Pemerintah Amerika Serikat nampaknya sudah mulai terganggu dengan maraknya media media alternatif yang mampu mengimbangi infomasi informasi yang disebarkan oleh pihak resmi di Washington terhadap sepak terjang AS di beberapa negara.
| |
Baru baru ini, Departemen Pertahanan (Pentagon) mencanangkan kepada publik bahwa media cyber atau internet sebagai wilayah pertempuran baru. Ini tentu saja menarik karena justru Pentagon, yang terkait dengan perang militer, ternyata mulai terjun juga di ranah perang media yang notabene masuk kategori perang non-militer yang seharusnya militer tidak berhak ikut campur.
Sayangnya, Pentagon tidak merinci dengan cara bagaimana angkatan bersenjata AS akan melancarkan perangnya lewat situs situs di media internet. Namun tak pelak lagi bahwa Departemen Pertahanan AS sudah bertekad untuk menghadapi berbagai serangan serangan opini dan informasi yang berasal dari berbagai negara dan kelompok-kelompok strategis non negara yang mampu menyajikan informasi informasi tandingan terhadap sajian berita berita resmi media arus utama di AS seperti The Washington Post, The New York Times, Miami Herald, dan sebagainya.
Bisa dimengerti jika AS sangat kuatir dengan aksi informasi tandingan yang dilancarkan berbagai negara dan aktor aktor non negara yang melawan dominasi korporasi korporasi AS yang berada di belakang media media arus utama tersebut di atas. Karena berbagai korporasi raksasa minyak milik Rockefeller group seperti Exxon Mobi, Chevron, Shell dan sebagainya, memang sangat mengandalkan sajian sajian informasinya dari media media internet
Seperti terurai dalam dokumen rencana Pentagon tersebut, pemerintah AS berpandangan bahwa media internet telah digunakan oleh intelijen intelijen luar negeri untuk membuka dan membongkar jaringan jaringan rahasia mereka.
Tapi itu kan dalih resmi Pemerintah AS. Sejatinya, mereka mengakui betapa dahsyatnya kekuatan media cyber (internet) sebagai media alternatif. Dan bahkan pada perkembangannya di masa depan, bisa menjadi satu media arus utama baru mengimbangi dan mematahkan media media arus utama yang dibiayai oleh korporasi korporasi global di Washington.
Bahkan yang lebih menakjubkan lagi, Pentagon mengakui bahwa jaringan dan sistem pentagon telah berhasil ditembus oleh berbagai negara dan kelompok kelompok strategis non negara melalui media cyber ini,
Maka dari itu, keterlibatan langsung Pentagon dalam perang cyber melawan yang mereka anggap sebagai musuh musuh di ranah informasi dan pemberitaan, menggambarkan secara jelas betapa AS mulai tersuduut dalam perang informasi berskala global.
Buktinya, melalui rencana strategis Perang Informasi Pentagon di ranah media internet, pada perkembangannya akan melibatkan juga Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security). Sebagai bagian dari upaya lintas kementerian, dan juga sektor sektor swasta strategis, untuk mengidentifikasi dan menjinakkan aksi aksi informasi dari negara-negara dan kelompok kelompok strategis non negara, yang mereka anggap bakal menghancurkan infrastruktur strategis AS dan para sekutu barat lainnya.
Pada perkembangan tahapan ini, berbagai kalangan di dalam negeri AS sendiri, mulai kuatir jangan jangan manuver ofensif Pentagon tersebut akan mencampuri dan ikut mengatur kewenangan kewenangan pengelolaan media internet di AS itu sendiri.
Salah satu yang mencemaskan, Pentagon mulai mendorong beberapa perusahaan pengelola media internet, untuk mengembangkan semacam program rintisan (Pilot Project), agar secara sukarela berbagi informasi terkait dengan semua aktivitas media internet. Berarti ini kan semacam upaya dari Pentagon agar perusahaan perusahaan pengelola internet untuk memainkan peran sebagai unsur unsur garis depan dari operasi intelijen Pentagon.
Sebagai efek dari Program Pertempuran Cyber ini, AS akan menggalang dan merekrut tenaga tenaga ahli Information Technology (IT), yang tentunya dengan mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk menggaji pemanfaatan keahlian mereka.
Dalam skema ini, Pentagon dan Homeland Security Department barang tentu akan memotivasi temuan temuan baru di ranah teknologi, kerjasama dengan sektor sektor bisnis berskala menengah dan kecil.
Lepas dari rencana strategis Pentaton tesebut, berita bagusnya bagi kita di Indonesia jelaslah sudah. Betapa aksi informasi alternatif yang dilancarkan kawan kawan yang berhaluan kritis terhadap imperialisme Amerika, termasuk kami kami ini Global Future Institute, dan media web kami The Global Review, ternyata telah memberi kontribusi yang cukup berarti dalam rangka memberi panduan informasi perkembangan dunia, sebagaimana moto media cyber kami.
Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute | |
Senin, 09 April 2012
Amerika Serikat Khawatir Media Internet Jadi Media Arus Utama Baru, Pentagon Nyatakan Media Cyber Sebagai Medan Tempur
Minggu, 08 April 2012
Proses Ubah Air Kencing Jadi Energi
Peneliti di Belanda menemukan alternatif unik untuk menggantikan energi yang berasal dari fosil. Air kencing atau urin pun dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan.
