.

Dalam satu catatan di atas daun papirus yang ditemukan di Oxyhynchus, Mesir, seorang pejabat Romawi, Hermaiscus mencoba mengingatkan Kaisar Trajan tentang bahayanya membiarkan kekuasaan orang-orang yahudi membesar. Kepada kaisar ia berkata, “Ini mengkhawatirkan saya melihat kabinet Anda dipenuhi oleh orang-orang yahudi."

Apa yang dilakukan Hermaiscus sama dengan yang dilakuan Haman, pejabat kerajaan Persia yang mengingatkan Raja Cyrus tentang orang-orang yahudi. Nasib keduanya saja, dihukum mati. Cerita kematian Haman dapat dilihat di kitab perjanjian lama.

Hal yang sama terulang lagi di masa kekuasaan Julius Caesar di Romawi. Setelah gagal mengingatkan Caesar tentang orang-orang yahudi, Brutus dan para pejabat Romawi pun memutuskan membunuh Caesar. Namun itu semua tidak berhasil menghentikan orang-orang yahudi untuk melakukan konspirasinya menghancurkan kekaisaran Romawi. Hal ini dapat dilihat di buku The History Of The Decline And Fall Of The Roman Empire karya sejarahwan terkenal abad 18, Edward Gibbons.

Gibbons menulis penyebab keruntuhan Romawi sbb:
1. Angka perceraian yang tinggi yang menghancurkan organisasi sosial terkecil, yaitu keluarga.

2. Pajak yang meningkat tajam yang menghancurkan kestabilan ekonomi dan vitalitas negara. Pajak yang meningkat ini digunakan untuk membiayai belanja pemerintah yang defisit, membeli makanan dan kampanye pengalihan perhatian masyarakat seperti hiburan gratis. Seiring semakin tingginya masalah yang dihadapi negara, pemerintah semakin sering mengadakan pertunjukan-pertunjukan olahraga dan gladiator untuk mengalihkan perhatian publik.

3. Gaya hidup kalangan atas yang samakin mewah dan tak terkendali seperti pesta seks dan adu manusia.

4. Merosotnya kepercayaan rakyat baik kepada agama maupun kepada negara yang akhirnya mendorong kepada chaos dan disintegrasi.

5. Adanya konspirasi tersembunyi di belakang pemerintah yang secara diam-diam menggerogoti kekuasaan pemerintah. Konspirasi ini bekerja diam-diam dan tak terlihat publik.


Murid Ezra Pound, Eustace Mullins pernah berkata, "Rakyat Amerika harus menanggung beban ratusan miliar dolar hutang karena kita telah membiarkan orang-orang asing mengambil alih sistem moneter kita. LSM-LSM yahudi penyebar kebencian seperti Anti Defamation League menuduh Mullins sebagai anti-semit dan “conspiricy theorist”

Eustace Mullins adalah manifestasi hantu Ezra Pound. Atas dorongan Ezra, Mullins bekerja selama bertahun-tahun melalui studi kepustakaan terutama di Congress Library untuk membongkar konspirasi jahat seputar pembentukan bank sentral Amerika. Hasilnya adalah karya monumental "SECRETS OF THE FEDERAL RESERVE - The London Connection".
Narasi tentang hantu Ezra Pound di atas adalah dikutip dari buku karya Mullins "New History of Jews" yang ditulis tahun 1968. Karya ini memaparkan bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan besar di dunia selama berabad-abad dari kerajaan Mesir kuno hingga saat ini. Secara mengejutkan Ezra Pound menemukan pola yang sama dari bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan besar dunia itu.

Sebagai contohnya adalah sejarah kerajaan Inggris Raya. "Selama bertahun-tahun raja-raja Inggris menghadapi tuntutan dari rakyatnya untuk mengusir orang-orang yahudi dari Inggris," tulis Mullins.

Maka pada bulan Oktober 1290 sebanyak 16.000 orang yahudi diusir dari Inggris untuk pindah ke Perancis, Jerman, Spanyol dan Skandinavia. Selama 300 tahun orang-orang yahudi dilarang memasuki Inggris dan selama masa itu Inggris tumbuh menjadi negara paling maju di dunia.

Orang-orang yahudi berhasil kembali ke Inggris setelah berhasil membiayai revolusi yang dipimpin oleh Oliver Cromwell. Dengan dana tak terbatas dan tentara bayaran dari luar yang diberikan oleh orang-orang yahudi, Cromwell mengalahkan pasukan kerajaan, menangkap Raja Charles dan kemudian menggantungnya. Sebagai balas budi, Cromwell pun mengijinkan orang-orang yahudi untuk kembali ke Inggris.

Pendukung Cromwell adalah orang-orang yang menyebut dirinya kaum kristen puritan, penjaga nilai-nilai hakiki kekristenan. Sebagian besar dari mereka tidak menyadari bahwa mereka hanyalah "antek" upahan orang-orang yahudi. Sangat kejam orang-orang puritan itu menumpas rakyat Inggris yang setia kepada raja dan nilai-nilai tradisi kerajaan yang melekat di hati rakyat Inggris selama ribuan tahun, sehingga rakyat pun memberontak dan menyingkirkan pengganti Cromwell dan mendudukkan Charles II sebagai raja Inggris.

