Sebenarnya tayangan acara Big Brother baru saya ketahui beberapa bulan yang lalu, ketika salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia membeli hak siar atas acara yang telah ditayangkan di lebih dari 70 negara tersebut, pertama kali mendengar nama acara dan format tayangan Big Brother membuat saya heran, apalagi ketika melihat logo Big Brother yang pada huruf O pada kata brother yang saya tafsirkan sebagai salah satu simbol propaganda terburuk di jagad ini, simbol All Seeing Eye, lambang makar mata satu Dajjal (Anti Christ) seperti yang telah disampaikan oleh hadits 14 abad yang lalu, yang berbunyi: |
Diriwayatkan oleh Anas r. a. bahwa Rasulullah saw bersabda "Tiada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan umatnya dari si buta sebelah dan pendusta. Ingatlah kami bahwa Dajal itu buta sebelah matanya dan Tuhan kamu tidak buta. Tertulis diantara mata Dajal itu 'kafir'." (HR Bukhari dan Muslim).
Namun disini simbol mata satu tersebut agak disamarkan dalam bentuk lensa kamera, dan jika dicermati di sekeliling kita tanpa disadari banyak bertebaran simbol ini, seakan menunjukkan ke eksistensiannya, yang dalam konsep tayangan Big Brother di interpretasikan bahwa setiap gerak-gerik para peserta (housemates) akan selalu diawasi kamera oleh karakter yang bernama Bigbro selama 24 jam penuh, dan terlebih-terlebih ketika mengetahui slogan tayangan ini yang berbunyi "Big Brother is watching you". Dengan hanya melihat logo dan membaca slogannya sajapun secara sekilas saya langsung teringat konsep tata masa depan Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru) milik kaum Zionis Kabbalah, dan terbersit dalam benak sebuah benang merah yang saling berketerkaitan dalam kedua hal ini. Perlu diketahui sebelumnya bahwa dalam beberapa dekade belakangan muncul berbagai teori konspirasi di hampir penjuru dunia mengenai sebuah konsep makar global bernama New World Order, namun dalam pemahaman terhadap konsep New World Order kemudian terdapat multitafsir mengenai dalang dan motif dibalik skema konspirasi global ini, dalam hal ini dengan dasar yang cukup jelas saya memandang bahwa dalang dibalik skema ini adalah kelompok kecil superior yang memiliki latar ideologis Zionis Kabbalah. Terlepas dari kontroversi akan lemah dan ditolaknya segala yang bersifat konspirasi di ranah akademis, saya secara personal percaya bahwa teori konspirasi jika dikompherensifkan dan dalam penafsirannya diatur dengan sedemikian rupa, maka teori ini akan mendapat tempat di dunia akademis, yang bahkan dibanyak disiplin ilmu akademis sendiri sebenarnya berserak banyak teori tahyul yang dianggap akademis, menjadikan hal ini sebagai sebuah paradoks yang satir. Tujuan kaum Zionis Kabbalah dalam agenda proyek globalnya adalah upaya untuk mengontrol berbagai tata aspek struktur global, yang secara garis besar untuk menciptakan satu pemerintahan dunia, satu agama, dan satu ideologi, dalam hal ini salah satu instrumen agendanya adalah kontrol atas tata sosial dan kependudukan dunia, dan dengan penguasaan kelompok ini akan ekonomi dan tata politik dunia seperti yang telah terjadi saat ini, kelompok ini dengan tanpa rintangan berarti dapat melakukan berbagai hal untuk menjalankan setiap agendanya. Cara yang digunakan dalam kelola dan kontrol tata kependudukan global adalah dengan digunakannya chip super kecil yang dikenal sebagai RFID (Radio Frequency Identifications) Microchip, dimana RFID Chip kelak akan dipasang di permukaan kulit manusia. RFID Chip sebelumnya diciptakan pada dekade 80an yang kembangkan dengan tujuan sebagai alat memantau dan pengenal hewan di peternakan negara-negara