Seperti diberitakan Radio Nederland (RNW), energi terbarukan unik ini dikembangkan oleh lembaga penelitian DHV bekerja sama dengan Universitas Delft. Paten untuk penelitian ini pun telah mereka dapatkan di Cina, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.Lalu bagaimana proses mengubah urin menjadi energi? Para peneliti mengembangkan penelitian dengan membangun tempat pengolahan di Groningen. Di sini, urin yang dikumpulkan diolah, pertama dengan menyaring air dari polutan yang ada di air seni. Hasilnya, akan terproduksi kristal-kristal garam. Selanjutnya, kristal garam itu akan diuraikan menjadi pupuk, fosfat, dan amoniak. Kemudian, gas amoniak akan dibawa ke Delft. Setelah itu amoniak itu akan dialirkan ke fuel cell. Dengan mudah, proses pengubahan menjadi energi listrik pun berlangsung di fuel cell. Dengan pasokan urin yang selalu tersedia, energi listrik yang dihasilkan pun bisa diadakan setiap saat. Berbeda dengan energi yang dihasilkan dari angin dan minyak, yang bergantung pada kondisi alam. | |
Angelina Jolie, Syria, dan Humanitarian Intervention
Meski secara de facto upaya para pemberontak telah gagal menggulingkan Bashar Assad, namun konflik di Syria masih belum reda. Negara-negara Barat, Turki, dan Arab (Saudi, Qatar, Emirat, Libya) yang selama ini mendukung kelompok pemberontak (mulai dari dana, senjata, dan bahkan mengirim pasukan untuk membantu kelompok pemberontak), masih terus melancarkan upaya-upaya untuk menghalangi proses stabilisasi di Syria.
| |
| Kebenaran di Syria satu persatu mulai terungkap (antara lain, pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh AS dan sekutunya dengan mengirim pasukan dan senjata secara illegal ke Syria; laporan-laporan dari media Barat sendiri tentang aksi brutal para pemberontak dalam membunuhi orang-orang pro Assad), namun AS dan sekutunya tetap tak mau berhenti mengganggu Syria.
Kabar terakhir menyebutkan bahwa empat senator AS, salah satunya John McCain, menyerukan agar AS memberikan bantuan senjata kepada pemberontak Syria. Obama dan PM Turki, Erdogan, juga diberitakan telah bertemu untuk membahas pemberian bantuan peralatan kepada para pemberontak.
Saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang hipokritas Barat dan betapa media Barat telah berhasil menipu banyak orang, melakukan pembunuhan karakter terhadap Assad, bahkan sampai-sampai ada orang Indonesia yang menggalang dana untuk ‘korban’ Assad. Saya ingin menyoroti masalah ‘bantuan internasional’ dari sisi kajian Hubungan Internasional.
Pertanyaannya, bila di sebuah negara, katakanlah Syria, benar-benar terjadi kejahatan kemanusiaan; katakanlah Assad memang benar-benar membunuh 7000 atau 9000 rakyatnya (sungguh fantastis, dan anehnya ada saja yang percaya mati pada angka ini meski sudah disodori berbagai berita pengimbang), sejauh mana negara asing boleh melakukan intervensi: mengirim bantuan senjata?
Dalam kajian Hubungan Internasional, ada yang disebut ‘Humanitarian Intervention’ atau intervensi kemanusiaan. Menariknya, aktris cantik Angelina Jolie kini sudah direkrut oleh PBB untuk menjadi ‘juru bicara’ bagi doktrin ini. Mungkin, jika Jolie yang angkat bicara, kata ‘humanitarian intervention’ jadi terdengar lebih seksi dan lebih manusiawi. Dalam wawancaranya dengan AlJazeera, Jolie menyatakan dukungannya bagi humanitarian intervention di Syria.
Memang, kata humanitarian intervention –apalagi bila keluar dari bibir Jolie yang seksi, seolah terdengar mulia. Namun sesungguhnya humanitarian intervention adalah serangan militer. Intervensi kemanusiaan berbeda dengan ‘bantuan kemanusiaan’ yang biasa dilakukan negara-negara saat mengirim obat atau uang ke negara-negara yang tertimpa bencana. Humanitarian intervention adalah serangan militer yang dianggap ‘layak’ untuk dilakukan sebuah negara terhadap negara lain dengan alasan kemanusiaan.
Contoh konkritnya, NATO dianggap boleh mneyerang Libya dan menggulingkan Qaddafi karena konon Qaddafi adalah diktator yang menyengsarakan rakyatnya. Kini, banyak pihak yang menyerukan serangan militer AS dan NATO ke Syria dengan alasan Assad sudah membunuhi ribuan rakyatnya.
