Senin, 12 Maret 2012

Perang Dunia III dan Peluang Indonesia



 


Memanasnya suhu politik global akibat friksi antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu melawan Iran beserta koalisinya, sekurang-kurangnya telah memunculkan prakiraan berbagai pihak tentang keniscayaan meletusnya Perang Dunia di abad XXI ini.


Adalah Prof Michel Chossudovsky, pendiri sekaligus Direktur Central for Research on Globalization (CRG) di Kanada dan Finian Cunningham, salah satu peneliti CRG telah mengingatkan: “ .. jika kelak perang nuklir diluncurkan, seluruh Timur Tengah/Asia Tengah akan masuk ke dalam suatu kebakaran besar!” The Globalizaton of War: The “Military Roadmap” to World War III, www.globalresearch.ca). Dalam artikel di atas setidaknya mulai diungkap, bahwa potensi PD III telah disebut-disebut sebagaimana tulisan Cossudovsky.
Selanjutnya Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem memperingatkan serangan militer ke Iran akan membakar seluruh Timur Tengah. AS mengetahui bahwa perang terhadap Iran akan membakar seluruh kawasan tanpa mengenal batas (Reuters, 29/02 /2012). "Israel bisa memulai perang, tetapi tidak tahu skala konsekuensi dan tidak mampu mengendalikan perang tersebut", katanya.
Tak ketinggalan Raja Yordania, Abdullah II juga memperingatkan Israel dan Barat terhadap konsekuensi agresi militer atas Iran. "Setiap tindakan militer terhadap Iran akan memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah, dan berakibat sangat negatif bagi AS, Eropa, dan Israel”, katanya kepada majalah Turkish Policy Quarterly (GFI, 05/03/2012).
Dan tampaknya, isue nuklir menjadi TEMA POKOK dari propaganda yang digencarkan oleh AS dan Barat ---seperti biasa--- dalam rangka pembenaran setiap “tindakan” setelah tema-tema kolonialisme sebelumnya seperti korupsi, pemimpin tirani, tidak demokratis dan lainnya melalui Arab Spring  memetik sukses di Tunisia, Mesir dan Yaman tetapi ternyata tidak berhasil menggoyang Syria dan Iran. Gagal di kedua negara melalui gerakan massa non kekerasan (smart power), terlihat polanya ditingkatkan tema pun berubah. Syria merupakan contoh atas peningkatan pola Barat dari gerakan massa menjadi “perang sipil” alias pemberontakan bersenjata. Istilahnya hard power dalam skala terbatas. Dan program nuklir (sipil) Iran pun menjadi sasaran dari pergantian tema kolonialisme. Ya, nuklir Iran kini dihebohkan sebagai ancaman bagi perdamaian dunia!
Menarik sekali tatkala analis politik AS sekaliber Noam Chomsky malah bertolak-belakang dengan arus politik negaranya. Ia menyatakan bahwa dunia tidak menerima penggambaran AS terhadap Iran sebagai ancaman bagi perdamaian global. Menurutnya, dunia justru memandang Washington dan Tel Aviv sebagai kejahatan yang lebih besar. Mayoritas warga AS mengakui hak Iran untuk program energi nuklirnya, sebelum media massa dan Washington meluncurkan propaganda besar-besaran kepada Republik Islam selama dua tahun terakhir. "Negara-negara kuat saat ini seperti Rusia, Cina, India, dan 120 negara anggota Gerakan Non-Blok juga menentang kebijakan AS terhadap Iran," kata Chomsky (GFI, 05/02/2012).
Bahkan Presiden Rusia yang baru terpilih Vladimir Putin Selasa (06/03) mengakui hak Iran untuk memiliki program nuklir nasional. Dalam wawancara video dengan harian bisnis Jerman Handelsblatt, Putin mengatakan bahwa Iran memiliki hak untuk melanjutkan program nuklirnya di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional yang bermarkas di Wina, lapor IRNA.
Agaknya AS dan sekutu tidak peduli. Ia jalan terus mengikuti Desain Militer Global dalam “Penaklukan Dunia” yang mulai dari Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan, yang telah terpampang di Pentagon semenjak tahun 1990-an (Michel Cossudovsky, Agustus 2010, www.globalresearch.ca). Apa boleh buat. Layar telah dikembangkan, program sudah dijalankan dan waktu pun tidak bisa diputar ulang!
Sekilas Urgensi Kawasan dan Pindahnya Lokasi PD
Dalam buku The Geopolitics of Superpower (1973) karya Colin S. Gray, seorang Alford Machinder (abad ke 19) sudah memberi isyarat bahwa Asia Tengah dan Timur Tengah merupakan Kawasan Heartland atau World Island. Maknanya siapa menguasai Heartland yang memiliki kandungan sumberdaya alam dan aneka mineral, maka akan menuju “Global Imperium”. Itulah sekilas latar urgensi kawasan tersebut bagi dinamika politik dan kancah hegemoni global. Pantaslah jika sering terjadi konflik baik sifatnya intra maupun interstate berputar-putar di sekitar “kawasan basah” tersebut. The power of oil.
Tatkala berkembang isue perpindahan lokasi PD dari Selat Hormuz ke Laut Cina Selatan, ini sempat mengundang pro-kontra banyak kalangan bahkan para pakar itu sendiri, mengingat penilaian secara fisik baik persiapan maupun penyiapan infrastruktur perang oleh masing-masing pihak yang berseteru di sekitar Heartland telah mencerminkan level: siap perang!
Namun fakta memperlihatkan, Admiral Robert F. Willard, Komandan Angkatan Laut AS di kawasan Samudera Pasifik mengeluarkan pernyataan dan menekankan komitmen akan kehadiran militer AS di Laut Cina, sedang pada sisi sisi para politikus Cina menyatakan kawasan ini sebagai GARIS MERAH kebijakan Cina dan Beijing yang tidak dapat menerima kehadiran pasukan asing, bahkan pasukan negara-negara tetangga di kawasan ini.
Berbeda dengan Cina, tampaknya para pejabat AS tetap menggelar latihan militer bersama dengan negara-negara kawasan, bahkan akan membantu perusahaan-perusahaan Philipina dan Vietnam dalam proses eksplorasi dan eksploitasi minyak di laut ini (GFI, 02-03-2012). Beberapa sumber menyatakan ---setidaknya menurut Dirgo D. Purbo, pakar perminyakan Indonesia---  bahwa Laut Cina Selatan selain merupakan New Road Silk melalui perairan, juga kawasan ini memiliki kandungan sumberdaya alam dan kaya akan mineral.
Aksi AS jelas mengobarkan kemarahan Cina. Inilah kemungkinan sebagai salah satu pemicu bergesernya proxy war (lapangan tempur) dari dugaan sebelumnya di Hormuz. Dan Cina pun siap-siap serta berencana menaikkan budget militernya sebesar 11,2% di tahun 2012 ini (GFI, 06-03-2012). Kenaikan anggaran ini disinyalir menjawab “keberanian” negara-negara di sekelilingnya terkait klaim wilayah dan sengketa kepulauan, sekaligus sebagai tanggapan atas keputusan AS yang mengumumkan kawasan Asia-Pasifik sebagai poros strategis.
Teori Pembedah
“Matikan Timur Tengah, anda mematikan Cina dan Rusia, maka anda akan menguasai dunia” (Tony Cartalucci). Menafsirkan asumsi peneliti dari CRG, Kanada tersebut intinya: barang siapa ingin menguasai dunia maka langkah pertama harus menguasai dahulu Timur Tengah, automaticly mengakibatkan “mati”-nya Cina dan Rusia (langkah kedua), serta hasilnya adalah “menguasai dunia”. Itulah benang merah. Seberapa besar ketergantungan Cina dan Rusia terhadap Timur Tengah sampai harus “mati” apabila Timur Tengah dikuasi orang lain ---seperti tersirat dalam teori tadi--- tak dijelaskan oleh Cartaluci dan tidak pula dibahas dalam catatan ini.
Dengan demikian, isue bergesernya PD III dari Hormuz ke Laut Cina Selatan, sejatinya masih dalam koridor asumsi tadi. Sederhana saja, apabila kelak berpindah lokasi dari Hormuz menuju Laut Cina Selatan maka boleh diterka, bahwa AS dan sekutu tengah menerapkan langkah kedua (mematikan Cina dan Rusia) secara langsung, tanpa harus melewati langkah pertama (matikan Timur Tengah) dahulu. Logika Cartalucci, dengan “mematikan” Cina dan Rusia justru akan melancarkanroadmap militernya yang selama ini terkendala oleh kedua adidaya (Cina dan Rusia) baik di lapangan, forum diplomasi dan terutama veto di Majelis PBB. Namun apakah memang harus demikian?
Untung dan Rugi
Secara cermat bisa diurai untung-ruginya. Jika PD III meletus di Laut Cina Selatan antara AS dan sekutu versus Cina dan Jepang misalnya, kemungkinan besar Rusia cenderung "netral dan menunggu". Tak banyak hal signifikan bagi Beruang Merah di Laut Cina. Di satu sisi, sikap ini menguntungkan AS dan sekutu. Artinya pertempuran di Laut Cina selain bakal melibatkan belasan negara Common Wealth dan Korea Selatan sebagai bemper (proxy), sekaligus AS dapat menerapkan modus barunya dalam perang kolonial yakni “utang dibayar bom” (baca: Perampok Internasional dan Utang Dibayar Bom di www.theglobal-review.com). Dalam perspektif militer, meskipun secara kuantitas personel dan kualitas peralatan militernya cukup besar setelah Rusia, semenjak pasca PD II Cina dianggap kurang berpengalaman dalam perang modern terutama di perairan.
Berdasarkan kutipan data CNBC, Kamis (2/2/2012), total utang AS sekarang mencapai 15 triliun USD dan dipastikan terus meningkat. Kendati sebagian besar utangnya dipegang oleh swasta dan entitas publik, bahwa ada dua “negara asing” yang juga menguasai yakni Cina dan Jepang. Ya. Cina menguasai surat utang sebesar 1,107 triliun USD, meskipun September 2011 turun dibandingkan per Juli 2011 sebesar 1,173 triliun USD. Sedangkan Jepang selain merupakan partner dagang terbesar, menguasai juga surat utang AS hingga mencapai 1,038 triliun USD (Detik.com, 02/02/2012, 08:35:56, Ini Dia Pemberi Utang Terbesar AS).
Melihat data-data di atas, menjadi wajar jika AS ingin mengulang lagi modus “utang dibayar bom” kepada Cina dan Jepang seperti yang ia lakukan terhadap Libya dulu, disamping awal 2012-an lalu kedua negara berani memprakarsai gerakan menolak dolar AS di setiap transaksi perdagangan, kemudian gerakan itu diikuti oleh Rusia, Iran dan lainnya. Inilah yang dicemaskan AS. Sikap dan gerakan “menolak dolar” dapat menimbulkan snawball process di berbagai belahan dunia. Dolar bisa pulang ke negeri asalnya menjadi tumpukan kertas-kertas tak berharga. Itulah “tsunami dolar” yang ditakuti para elit AS!
Bagi AS sendiri, meletuskan PD di Laut Cina Selatan bukannya tanpa pertimbangan jitu, keuntungan pokok adalah tidak berhadap-hadapan secara langsung dengan Cina dan Rusia sekaligus. Itu yang utama, mengingat kekuatan militer kedua adidaya baru tadi dalam segala hal hampir menyamainya. Ia bisa lebur menjadi abu. Namun pada sisi lain, kondisi seperti ini justru diharapkan oleh Rusia. Kenapa? Tersirat sebuah peluang. Ibarat menembak di atas kuda, sangat mustahil bila usai peperangan terdapat "dua matahari" berdampingan. Maka di tengah-tengah “kelelahan” para negara yang terlibat perang, Rusia pun bakal (menelikung) sendirian melenggang ke puncak kekuasaan --- mengganti AS mengatur dunia, menjadi superpower baru. Cerdasnya Beruang Merah membaca momentum kedepan. Tak ada kawan dan lawan abadi yang ada hanya kepentingan!
Ini berbeda jika PD meledak di Selat Hormuz, atau di Syria, atau di Iran (masih kawasan Heartland). Rusia justru akan lebih agresif melindungi koalisinya, selain mengamankan kepentingan nasionalnya di Iran, faktor geopolitic pipeline yang dimiliki Syria, juga posisi negeri (geostrategic possition) Bashar al Assad ini merupakan "titik simpul" dari Road Silk (Jalur Sutra), route melegenda sejak abad III yang terbentang mulai perbatasan Cina/Rusia hingga ke Maroko (Afrika Utara) dan merupakan jalur ekonomi dan perdagangan sekaligus jalur militer yang membedah antara Dunia Barat dan Dunia Timur. Inilah skema keramat para adidaya dunia yang mulai terkuak!
Meletusnya PD di Kawasan Heartland justru membuat Rusia dan Cina “bersenyawa” ---meminjam istilah Hendrajit--- sebab muncul common enemy. Pengalaman keduanya atas pemutusan konsesi minyak dengan Irak secara sepihak oleh Bush Jr ketika AS dan sekutu berhasil melumpuhkan Saddam Husein (2003) dulu, membuat Rusia dan Cina harus mengambil sikap jauh-jauh hari.
Sedangkan ancaman lain selain “kebakaran besar” sebagaimana sinyal Cossudovsky dan Sheikh Qassem di atas, adalah lebih daripada itu yakni timbul berbagai efek peristiwa seperti bencana sosial, pangan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan dan lainnya yang dahsyat akibat perang nuklir. Maka elit AS kini tinggal menghitung hari: meletuskan PD di Selat Hormuz atau Laut Cina Selatan, apabila perang dianggap satu-satunya jalan guna memulihan sistem ekonominya yang bangkrut.
Momentum Indonesia
Bagi Indonesia, momentum emas sebagaimana PD II dahulu niscaya terulang kembali dalam PD III nanti. Belajar dari sejarah kemerdekaan tempo doeloe, pendiri-pendiri bangsa ini memanfaatkan Vacum of power bangsa imperialis saat Jepang kalah perang melawan sekutu di Asia Pasifik. Pada PD II, Indonesia mampu merebut jembatan emas KEMERDEKAAN yang diplokamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta. Diharapkan dalam PD III nanti, Indonesia mengulang sukses sebagaimana kiprah para bapak pendiri republik tercinta ini.
Diyakini terdapat vacum of power ketika semua perhatian negara terfokus pada jalannya peperangan. Entah meletus di Hormus atau Laut Cina Selatan, maka Indonesia mutlak harus merebut KEMERDEKAAN II. Ya. Indonesia harus kembali menjadi bangsa merdeka, bersatu dan berdaulat yang sesungguhnya, keluar dari cengkraman imperialis modern bermodus "VOC Gaya Baru" dengan berbagai format dan kemasan yang kini tengah menjarah berbagai sumberdaya (politik, ekonomi, sosial, manusia, alam dsb) di bumi pertiwi, namun tidak disadari oleh mayoritas rakyat itu sendiri.
Kejayaan Indonesia terulang setiap tujuh abad, begitulah ramalan leluhur bergaung hingga kini. Abad VII Zaman Sriwijaya disebut Nusantara I. Abad XIV Era Majapahit dinamai Nusantara II dan kini telah memasuki lorong abad XXI --- putaran ketiga dari siklus alam sesuai “mandat” semesta. Selamat datang di Pelataran Nusantara III: Indonesia Jaya!
Tetapi entah iya entah tidak, entah benar atau cuma mitos belaka, hukum sebuah ramalan adalah sunah, boleh percaya tidak pun syah-syah saja. Namun pada satu sisi, hendaknya para tokoh, pakar dan kaum cinta negeri, tidak perlu larut oleh “mimpi indah” sebuah ramalan, lalu di sisi lain ---setidaknya dari kini--- segenap tumpah darah dan komponen bangsa mulai bergandeng tangan, merapatkan barisan, menyatukan titik-titik perbedaan, menghentikan ego-ego sektoral dan semangat kedaerahan sempit, merumuskan langkah bersama yang akan ditempuh tatkala momentum emas itu tiba. Tangkap peluang! Musuh ada di luar sana kendati “skema”-nya telah tertancap pada Ibu Pertiwi. Jangan buang-buang waktu percuma karena hari telah beranjak senja. Bongkar skema, cabut skema!
Bangkit dan bersatulah bangsaku!
M Arief Pranoto, Peneliti Senior Global Future Institute