Namun orang-orang yahudi sudah kembali. Sebagian dari mereka menyamar dengan berganti nama atau agama. Seorang di antara mereka bahkan berhasil menjadi Perdana Menteri, Benjamin Disraeli. Orang-orang yahudi selanjutnya melanjutkan makarnya dengan membiayai Williams Orange dari Belanda, dan George dari Jerman untuk memberontak dan menyingkirkan keluarga Stuart sebagai pemegang sah kursi kerajaan Inggris.

Keluarga kerajaan Inggris saat ini adalah keturunan dari Raja George I yang saat dilantik menjadi raja, tidak dapat berbahasa Inggris. Waktu Perang Dunia I berkecamuk dan sentimen anti-Jerman sangat kuat di Inggris, keluarga kerajaan Inggris mengubah nama keluarganya yang berbau Jerman, "Saxe-Coburg-Gotha", dan menggantinya dengan nama "Windsor" yang lebih berbau Inggris.

Mullins menambahkan, orang-orang yahudi yang dikenal sebagai ahli pengobatan, ditakuti masyarakat karena praktik-praktik pembunuhan yang mereka lakukan dengan berkedok pengobatan. Pada tahun 833 orang-orang Islam (kerajaan Bani Umayah, blogger) melarang orang yahudi berpraktik sebagai tenaga medis.

Lebih jauh Mullins menambahkan: di universitas-universitas, semua pelajaran ditujukan kepada tiga tokoh pemikir yahudi, Karl Marx, Sigmund Freud, dan Eistein. Marx mengajarkan kediktatoran yahudi di balik komunisme. Freud menghancurkan nilai-nilai kemanudiaan dengan ajarannya bahwa jati diri manusia sepenuhnya dibentuk oleh instink-instink rendah: sex dan makan. Sedangkan Einstein adalah manusia pertama yang mengenalkan alat pembunuh massal terbesar dalam sejarah, bom nuklir.

Ditambah dengan ajaran Darwin yang mengajarkan manusia sebagai keturunan kera, serta ajaran Nitsze (keduanya juga yahudi) yang mengajarkan atheisme, lengkap sudah predikat yahudi sebagai penghancur nilai-nilai kemanusiaan.

Mengenai yahudi ini Mullins mencatat:
1. Yahudi selalu berada di balik peperangan-peperangan yang dilakukan bangsa-bangsa berbudaya.

2. Orang-orang yahudi adalah agen dari negara Israel.
3. Orang-orang yahudi selalu menyadari siapa dirinya.
4. Apapun ambisi seseorang, ia tidak akan dapat mewujudkannya selama adanya orang-orang yahudi.

Mengapa Nixon Diimpeach?



Pada bulan Februari 1973 Israel menembak jatuh pesawat penumpang sipil milik meskapai penerbangan Libya yang secara tidak sengaja memasuki wilayah pendudukan Israel. Insiden itu menewaskan seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 114 orang dan menimbulkan kemarahan masyarakat dunia kepada Israel, termasuk Amerika.

Atas tindakan "bodoh" tersebut Presiden Amerika saat itu, Richard M. Nixon mengungkapkan kekecewaannya kepada sahabatnya, pendeta evangelical Billy Graham, dan menyatakan tidak akan lagi memberikan dukungan kepada Israel. Tidak hanya itu, ia bahkan merencanakan untuk membangkitkan sentimen anti-semit di Amerika.

“Dengan tindakan ini, mereka kehilangan seluruh dukungan dukungan yang mereka dapatkan selama ini. Kitalah satu-satunya kawan mereka sekarang. Oh (peristiwa ini) sangat menyedihkan," kata Nixon.

Selanjutnya terjadilah sebuah percakapan antara Nixon dan Graham yang pada saat itu apalagi dalam konteks saat ini, dianggap sangat anti-semit. Graham membeberkan kejahatan-kejahatan Israel, khususnya terhadap ummat Kristen. Graham yang saat itu berumur 54 tahun membeberakan rencana jahat Israel untuk mengusir orang-orang kristen dari wilayah yang dikuasai Israel serta upaya-upaya sistematis yahudi untuk memisahkan agama kristen dari kehidupan sosial masyarakat Amerika.

"Mereka menyerang langsung ke gereja. Ada gejala-gejala yang jelas dirasakan di wilayah-wilayah dimana mereka telah mendapatkan dukungan," kata Graham.

Nixon membalas, "Apa yang menjadi perhatian saya adalah jauh di dalam negeri ini terdapat perasaan sentimen anti-semit yang sangat tinggi dan yang harus dilakukan hanyalah membangkitkannya."

Selanjutnya Graham menyinggung tentang upaya sistematis yahudi menyebarkan pornografi. Ia juga menyinggung tentang "gereja setan" yang disebut-sebut dalam injil yang menurutnya merujuk kepada sinagog yahudi.

Kita semua mengetahui bagaimana Presiden Nixon jatuh dari kekuasaannya. Telepon pribadinya disadap, rekamannya dikirim ke koran milik zionis yahudi Washington Post, dipublikasikan, terjadi kampanye besar-besaran anti Nixon, Congress mengancam mengimpeach, Nixon pun mundur.

Inilah Amerika. Sebuah kejahatan besar yang mengancam keamanan nasional dan diancam hukuman mati (penyadapan telepon presiden) justru digunakan untuk menurunkan sang presiden dari kekuasaan yang diperolehnya secara demokratis. Ironi ini sama dengan tewasnya John F. Kennedy di hadapan mata ribuan rakyat Amerika dan hingga saat ini belum diketahui jelas motif di belakang pembunuhan keji tersebut.