Dalam kajian Hubungan Internasional dan Hukum Internasional, legalitas humanitarian intervention masih jadi perdebatan. Sebab utamanya ada di doktrin ‘kedaulatan negara’. Negara dianggap sebagai entitas yang berdaulat sehingga berhak penuh dalam mengendalikan rakyat, menetapkan hukum, dan mengamankan wilayahnya. Bila doktrin kedaulatan negara ini diterima (dan kenyataannya, semua negara di dunia ini menyatakan menerima doktrin ini), artinya, tidak ada negara yang berhak melakukan intervensi terhadap sebuah negara lain, apapun alasannya. Aturan PBB pun juga menyatakan bahwa sebuah negara tidak boleh melakukan serangan militer terhadap negara lain, kecuali bila ada izin dari Dewan Keamanan PBB.
Namun masalahnya, izin dari DK PBB pun sangat bergantung pada kepentingan negara-negara pemegang veto. Dalam kasus Irak, DK PBB sama sekali tidak memberikan izin, namun AS dan sekutunya tetap menyerang Irak. Dalam kasus Libya, DK PBB memang memberikan izin untuk ‘melakukan segala hal yang dianggap perlu demi melindungi rakyat sipil Libya’. Saat itu, Rusia dan China abstain. Dalam kasus Syria, Rusia dan China menggunakan hak vetonya dan menolak dilancarkannya serangan militer atas nama PBB ke Syria.
Bila kita melihat pada sejarah munculnya doktrin humanitarian intervention, akan terlihat bahwa sejak awal memang doktrin ini dibuat untuk mengakomodasi kepentingan Barat. Kochler (Humanitarian Intervention in the Context of Modern Power Politics, 2000), menulis bahwa doktrin humanitarian intervention pertama kali dikemukakan pada tahun 1800-an oleh Eropa dalam menghadapi Imperium Turki. Menurut Kochler, salah satu kriteria utama dalam menjustifikasi humanitarian intervention adalah ‘ketidakadilan dan kekejaman’ yang menyinggung moral Kristen dan peradaban Eropa. Atas kriteria itulah Eropa merasa berhak untuk melakukan serangan militer ke wilayah-wilayah yang dikuasi Turki, yaitu Yunani (1826), Syria (1860), Armenia (1896), dll.
Lebih lanjut Kochler mengungkapkan bahwa realitas di balik doktrin humanitarian intervention sesungguhnya adalah agenda kolonialisme Eropa terhadap Imperium Ottoman. Ketika mereka menyerang Turki dengan alasan kemanusiaan, yang sesungguhnya terjadi malah pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan, dan perlakuan brutal terhadap orang-orang muslim yang mereka anggap sebagai kaum barbar. Kochler menyatakan, “Prinsip kemanusiaan didefinisikan berdasarkan dogma relijius yang parameternya adalah agama Kristen.”
Di era modern, lanjut Kochler, arogansi Eropa yang menganggap dirinya sebagai pihak yang berahak melancarkan perang atas nama kemanusiaan (jus ad bellum), diwakili oleh PBB. PBB kini dianggap sebagai badan yang berhak ‘memoderatori’ perang atas nama kemanusiaan. Masalahnya, pengambilan keputusan di DK PBB sangat bergantung kepentingan negara-negara adidaya. Itulah sebabnya, serangan militer terhadap Israel yang sudah jelas-jelas melakukan kejahatan kemanusiaan di Palestina tidak dilakukan; serangan militer atau bahkan kecaman pun tidak dilakukan kepada Bahrain yang jelas-jelas represif terhadap rakyatnya. Sebaliknya, serangan terhadap Irak dan Libya yang kaya minyak, dianggap legal karena ‘demi menyelamatkan rakyat Irak dan Libya’.
Praktik-praktik doktrin humanitarian intervention di era modern ini menunjukkan bahwa doktrin ini masih tetap seperti semula: penuh kemunafikan.
Argumen lain yang menunjukkan kemunafikan doktrin ini adalah penggunaan strategi perang yang dilakukan negara-negara adidaya. Meskipun dibungkus label ‘kemanusiaan’, nyatanya mereka tetap menggunakan bom yang dijatuhkan dari pesawat. Bom, adalah senjata pembunuh massal yang tidak memiliki mata. Ia akan menghancurkan siapa saja dan apa saja. Dalam kasus Libya, meski atas izin PBB dan meski atas nama kemanusiaan, NATO justru telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Itulah sebabnya, kini ada gerakan untuk mengajukan NATO ke Pengadilan Penjahat Perang Internasional dengan tuduhan melakukan intervensi terhadap sebuah negara berdaulat, melakukan serangan dan pengeboman terhadap kota-kota, desa, menghancurkan gedung-gedung, dan membunuh rakyat sipil yang tidak bisa dijustifikasi sebagai kepentingan militer (berdasarkan The Hague International Penal Court semua perilaku NATO ini sudah cukup alasan untuk divonis sebagai penjahat perang).
Kembali kepada Angelina Jolie, apapun justifikasi yang diberikannya dalam mendukung humanitarian intervention, sesungguhnya semua itu hanya eufemisme belaka. Humanitarian intervention sesungguhnya adalah perang, tidak lebih. Libya sudah pernah menjadi korbannya. Negara yang awalnya salah satu yang terkaya di Afrika itu kini hancur dan jatuh miskin setelah dibombardir NATO. Sama sekali tidak ada sisi ‘kemanusiaan’ dalam perang ini, yang ada hanya kehancuran bagi rakyat Libya. Keuntungan terbesar didapatkan oleh negara-negara sponsor perang, mulai dari konsesi minyak hingga debitor baru (Libya terpaksa berhutang banyak pada Barat untuk rekonstruksi negaranya).