Prakarsa Anggota Kongres Dana Rohrabacher, Bukti Nyata Gerakan Sistematis Washington Merdekakan Baluchistan Lepas dari Pakistan



 


Kalau Amerika Serikat berniat memecah Indonesia jadi 7 bagian, seperti sempat dirilis oleh Rand Corporation pada 1998 lalu, kasus Baluchistan bisa jadi bukti nyata bahwa gerakan separatism memang bagian dari rencana strategis Washinton.


Baru-baru ini, Dana Rohrabacher, anggota Kongres dari Partai Republik asal negara bagian California, telah mengajukan sebuah resolusi yang pada intinya menegaskan bahwa Baluchistan mempunyai hak sejarah untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa. Dengan kata lain, Dana Rohrabacher mendukung berdirinya Baluchistan sebagai negara merdeka.
Seperti kita ketahui bersama, Baluchistan saat ini terbagi menjadi daerah yang masuk dalam kedaulatan Pakista, Iran dan Afghanistan. Mengingat nilai strategis Baluchistan sebagai daerah jalur sutra yang kaya sumberdaya alam seperti minyak, gas dan tambang, bisa dimengerti jika Washington secara sistematis sedang membantu elemen elemen pro kemerdekaan Baluchistan untuk jadi negara tersendiri yang bebas dari orbit pengaruh Iran, Afghanistan dan Pakistan.
Terbukti bahwa prakarsa Dana Rohbacher tersebut kemudian mendapat dukungan dari dua anggota Kongres lainnya seperti Louie Gohmert dari negara bagian Texas, dan Steve King, dari negara bagian Iowa, keduanya juga dari Partai Republik.
Manuver Washington untuk mendorong kemerdekaan Baluchistan nampaknya memang cukup serius mengingat fakta bahwa Dana Rohrabacher saat ini menjabat sebagai Ketua Sub-Komite Kongres bidang luar negeri khusus bidang pengawasan dan investigasi.
Karena itu masalah sepertinya akan semakin krusial karena Rohrabacher menegaskan bahwa salah satu pertimbangan mengapa dirinya memprakarsai resolusi Kongres Amerika agar mendukung kemerdekaan Baluchistan, karena adanya bukti bukti kuat tindak kekerasan dan korban pembunuhan diluar jalur jalur hukum (Extra Judicial Killing).
Pada 1947, Baluchistan memang sempat bermaksud memerdekakan diri, namun kemudian berhasil digagalkan oleh Pemerintah Pakistan. Maka menghadapi gerakan Washington melalui prakarsa Dana Rohrabacher dan kawan-kawan di Kongres ini, Pakistan lah pihak yang paling duluan merasa kebakaran jenggot.
Tentu saja menghadapi manuver Rohrabacher Cs ini, Pakistan mengecam prakarsa ini sebagai bentuk campur tangan  terhadap urusan dalam negeri Pakistan. Betapa tidak. Pakistan beranggapan bahwa Baluchistan merupakan salah satu provinsi yang menjadi bagian dari Pakistan.
Mengingat masalah separatism ini sangat sensitif, nampaknya Gedung Putih, dalam hal ini Departemen Luar Negeri, belum berani secara langsung membuka fron terhadap pemerintah Pakistan.
Terlepas adanya berbagai pandangan yang melihat Baluchistan selama ini memang menjadi obyek eksploitasi para elit politik suku Pastun dan Punjabi di Pakistan, rasa rasanya penilaian Pakistan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan campur tangan urusan dalam negeri Pakistan, untuk mendorong gerakan kemerdekaan Baluchistan, memang benar adanya.
Kiranya ini bisa menjadi early warning signal bagi pemerintah Indonesia, bahwa gerakan kaukus Papua di Kongres Amerika untuk mendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM) memerdekakan Papua, cepat atau lambat akan diagendakan kembali. Atau setidaknya, mengkondisikan Papua agar bisa diangkat ke forum internasional (Internasionalisasi Papua).

Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute

Merdekakan Baluchistan dari Pakistan, Hajatan AS Membuat Jalur Logistik di Kawasan Asia Tengah


 


Komentar atas artikel Hendrajit yang berjudul "Prakarsa Anggota Kongres Dana Rohrabacher, Bukti Nyata Gerakan Sistematis Washington Merdekakan Baluchistan Lepas dari Pakistan" :
Seperti biasa, "skema" tidak berubah yakni The Power of Oil, terutama untuk pagelaran di negara-negara yang berakhiran TAN di Kawasan Heartland (meminjam istilah Mackinder) yang dikenal kaya sumberdaya alam dan mineral, hanya tema dan pola kolonialisme boleh berubah mengikuti situasi yang berkembang. Yang lazim digunakan ialah paket DHL (demokrasi, HAM dan lingkungan), atau korupsi, melawan pemimpin tirani, kemiskinan dll seperti Arab Spring di Tunisia, Mesir, Yaman, Syria dan sebagainya. Ketika pola kolonial telah mencapai tahap "pemberontakan bersenjata" (perang sipil), seperti yang terjadi kini di Syria, Libya itu bermakna bahwa hari H dan jam D-nya telah dekat. Maka referendum sebuah wilayah hanya legalisasi saja, atau menggunakan model pemerintahan transisi (NTC) yang gagal total di Libya karena ternyata ada perlawanan maha dahsyat disana. Bagaimana dengan tema dan pola yang ia gunakan di Papua? Persis, tidak? Hanya orang yang terperangkap skema tak dapat melihat gerakan ini, jangan-jangan justru ia menjadi bagian dari upaya referendum ini? 


Kemudian, satu soal lagi. Bagaimana kajian dari sisi pengiriman logistik militer AS ke Afghanistan yang ternyata sering disabotase oleh pemberontak lokal? Katanya route "paling aman" melalui Baluchistan ya? Kalau data itu benar, berarti upaya Dana Rohrabacher "memerdekakan" Provinsi Pakistan adalah dalam rangka membuat jalur logistik. Maknanya, Military Roadmap dalam rangka "Penaklukkan Dunia" milik Pentagon akan terus berlanjut dan cuma ditunda dulu karena kegagalan akibat 10 tahun invasi di Afganistan hanya mampu menguasai "rempah-rempah" (opium).  
Barangkali yang perlu diwaspadai saat ini di Baluchistan adalah penerapan methode Perang Candu dan Provincial Recostruction Team (PRT). Selain biayanya lebih murah tanpa harus mengerahkan militer secara terang-terangan, juga tidak mencolok di mata internasional. Saya rasa, the power of oil akan terus berjalan dengan tema dan pola-pola yang lebih canggih lagi di Baluchistan!
Maka saya himbau: “Cukup sudah kau jual agama dan negara ini, apa yang akan kamu wariskan nanti untuk anak cucu; jangan lagi engkau obrak-abrik negeri ini mengatas-namakan demokrasi, kebebasan, HAM dan banyak lagi!”




Menyongsong Masalah Rutin Pendidikan



Menyongsong Masalah Rutin Pendidikan

Teorinya, teori keterbelakangan ini selalu dikaitkan dengan kenyataan kondisi masyarakat yang memang masih bergulat dengan kebodohan. Karena bodoh maka seseorang menjadi manusia yang kurang produktif dan karena kurang produktif diapun menjadi miskin. Kenapa menjadi miskin? Karena kebodohan implikasinya adalah kurang produktif dan karena kurang produktif maka pendapatan seseorang menjadi kecil. Keluarga miskin seperti inilah yang kebetulan masih banyak di Indonesia. Jika nasib mereka tidak diubah secara struktural, tetap saja negeri kita ini akan menjadi negara yang terbelakang.
Disamping keluarga miskin, negeri kita masih didominasi oleh keluarga yang hampir miskin dan keluarga yang berada pada tingkat “subsistence lever atau hidup dengan pas-pasan. Hidup pas-pasan adalah rnayoritas penduduk Indonesia. Pas-pasan karena kebutuhan hidup mereka sehari-hari sudah bisa diatasi sehingga bisa hidup diatas sedikit garis kemiskinan. Mereka adalah penduduk atau keluarga yang patut bersyukur karena tidak kelaparan. Tetapi hidup bukanlah untuk makan saja. Kehidupan adalah sesuatu yang harus lebih berkualitas baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Semua orang berperadaban tahu bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup itu kata kuncinya ada pada pendidikan.
Semua pemimpin (formal dan informal) sudah tahu bahwa hanya pendidikanlah yang bisa membuat negeri ini keluar dari keterbelakangan dengan predikat ikutannya miskin dan terhina. Karena kemiskinan inilah maka terpaksa kita dihinakan bangsa-bangsa lain. Kita menjadi budak-budak yang tak dihargai
sedikitpun bangsa-bangsa lain.Solusi dari semua itu adalah pendidikan. Individu, keluarga dan masyarakat yang pintar dan terdidiklah yang mampu membuat bangsa dan negeri ini menjadi meningkat harkat dan martabatnya. Pemerintah dan masyarakat sadar betul bahwa pendidikan harus menjadi kepedulian yang serius dan fokus.

Tetapi kalau mau jujur sektor pendidikanlah yang tak pernah final di negeri ini. Setiap tahun sektor ini masih merupakan masalah rutin yang belum terpecahkan. Selesai Ujian Nasional kini sebagian besar keluarga Indonesia pasti menghadapi masalah biaya pendidikan yang kecenderungannya semakin memberatkan. Hari-hari ke depan ini pastilah menjadi hari yang penuh keluhan, keprihatinan dan mungkin depresi dan stres bagi banyak kepala keluarga.
Soalnya semakin kita sadar bahwa pendidikan itu penting semakin berkurang usaha untuk mendidik anak-anak bangsa dengan mudah dan murah. Temyata menjadi pintar begitu sulit dan penuh tantangan di negeri ini. Padahal kita ingin menjadi bangsa yang cerdas dan bermartabat.