(Catatan: Presiden Clinton dalam kesaksiannya pada kasus Monica Lewinski juga pernah mengeluh tentang penyadapan di kantornya yang tidak bisa dihentikannya).

Rekaman percakapan antara Nixon dan Graham yang sebenarnya merupakan dokumen rahasia negara ini baru-baru ini muncul di media-media massa dan menimbulkan kontroversi baru. Kali ini Billy Graham lah yang menjadi korbannya.

"Rekaman percakapan itu hanya memperkuat keyakinan kami mengenai sosok berpengaruh namun telah retak, yang sangat dalam terinfeksi perasaan anti-semit sehingga tidak lagi bisa merasakannya," kata Abe Foxman, Direktur Anti Defamation League, sebuah LSM yahudi Amerika yang sangat berpengaruh, merujuk kepada Nixon, presiden ke 37 Amerika yang dikenal anti-semit.

"Menarik juga informasi itu menyangkut anti-semitisme Billy Graham. ... Meski tidak pernah menyampaikan perasaan anti-semitnya secara terbuka, Billy Graham tidak dapat dipungkiri merupakan cerminan kepalsuan anti-semitisme klasik."

Melalui juru bicaranya Billy Graham membantah pernyataan tersebut. Kepada USA Today, Rabu (24/6) Billy Graham mengatakan dirinya tidak pernah memiliki perasaan anti-semit dan pernyataannya harus dilihat dalam konteks pembicaraan dengan presiden. Mengenai "gereja setan" Graham mengatakan hal itu tidak menunjuk kepada yahudi secara khusus, melainkan orang-orang yang tidak menjalankan nilai-nilai tradisi yahudi.

Kasus anti-semit yang menimpa Graham bukan yang pertama kali. Pada tahun 2002 (lagi-lagi) rekaman pernyataannya pada tahun 1972 yang dianggap berbau anti-semit muncul ke permukaan. Akibatnya Graham harus membuat pernyataan permohonan maaf secara terbuka kepada publik. 

Apa yang dikatakan Billy Graham pada tahun 1972 itu? Hanyalah keluhan tentang dominannya pengaruh yahudi di media massa Amerika.

Sabtu, 16 Juni 2012

HARI KEBENCIAN WANITA INTERNASIONAL





Siapa bilang komunisme telah mati? Ia hanya pingsan. Tuannya, para bankir Yahudi "penguasa dunia belakang layar", masih memberinya makan, dipelihara di dalam kandang untuk dilepaskan kembali bila diperlukan.

Buktinya Majalah Tempo masih menjadikan tokoh komunis melayu, Tan Malaka, sebagai tema edisi khusus kebangkitan nasional Indonesia, orang-orang liberal-demokrat-bodoh masih mengelu-elukan Che Guavera, dan orang-orang yang sama masih memperingati hari-hari suci komunisme seperti Hari Buruh Internasional dan Hari Wanita se-Dunia (International Woman's Day).

Di Indonesia, Hari Wanita Internasional (IWD) yang jatuh tiap tanggal 8 Maret, masih diperingati dengan gaya yang agak santun seperti memberikan bunga atau seminar. Pasti untuk menghindari kecurigaan masyarakat, terutama ummat Islam Indonesia yang sangat anti-komunis. Namun di negara lain, HWD telah menunjukkan wujud aslinya sebagai mesin propaganda komunisme.

Poster peringatan IWD di Kanada di atas menunjukkan filosofi IWD sebenarnya: menghancurkan tata sosial dimana suami menjadi pimpinan. Poster tersebut secara provokatif mengajak wanita untuk meninggalkan kodratnya sebagai pasangan laki-laki penerus generasi manusia dan sebagai ibu yang mendidik dan memelihara anak-anak, menjadi wanita pekerja kasar dan komoditi seks.

Persis sama dengan kampanye homonisasi yang saat ini marak di Indonesia dengan icon-nya Ryan "pembunuh berantai" dan Olga Syahputra --- yang terakhir ini menjadi alasan mengapa Hillary Clinton memilih menjadi bintang tamu acara "Dahsyat" RCTI dimana Olga menjadi host-nya, daripada acara-acara yang lebih serius di MetroTV dan TVOne. Hillary adalah seorang tokoh demokrat Amerika yang platform politiknya memperjuangkan hak-hak kaum homo. IWD merupakan alat untuk menghancurkan tata dunia lama untuk digantikan dengan "tata dunia baru" dimana kaum Yahudi menjadi penguasanya.

Dalam poster tersebut para wanita diajak mengikuti pawai dengan mengenakan simbol-simbol anti-wanita. Selain palu, kaum wanita diminta membawa topi pekerja, helm, sabuk tukang, kaca mata las, dan "simbol-simbol perubahan" lainnya.

Tentu saja IWD tidak diciptakan untuk menghargai wanita dengan sifat-sifat terhormatnya: kecantikan, kecerdasan, dan kesantunan. Sebaliknya IWD adalah bentuk memanipasi mereka dengan berbagai persepsi-persepsi keliru yang merusak. Mereka berusaha menarik wanita sebagai pendukung agenda "tata dunia baru".

HWD sebenarnya adalah bentuk kebencian kepada wanita dan tata sosial masyarakat dan humanis dan religius. Dan orang-orang yang mendukung dan berpartisipasi adalah orang-orang yang oleh tokoh komunis Joseph Stalin disebut sebagai "orang-orang bodoh yang berguna".