Apakah kini dunia akan membiarkan nasib yang sama menimpa Syria?
Dina Y. Sulaeman- alumnus magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran | |
Tidak Benar Cadangan Minyak Habis
Sebagai sebuah catatan pribadi, saya telah meneliti masalah minyak, sejak terjadi guncangan harga minyak pada 1970an. Saya merasa tergugah pada 2003 oleh teori “Puncak Minyak” Teori ini sepertinya mampu menjelaskan keputusan Washington (yang sebelumnya tak bisa dijelaskan) untuk mempertaruhkan semuanya dalam penyerangan militer terhadap Irak.Para pendukung teori ini, yang dipimpin oleh ahli geologi BP, Collin Campbell dan bankir asal Texas, Matt Simmons, mengatakan bahwa dunia sedang menghadapi sebuah krisis baru yang mengakhiri masa minyak berharga murah,
|
atau puncak Puncak Minyak Absolut, yang diperkirakan dapat terjadi pada 2012, atau 2007. Minyak sudah mencapai tetes terakhirnya. Mereka menekankan bahwa harga minyak dan gas yang terus membumbung, adalah akibat dari makin berkurangnya pasokan minyak dari Laut Utara dan Alaska, juga wilayah penghasil minyak lainnya.
Menurut Campbell, bukti utama adalah sejak 1960-an di Laut Utara, tak pernah lagi ditemukan lagi ladang minyak baru. Dengan argumen ini, ia rupa-rupanya berhasil meyakinkan Agensi Energi Internasional (IEA) dan juga pemerintah Swedia. Namun ini tak serta-merta membuktikan bahwa Campbell benar.
Fosil Intelektual?
Penganut Teori Habisnya Cadangan minyak mendasarkan teori ini pada buku-buku teks geologi Barat yang konvesional, kebanyakan dibuat oleh ahli Geologi Amerika dan Inggris, yang mengklaim bahwa minyak adalah “bahan bakar fosil,” sebuah akumulasi residu biologis dari tulang-tulang dinosaurus atau tanaman laut (algae) yang telah memfosil, yang menyebabkan persediaan dalam jumlah terbatas. Asal muasal biologis ini menjadi dasar teori Puncak Minyak, juga digunakan untuk menjelaskan mengapa minyak hanya bisa ditemukan di bagian dunia tertentu, dimana fosil-fosil terperangkap secara geologis jutaan tahun lalu. Artinya, jasad dinosaurus mati terkompresi dan selama puluhan juta tahun memfosil, dan terperangkap dalam reservoar bawah tanah (antara kedalaman 4000-6000 kaki). Dalam kasus tertentu, sejumlah besar residu biologis ini semestinya terperangkap dalam formasi bebatuan di lepas pantai lautan dangkal, semisal di teluk Meksiko, Laut Utara atau Teluk Guinea. Tugas utama geologi adalah untuk menemukan kantung-kantung minyak ini dalam lapisan kulit bumi-- disebut reservoar-- yang terletak dalam cekungan sedimen.
Teori alternatif tentang terbentuknya minyak sesungguhnya telah ada sejak awal tahun 1950-an di Rusia. Teori ini nyaris tak diketahui di Barat. Teori ini mengklaim bahwa asal-muasal biologis minyak bumi, sebagaimana dikemukakan para ahli geologi Inggris dan Amerika, adalah seseuatu yang absurd dan tak dapat dibuktikan. Teori ini menunjukan bahwa meskipun para ahli geologi Barat telah berulangkali meramalkan keterbatasan cadangan minyak sejak abad sebelumnya, cadangan minyak baru masih terus-menerus ditemukan.
Penjelasan ini tak hanya ada secara teoretis semata. Munculnya Rusia dan sebelumnya Uni Soviet sebagai salah satu produsen minyak dan gas alam terbesar merupakan bukti nyata kebenaran teori alternatif ini. Teori ini memiliki konsekuensi geopolitik yang teramat besar.
Kebutuhan: Ibu kandung inovasi
Di tahun 1950-an, Uni Soviet menghadapi isolasi “Tirai Besi” oleh Barat. Perang Dingin sedang mencapai puncaknya. Russia hanya memiliki sedikit sekali cadangan minyak untuk mendanai ekonominya. Penemuan cadangan minyak baru adalah prioritas utama negara itu.
Ilmuwan di Institut Fisika - Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan juga Institut Ilmu Geologi - Akademi Ilmu Pengetahuan Ukraina mulai mengadakan penelitian pada 1940-an dengan pertanyaan mendasar: darimana datangnya minyak?
Pada 1956 Professor. Vladimir Porfir’yev mengumumkan kesimpulan mereka: Cadangan minyak dan gas tidak ada hubungannya dengan residu biologis di bawah permukaan bumi. Cadangan ini adalah materi tua (primordial) yang tersembur dari kedalaman yang jauh. Ahli geologi Soviet mematahkan kesimpulan para geolog ortodoks dari Barat. Mereka kemudian menamakan teori asal muasal minyak mereka sebagai Teori A-Biotik—tak berhubungan dengan residu biologis—untuk membedakannya dari Teori Asal Muasal Biologis Barat.