Amerika Utara, RFID dipasang pada hewan seperti sapi dalam bentuk Tag pengenal, yang kemudian disebut oleh para petani sebagai Tanda Binatang. Chip yang ukurannya sebesar butiran beras ini memanfaatkan baterai lithium layaknya handphone sebagai sumber energi. Sebagai catatan terkait dengan Tanda Binatang (Mark Beast) yang merupakan perwujudan dari RFID yang dipasang pada manusia berkaitan erat dengan nubuat Allah dalam ayat kitab Injil yang mengisyaratkan akan datangnya keadaan dimana manusia akan diperintah diktator kejam yang berencana untuk mengatur dunia, dimana setiap manusia akan diberi tanda atau charagma (khar’-ag-mah) (Wahyu 13:16-17) Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Dalam perkembangannya pada tahun 2008 perusahaan teknologi asal Jepang Hitachi menyempurnakan teknologi microchip dengan membuat RFID berukuran 0.4 x 0.4 milimeter atau kira-kira sama dengan ukuran sebiji pasir. Chip ini memiliki 128 bit ROM yang mampu menyimpan data 38 digit nomor ataupun angka-angka unik layaknya Barcode, Karena ukurannya yang sangat kecil di Amerika Serikat (AS) dan Eropa RFID Chip generasi baru ini dimanfaatkan dalam berbagai hal, seperti sebagai alat dipasang pada barang pengiriman berharga milik intelejen, bagasi pesawat VVIP, Name Tag pasien rumah sakit elit, tanda pengenal kasino dan klub malam, alat pelacak pada NAPI ataupun pelacak dalam kegiatan intelejen dan bahkan chip yang hampir berbentuk bubuk ini dipasang pada seri tertentu pada mata uang Euro. Dasar penggunaan RFID chip terhadap manusia sendiri diawali dengan sebuah sistem di AS yang disebut SmartCard yang dikembangkan perusahaan Mondex, SmartCard yang difungsikan layaknya kombinasi KTP dan kartu kredit ini juga berisi data riwayat pribadi, informasi primer seperti kesehatan catatan kriminal, data pajak, jumlah tabungan, pendapatan, serta identitas pribadi lainnya, dimana secara elektronik di integrasikan ke pusat data kependudukan pemerintah AS. Sejauh ini negara yang paling getol dalam penggunaan RFID Chip dalam berbagai hal adalah AS, AS sendiri dikenal sebagai negara boneka basis komando kelompok Zionis Kabbalah dalam setiap menjalankan agenda globalnya, sejak lama elit di lingkaran kekuasaan pembuat kebijakan di AS dikuasai oleh kelompok ini, termasuk mengenai agenda kebijakan kependudukan dengan memanfaatkan RFID, dengan dalih atas keamanan nasional dari ancaman aksi teror, di bawah payung Patriot Act yang disahkan pada era Bush, penggunaan sistem RFID ini hanya menunggu waktu yang tepat karena masih bermasalah pada persoalan mekanisme. Pada tahun 2001 seperti diberitakan Wall Street Journal bahwa AS telah menyiapkan kebijakan Live Spy Satellite, sebuah satelit navigasi yang sering disebut satelit Big Brother, Mondex selaku perusahaan pengembang RFID di AS bekerjasama dengan perusahaan OrbComm untuk memfasilitasi SmartCard yang dapat diintegrasikan dengan sistem navigasi satelit, yang kelak Live Spy Satellite digunakan sebagai alat pengawas dan kontrol penerima sinyal dari RFID Chip, sehingga setiap RFID yang dipasang ke benda atau ditanam kemanusia akan dengan mudah dilacak dan temukan, dimana satelit ini memiliki akses terbatas bagi publik, berbeda dengan berbagai satelit AS yang dioperasikan oleh NASA maupun U.S. Geological Survey. Tujuan penggunaan teknologi RFID Chip dengan integrasi satelit navigasi oleh pemerintah AS administrasi Bush disebut sebagai perluasan terhadap batas keamanan nasional dalam menanggapi isu terorisme dan sebagai instrumen pendukung dalam penanggulangan bencana, namun konsekuensi dari semua hal ini adalah hilangnya privasi dan kebebasan dari warga