Para operator komunisme menangkap kebodohan orang-orang dengan slogan-slogan yang menggiurkan: persamaan, perdamaian, HAM, kebebasan, dan sebagainya. Mereka tidak sadar bahwa gerakan-gerakan tersebut didanai dan diorganisir oleh komunisme baru, yang pada akhirnya didanai dan diorganisir oleh para bankir yahudi "penguasa dunia belakang layar".

HWD pertama kali diselenggarakan tahun 1910 di Kopenhagen, Denmark, oleh organisasi komunis internasional "The Socialist International". Mereka mengklaim peringatan ini ditujukan untuk memperjuangkan "hak-hak kaum wanita".

Ini adalah manifesto untuk IWD yang dipublikasikan di "Die Kommunistin", 2 Maret 1921: "Untuk semua wanita pekerja! Anda yang membuat permintaan-permintaan dan perjuangan dalam jumlah jutaan... Pada semua masa dimana gelombang tak terwariskan maju di bawah panji-panji komunisme melawan eksploitasi dan pelecehan kekuatan kapitalisme. Pada perayaan Hari Wanita se-Dunia para ibu yang penuh derita, istri-istri yang ketakutan, buruh-buruh wanita yang kecapaian, pegawai-pegawai, guru, dan pemilik lahan-lahan sempit, mengalir bersama."(Wiemar Republic Sourcebook, 1995)

IWD dirancang untuk membuat wanita merasa telah diperlakukan tidak adil dan ditekan. Sebagai contoh satu halaman "fakta-fakta gender" mengatakan bahwa 2/3 pekerja di dunia adalah wanita, namun mereka hanya mendapatkan 10% penghasilan. Mereka juga dicuci otaknya untuk selalu berfikir bahwa kepentingan mereka terpisah dengan kepentingan keluarga mereka.

Ribuan acara diselenggaran dalam IWD. Di Unitarian Church London, Ontario, Kanada sebuah acara digelar oleh sebuah LSM untuk wanita Afghanistan. "menghorm

Thousands of events are planned around the world. For example, at the Unitarian Church in London Ont. an organization for Afghanistan women and girls Dalam undangannya menulis "Untuk menghormati dan merayakan para wanita lokal dengan musik, nyanyi, dansa dan aneka hiburan. Semua wanita diundang. Acara gratis!" Sangat bernuansa lesbianis.

Di San Francisco, diadakan cocktail party dan pemutaran film tentang penderitaan wanita di Gaza, seolah hanya mereka yang menderita dan para lelaki, anak-anak dan orang tuanya tidak. Atas nama "kesamaan gender", mereka mempraktikkan "ketidak samaan gender". Dengan memisahkan wanita-wanita muslim dari keluarganya, mereka bermaksud memudahkan mereka untuk dieksploitasi.

Fakta bahwa event-event berbau komunis seperti IWD dan Hari Buruh Internasional dirayakan setiap tahun membuktikan bahwa masyarakat telah tercuci otaknya oleh propaganda zionisme cq komunisme/sosialisme. Kebanyakan masyarakat bukan sosialis apalagi komunis, namun mereka bangga dapat berpartisipasi dengan event-event semacam IWD. Dengan kebodohannya tersebut, mereka telah turut berperan dalam penghancuran dunia untuk diserahkan bulat-bulat kepada agen iblis di bumi: para bankir Yahudi pemakan riba "penguasa dunia belakang layar".


Sumber: Henry Makow Ph.D, henrymakow.com, March 7, 2009

Che dan Pelukan Maut Komunisme





Dunia tidak mungkin melepaskan diri dari kehancuran selama masih "memeluk" komunisme dengan segala "tetek bengek"-nya. Salah satu tanda dari "tetek bengek" komunisme adalah masih beredarnya buku-buku komunisme di perpustakaan-perpustakaan, beredarnya kaos-kaos, buku-buku, dan film-film mengenai Che Guevara.

Kalau di Indonesia adalah masih dihormatinya sosok seperti Pramoedya Ananta Toer dan Tan Malaka. Saya pernah membaca biografi Che Guevara yang dimuat di majalah Matra dan edisi khusus Tan Malaka di majalah Tempo. Kini saya tahu kaitan antara Matra-Tempo dengan Che-Tan Malaka, yaitu melalui para eksekutif kedua majalah tersebut dengan Eric Samola, melewati taipan Ciputra dan berakhir di konglomerasi media massa global milik Yahudi.

Tetek bengek komunisme itu kini tengah mencapai kulminasi dengan diproduksinya sebuah film biografi Che Guevara berdurasi 4 jam 17 menit. Bukan oleh orang-orang komunis China, Kuba atau mantan komunis Uni Sovyet, melainkan oleh orang-orang "kapitalis" Hollywood Amerika. Tepatnya sutradara peraih Oscar Steven Soderbergh.

Bagi orang-orang liberal itu (pemuja kapitalis dan komunis sekaligus), rupanya Che lebih berharga dibandingkan para founding father Amerika sendiri. Demi Tuhan, bangsa Amerika bahkan memberi penghargaan sangat tinggi kepada sosok komunis yang lain, Marthin Luther King, dengan menjadikan hari kelahirannya sebagai hari libur nasional. Arwah para founding father pasti iri para arwah Marthin Luther.