Minggu, 11 Maret 2012

KONSPIRASI Gempa Tsunami ACEH terkuak



Afghanistan dan Iraq sudah binasa, para bankir Wall Street semuanya putus asa mencari-cari cara untuk mengendalikan dunia kita ini, secara tiba-tiba dengan mudahnya Parit Sumatra meledak. Trick or Treat? “Bahkan yang lainnya terlibat menyerang dalam bentuk eco-type of terrorism, mereka dapat merubah iklim, membuat gempa bumi atau meledakkan gunung berapi dari jarak jauh, dengan menggunakan senjata gelombang elektomagnetik” Menteri Pertahanan Amerika, William S. Cohen, April 1997 Big surprise! Kemungkinan Cohen sudah mengetahui terlebih dahulu bahwa sebuah senjata nuklir dapat mendorong terjadinya apa yang dia sebutnya sebagai “gelombang elektromagnetik”.
….
Walaupun kecenderungan alami manusia dikejutkan kedalam kesunyian karena banyaknya orang yang mati dan luka-luka di Asia pada tanggal 26 Desember 2004, meskipun juga sedikit merasa takut karena kehilangan kepercayaan pribadi karena besarnya tingkat kejahatan yang baru saja terjadi, terdapat banyak bukti-bukti kejanggalan yang dapat dibuktikan mengenai ceritera resmi Tsunami yang dibuat Amerika, sekarang harus dicatat walaupun secara sederhana, atau untuk selamanya akan hilang ditelan waktu,
Adalah tidak diragukan lagi bahwa sebuah gelombang raksasa (Tsunami) telah menerjang sepanjang Asia Selatan dan Asia Tenggara serta kekuatannya masih cukup untuk meneruskan bergerak ke sepanjang Lautan India ke Afrika, membunuh dan melukai ratusan orang lainnya lagi. Jadi hanya sebuah pertanyaan yang harus kita ajukan,”apakah Tsunami ini terjadi secara alami atau bencana yang dibuat manusia?”. Sebuah kejadian alam yang cukup mengerikan, akan tetapi jika Tsunami merupakan perbuatan tangan-tangan jahil manusia, maka kita tidak perlu bertanya lagi hanya menunjuk kepada satu-satunya penjahat perang terbesar dalam sejarah dunia.
Untuk membuat semua ketidak beresan menjadi masuk akal, kita harus memulainya dari permulaan sekali, dan kemudian mengikuti arah kejadian-kejadiannya sebagaimana yang mereka ungkapkan, terutama sekali kejadian-kejadian disekitar daerah sekeliling pusat gempa bumi Tsunami yang sebenarnya, karena episenter yang disampaikan dengan tanpa belas kasihan oleh the New York Times dan CNN, sangat berbeda dari lokasi sebenarnya.
Pada tengah hari waktu Asutralia Saya mencatat dengan sebenarnya yang terjadi mengenai magnitude dan posisi yang dicatat oleh Kantor Pencatatan Gempa Jakarta, Indonesia. Sebuah gempa bumi berukuran 6.4 skala Richter telah menghantam wilayah utara Indonesia, yaitu Pulau Sumatera. Kantor Pencatatan Gempa Jakarta dengan teliti mencatat pusat gempa bumi yang terjadi pada waktu itu yang lokasinya pada 155 mil di selatan barat daya Provinsi Aceh.
Posisinya kira-kira berada 250 mil selatan pada posisi yang kemudian dipilih oleh the American NOAA, yang memetakan pusat gempa di barat laut Aceh, dan yang pada mulanya diklaim terbaca sebesar 8.0. Richter. Cilakanya, walaupun kekuatan gempa tersebut tidak cukup untuk menutupi kerusakan yang diakibatkan kejadian yang luar biasa, jadi NOAA secara terus-menerus memperbaharui membacanya menjadi 8.5, kemudian menjadi 8.9, dan akhirnya 9.0 – setidaknya untuk waktu itu.
Jadi, kejanggalan pertama yang disuguhkan oleh pejabat-pejabat Amerika di NOAA, tiba-tiba ditemukan sesuatu yang baru yang ‘fleksibel’ titik tertinggi gempa bumi untuk kejadian tersebut, yang lebih besar daripada Jakarta, ketika kantor di Jakarta menentukan lokasi yang lebih dekat pada hampir point-blank range. Percayalah ketika Saya menceriterakan kepada Anda bahwa tidak ada sesuatu seperti ‘fleksibel’ yang baru ‘titik tertinggi yang diklaim NOAA. Titik pertama tertinggi gempa bumi yang dicatat adalah hanya titik tertinggi yang sebenarnya, kecuali tentu saja Anda sendiri kemudian menambahkan menggambar beberapa titik tertinggi lainnya, untuk menyesuaikan dengan agenda yang diusahakan. Tentu saja hanya terdapat satu titik pusat gempa yang telah dicatat secara dengan benar oleh lusinan seismograph, baik di Indonesia maupun di India.
Untuk menyederhanakan masalah bagi pembaca non-teknis, sebuah gempa bumi selalu dipicu oleh sebuah getaran frekuensi elektromagnetik berkisar antara 0.5 sampai 12 Hertz , tetapi bukan kejadian yang mendadak, karena getaran frekuensi harus tepat. Dengan demikian getaran yang sebenarnya mendekat, garis patah mulai bergetar seperti seutas tali yang tegang, kemudian mengirimkan peringatan kepada seismograph dalam bentuk peningkatan yang mantap berupa garis lintang gelombang yang menyapu.
Jika semua yang Anda dapat adalah sebuah cluster dari “P” tekanan gelombang, kemudian Anda hampir pasti melihat ledakan di bawah tanah atau di bawah permukaan laut. Bahkan ini sebenarnya hanya merupakan sinyal yang banyak dari seismik yang didapat oleh Indonesia dan India, dan mereka memperhatikannya dengan rasa keingin tahuannya karena serupa dengan yang dihasilkan oleh ledakan besar senjata nuklir bawah tanah di Nevada beberapa tahun lalu.
Pemerintah India mengetahui sepenuhnya dengan baik bahwa itu bukan sebuah gempa bumi “normal”. Pada tanggal 27 Desember, India menolak untuk bergabung dengan rencana eksklusif ‘club of four’ George Bush, yang akan secara efektif menarik kekuatan nuklir Asia ini keluar dari koalisi barunya dengan Russia, China dan Brazil. Pada tanggal 28 Desember Pemerintah India dengan sopannya memperingatkan militer Amerika untuk tetap tidak memasuki wilayah kedaulatannya, dan pada tanggal 29 Desember Editorial India Daily secara umum mempertanyakan sifat dasar kejadian tersebut:
“Apakah ini sebuah pameran kekuatan oleh sebuah negara untuk memperlihatkan malapetaka apa yang biasa diciptakan di wilayah ini?
“Dengan tingkat kerusakan yang ada dan sebagai fakta bahwa India merupakan kekuatan regional di Asia Tenggara, Angkatan Laut India bertanggungjawab untuk melakukan penyelidikan dan memberitahukan hasilnya ke seluruh dunia, apa yang telah mereka temukan .”
Kita akan kembali nanti kepada gambaran tugas yang relatif sederhana yaitu berupa pengiriman sebuah senjata termonuklir berkekuatan multi-megaton ke dalam Parit laut Sumatra, kemudian meledakkannya dengan akibat-akibat yang mengagumkan, tetapi sekarang ini kita perlu untuk kembali ke tugas awal yaitu mengikuti jalan kejadian dan ketidakberesan yang tak dapat difahami. Pertama kita harus melakukan perjalanan ke selatan jauh ke gurun di pulau Australia yang sekarang ini dikuasai oleh seorang penjilat Wall Street dikenal sebagai Little Johnny Howard. Walau membuat kejengkelan yang amat kuat kepada “warganegara” Australia, Little Johnny Howard tidak pernah melangkah ke luar Australia kecuali dia menerima instruksi yang tegas dari seorang penjaganya di New York. Ingatlah kenyataan ini, karena benar-benar penting dalam kaitan dengan apa yang Australia lakukan berikutnya.
Pada pagi hari tanggal 27 Desember, media Australia (yang dimiliki New York) memberitakan dengan sangat jelas bahwa negara yang paling buruk terkena Tsunami adalah Sri Lanka, sebuah negara pulau di ujung selatan India, seperti Australia, Sri Lanka juga negara anggota Persemakmuran Inggris. Karena itu, Tim Costello, kepala salah satu lembaga derma paling besar di Australia, segera membuat rencana untuk terbang ke wilayah yang terkena musibah dan mengkaji mengenai bantuan apa yang dibutuhkan. Tetapi pada pagi yang sama, Little Johnny menari mengikuti irama musik yang berbeda, yang berdasarkan kepada kepatuhannya, harus mengurangi sambungan telepon yang aman dari Wall Street.
Dengan cara yang benar-benar tertutup, Little Johnny dengan diam-diam memberangkatkan dua buah RAAF Hercules pesawat pengangkut lengkap dengan suplainya ke Malaysia on “Stand By”, dan memerintahkan dua buah pesawat lainnya diterbangkan ke Darwin di utara Australia. Tolong dicatat jika Little Johnny mempunyai perhatian terhadap kemanusiaan, keempat pesawat Hercules bisa saja diterbangkan secara langsung ke mitranya sesama anggota Commonwealth, Sri Lanka, dimana setiap orang Australia telah didiberitahu oleh media bahwa bantuan diperlukan. Tetapi tidak ada, tidak diperuntukkan untuk itu, dan Little Johnny menunggu dengan sabarnya perintah dari New York.
Masa tunggu yang singkat, dan setelah sebuah jet pengintai terbang tinggi menetapkan bahwa landasan terbang bersih di Medan di Sumatra bagian timur, keempat Hercules Australia lengkap dengan pasukan, senjata dan lainnya, menyerbu Sumatra tepat di selatan provinsi Aceh yang hancur. Pada gilirannya, dengan 90% penduduknya terbunuh oleh Tsunami, Aceh barangkali suatu hari segera menjadi Guantanamo Bay Indonesia, dipenuhi oleh ratusan orang Australia dan Amerika yang diperlengkapi dengan senjata berat. Ingat secara hati-hati, meskipun pada waktu itu ke-empat Hercules ini mendarat di Medan, publik Australia biasa masih tidak mempunyai ide dimana Sumatra yang diserang Tsunami dengan sangat buruk itu. Hanya Little Johnny mengetahui, dan tentu kepada kepercayaannya crystal ball di New York.
To hell with Sri Lanka, boss menginginkan sebuah dasar yang utama untuk kontrak rekonstruksi yang sangat besar di Asia, yang dirancang untuk menggantikan pencurian minyak dan rekonstruksi yang gagal di Irak, dan tetap membuat miskin Zion tua yang berjalan terhuyung-huyung di atas kaki New York untuk beberapa minggu atau bulan lagi.
Pada akhirnya, apakah gerangan itu, berarti berapa banyak Goyim yang harus meninggal? Dan dalam daftar mereka telah membunuh lebih dari 100,000 orang-orang Muslim di Sumatra dengan sebuah gelombang pasang surut, yang merupakan sebagian pembayaran atas kekalahan mereka di Afghanistan dan Irak.
Tidak perlu dikatakan lagi ternyata Australia adalah termasuk kelompok awal yang mempersiapkan diri, yang segera bergabung dengan anehnya karena sudah mempersiapkan diri dengan baik dan diperlengkapi dengan peralatan Militer Amerika Serikat, meskipun diragukan bahwa setiap perwira dan personelnya yang terlibat benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sedikit dari mereka yang berpikir untuk mempertanyakan mengapa mereka melakukan latihan selama setahun penuh hanya untuk sebuah tugas “Misi Kemanusiaan”, ketika semua menunjuk kepada Angkatan Laut Amerika Serikat dan Korps Marinir yang sudah terbiasa membunuh banyak orang. Lihat sajalah ke Falujah, tengoklah Falujah.
Meskipun terdapat sejumlah besar korban Tsunami di negara bagian Tamil Nadu, India merubah secara keseluruhan kapal penelitian INS Nirupak menjadi sebuah rumah sakit terapung berkapasitas 50-tempat tidur kurang dari 72 jam, kemudian mengirimkan kapal tak bersenjata itu untuk membantu orang Aceh di Indonesia yang putus asa. Dengan membandingan secara langsung, dimana Amerika mengirimkan kapal perang serta Marinir bersenjata. Padahal Angkatan laut Amerika Serikat mempunyai dua buah kapal rumah sakit berkapasitas 1000 tempat tidur, yaitu the ‘Comfort’ dan the ‘Mercy’, namun tidak satu pun dikirim untuk membantu korban di Aceh. Tapi pada kejadian September 2001 USNS Comfort dikirim ke New York untuk menolong 3,000 orang Amerika yang meninggal, kurangnya tindakan Amerika terhadap kejadian Tsunami di Aceh ini memberikan sinyal yang kuat bahwa tidak adanya perhatian apapun dari power brokers di New York, walaupun 150,000 orang meninggal (sebagian besar Muslim) di Kawasan Asia Tenggara dan setengah juta orang lainnya luka-luka.
Secara teoritis, Pentagon 9 megaton W-53 hulu-ledak termonuklir (kiri atas), bisa dengan mudah dikemas dalam sebuah tempat kecil ‘menyerupai’ saturasi untuk menyelam (kanan atas), supaya terlindung dari tekanan 10,000 pound dari setiap inci persegi di dasar laut Sumatra Trench. Keseluruhan kemas yang dilapisi baja beratnya kurang dari lima ton, bisa diselipkan di buritan kapal penyuplai anjungan minyak, yang di Asia sendiri terdapat lebih dari 300 buah. Siapa yang akan memperhatikan?.

Mafia Berkeley Pemegang Manipulasi Ekonomi Indonesia


Dalam buku yang ditulis John Pilger dan yang juga ada film dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the World, antara lain, dikatakan: “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar”.