sipil, di AS sendiri penentangan oleh masyarakat terjadi mengenai implementasi dilaksanakannya program ini, sehingga karena derasnya penolakan kebijakan ini di era Obama ditangguhkan. Belakangan seperti diberitakan Kompas.com (18/06/11) kemudian muncul RFID Chip versi baru dengan pemantapan pada sumber energinya, hal ini terkait dengan rencana pengunaan RFID terhadap manusia, dimana RFID terbaru dalam pengoperasiannya tidak tergantung lagi terhadap energi baterai lithium, namun memanfaatkan pembuluh darah dengan mengintegrasikan impuls saraf ke chip ini, sehingga ketika manusia yang telah ditanami chip ini mati, maka otomatis chip tersebut akan tershut down secara otomatis, dan begitu juga ketika orang yang telah di pasang dengan RFID Chip melakukan suatu tindakan yang dianggap mengancam stabilitas keamanan, maka RFID Chip akan shut down dan otomatis kehidupan sosial orang tersebut turut mati. Benang merah keterkaitan program RFID Chip dan Live Spy Satellite dengan tayangan Big Brother sendiri adalah mengenai kesamaan konsep mendasar dari keduanya, dimana acara Big Brother yang tayang perdananya di Belanda pada tahun 1999 ini mendasar pada tujuan untuk mengetahui tentang bagaimana efek psikologis pada setiap housemates dalam sebuah lingkungan terisolasi tanpa komunikasi apapun dengan dunia luar serta kehilangan privasi dan zona kenyamanan mereka, dalam konsepnya keseharian para housemates akan diberi tugas oleh Bigbro, dimana dalam pelaksanaan tugas akan dikenakan apa yang disebut reward dan punish, yang berhasil akan diberi hadiah, sedangkan yang gagal atau melanggar aturan akan dihukum. Acara yang tayang di lebih dari 70 negara ini masing-masing diadaptasi dengan format khas negara masing-masing, dan dalam perkembangannya terdapat beberapa format khusus tayangan Big Brother, dimana terdapat 6 format Pan-Regional khusus yaitu regional Africa, Formers Yugolsavia Republics, Arab, Pacific, UK & Ireland, Scandinavia, dan kemudian di Inggris sendiri terdapat Season Celebrity Big Brother yang para housematesnya adalah para selebritis dan pesohor terkenal dunia. Dengan format dan konsep acara yang mengekang dan mengisolasi pesertanya yang dilihat dari perpektif sosiologi dan demografi, dengan tayangan ini kita dapat menganalisis mengenai bagaimana perubahan manusia ketika hak-hak dasarnya diambil serta tidak adanya ruang privasi, dan apa reaksi dari orang-orang tersebut ketika berada dalam kondisi isolasi tersebut bertemu dengan orang dengan kepribadian yang saling berbeda dengan peraturan ketat dengan pola reward dan punish, reaksi psikologis inilah yang ditawarkan dalam tayangan ini, dimana setiap minggu housemates akan dideportasi berdasarkan pilihan terbanyak publik. Ada beberapa kejanggalan yang saya coba cermati dalam acara ini yang dikaitkan dengan agenda global kaum Zionis Kabbalah. Pertama, tayangan ini berbeda dengan acara ajang-ajang populer sejenis di televisi, seperti American Idols, Got Talent, Mamamia atau acara yang hampir mirip konsepnya seperti Penghuni Terakhir, yang mana acara-acara tersebut berorientasi penuh pada orientasi untuk meraih keuntungan akan tarif pengiriman SMS maupun telepon premium untuk memvote kontestan favorit oleh pemirsa, namun dalam tayangan Big Brother hal tersebut tidak menjadi prioritas, keputusan akan berlanjut atau tidaknya suatu kontestan ada di tangan pemilik acara Big Brother, bukan hasil voting pemilihan pemirsa. Kedua, hampir separuh stasiun televisi di lebih dari 70 negara yang menayangkan Big Brother adalah stasiun televisi yang berada di bawah jaringan atau terafiliasi dengan grup media pemodal Yahudi, yang mana