Mick LaSalle, seorang kritikus film dari San Francisco pun dibuat bingung oleh sutradara Steven Soderbergh yang membuat film ini. "Jika saja Soderberg membuat film tentang George Washington dan Abraham Lincoln. Dengan membuat film tentang kepahlawanan Che Guevara, Soderberg menganggap kita semua setuju dengan pandangan dalam filmnya," katanya.

"Film itu merupakan versi gerilya komunis dari film Stations of the Cross, dimana kita melihat sosok Guevara dalam berbagai periode yang penuh kekerasan. Film ini tidak mengajak orang untuk berfikir, namun untuk memuji, bahkan mungkin memuja."

Ini bukan film pertama buatan Hollywood tentang Che, seorang pembunuh (tidak ada komunisme tanpa pembunuhan-pembunuhan massal yang keji) yang digambarkan sebagai "orang suci". Pada tahun 1969 Hollywood membuat film serupa dengan Omar Sharif berperan sebagai Che dan Jack Palance sebagai Fidel Castro. Selain itu pada tahun 2004 lalu juga diproduksi film sejenis dengan judul "The Motorcycle Diaries" (Che dikabarkan menggunakan motor trail selama menjalankan missi gerilyanya di Amerika Selatan), dan belasan film sejenis yang dibuat oleh stasion-stasion televisi.

Kaum komunis mengklaim perjuangannya adalah demi melayani rakyat. Mengejutkannya, masih cukup banyak orang bodoh yang mempercayainya, membaca dan melihat film-film Che dengan berlinangan air mata. Namun mengapa para pemuja Che juga melibatkan para sineas kapitalis Hollywood?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa media massa dan dunia hiburan Amerika bahkan global, dikuasai oleh kapitalis Yahudi. Namun tidak banyak yang tahu bahwa para kapitalis Yahudi itulah yang menjadi "bapak komunisme" dunia.

Peristiwa-peristiwa besar dunia, hampir semuanya merupakan hasil skenario mereka untuk mengubah bentuk monopoli kekuasaan penciptaan uang dan kredit menjadi monopoli politik, bisnis, budaya dan agama. Mereka menciptakan kedua paham kapitalisme dan komunisme untuk membuat dunia sibuk menghabiskan energi, mengalihkan perhatian massa sekaligus menangguk untung dari bisnis peperangan komunisme versus kapitalisme.

Pada tahun 1953 Ketua Ford Foundation Howard Gaither mengakui kepada tim penyidik Congress bahwa kebijakan lembaganya adalah "menggunakan dana-dana sumbangan untuk merubah kehidupan kita di Amerika sehingga dapat bergabung dengan nyaman dengan Uni Sovyet."

Bangsa Amerika mempunyai ingatan sejarah yang sempit sehingga lupa bahwa agen-agen komunis nyaris berhasil merubah Amerika menjadi negara komunis, kalau saja tidak ada beberapa patriot dipimpin oleh anggota Congress McCarthy, yang melawan dan menggagalkan rencana tersebut. Akibat kegagalan tersebut maka rencanya besarnya diubah, yaitu mengganti Uni Sovyet menjadi kapitalis. Maka runtuhlah Uni Sovyet karena pengkhianatan Gorbachev dan Boris Yeltsin. Inilah sebabnya mengapa jargon komunisme "political corectness" kini menjadi jargon politik Amerika.

Mengapa yayasan-yayasan dan media massa mempromosikan feminisme, homoseksualisme, dan pornografi untuk menghancurkan masyarakat? Mengapa mereka mensponsori "liberalisme" dan "keberagaman" untuk menghancurkan identitas bangsa. Mengapa industri hiburan dan informasi berubah menjadi berorientasi sek, kekerasan, dan penyimpangan-penyimpangan sosial. Kita tidak sadar bahwa sebuah "mesin budaya" tengah mengendalikan kita menuju kehancuran masyarakat.

Eustace Mullins, seorang penulis murid sastrawan besar Ezra Pound, menulis buku tentang konspsirasi Bank Sentral Amerika. Tulisan tersebut diilhami oleh Ezra Pound yang terobsesi untuk membongkar kejahatan di balik pembentukan Bank Sentral. Para penerbit mengatakan kepadanya, mengapa ia melawan mereka dan mengabaikan tawaran menjadikannya sastrawan besar pemenang Nobel seperti Hemingway, Steinbeck, dan Faulkner (semuanya murid Ezra Pound).

Maka Mullins tetap menjadi sastrawan kelas bawah. Namanya mungkin baru akan dihormati nanti setelah masyarakat sadar bahwa apa yang ditulisnya dalam buku "Secret of The Federal Reserve (The London Connection)" adalah benar. Sementara Ezra Pound harus menghabiskan hidupnya di klinik kejiwaan setelah pemerintah tidak memiliki alasan untuk mengadilinya.

Rupert Murdoch, yang korporasi media massanya didanai oleh keluarga bankir Yahudi Rothschilds, mengatakan baru-baru ini, "Kita berada di tengah-tengah sejarah dunia dimana bangsa-bangsa akan didefinisikan kembali (redifined) dan masa depan akan berubah secara fundamental."

Murdoch benar bahwa orang-orang seperti keluarga Rothchild lah yang bisa menentukan masa depan bangsa-bangsa di dunia.


Che, Castro, dan Revolusi Kuba

Sampai beberapa hari lalu saya masih tidak bisa mengetahui dengan pasti, mengapa Amerika memiliki sebuah pangkalan militer di Kuba, tepatnya di Guantanamo. Sampai saat itu saya juga tidak memahami mengapa regim Batista dukungan Amerika, kalah dengan mudah melawan Castro, di negeri yang sangat dekat dengan Amerika.