Jika teori ini benar, maka cadangan minyak bumi dunia hanya dibatasi oleh jumlah komponen hidrokabon organis yang sudah ada di kedalaman bumi sejak pertama kali bumi terbentuk. Ketersediaan minyak akan bergantung hanya kepada teknologi yang mampu menggali sumur-sumur yang amat dalam dan juga mampu mengeksplorasi ke kedalaman perut bumi. Kesimpulan mereka ini juga berarti bahwa ladang minyak lama dapat diremajakan agar terus dapat berproduksi, ladang minyak yang dapat memperbarui diri sendiri. Mereka berpendapat bahwa minyak dibentuk jauh di dalam permukaan bumi, dalam temperatur dan tekanan yang teramat tinggi, sama seperti yang terjadi dalam proses pembentukan berlian. “
Minyak adalah materi tua (primordial material) yang berasal dari kedalaman bumi yang berpindah ke atas di bawah tekanan teramat tinggi melalui sebuah proses yang disebut erupsi “dingin” ke atas permukaan bumi. Demikian pernyataan Porfir’yev. Timnya mematahkan ide bahwa minyak adalah residu biologis dari fossil tumbuhan dan hewan. Teori ini dipertahankan semata untuk mempertahankan mitos bahwa persediaan minyak adalah sesuatu yang (amat) terbatas.
Menyangkal Geologi Konvensional
Pendekatan ilmiah Russia dan Ukraina yang amat berbeda dalam masalah ini, memungkinkan Uni Soviet menemukan cadangan gas dan minyak dalam jumlah besar di wilayah mereka, sesuatu yang sebelumnya dianggap tak mungkin oleh ilmu geologi konvensional Barat. Teori baru ini digunakan awal 1990-an, tak berapa lama setelah runtuhnya Uni Soviet, untuk menggali cadangan minyak dan gas di wilayah yang selama lebih dari 45 tahun dianggap sebagai daerah mandul secara geologis.—Cekungan Dnieper Donets yang terdapat di antara Russia dan Ukraina.
Mengikuti perkembangan teori baru ini, para ahli kimia dan geofisika Russia dan Ukraina membuat sebuah analisis mendetail tentang sejarah tektonis dan struktur geologis dasar cekungan Dnieper-Donets. Setelah analisis tektonis dan struktur area ini dirampungkan, mereka juga membuat penyelidikan geofisika dan geokimia.
Total 61 sumur minyak baru pun digali, 37 diantaranya produktif secara komersial, sebuah penggalian dengan tingkat sukses yang amat mengagumkan—sekitar 60 persen. Luas ladang minyak baru ini sebanding dengan ladang minyak yang ada di lereng Utara pegunungan Alaska. Sebagai pembanding, sebuah penggalian Amerika dianggap berhasil jika mencapai tingkat 10 % saja. Sembilan dari sepuluh sumur yang digali biasanya adalah “lubang kering.”
Jika Rusia memiliki kemampuan ilmiah yang tidak dimiliki geologi Amerika, Rusia memiliki kartu as yang secara geopolitis amatlah penting. Tak mengherankan jika Washington kemudian mendirikan “tembok baja”—sebuah jaringan pangkalan militer dan perisai balistik anti misil di sekeliling Rusia, juga memotong jaringan pipa minyak Rusia, untuk menutup sambungan pipa minyak dan jaringan pelabuhannya di Eropa Timur, China dan bagian-bagian lain Eurasia. Mimpi terburuk Harold Mackinder—sebuah gabungan kerjasama saling menguntungkan antara negara-negara besar di wilayah Eurasia, yang lahir karena kebutuhan untuk mendanai pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan minyak—mulai menjadi kenyataan. Ironisnya, usaha Amerika yang tanpa tendeng aling-aling merebut wilayah kaya minyak Irak, dan kemungkinan besar Iran, adalah katalisator yang mendorong kerjasama antar negara Eurasia yang sebelumnya bermusuhan, China dan Rusia, juga negara-negara Eropa Timur.
Raja Puncak Minyak
Teori Puncak Minyak didasarkan pada sebuah makalah yang dibuat oleh almarhum Marion King Hubert pada 1956. Seorang ahli geologi asal Texas yang bekerja untuk Shell Oil. Ia berargumen bahwa ladang-ladang minyak berproduksi mengikuti kurva berbentuk lonceng, dan saat puncak produksi telah dicapai, penurunan yang tak dapat dihindarkan sudah pasti terjadi. Ia meramalkan bahwa produksi minyak Amerika Serikat akan mencapai puncaknya pada 1970. Sebagai orang yang 'rendah hati', ia menamai kurva temuannya ini sesuai namanya, Kurva Hubbert, dan puncak kurva sebagai Puncak Hubbert. Saat output produksi minyak Amerika mulai mengalami penurunan sekitar tahun 1970-an , Hubbert pun menjadi terkenal.