dalam menjalankan bisnis medianya kaum Yahudi berorientasi penuh pada proyeksi pemenuhan agenda kelompok mereka untuk menata kehidupan sosial budaya dari peradaban dengan sedemikian rupa, termasuk dengan melakukan cara busuk sekalipun. Diantara jejaring media jaringan Yahudi yang paling terbesar di dunia adalah milik Rupert Murdoch, dibawah naungan News Corporation yang belakangan terbelit kasus pelanggaran akut atas kode etik jurnalisme di Inggris terkait penyadapan dalam memperoleh sumber berita, Rupert Murdoch merupakan seorang pengusaha taipan media global berdarah Yahudi yang juga menjadi anggota Roundtable Commission (RC), RC merupakan sebuah institusi loby kelompok bisnis Yahudi dalam berbagai bidang baik Perbankan, Media, Farmasi, Telekomunikasi, Manufaktur, dll yang merupakan turunan dari kegiatan pertemuan tahunan The Bilderberg Group, Club of Rome, Trilateral Commission. News Corp sendiri memegang hampir 50% pangsa pasar media mainstream dunia, dimana News Corp terdiri dari Studio Film, Surat Kabar, Majalah, Tabloid, Radio, TV Kabel, Stasiun Televisi dan Jaringan Media Internet. Di Indonesia sendiri News Corp menguasai 5 stasiun televisi, yaitu Antv dan Tvone yang berafiliasi dengan Star Asia grup milik News Corp, dan RCTI, Globaltv, MNCtv yang ketiganya berada di bawah MNC Group yang terafiasi ke Fremantle Media yang juga masih berada di bawah kendali Murdoch. Tayangan Big Brother sendiri lisensinya dimiliki oleh perusahaan broadcast Endemol yang juga dimiliki pebisnis Yahudi, walaupun kemudian grup stasiun televisi di Indonesia yang menayangkan acara ini yaitu Trans Group bukan merupakan anggota afiliasi group News Corp ataupun Endemol serta tidak terlihat adanya indikasi Trans Group berada di bawah jaringan Yahudi (kecuali indikasi mengenai logo Transtv yang identik dengan lambang makar Freemason), satu-satunya hal keterkaitan yang dibisa ditarik adalah mengenai sponsor dari tayangan ini di Indonesia, yaitu Telkomsel, dimana seperti diutarakan sebelumnya bahwa tayangan Big Brother jelas beda dengan acara sejenis dengan orientasi pada tarif premium vote, sehingga dalam hal ini pembiayaan utama dari tayangan ini jelas berasal dari iklan dan sponsor utama yaitu Telkomsel, Telkomsel sendiri memiliki rekam jejak keterkaitan dengan jaringan bisnis Yahudi, yaitu dengan melihat kepemilikan saham sebesar 35% oleh Temasek Holdings melalui SingTel, dengan catatan bahwa seperti sudah menjadi rahasia umum mengenai hubungan mesra antara Israel dengan Singapura, termasuk dalam kerjasama ekonomi, yang salah satunya adalah adanya hubungan kuat antara Temasek Holdings sebagai BUMN Singapura dengan badan-badan usaha milik jaringan Yahudi, hal ini jugalah yang menjadi jawaban mengenai bagaimana keputusan kontroversi atas menangnya perusahaan teknologi Amdocs dalam tender system billing Telkomsel, yang mana Amdocs adalah perusahaan Israel yang berbasis di Guersney Island. Ketiga, hal ini merunut terhadap substansial secara harfiah dari tayangan Big Brother, reality show fenomenal yang pertama kali tayang di Veronica Television Belanda, dibawah lisensi perusahaan broadcast Endemol, sebuah jaringan media raksasa Yahudi lainnya yang jaringannya berada di 23 negara (sempat ekspansi ke Indonesia dibawah bendera Astro Malaysia), Endemol didirikan pada tahun 1993 oleh taipan media berkebangsaan Belanda Joop van den Ende, yang kemudian saat ini dipimpin oleh John de Mol sang pencipta konsep tayangan Big Brother, dan sekedar menambahkan bahwa perusahaan broadcast ini separuh sahamnya dimiliki oleh PM Italia Silvio Berlusconi, hal yang menjadi benang merah di bahasan paragraf