Fidel Catro berhasil mengalahkan Batista berkat bantuan para kapitalis Amerika yang bekerja di birokrasi, militer dan media massa. Mereka menghentikan bantuan kepada Batista dan membiarkan Castro mendapat bantuan senjata besar-besaran dari Uni Sovyet. Ini membuat para pendukung Batista sadar bahwa "angin tidak lagi berhembus ke arah yang benar" dan mereka pun berubah haluan dengan mendukung Castro.

Hal ini tertulis di buku karangan Nataniel Weyl berjudul "Red Star Over Cuba". Weyl adalah seorang tokoh komunis Amerika tahun 1930-an, dan kenal dekat dengan tokoh-tokoh komunis Kuba. Saat itu ia sebenarnya bekerja untuk bankir Amerika dengan "menyamar" sebagai peneliti Federal Reserve (bank sentral AS) untuk wilayah Amerika Selatan. Weyl adalah seorang yahudi yang sadar dengan kejahatan komunisme dan kemudian mendedikasikan hidupnya untuk membongkar kejahatan komunisme di Amerika Latin.

Menurut Weyl baik Che Guevara dan Fidel Castro dididik oleh agen-agen komunis Sovyet sejak masih remaja. Guevara, kelahiran Argentina, menjadi penghubungan antara agen-agen rahasia Sovyet dengan kelompok Castro yang menyamar sebagai penduduk asli.

"Senjata rahasia Castro adalah uang --- jutaan dolar dengannya ia membeli kemenangan. Ia membeli semua tentara Batista, dan dalam satu kesempatan membayar $650 ribu tunai untuk satu batalion tentara dengan perlengkapannya.

Dubes Amerika di Kuba Earl Smith mengaku bahwa militer Kuba pimpinan Batista tidak pernah bertempur dengan sungguh-sungguh. Alasan utamanya, menurut Earl adalah perubahan politik Amerika yang meruntuhkan moral pasukan Batista.

Alasan lainnya adalah maraknya gerakan freemason bentukan Rothschild di Kuba. Baik Castro maupun Che adalah anggota mason. Saking besarnya gerakan ini, di ibukota Havana terdapat markas Grand Lodge berlantai 15.

Menurut Humberto Fantova yang menulis buku "Che! Hollywood's Favorite Tyrant", Guevara terlibat dalam pembantaian 10,000 warga Kuba setelah revolusi. Fantova menulis tentang Che, "pembunuh haus darah, pengecut, hipokrit. Tidaklah berlebihan mengatakan Che adalah godfather dari terorisme modern. Dan kini para penganutnya dengan naif memuji-mujinya terus menerus. Mereka adalah orang-orang yang oleh Stalin disebut sebagai "para idiot yang menyenangkan."

Segera setelah revolusi Kuba yang mendudukkan komunis di kursi kekuasaan Kuba, seorang wartawan menanyakan kepada Che, "Apakah Anda melihat dalam waktu dekat akan ada sebuah pemilu yang demokratis di Kuba." Che hanya tertawa mendengar pertanyaan naif tersebut. Hingga kini Kuba adalah kerajaan diktator dengan Castro sebagai rajanya. Komunisme yang melayani rakyat? Itu hanya sebuah alat untuk menggapai kekuasaan mutlak.

Kalau begitu sebenarnya yang terjadi, lalu bagaimana dengan insiden Invasi Teluk Babi oleh Amerika (invasi Amerika ke Kuba yang gagal)? Itu hanya operasi intelegen Amerika yang sengaja dibuat gagal untuk menaikkan image Castro.

Lalu bagaimana dengan pembunuhan Che oleh agen-agen Cia? Baik. Ia telah melaksanakan tugasnya dan tidak diperlukan lagi. Sebagaimana komunisme, ia hanyalah alat.
┌П┐(►˛◄) ┌П┐

Ada Soros di Balik Hillary



Pertemuan yang digelar di Gedung Arsip Nasional, 18 Februari 2009 antara Menlu Amerika Hillary Rodham Clinton dengan sekitar 50 undangan, disinyalir diatur oleh George Soros, tokoh "filantropi" yang dikenal dekat dengan Partai Demokrat di AS.
Adalah Suciwati, istri mendiang "pejuang HAM" Munir Said Thalib yang menjadi bagian dari tamu yang diundang pada pertemuan tersebut. Suciwati adalah salah satu anggota Program Team Tifa Foundation, yayasan yang mendanai sejumlah LSM Indonesia yang mendapat dana dari George Soros.

Konon saat pertemuan tersebut Suciwati mendapat kesempatan khusus untuk menyampaikan aspirasinya terkait kasus Munir kepada Hillary. Kepada Menlu AS itu, Suci meminta Hillary agar menanyakan perkembangan proses kasasi kasus Munir ke Presiden SBY.

Meski akhirnya Hillary urung meneruskan permintaan Suciwati itu saat diterima Presiden SBY di Istana Negara, terangkatnya kasus Munir dalam acara kunjungan kenegaraan itu telah menimbulkan spekulasi. Apakah ini memang telah didisain untuk memojokkan pemerintah Indonesia yang menjadi bagian dari smart power rejim Obama?