Ini terkenal dengan istilah nation building dan good governance oleh “empat serangkai” yang mendominasi World Trade Organisation (Amerika Serikat, Eropa, Canada, dan Jepang), dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF, dan Departemen Keuangan AS). Mereka mengendalikan setiap aspek detail dari kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara termiskin membayar USD 100 juta per hari kepada para kreditor Barat. Akibatnya adalah sebuah dunia yang elitenya -dengan jumlah lebih sedikit dari satu miliar orang- menguasai 80 persen kekayaan seluruh umat manusia.”

Itu ditulis oleh John Pilger, seorang wartawan Australia yang bermukim di London, yang tidak saya kenal. Antara John Pilger dan saya, tidak pernah ada komunikasi. Namun, ada beberapa kata yang saya rasakan berlaku untuk bangsa Indonesia dan yang relevan dengan yang baru saya kemukakan. Kalimat John Pilger itu begini: “Their power derives largely from an unrepayable debt that forces the poorest countres…” dan seterusnya. Dalam hal Indonesia, keuangan negara sudah bangkrut pada 1967. Paling tidak, demikianlah yang digambarkan oleh para teknokrat ekonom Orde Baru yang dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk memegang tampuk pimpinan dalam bidang perekonomian. Maka, dalam buku John Pilger tersebut, antara lain, juga dikemukakan sebagai berikut:

(Saya kutip halaman 37) “Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ’hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”.

“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ’the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, mereka menawarkan : … buruh murah yang melimpah… cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar.” Di halaman 39 ditulis: “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ’Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ’Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia.

Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.” Sekali lagi, semuanya itu tadi kalimat-kalimatnya John Pilger yang tidak saya kenal.

Kalau kita percaya John Pilger, Brad Sampson, dan Jeffry Winters, sejak 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa.

Sejak itu, Indonesia dikepung oleh kekuatan Barat yang terorganisasi dengan sangat rapi. Instrumen utamanya adalah pemberian utang terus-menerus sehingga utang luar negeri semakin lama semakin besar. Dengan sendirinya, beban pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya semakin lama semakin berat. Kita menjadi semakin tergantung pada utang luar negeri. Ketergantungan inilah yang dijadikan leverage atau kekuatan untuk mendikte semua kebijakan pemerintah Indonesia. Tidak saja dalam bentuk ekonomi dan keuangan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Utang luar negeri kepada Indonesia diberikan secara sistematis, berkesinambungan, dan terorganisasi secara sangat rapi dengan sikap yang keras serta persyaratan-persyaratan yang berat. Sebagai negara pemberi utang, mereka tidak sendiri-sendiri, tetapi menyatukan diri dalam organisasi yang disebut CGI.

Negara-negara yang sama sebagai pemberi penundaan pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya yang jatuh tempo menyatukan diri dalam organisasi yang bernama Paris Club. Pemerintah Indonesia ditekan oleh semua kreditor yang memberikan pinjaman kepada swasta Indonesia supaya pemerintah menekan para kreditor swasta itu membayar tepat waktu dalam satu klub lagi yang bernama London Club. Secara kolektif, tanpa dapat dikenali negara per negara, utang diberikan oleh lembaga multilateral yang bernama Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia. Pengatur dan pemimpin kesemuanya itu adalah IMF. Jadi, kesemuanya itu tidak ada bedanya dengan kartel internasional yang sudah berhasil membuat Indonesia sebagai pengutang yang terseok-seok.

Sejak itu, utang diberikan terus sampai hari ini. Dalam krisis di tahun 1997, Indonesia sebagai anggota IMF menggunakan haknya untuk memperoleh bantuan. Ternyata, ada aturan ketat untuk bantuan itu. Bantuan uang tidak ada, hanya dapat dipakai dengan persyaratan yang dibuat demikian rupa, sehingga praktis tidak akan pernah terpakai. Dengan dipegangnya pinjaman dari IMF sebagai show case, IMF mendikte kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia, yang dengan segala senang hati dipenuhi oleh para menteri ekonomi Indonesia, karena mereka orang-orang pilihan yang dijadikan kroni dan kompradornya.

Maka, dalam ikatan EFF itulah, pemerintah dipaksa menerbitan surat utang dalam jumlah Rp 430 triliun untuk mem-bail out para pemilik bank yang menggelapkan uang masyarakat yang dipercayakan pada bank-bank mereka. Mereka tidak dihukum, sebaliknya justru dibuatkan perjanjian perdata bernama MSAA yang harus dapat meniadakan pelanggaran pidana menurut undang-undang perbankan. Dalam perjanjian perdata itu, asalkan penggelap uang rakyat yang diganti oleh pemerintah itu dapat mengembalikan dalam bentuk aset yang nilainya sekitar 15 persen, dianggap masalahnya sudah selesai, diberikan release and discharge.

Lima tahun lamanya, yaitu untuk tahun 1999 sampai dengan tahun 2003, pembayaran utang luar negeri yang sudah jatuh tempo ditunda. Namun, mulai tahun 2004, utang yang jatuh tempo beserta bunganya harus dibayar sepenuhnya. Pertimbangannya tidak karena keuangan negara sudah lebih kuat, tetapi karena sudah tidak lagi menjalankan program IMF dalam bentuk yang paling keras dan ketat, yaitu EFF atau LoI.

Setelah keuangan negara dibuat bangkrut, Indonesia diberi pinjaman yang tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisanya sendiri habis total. Pinjaman diberikan setiap pemerintah menyelesaikan program yang didiktekan oleh IMF dalam bentuk LoI demi LoI. Kalau setiap pelaksanaan LoI dinilai baik, pinjaman sebesar rata-rata USD 400 juta diberikan. Pinjaman ini menumpuk sampai jumlah USD 9 miliar, tiga kali lipat melampaui kuota Indonesia sebesar USD 3 miliar. Karena saldo pinjaman dari IMF melampaui kuota, Indonesia dikenai program pemandoran yang dinamakan Post Program Monitoring.

Mengapa Indonesia tidak mengembalikan saja yang USD 6 miliar supaya saldo menjadi USD 3 miliar sesuai kuota agar terlepas dari post program monitoring. Berkali-kali saya mengusulkan dalam sidang kabinet agar seluruh saldo utang sebesar USD 9 miliar dikembalikan. Alasannya, kita harus membayar, sedangkan uang ini tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisa milik sendiri habis total. Cadangan devisa kita ketika itu sudah mencapai USD 25 miliar, sedangkan selama Orde Baru hanya sekitar USD 14 miliar. Yang USD 9 miliar itu harus dicicil sesuai jadwal yang ditentukan oleh IMF. Skemanya diatur sedemikian rupa sehingga pada akhir 2007 saldonya tinggal USD 3 miliar. Ketika itulah, baru program pemandoran dilepas. Alasannya kalau yang USD 9 miliar dibayarkan sekarang, cadangan devisa kita akan merosot dari USD 34 miliar menjadi USD 25 miliar. Saya mengatakan, kalau yang USD 9 miliar dibayarkan, cadangan devisa kita meningkat dari USD 14 miliar menjadi USD 25 miliar. Toh pendapat saya dianggap angin lalu sampai hari ini.

Mari sekarang kita bayangkan, seandainya cadangan devisa kita habis pada akhir 2007. Ketika itu, utang dari IMF tinggal USD 3 miliar sesuai kuota. Barulah ketika itu utang dari IMF boleh dipakai. Olehnya secara implisit dianggap bahwa ini lebih kredibel, yaitu mengumumkan bahwa cadangan devisa tinggal USD 3 miliar yang berasal dari utang IMF. Kalau seluruh utang yang USD 9 miliar dibayar kembali karena sudah mempunyai cadangan devisa sendiri sebesar USD 25 miliar dikatakan bahwa Indonesia tidak akan kredibel karena cadangan devisa merosot dari USD 34 miliar menjadi USD 25 miliar.

Jelas sekali sangat tidak logisnya kita dipaksa untuk memegang utang dari IMF dengan pengenaan bunga yang tinggi, sekitar 4 persen setahun, tanpa boleh dipakai. Jelas sekali bahwa Indonesia dipaksa berutang yang jumlahnya melampaui kuota yang sama sekali tidak kita butuhkan. Tujuannya hanya supaya Indonesia dikenai pemandoran yang bernama post program monitoring. Jelas ini hanya mungkin dengan dukungan dan kerja sama dari kroni-kroninya Kartel IMF.

Mengapa kami dan teman-teman yang sepikiran dan sepaham dikalahkan terus-menerus? Mengapa pikiran yang tidak masuk akal seabsurd itu dipertahankan? Sebab, para menteri ekonomi yang ada dalam kabinet dan otoritas moneter sedikit pun tidak menanggapinya. Memberikan komentar pun tidak mau. Mengapa? Sebab, perang modern yang menggunakan seluruh sektor ekonomi sebagai senjata, terutama sektor moneternya, membutuhkan kroni atau komprador bangsa Indonesia sendiri yang mutlak mengabdi pada kepentingan agresor.

Kalau kita percaya pada Brad Sampson, Jeffrey Winters, dan John Pilger, dan kita perhatikan serta ikuti terus sikap satu kelompok tertentu, kiranya jelas bahwa kelompok pakar ekonomi yang dijuluki “the Berkeley Mafia” adalah kelompok kroni dalam bidang ekonomi dan keuangan. Lahirnya kelompok tersebut telah dikemukakan dalam studi Brad Sampson yang tadi saya kutip. Pengamatan saya sendiri juga membenarkan bahwa kelompok itu menempatkan dan memfungsikan diri sebagai kroni kekuatan asing.

Yang paling akhir menjadi kontroversi adalah sikap beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu terhadap uluran tangan spontan dari beberapa kepala pemerintahan beberapa negara Eropa penting berkenaan dengan bencana tsunami. Baru kemarin media massa penuh dengan komentar minor mengapa tim ekonomi pemerintah utang lagi dalam jumlah besar sehingga jumlah stok utang luar negeri keseluruhannya bertambah? Ini sangat bertentangan dengan yang dikatakan selama kampanye presiden dan juga dikatakan oleh para menteri ekonomi sendiri bahwa stok utang akan dikurangi. Berdasar pengalaman, saya yakin bahwa kartel IMF yang memaksa kita berutang dalam jumlah besar supaya dapat membayar utang yang jatuh tempo. Buat mereka, yang terpenting memperoleh pendapatan bunga dan mengendalikan Indonesia dengan menggunakan utang luar negeri yang sulit dibayar kembali.