Satu-satunya masalah, kurva ini mencapai puncaknya bukan karena makin berkurangnya cadangan di ladang minyak Amerika. Kurva ini memuncak karena Shell, Mobil, Texaco, dan perusahaan lain yang bekerjasama dengan Saudi Aramco sedang membanjiri pasar Amerika dengan impor minyak murah bebas tarif yang diproduksi Timur Tengah. Dengan harga yang sedemikian rendah, banyak perusahaan minyak lokal di California dan Texas tak dapat berkompetisi dan harus menutup ladang-ladang minyak mereka.
Sukses Vietnam
Saat perusahaan multinasional Amerika sibuk mengontrol ladang minyak raksasa di Saudi Arabia, Kuwait, Iran dan area lain yang mampu menyediakan minyak murah dalam jumlah besar pada 1960-an, Rusia malah sibuk menguji teori alternatif mereka. Mereka mulai menggali wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap mandul di Siberia. Disana terbukti kemudian mereka mampu membangun 11 ladang besar dan sebuah ladang raksasa berdasarkan taksiran geologis “a-biotik” mereka. Mereka menggali ke dasar bumi dan menemukan cadangan minyak bumi yang sebanding dengan yang terdapat di Lereng Utara Pegunungan Alaska.
Mereka kemudian pergi ke Vietnam pada 1980-an dan menawarkan diri untuk membiayai penggalian untuk menunjukkan bahwa teori mereka memang benar-benar bisa dibuktikan. Perusahaan minyak Petrosov menggali ladang minyak White Tiger di Vietnam 17.000 kaki di bawah laut dan berhasil mengekstrasi 6000 barel minyak setiap harinya dan memberikan sumbangan besar kepada ekonomi Vietnam. Di Rusia, para ahli geologi penganut teori A-Biotik menyempurnakan pengetahuan mereka dan Rusia kemudian muncul kembali sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia pada pertengahan tahun 1980-an. Hanya beberapa orang di Barat yang memahami kesuksesan Rusia, tak banyak yang repot-repot bertanya.
Dr. J. F Kenney adalah satu dari sebagian kecil ahli geofisika Barat yang telah mengajar dan bekerja di Rusia. Ia belajar di bawah arahan Vladilen Krayushkin, yang membangun ladang minyak Dnieper-Donets. Kenney memberitahukan kepada saya dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa “ untuk memproduksi minyak sebanyak yang telah dihasilkan oleh ladang minyak Ghawar (Saudi Arabia) dibutuhkan serpihan fosil dinosaurus yang jumlahnya - dengan asumsi efisiensi konversi 100% - memenuhi kubus berukuran 19 mil panjang-lebar-dan tingginya,” singkatnya sesuatu yang amat absurd.
Ahli geologi Barat tak pernah merasa perlu memberikan bukti nyata asal-muasal bahan bakar fosil. Mereka serta merta menganggapnya sebagai suatu kebenaran sakral. Rusia telah menghasilkan makalah-makalah ilmiah, kebanyakan dalam bahasa Rusia. Jurnal-jurnal ilmiah yang dominan di Barat tak berniat menerbitkan pandangan yang sebegitu revolusionernya. Sebab taruhannya terlalu besar, karir dan integritas seluruh profesi akademis yang berhubungan dengan ilmu ini.
Menutup Pintu
Penahanan Mikhail Khodorkovsky dari perusahaan minyak Rusia, Yukos Oil, terjadi sebelum ia bisa menjual bagian saham mayoritas Yukos kepada ExxonMobil setelah pertemuan pribadinya dengan Dick Cheney. Jika saja Exxon membeli bagian saham ini, maka perusahaan ini akan menguasai sumber daya manusia terbesar ahli geologi dan para insinyur yang dilatih dengan teknik penggalian dalam A-biotik.
Sejak 2003 Rusia makin sedikit membagi ilmu pengetahuannya. Tawaran mereka untuk berbagi ilmu dengan Amerika dan ahli geofisika dari negara lain ditanggapi dingin.
Mengapa memilih jalan beresiko tinggi dengan mengontrol Iraq? Selama seabad Amerika dan raksasa minyak Barat lainnya telah mengontrol produksi minyak dunia dengan mengendalikan Saudi Arabia, Kuwait atau Nigeria. Saat ini, setelah makin banyak ladang minyak raksasa mengalami penurunan produksi, kebanyakan perusahaan minyak raksasa melihat Irak dan Iran sebagai satu-satunya cadangan minyak murah yang tersisa. Dengan permintaan akan minyak yang makin meningkat dari China, dan India, secara geopolitis amatlah penting bagi Amerika untuk mengambil kendali langsung atas cadangan negara-negara Timur Tengah tersebut. Sebelum menjadi wapres, Dick Cheney bekerja di Halliburton Corp, perusahaan pelayanan geofisika terbesar di dunia. Satu-satunya ancaman potensial terhadap kendali Amerika terhadap minyak datang dari dalam Rusia dan raksasa energi Rusia yang kini dikendalikan negara.
Menurut Kenney, para ahli geofisika Rusia menggunakan teori brilian ilmuwan Jerman Alfred Wegener 30 tahun lebih awal daripada para ilmuwan Amerika yang baru “menemukan” Wegener di tahun 1960-an. Tahun 1915, Wegener menerbitkan sebuah teks yang amat berpengaruh The Origins of Continents and Oceans (Asal Muasal Benua dan Samudra), yang menyatakan bahwa 200 juta tahun lalu, dunia merupakan satu daratan yang teramat luas atau Pangaea, yang kemudian terpisah-pisah menjadi benua-benua sebagaimana kita kenal sekarang akibat apa yang ia sebut sebagai Continental Drift.