Indonesia menjadi penting di mata Obama. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia dipandang bisa menjadi simpul penting dalam diplomasi rejim Obama yang berniat "memperbaiki" hubungan dengan dunia Islam. Maklum, paska agresi Israel yang membantai lebih dari 1300 warga Palestina di Gaza, dunia Islam mengecam kebijakan luar negeri AS yang lebih memihak Israel.

Peran Indonesia untuk kampanye "smart power" rejim Obama bertambah penting, mengingat posisi Indonesia yang masih berseberangan dengan Israel dalam menyikapi konflik di Gaza tempo hari. Bahkan bersama Iran dan Turki, Indonesia termasuk negara yang memotori penuntutan terhadap Israel ke Mahkamah Internasional atas kejahatan rejim zionis itu.

Atas desakan lobi Israel (AIPAC), diplomasi luar negeri AS akan diarahkan untuk mamasukkan Indonesia ke dalam "poros Arab" yang menjadi benteng Israel. Dengan masuk ke dalam poros ini, Indonesia akan diberi peran lebih besar dalam menengahi perundingan damai konflik Israel-Palestina, dengan syarat keluar dari pemrakarsa tuntutan atas Israel ke Mahkamah Internasional.

Sumber Intelijen menyebut, jaringan Soros yang dikenal mendunia melalui wadah Open Society Institute (OSI), ambil bagian dalam menyukseskan agenda AIPAC tersebut. Soros yang lebih dikenal di Indonesia sebagai spekulator pasar uang dan dituding pernah ikut menenggelamkan perekonomian Indonesia pada tahun 1998, akan memainkan peran penting dalam diplomasi luar negeri Obama.

Di Indonesia jaringan Soros mendanai dua lembaga non pemerintah (NGO), yaitu Tifa Foundation dan International Transperancy. Peran OSI tidak kalah dengan lembaga pendanaan Amerika lainnya seperti USAID dan the Asia Foundation. Sejumlah LSM utama di Indonesia dibiayai OSI. ---sisanya dibiayai oleh USAID dan Asia Foundation.

Sebut saja Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jaringan Islam Liberal (JIL), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Wakhid Institute, Komunitas Utan Kayu, JPPR, dan banyak lembaga lainnya. (Tifa Foundation menjadi semacam LSM induk dimana LSM-LSM mendapat dana dari OSI melaluinya. Habibie Center memilih negara-negara Uni Eropa sebagai sumber dana. Tidak mengherankan jika para tokoh LSM dan tokoh-tokoh demokrat-liberal negeri ini ramai-ramai mendemo pemerintah terkait pencekalan Sydney Jones, wanita lesbian Yahudi aktivis LSM yang dicekal pemerintahan Megawati --- atas saran Badan Inteligen Nasional--- karena menjadi agen rahasia asing, pen).

"Memberdayakan masyarakat adalah menjadi tujuan OSI di seluruh dunia, namun pada intinya adalah menggiring opini masyarakat sehingga pada akhirnya menekan pemerintah suatu negara," kata sumber tersebut.

Melalui jaringan OSI ini konon Soros menggalang apa yang disebut "humanitarian intervention", yakni suatu pendekatan untuk menembus psikologis masyarakat, khususnya dalam hubungannya dengna negara. Dengan hadirnya tekanan masyarakat itu membuat pemerintah relatif lemah dan akhirnya mau mengikuti apa yang diinginkan "sponsor".

OSI yang dikenal karena reputasinya mengacak-acak sejumlah negara Eropa Tengah, Eropa Timur, dan Uni Sovyet paska Perang Dingin, disinyalir akan kembali memainkan konflik di Papua dan Aceh.

Lihat saja di Aceh, paska bencana tsunami dan perjanjian Helsinskib 2005, kehadiran jaringan Soros begitu semarak. Soros sendiri secara pribadi telah beberapa kali mengunjungai Aceh.

Sumber Intelijen menyebut, untuk persiapan Pemilu Lokal 2009 di Aceh, Soros telah membiayai Partai Aceh yang merupakan wadah perjuangan politik Gerakan Aceh Merdeka. Sebelumnya perundingan RI-GAM juga tak lepas dari campur tangan sang "predator berbulu filantropi" yahudi ini.

Untuk kasus Aceh, Soros menggunakan jasa perunding ulung, Damiens "spin doctor" Kingsbury yang juga berdarah Yahudi (dan Marthi A, mantan presiden Finlandia "another jew ass sucker goy", blogger). Hasan Tiro? Pengaruh Yahudi dapat dilacak dari istrinya yang berdarah Yahudi. Sang "spin doctor" adalah arsitek pelepasan Timor Timur dari Indonesia. Tidak heran jika Habibie kemudian tidak nyaman tinggal di Indonesia dan memilih Jerman sebagai "pengasingannya". (Namun komunitas Indonesia di Jerman mengaku tidak begitu dekat dengan keluarga Habibie yang lebih banyak bergaul dengan kalangan jet set Eropa, bogger).

Meski banyak negara menyadari akan bahaya yang ditimbulkan oleh jarinan Soros, kenyataannya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah yang bersangkutan. Selain karena faktor keterpurukan ekonomi dan kemiskinan masyarakat, faktor lainnya adalah sifat kegiatan yang "bermanfaat" bagi masyarakat lokal.