Mafia Berkeley

Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka mempunyai atau menciptakan keturunan-keturunan. Para pendirinya memang sudah sepuh, yaitu Prof Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, J.B. Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.

Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat sebagai ketua Bappenas dan bermarkas di sana. Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang “kecolongan” tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani.

Mereka berhasil mempengaruhi atau “memaksa” Gus Dur bahwa mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin. Tidak puas lagi, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal, kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang.

Yang mengejutkan adalah Presiden Megawati yang mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia, walaupun dia bukan anggotanya. Ada penjelasan tersendiri tentang hal ini. Presiden SBY sudah mengetahui semuanya. Toh tidak dapat menolak dimasukkannya ke dalam kabinet tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Sri Mulyani, Jusuf Anwar, dan Mari Pangestu, seperti yang telah disinaylir oleh beberapa media massa.

Nuklir Tsunami, Akhirnya Terungkap



Sebagai Senjata Pemusnah Massal, Sebelum ditemukannya senjata nuklir, Tsunami terakhir terjadi pada tahun 1883. Tsunami yang terjadi disebabkan oleh sebuah LETUSAN VULKANIS di pulau KRAKATAU, Indonesia!!
Bisa saja KEBETULAN tetapi tsunami berikutnya terjadi di lepas pantai Alaska pada tahun 1946.
Pentagon memiliki lebih dari 10,000 buah Nuklir yang mematikan di dalam gudang persenjataannya Pentagon memiliki lebih dari 10,000 buah Nuklir di dalam gudang persenjataannya yang mematikan. Setiap bom hydrogen adalah 50 kali lebih kuat daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepamg pada tahun 1945. Sebuah bom hidrogen bila ditempatkan secara strategis dapat menghancurkan sebuah negara sebesar Inggris.
Hitler memiliki Bom-H pada tahun dan Pentagon membawa bom=-H Hitler ke Amerika Serikat dan diuji coba di Alaska pada bulan April 1946.
Secara teoritis, Pentagon 9 megaton W-53 hulu-ledak termonuklir (kiri atas), bisa dengan mudah dikemas dalam sebuah tempat kecil ‘menyerupai’ saturasi untuk menyelam (kanan atas), supaya terlindung dari tekanan 10,000 pound dari setiap inci persegi di dasar laut Sumatra Trench. Keseluruhan kemas yang dilapisi baja beratnya kurang dari lima ton, bisa diselipkan di buritan kapal penyuplai anjungan minyak, yang di Asia sendiri terdapat lebih dari 300 buah. Siapa yang akan memperhatikan?
Bom hidrogen yang mematikan adalah nuklir di dalam nuklir.!
Hidrogen atau bom thermonuklir adalah nuklir di dalam nuklir. Dengan kata lain, ia menggunakan fisi (pembelahan sel) dan milyaran derajat dalam sebuah bom atom konvensional (primary) untuk memicu sebuah reaksi berantai (fusion) dalam bom lain (secondary) dalam rangka menciptakan ledakan nuklir. Tahap ketiga atau tertiary dapat ditambahkan hingga hasilnya mencapai 20 juta ton TNT!!
Dr. Edward Teller mengatakan bahwa limit monster ini adalah 100 juta ton TNT!!
Bom-H pertama diproduksi oleh Nazi Jerman dengan bentuk yang sangat besar dan memerlukan pendingin khusus (cryogenics) untuk menjaga agar cairan deuterium tetap berada di bawah 400 derajat Fahrenheit
Pada waktu itu kapal selam merupakan cara yang ideal untuk mengantarkannya, namun akan meletus juga sewaktu terjadi ledakan.
Uji coba Bom Atom pertama bertempat di Port Chicagopada tanggal 17 Juli 1944!!
Ledakan atom pertama di dunia terjadi di Port Chicago di sebelah utara San Francisco pada tanggal 17 Juli, 1944. Ledakan atom ini merupakan uji coba senjata yang dirakit dengan bom uranium yang kemudian dijatuhkan di Hiroshima, Jepang pada tanggal 6 Juli, 1945.
Uji coba atom dilakukan dengan pura-pura menggunakan bahan peledak konvensional. Ratusan pelaut memuat perlengkapan senjata ke atas kapal di pelabuhan untuk persiapan Perang Pasifik. Ledakan terjadi dan menghancurkan segalanya dalam jarak 1/2 mil dan menyebabkan gelombang air laut besar. Pentagon mengatakan bahwa perlengkapan senjata di atas kapal terbakar api yang menyebabkan ledakan. Ini merupakan kebohongan murni karena tidak ada api sebelum terjadinya ledakan.
Prinsip-prinsip bom Hidrogen sudah diketahui pada tahun 1944!!
Prinsip-prinsip bom hidrogen sudah diketahui sejak tahun 1944 …. Kekuatan penghancur sebuah bom hidrogen dibandingkan dengan sebuah bom atom biasa adalah seperti sebuah MAINAN …. Hitler tidak main-main dan para ilmuwannya memfokuskan dalam membuat dan mengirim Bom-H.
Menurut Dr. James B. Conant, Presiden Universitas Harvard dan penasehat ilmiah untuk Jenderal Groves, Super Bom Amerika Serikat dengan seksama dikembangan pada tahun 1944.
Dr. James B. Conant (1893-1978). President of Harvard University and scientific adviser to General Groves.
“Dengan menggunakan berbagai macam metoda, nampak sangat mungkin untuk mengembangkannya dalam jangka waktu enam bulan setelah bom pertama disempurnakan, dan harus memungkinkan untuk dapat ditingkatkan efisiensinya … dalam kasus ini sejumlah materi yang sama akan menghasilkan sama dengan kira-kira 24,000 ton TNT. Pengembangan lebih lanjut sepanjang alur kebijakan ini memungkinan untuk diproduksinya sebuah bom tunggal dengan jumlah materi dan efisiensinya untuk mengejar jumlah yang sama dengan beberapa ratus ribu ton TNT, atau bahkan sebanding dengan satu juta ton TNT… Semua kemungkinan-kemungkinan ini hanya terdapat dalam menyempurnakan efisiensi penggunaan unsur-unsur “25″[U235] dan “49″[Pu239]. Dengan demikian Anda akan melihat bahwa sebuah bom “super” yang patut dipertimbangkan adalah dalam penggunaannya di tengah-tengah laut tidak lagi terlepas dari reaksi nuklir lain.”( Bush-Conant Letter on the Super Bomb, National Archives).Surat ini ditulis oleh Dr. Conant kepada Vannevar Bush pada tanggal 20 Oktober 1944!!
Gempa bumi” pertama dan Tsunami dalam abad ke-20 terjadi di Alaska pada tanggal 1 April 1946!!
Pada tanggal 1 April 1946, sebuah “gempa bumi” yang sangat besar dan Tsunami menerjang kepulauan Aleutian tepi pantai Alaska:
“Salah satu Tsunami luas yang paling desktruktif di Pasifik adalah yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 7.8 di dekat kepulauan Unimak di Alaska, di rangkaian kepulauan Aleutian. Sebuah gelombang sangat besar 35 meter menghancurkan seluruh bangunan mercusuar U.S. Coast Guard’s Scotch Cap di Unimak dan membunuh semua orang petugasnya yang berjumlah lima orang. Bahan struktur mercusuar terbuat dari baja-yang diperkuat beton, berdiri tegak sekitar 30 meter di atas permukaan laut. Tanpa peringatan, gelombang Tsunami yang menghancurkan mencapai kepulauan Hawai , lima jam kemudian, menyebabkan kerusakan parah dan merengut nyawa manusia. Gelombang Tsunami menghancurkan pelabuhan Hilo di pulau Hawaii, membunuh 159 orang. Jumlah korban semuanya 165 orang, termasuk anak-anak yang sedang belajar di sekolah Hawaii Laupahoehoe Point, dimana gelombang laut mencapai 8 m, juga menghancurkan sebuah rumah sakit. Kerusakan diperkirakan sebesar US $26 juta (nilai dolar tahun 1946). Pada tahun 1948, dan sebagai akibat Tsunami ini, kemudian Amerika Serikat mendirikan sebuah “Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii.”( Intl. Tsunami Info. Center) .
Uji Coba Pertama bom hidrogen bertempat di Alaska pada tanggal 1 April 1946!!
Setelah Perang Dunia II, Alaska dipilih sebagai sebuah tempat favorit oleh Pentagon untuk melakukan uji coba senjata-senjata nuklir. Wilayah tersebut berdekatan dengan wilayah Rusia, dengan demikian jatuhan radio aktif akan mengkontaminasi Siberia dan cukup jauh dari wilayah daratan Amerika Serikat untuk menyembunyikan efek dari “tembakan” atau uji-coba. Koordinator uji-coba nuklir di Alaska adalah Dr. Edward Teller—disebut juga “bapak dari Bom-H:”
Dr. Edward Teller, tengah (1908-2003), dijuluki sebagai “bapak bom-H” sering melakukan kunjungan ke Alaska . Dengan kedok penggunaan nuklir untuk tujuan damai ia melakukan uji-coba beberapa bom-H di Alaska dengan nama sandi Project Chariot .
Teller melakukan uji-coba sebuah bom hidrogen di Alaska pada tanggal 1 April 1946. Media massa dunia yang dikendalikan Pentagon melaporkan kejadian tersebut sebagai sebuah kejadian “gempa bumi” dan Tsunami.
Ledakan bom hidrogen ini dipicu oleh sebuah alat berupa senjata rakitan mirip dengan yang digunakan pada “Little Boy”— bom Hiroshima.