Hingga tahun 1960-an para ilmuwan Amerika seperti Dr Frank Press, penasihat ilmiah Gedung Putih menyebut Wegener sebagai “orang gila.” Para ahli geologi di akhir tahun 1960-an terpaksa menjilat ludah mereka kembali saat teori Wegener adalah satu-satunya yang mampu memberikan penjelasan yang memungkinkan mereka menemukan cadangan minyak dalam jumlah besar di Laut Utara. Mungkin saja dalam beberapa dekade ke depan, ahli geologi Barat akan memikirkan kembali mitologi asal muasal fosil mereka dan pada akhirnya menyadari apa yang telah diketahui Rusia sejak tahun 1950-an. Untuk sementara waktu Moskow masih memegang kartu truf energi paling besar di dunia.
F. William Engdahl |
Sabtu, 07 April 2012
Duit-duit Negara untuk Lumpur Lapindo
Saat menghadiri Kader Bangsa Fellowship Program di Yogyakarta pada 14 Maret 2012, Aburizal Bakrie mengaku menghabiskan Rp 9 triliun untuk mengganti lahan warga Lapindo. Pihaknya menyatakan sudah menyelesaikan proses jual-beli lahan lebih dari 90 persen.
Sedangkan harga tanah di lokasi semburan yang ia beli tanah sudah 10-20 kali lipat nilai jual obyek pajak. “Harga NJOP-nya Rp 60.000, kami jual Rp 1,2 juta,” kata pengusaha kelompok Bakrie sekaligus Ketua Umum Partai Golkar itu.
| |
Ical kembali menyebut semburan Lapindo sebagai fenomena alam yang tidak pernah berhenti selama 30 tahun. "Bisa dibayangkan, tragedi muncrat lumpur ke permukaan mungkin dalam 30 tahun tak akan terselesaikan," kata Ical. “Sebenarnya berat karena setiap bulan kami harus mengeluarkan dana Rp 100 miliar.”
Tapi baru-baru ini muncul informasi pemerintah kembali menganggarkan dana Rp 1,3 triliun anggaran perubahan 2012 untuk masalah yang ditimbulkan akibat pengeboran perusahaan Lapindo Brantas itu. (Baca: Negara Tanggung Korban Lapindo Rp 7,2 Triliun)
Dana itu sudah masuk Pasal 18 Undang-Undang APBN-Perubahan 2012. Dana yang dibebankan kepada negara ini akan dipakai buat melunasi pembayaran pembelian tanah dan bangunan di luar peta area bencana. (Baca: Negara Menanggung Ganti Rugi Lapindo)
Padahal pemerintah bukan tahun ini saja menggelontorkan duit dari pajak-pajak rakyat untuk masalah lumpur di Porong, Sidoarjo. Sejak 2006 APBN sudah dialokasikan. Berikut ini uang yang dikeluarkan negara:
2006 : Rp 6,3 miliar
2007 : Rp 500 miliar (terealisasi Rp 114,18 miliar)
2008 : Rp 1,1 triliun (terealisasi Rp 513,1 miliar)
2009 : Rp 1,1 triliun
- Untuk penyelesaian tanah 3 desa Rp 227 miliar
- Untuk relokasi arteri raya Porong Rp 523 miliar
- Untuk pembangunan infrastruktur Rp 241 miliar
- Untuk bantuan sosial kemasyarakatan Rp 59 miliar.
* (terealisasi Rp 592,1 miliar)
2010 : Rp 1,216 trilun
- Bidang pembangunan infrastruktur Rp 421 miliar
- Bidang sosial Rp 208 miliar antara lain untuk
a. Penyuluhan Rp 297 juta
b. Jual-beli tanah Rp 101 miliar
c. Pelatihan teknis Rp 761 juta.
- Bidang Operasi Rp 89 miliar antara lain untuk
a. Pengalihan lumpur ke Kali Porong Rp 48 miliar
b. Pengadaan alat berat Rp 39 miliar.
- Bidang Sekretariat, antara lain untuk
a. Pembayaran gaji Rp 12 miliar
b. Operasional kantor Rp 3 miliar.
*(terealisasi Rp 636 miliar)
2011 : Rp 1,2 triliun
2012 : Rp 1,3 triliun
www.tempo.co
| |
Jumat, 06 April 2012
Afrika Selatan Nikmati Minyak Murah Iran, Indonesia Malah Menolak
Retorika Indonesia sebagai negara yang bebas dan aktif cuma omong kosong. Padahal Rusia, India, China, Pakistan, Turki, Jepang, Korea dan terakhir Afrika Selatan menyambut dengan senyum sumringah murahnya minyak Iran.
| |
Malang benar nasib Republik Indonesia yang tetap bersikukuh tunduk kepada komando yang diberlakukan AS terhadap Indonesia. Pada Februari 2012 bulan lalu, kapal tanker minyak Iran lego jangkar di Perairan Karimun, Batam, Indonesia yang oleh pemerintah hanya dianggap wisata dan dolanan oleh pejabat negara.