Bisa dibayangkan dengan aktivitas pemberdayaan masyarakat atau penggunaan istilah-istilah "halus" lainnya seperti slogan "transparansi", "HAM", "demokrasi", "persamaan gender", dan lain-lainnya, menjadikan kegiatan jaringan Soros ini sulit ditolak. Dalam istilah inteligen disebut sebagai "positive inteligent activity".

Belum lagi dari segi keterpurukan ekonomi dan kemiskinan masyarakat, menjadikan sedikit saja bantuan materi yang dilakukan yayasan Soros, sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini sekaligus membuat peran pemerintah menjadi lemah (karena rakyat melihat Soros lebih bisa berbuat sesuatu ketimbang pemerintah).

(Betapa ironisnya, setelah merampok, Soros datang sebagai dewa penolong, dan masyarakat percaya padanya, blogger).

Dalam kasus Indonesia misalnya, kehadiran jaringan Soros semakin mencolok setelah kejatuhan rejim Soeharto tahun 1998. Didahului oleh krisis krisis ekonomi parah yang dipicu oleh aksi spekulatif Soros di pasar uang Asia, Soeharto akhirnya mundur dari jabatan presiden.

Pada tgl 18 September 2000, usai mengeruk keuntungan dari hasil spekulasi valas miliaran dollar, Soros melalui OSI mendanai terbentuknya Tifa Foundation. Tujuannya untuk mendorong Indonesia dan masyarakatnya menjadi "lebih terbuka" yang menghormati keragaman, menjunjung tinggi penegakan hukum, keadilan dan persamaan. Dengan dukungan dana Soros, dalam waktu singkat Tifa berkembang pesat. Yayasan ini mengklaim sebagai sebuah komunitas yang meliputi segala lapisan penduduk, baik unsur pemerintah hingga sektor bisnis.

Dukungan luas diberkan atas hak-hak individu, khususnya hak dan pandangan kaum perempuan, kelompok minoritas dan kelompok marginal lainnya. Dengan dukungan atas hak-hak individu itu, Tifa punya target memupuk solidaritas dan terciptanya tata pemerintahan yang baik, tentu menurut definisi mereka sendiri.

Karena itu secara umum misi Tifa adalah memberdayakan dan memperkuat masyarakat sipil vis a vis berhadapan dengna otoritas negara. Negara diposisikan sebagai "nature enemy" oleh rakyat. Maka sangat wajar jika bentuk akhir dari kehadiran jaringan Soros melalui perlawanan LSM yang dibiayainya itu membuahkan bentuk negara yang lemah (mudah didikte untuk kepentingan kelompok Soros). Inilah target Soros yang membonceng proses demokrasi.

KASUS MUNIR

Mencuatnya kasus Munir di sela-sela kunjungan Hillary disinyalir memang merupakan sebuah disain inteligen. Entah apa tujuannya, yanga jelas terangkatnya kasus Munir dapat mempengaruhi jalannya proses hukum yang kini tengah memasuki tahap kasasi di Mahkamah Agung.

Seperti diketahui Tifa melalui release yang dimuat di situsnya menyatakan keputusan Majelis Hakim PN Jakarta Selatan yang memvonis bebas Muchdi Pr sebagai "awan hitam" dalam penegakan hukum dan HAM di Indonesia. Majelis hakim seperti disebut Direktur LBH Jakarta Asvinawati dinilai mengabaikan logika inteligen dalam memaknai fakta di persidangan. Ini memang aneh. Sebab bagaimana mungkin sebuah keputusan persidangan harus memaksakan sebuah pandangan yang didasarkan semata-mata pada logika inteligen?

Misal, hasil rekaman percakapan yang menggunakan kata sandi dalam beberapa penyebutan nama dan istilah. Apakah serta-merta kata-kata sandi itu dapat diartikan sebagai sebuah rencana pembunuhan? Tentu ranah hukum berbeda dengan analisis inteligen. Logika hukum membutuhkan pembuktian yang rigid dan pasti, bukan tafsir. Kenyataannya memang pengadilan tidak dapat menhadirkan bukti-bukti material yang dapat dijadikan alat bukti. Dengan kondisi itu hakim membebaskan terdakwa yang amar putusannya dibacakan 31 Desember 2008.

Kini proses hukum kasus ini sudah berada di tingkat kasasi di MA. Pihak-pihak yang bersengketa dikabarkan telah mengajukan memori kasasi maupun kontra memori kasasi.

Perjalanan kasus Munir sempat terhenti dengan bebasnya terdakwa Pollycarpus pada tahun 2006 setelah hanya terbukti melakukan pemalsuan surat. Namun atas gencarnya tuntutan LSM Kontras dan dukungan Congress AS pada awal tahun 2008, dalam putusan PK di MA dinyatakan Pollycarpus bersalah. Ia diganjar hukuman 20 tahun penjara.

Kuatnya desakan Congress AS terhadap proses hukum kasus Munir yang tertuang dalam sebuah surat, juga berhasil mendorong dilakukannya penyidikan terhadap kemungkinan adanya "dalang" kasus tersebut. Maka diseretlah Muchdi Pr yang mantan komandan Kopassus itu ke pengadilan.

Kubu Munir membantah kalau penuntutan Muchdi Pr atas desakan Congress AS meski pihak Muchdi menunjukkan bukti surat Congress AS tersebut. Konyolnya permintaan Suciwati kepada Hillary untuk menanyakan kasus Munir kepada Presiden SBY justru mempertegas adanya korelasi tersebut.

Sumber: tabloid Intelijen edisi 25 Februari - 10 Maret 2009.