Hitler telah menyempurnakan pembuatan bom-H yang akan digunakan untuk melawan Inggris atau menghancurkan pelabuhan – pelabuhan Amerika Serikat.
Peralatannnya apakah merupakan tiruan dari bom Jerman atau penemuan Teller di Los Alamos.?
Kekuatan penghancur bom-H tidak dapat dibayangkan sebagaimanan diperlihatkan oleh akibat-akibat dari “gempa bumi” dan Tsunami.
Bom hidrogen juga disebut SUPER. Di bawah ini sebuah kutipan pejabat berwenang dari the U.S. Nuclear Weapons: The Secret History, sbb:
“Sebuah pertemuan awal penting setelah masa berakhirnya perang mengulas status bom-H Super telah diadakan di Los Alamos dari tanggal 17 April s/d 23 April 1946. Mengkaji ulang hasil pekerjaan yang telah dicapai sampai saat ini dalam memproses thermonuklir, juga dipresentasikan sebuah model yang khas dari sebuah bom thermonuklir. Konferensi memusatkan perhatian terhadap kelayakan model, yang telah dipilih untuk amenability dalam kaitan teoritis ketimbang praktek-praktek rekayasa maupun efisiensi dengan digunakannya bahan fissile dan tritium. Tujuan daripada konferensi adalah untuk mempelajari kelayakan bom thermonuklir dalam prinsip, namun tidak bermaksud untuk mengusulkan rancangan senjata yang sebenarnya. Serangkaian perhitungan yang ekstensif ENIAC mengenai salah satu pembakaran tritium dan deuterium telah selesai. Tujuan tambahan dari pertemuan adalah untuk membicarakan hasil-hasil perhitungan dan untuk memberikan penilaian ke depan dalam merealisasikannya secara pisik dari sebuah peralatan thermonuklir. Meskipun disederhanakan namun sebenarnya relatif ambisius dalam model, kesepakatan umum dicapai bahwa hasil-hasil awal untuk di dorong (disampaikan apa yang telah diketahui pada waktu itu mengenai faktor-faktor yang menyangkut radiasi pendingin serta dispersi bahan bakar) Beberapa dokumen komprehensif dibuatkan konsepnya sebagai tahapan awal dari pengembangan program thermonuklir yang akan berakhir. (Hansen, U.S. Nuclear Weapons: The Secret History , p. 45). ..”( Intl. Tsunami Info. Center)
Ledakan Kedua Bom Hidrogen Bertempat di Lepas Pantai Rusia pada tahun 1952
Menurut “para ahli” Rusia tidak meledakkan bom hidrogen sampai dengan tahun 1955. Oleh karena itu, “gempa bumi” dan Tsunami mestinya merupakan kerja Pentagon. Pada waktu itu, situasi Perang Korea sedang memburuk untuk Jenderal McArthur. Di bawah ini kutipan lain dari the International Tsunami Info Center:
“Pada tanggal 4 Nopember 1952, sebuah gempa kuat (berkekuatan 8.2) di lepas pantai Semenanjung Kamchatka mendorong terjadinya kerusakan Tsunami Pasifik yang luas. Gelombang Tsunami menerjang Semenanjung Kamchatka, Kepulauan Kuril dan wilayah Timur Jauh Rusia lainnya, menyebabkan kerusakan yang parah dan kematian. Tsunami secara luas diobservasu dan dicatat di Jepang, tetapi tidak terjadi kerusakan maupun kematian. Terdapat kerusakan yang cukup berarti di Kepulauan Hawai dan beberapa kerusakan di Peru dan Chili. Tsunami juga dicatat atau diobservasi di seluruh kepulauan Pasifik. Di Selandia Baru gelombang laut naik setinggi 1 meter. Di Alaska, di Kepulauan Aleutian dan di California gelombang air laut mencapai 1,4 meter yang juga di catat atau diobservasi. Sejauh ini, gelombang air laut terbesar diluar daerah asal Tsunami diobservasi di Kepulauan Hawaii. Beruntung tidak ada manusia yang menjadi korban di Hawai dari terjangan Tsunami, namun kerusakannya parah, diperkirakan kerugian materi berkisar antara US$ 800.000 – US$ 1.000.000 (nilai dolar tahun 1952). Tsunami juga menyebabkan kerusakan di Pulau Midway. Dibeberapa tempat di rangkaian kepulauan Hawai, gelombang pasang air laut merusakkan perahu dan dermaga, memutuskan hubungan telepon, dan menyebabkan erosi pantai yang parah. Di beberapa lokasi, gelombang Tsunami merusak di beberapa lokasi tertentu namun hampir tidak ada catatan. Di pantai sebelah utara Oahu gelombang pasang yang tergadi mencapai ketinggian sampai dengan 4.5 meter. Di pantai sebelah selatan di pulau tersebut, Tsunami cukup kuat menghanyutkan kapal barang bermuatan semen di Pelabuhan Honolulu..”(Intl. Tsunami Info. Center)
Ledakan Ketiga Bom Hidrogen Terjadi di Alaska pada tanggal 9 Maret 1957.
Pentagon meledakkan sebuah thermonuklir a BIG ONE pada tanggal 9 Maret 1957 di Alaska. Mungkin peledakkan ini berkaitan dengan Operation Dropshot—rencana invasi ke Rusia yang ditetapkan tahun 1958:
“Pada tanggal 9 Maret 1957, sebuah gempa berkekuatan 8.3 di selatan Kepulauan Andreanof, di Kepulauan Aleutean, Alaska – di wilayah yang umumnya sama dengan yang terjadi pada tanggal 1 April 1946 – mendorong sebuah Tsunami Pasifik yang luas. Meskipun tidak ada manusia yang menjadi korban, Tsunami menghancurkan harta benda di Kepulauan Hawaii yang kerusakannya ditaksir berjumlah kira-kira US$ 5 Juta (nilai dolar tahun 1957). Gelombang air laut terutama tinggi di pantai sebelah utara di pulau Kauai yang mencapai ketinggian 16 meter, membanjiri jalan raya dan menghancurkan rumah-rumah dan menghanyutkan jembatan. Tsunami ini merupakan dua kali lipat daripada Tsunami yang terjadi pada tahun 1946. Di Hilo, Hawaii, Tsunami menerjang dengan ketinggian 3.9 meter dan merusakkan beberapa bangunan di sepanjang pantai. Di dalam Teluk Hilo, Pulau Coconut tertutup air setebal 1 meter termasuk jembatan yang menghubungkan ke pantai, sebagaimana pada tahun 1952, saat ini pun hancur lagi. (Intl. Tsunami Info. Center) .
Ledakan Keempat Bom Hidrogen Terjadi di Pantai Chili Tahun 1960.
Pada tanggal 22 Mei 1960, sebuah “gempa bumi” yang besar dan Tsunami terjadi di pesisir Chili. Pada waktu itu Pentagon tidak sedang resmi berperang dengan Chili, namun pemerintah Chili mungkin mengancam akan mengusir orangnya Rockefeller yang mengontrol perusahaan-perusahaan minyak. Di bawah ini kutipan dari the International Tsunami Info. Center:
“Gempa bumi terbesar” (berkekuatan 9.5) abad ke-20 terjadi pada tanggal 22 Mei 1960 di pantai Chili dan di sepanjang Laut Pasifik. Tsunami diperkirakan membunuh 2.300 orang di Chili. Terjadi kematian yang luar biasa dan kehilangan harta benda di Kepulauan Hawaii, di Jepang dan disekitar wilayah Pasifik. Gelombang menghancurkan Hilo, Hawaii, menghancurkan pantai dan membunuh 61 orang. Kerugian diakibatkan kerusakan diperkirakan seluruhnya berjumlah lebih dari US$ 500 juta (nilai dolar tahun 1960).” Intl. Tsunami Info. Center)
Ledakan Kelima Bom Hidrogen Terjadi di Alaska pada tanggal 28 Maret 1964.
Pada tahun 1963, President Kennedy menandatangani Perjanjian Larangan Percobaan Senjata Nukliryang mencegah percobaan nuklir di udara, luar angkasa dan di bawah permukaan air. Pentagon GUSAR – FURIOUS. Kennedy membuat permasalahannya semakin buruk dengan melarang mereka melakukan uji coba di kedalaman tanah di Alaska. Di bawah ini kutipan dari Sekretaris Pers Presiden Kennedy,
President John F. Kennedy
(President from 1961 to ’63).
“Dari semua pejabat pers yang bekerjasma dalam masalah ini, salah seorang yang paling terkenal adalah Arthur Sylvester. Departemen Pertahanan merupakan sebuah labyrinth – membingungkan yang nyata, dan untuk setiap Sekretaris Presiden atau Menteri Pertahanan agar tetap menjaga selalu terpeliharanya mengenai segala sesuatu yang sedang terjadi disini adalah hampir tidak mungkin. Informasi Sylvester kepada saya mengenai usulan kegiatan dari Departemen Pertahanan membuktikan alasannya yang menjadi tidak bernilai. Sebagai contoh, sekali waktu ia melaporkan kepada saya bahwa sebuah rencana sedang berjalan di Departemen Pertahanan dalam membangun tempat uji coba nuklir untuk Amerika Serikat di Alaska. Ketika dia memberikan informasi ini kepada saya, seketika terpikir di dalam pikiran saya mengenai kemungkinan aksi Uni Sovyet terhadap uji coba nuklir Amerika Serikat yang dekat dengan perbatasannya. “Saya melaporkan masalahnya kepada Presiden, yang tidak pernah mendengar rencana tersebut. Sebuah panggilan Presiden kepada Menteri Pertahanan McNamara untuk menghadap (juga tidak mengetahui rencana tersebut), kemudian menghentikan keseluruhan rencana tersebut. “(Pierre Salinger, With Kennedy , p. 137)Larangan Presiden Kennedy kepada Pentagon untuk tidak melakukan uji coba nuklir menjadi salah satu alasan bagi mereka untuk membunuhnya.
“Gempa bumi” terbesar di wilayah sebelah utara terjadi pada tanggal 28 Maret 1964 di Alaska. Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir sudah ditandatangani oleh Presiden Kennedy dan berlaku mulai tanggal 11 Oktober 1963. Uci coba ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian tersebut. … Di bawah ini kutipan yang lain dari the International Tsunami Info. Center:
“Gempa bumi terbesar pada abad ke -20 terjadi di belahan bumi bagian utara, dengan kekuatan 8,4 dan wilayah yang terkena di Alaska hampir sepanjang 1600 km dan lebih dari 300 km luasnya – memanjang dari Valdez sampai ke Kepulauan Trinity, sebelah barat daya Pulau Kodiak di Teluk Alaska. Gempa bumi ini menyebabkan tanah di wilayah tertentu terangkat setinggi 15 meter (50 kaki), sementara banyak di wilayah lain tanah permukaannya amblas sangat dalam. Sebagai tambahan pendorong tsunami lokal di daerah Prince William Sound, kerak bergeser secara vertikal rata-rata 18 meter (6 kaki) di atas wilayah yang luasnya kira-kira 300.000 km persegi (115.000 mil persegi) memanjang dari Teluk Alaska celah kontinental, mendorong sebuah Tsunami Pasifik yang melebar. Gelombangnya sangat merusak di wilayah tenggara Alaska, di Pulau Vancouver (British Columbia), dan di negara bagian Washington, California dan Hawaii, Amerika Serikat. Tsunami membunuh lebih dari 120 orang dan menyebabkan kerusakan yang kerugiannya ditaksir sejumlah US$ 106 juta, membuatnya termahal yang pernah terjadi yang menghantam wilayah Barat Amerila Serikat dan Kanada. Lima dari tujuh komunitas Alaska terbesar rusak binasa sebagai akibat kombinasi gempa bumi dan gelombang Tsunami. Industri perikanan Alaska dan sebagian besar fasilitas pelabuhannya rusak berat. Gelombang Tsunami di Pulau Koduak menghanyutkan sejumlah 156 rumah dan bangunan lainnya dua blok ke tepi pantai. Perahu-perahu penangkap ikan terseret ratusan meter dari daratan. Gelombang Tsunami tahun 1964 juga menyebabkan kerusakan besar di Pulau Vancouver (British Columbia), dan di negara bagian Washington, California dan Hawaii, Amerika Serikat. Gelombang merusak keseluruhan pantai California, tetapi menerjang lebih tinggi di kota Crescent sampai ke Monterey berkisar antara 21-63 meter (7-21 kaki). Yang paling keras dihantam adalah kota Crescent, California, dimana gelombang mencapai setinggi 6 meter (20-21 kaki) menghancurkan setengah dari distrik bisnis pantai. Sebelas orang meninggal di sana. Di Santa Cruz Harbor, gelombang Tsunami mencapai setinggi 33 meter (11 kaki) menyebabkan beberapa keruskan. Terdapat kerusakan yang besar di Teluk San Francisco, pelabuhan wisata di Marin County dan Noyo, pelabuhan-pelabuhan di Los Angeles dan Long Beach. Kerugian di California diperkirakan mencapai jumlah US$ 7.414.000.” (Intl. Tsunami Info. Center).
Ledakan Keenam Bom Hidrogen Terjadi Di Indonesia pada Tanggal 26 Desember 2004.
Sehari setelah CHRIST MASS, Pimpinan Jesuit Jenderal di Vatican, Black Pope memerintahkan Pentagon untuk sementara menghentikan kegiatan ekumene dan mengirim sebuah hadiah Christ Mass kepada Muslim di Indonesia. Secara tradisional Satan, maksud Saya Santa, biasanya datang via udara … Kali ini datang melalui laut membawa KEMATIAN – DEATH dan Kehancuran kepada ratusan ribu orang-orang kafir.
Nuklir atau beberapa buah Nuklir ditanam oleh Angkatan Laut Pentagon di Sumatra Trench, di pantai Indonesia.Waktu – TIMING dari kejadian ini merupakan petunjuk keterlibatan Roma.
Semua inquisi besar dalam sejarah dimulai sekitar waktu CHRIST MASS. Charlemagne, Kaisar Romawi Pendosa naik tahta pada hari CHRIST MASS pada tahun 800, segera setelah itu, teror datang dari laut ke pulau kecil Inggris dalam bentuk kapal panjang Viking.
Semua tahun “suci” Vatican atau Jubilees dimulai pada hari Christ Mass..
Uni Sovyet secara resmi dipecah-belah oleh Jesuit Gorbechev pada hari 19 Christ Mass
Hitler Memiliki Bom Hidrogen Pada Tahun 1945!!
Bom yang dimiliki Hitler menggunakan senjata yang dirakit untuk memicu uranium untuk merangsang reaksi berantai. Setelah Sekutu membom fasilitas air berat di Norwegia, Hitler mendapatkan air berat dari Congo Belgia. Dia membangun sebuah pusat fasilitas senjata nuklir bawah tanah di Sangerhausen di sebelah timur Jerman.
Norsk Hydro di Norwegia menyuplai Nazi Jerman dengan air berat untuk bom Hidrogen sampai di bom Inggris tahun 1943.
 Hitler memperoleh uranium murni (U-235) dari agen-agen rahasianya di Oak Ridge, Tennessee, dan isotop air berat deuterium dari Congo Belgia.
 Tambang uranium Congo Belgia diserang Inggris tetapi sebuah dam hidroelektrik di Sungai Congo digunakan oleh Nazi untuk memproduksi air berat untuk bom hidrogen.
 Dalam bulan Januari tahun 1945, Hitler telah siap untuk menghantam Inggris dengan Bom-H menggunakan kapal selam ke pelabuhan Liverpool, Inggris.
 Sebuah bom-H dapat meluluh-lantakkan hampir seluruh wilayah Inggris.
Air Berat Tidak Diperlukan Untuk Membuat Bom Atom … Tetapi Benar-benar Penting Untuk Membuat Bom Hidrogen.
Beberapa reaktor dewasa ini menggunakan air berat sebagai moderator untuk melambatkan reaksi berantai, tetapi di Amerika Serikat, Enrico Fermi menggunakan graphite pile – baterai grafit … bukan air berat … untuk memperlambat reaksi.
Reaktor nuklir ini secara umum dikenal sebagai reaktor graphite pile -baterai grafit. Selama penelitian Fermi membombardir nukles atom dengan netron. Selama masa bombardir ini, nukles atom terbelah dan terjadi reaksi fisi nuklir. Fermi menggunakan grafit dalam reaktor untuk memperlambat netron cukup untuk bereaksi dengan reaksi nukles. Di bawah ini sebuah kutipan dari Critical Assembly:
“Teller menunjukkan bahwa deuterium akan jauh lebih murah dibanding dengan U-235 atau Pu-239 dan daya ledaknya dapat dibuat besar dengan meningkatkan jumlah deutrium yang ditempatkan di dekat fisi bom. Dari maksud tersebut, meskipun Oppenheimer mencoba untuk membawa kembali diskusi kepada fisi bom, Bethe dan yang lainnya banyak menghabiskan waktunya dalam pertemuan berargumentasi dengan Teller mengenai ide SUPER. Bethe menyebut Teller terlalu asyik dengan SUPER dalam satu titik, dalam sebuah diskusi mengenai Jerman yang menghendaki air berat (sebagai seorang moderator dalam reaktor nuklir), Teller seperti biasanya melompat jauh 30 tahun ke masa depan dengan mengatakan, ‘Tentu saja mereka menginginkan air berat untuk membuat SUPER..” (Hoddeson , Critical Assembly , p. 45).
Dimana Pentagon Akan Menyerang Lagi Dengan “Gempa Bumi” dan Tsunami?
Kami tidak mengetahui berapa banyak bom yang telah diledakkan Pentagon di bawah permukaan air laut, namun pasti mereka telah banyak melakukannya. Dimana berikutnya Pentagon akan menyerang dengan senjata penghancur massalnya? Tidak seorangpun akan selamat dari senjata-senjata mematikan Fatima Crusaders.
Dr. Edward Teller belajar di Jerman di bawah seorang ahli fisika Jerman, Dr. Werner Heisenberg—bapak Bom-H yang sebenarnya” Teller datang ke Amerika Serikat pada tahun 1935 di bawah sponsor scholarship Yayasan Rockefeller:
“Masih didukung oleh bantuan Rockefeller Foundation, Teller ke Inggris selama satu tahun di University of London, mempelajari dan bekerja di bawah Dr. F. G. Donnan, seorang ahli biokimia terkenal. Kemudian menjadi terkenal dalam lingkungan ilmiah melalui karyanya dalam Rockefeller Foundation, Teller menarik perhatian dua buah universitas. Princeton menawarkan kepada Teller beasiswa; George Washington (di Washington D.C.) menawarkan juga kepadanya jabatan guru besar. Teller menerima tawaran yang terakhir, dan dalam tahun 1935, pindah ke Amerika Serikat, dimana dia tinggal sampai akhir hayatnya. (Shepley, The Hydrogen Bomb , pp. 43-44).
The Rockefeller Foundation juga mendirikan the Kaiser Wilhelm Institute for Physics di Berlin dalam bulan Januari 1938. Dimana disana penelitian Bom-H Jerman dilakukan … Dalam hal Hitler kalah dalam Perang Dunia II, Rockefeller telah mendapatkan dukungan Pentagon terhadap rencananya sebagai seorang Fatima Crusade yang fanatik untuk menyerang Rusia
Dalam bulan Desember 1938, dua orang ahli ilmu fisika Hahn dan Strassman mengumumkan penemuannya dalam fisi uranium. Dalam bulan Maret 1939, Jerman menyerbu Cekoslovakia dalam ranga mengendalikan tambang uranium di negara tersebut. Dalam bulan September 1939, Perang Dunia II secara resmi dimulai dengan diserangnya Polandia.
Mengapa Hitler memulai sebuah Perang Dunia dengan melakukan kontrol atas uranium dan kemudian tidak melakukan usaha yang maksimal untuk mengembangkan senjata mematikan – Bom-H?.
“Seperti Sebuah Medan Perang”…. Sebagian dari kerusakan sebagai akibat Nuklir Tsunami yang menghantam Indonwsia pada tanggal 26 Desember 2004 yang membunuh hampir 300.000 orang.