Sementara dilaporkan, saat ini Afrika Selatan dilaporkan terus meningkatkan impor minyak mentah dari Iran sebesar 364 juta dollar pada Februari, naik dari nol pada bulan sebelumnya meskipun AS terus menekan negara itu, dikatakannya Afrika Selatan dengan tegas mengabaikan embargo AS yang dikenakan kepada Republik Islam, kata laporan resmi Afrika Selatan, The South African Revenue Services (SARS).
The South African Revenue Services (SARS) pada Senin, 02/04/12 mengungkapkan bahwa pada bulan Februari 2012, negara itu sudah mengimpor 417.000 ton minyak mentah Iran dimana mengalami sedikit penurunan sejak bulan Oktober 2011 yang mengimpor 467.000 ton minyak mentah Iran, Reuters melaporkan.
Pada bulan Januari 2012, perdagangan dan bea cukai menunjukkan bahwa impor minyak mentah Afrika Selatan dari Iran berada pada titik nol, dibandingkan dengan rata-rata bulanan sebesar USD 280 juta pada tahun lalu.
AS dan Uni Eropa telah memberlakukan sanksi finansial dan minyak terhadap Iran sejak awal 2012. Namun bagi Tehran, sanksi itu tidak akan mampu menghentikan Republik Islam untuk mandiri dalam program energi nuklir.
Dengan jatuhnya sanksi ekonomi Amerika-Eropa kepada Iran maka Iran menjual minyak termurah dengan pembayaran termudah. Bisa dapat diskon 15% dan bayar pakai Rupiah, bukan dollar. Tapi semua tutup mulut. Peluang emas ini sirna begitu saja karena taat dan beriman kepada big boss di Washington-London-Tel Aviv. Retorika Indonesia sebagai negara yang bebas dan aktif cuma omong kosong. Padahal Rusia, India, China, Pakistan, Turki, Jepang, Korea dan terakhir Afrika Selatan menyambut dengan senyum sumringah murah meriah minyak Iran.
Tapi bagi Republik Indonesia? Tetap menjadi begundal AS. Sementara saat ini pemerintah gembar gembor akan mencabut subsidi BBM dan PASRAH bahwa kenaikan harga BBM sudah takdir ilahi, bukan akibat akal bulus yang amat terang benderang.
www.islamtime.org | |
Kamis, 05 April 2012
Gunter Grass: Serangan Israel ke Iran Picu Perang Dunia Ketiga
| (IRIB Indonesia/RA) |
Pemenang Nobel Sastra Jerman, Gunter Grass membela pernyataannya terkait rezim Zionis Israel. Dia mengatakan, serangan militer Tel Aviv terhadap Iran dapat memicu Perang Dunia III.
"Jika Israel menyerang situs nuklir Iran, mungkin dengan bom konvensional dan hulu ledak nuklir, maka dapat memicu perang dunia ketiga," kata Grass pada Kamis (5/4) sebagaimana dikutip kantor berita DPA.Dalam sebuah puisi kontroversial berjudul "Apa yang harus dikatakan", di mana telah diterbitkan di koran Jerman, Süddeutsche Zeitung pada Rabu (4/4), Grass menyatakan keprihatinannya atas konsekuensi dari rencana Israel menyerang Iran.
"Mengapa saya mengatakan sekarang bahwa kekuatan nuklir Israel membahayakan perdamaian dunia yang sudah rapuh? Karena hal itu harus dikatakan, dan mungkin akan terlambat jika dikatakan besok, " tulis Grass.
Grass pada Kamis menambahkan, menyebut Israel dengan panggilan "tenaga nuklir" adalah hal yang tabu di Jerman tetapi saya tidak ingin lagi bergabung dalam kebungkaman umum.
Puisi tersebut telah menimbulkan kemarahan Israel. Kedutaan Besar rezim Zionis di Berlin pada Rabu (4/4) mengeluarkan pernyataan anti-Grass.
Dalam mengungkapkan simpatinya kepada Israel, Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle secara terang-terangan menuduh Iran berupaya mengejar senjata nuklir dalam aktivitas nuklir damainya dan menggambarkan negara itu sebagai ancaman bagi Israel dan seluruh wilayah.
Gunter Grass mengatakan bahwa dirinya telah menerima tumpukan pesan mendukung setelah puisinya dipublikasikan dan mengkritik media di negaranya karena mencoba untuk meluncurkan kampanye yang mencoreng nama baiknya.
Grass memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1999. Novel 1958-nya "The Tin Drum" adalah mengisahkan sebuah surat dakwaan dari pola pikir Jerman di era Nazi.
Israel adalah satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah dan tidak pernah mengizinkan fasilitas nuklirnya untuk diperiksa inspektur Badan Energi Atom Internsional (IAEA) serta tidak bersedia bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).
Menurut survei pada tahun 2011 yang dilakukan oleh Yayasan Friedrich Ebert bermarkas di Berlin, lebih dari 50 persen masyarakat Eropa percaya bahwa Israel adalah ancaman paling serius terhadap keamanan global.
Langganan:
Postingan (Atom)