mengenai Endemol ini adalah mengenai logo dari Endemol, sebuah logo dengan mata satu (All Seeing Eye), yang bagi pemerhati makar teologis hal ini dipersonifikasikan sebagai Ihdzaru Al Masikh Ad’Dajjal alias AntiChrist. Sebelum membahas lebih jauh substansi tayangan Big Brother, adanya baiknya untuk melihat definisi dari kata Big Brother sendiri sebagai suatu kosa kata, melompat jauh ke tahun 1984 ke sebuah novel populer karangan George Orwell's yang berjudul Nineteen Eighty-Four, novel ini bercerita mengenai sebuah negara sosialis totaliter di Oceania dimana Partai berkuasa memegang kekuasaan total untuk kepentingan sendiri atas nama penduduk, pemimpin di negara tersebut bernama Big Brother yang merupakan sosok pemimpin diktator, dalam tata masyarakat yang digambarkan dalam novel tersebut, Orwell menjelaskan mengenai warga yang berada di bawah pengawasan lengkap oleh otoritas pemerintah, terutama oleh Telescreens, sebuah spanduk besar di tiap sudut kota, yang berisi tulisan yang mengingatkan para warga dengan ungkapan ‘Big Brother is Watching You’, novel ini juga kabarnya menjadi bahan motivasi Andres Behring Breivik sang teroris Kristen konservatif yang beberapa waktu lalu melakukan penyerangan berdarah di Norwegia, atas ketidakpuasannya pada kebijakan pemerintah, dalam perkembangannya atas populernya Nineteen Eighty-Four, istilah "Big Brother" telah memasuki leksikon sebagai sinonim untuk kata ‘penyalahgunaan kekuasaan pemerintah’, khususnya dalam hal kebebasan sipil, konsep inilah yang ditiru mentah-mentah oleh Endemol sebagai inspirasi dari konsep tayangan Big Brother sendiri. Kemudian ujung dari benang merah semua fakta ini adalah sebuah pemenuhan terhadap agenda global kaum Zionis Kabbala dalam perspektif teori konspirasi, yang secara sistematis semua hal diatas dirancang untuk pembelokan serta penguasaan peradaban. Terkait dengan tayangan Big Brother saya pribadi berpendapat bahwa tayangan ini, yang secara global di eksport ke seluruh dunia merupakan suatu riset dan propaganda dari kaum Zionis Kabbala ke seluruh penjuru dunia, artian riset yang saya maksud dalam hal ini adalah sebuah penelitian terselubung untuk mengetahui efek, reaksi dan analisis psikologis dari hilangnya hak dasar dalam kehidupan sosial, pengukungan zona kenyamanan, hilangnya privasi, serta tinjauan atas berkuasanya sebuah kediktatoran, semua hal inilah yang tercermin dari tayangan Big Brother, riset Big Brother ini secara berkelanjutan dilakukan pada berbagai kelompok budaya masyarakat tertentu dengan melihat pada perspektif demografis, hal ini terlihat dari jumlah negara yang menayangkan, sekitar 70 negara, hampir separuh dari seluruh negara anggota PBB dengan kuantitas populasi yang signifikan, serta adanya edisi Pan-Regional, yang bertujuan untuk memetakan secara sosiologis masyarakat dunia secara keseluruhan. Dimana tujuan utama dari semua ini adalah satu dari sekian agenda lain dari grand design tatanan dunia baru, untuk menyiapkan masyarakat dunia akan datangnya sebuah kondisi dunia dimana kebebasan mendasar dari kehidupan sosial akan hilang, hal ini terkait jelas dengan rencana Bush di era pemerintahannya dengan mengeluarkan Patriot Act dengan dalih ancaman terorisme atas keamanan nasional, dimana oleh undang-undang ini setiap warga negara yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan nasional dapat disadap, ditangkap dan dihukum tanpa prosedur pengadilan sah secara konstitusi, sebuah keadaan yang sama persis dengan gambaran novel Nineteen Eighty-Four. Salah satu upaya fenomenal di bawah Patriot Act yang dilakukan Bush sebagai tokoh yang menjadi bagian dari kelompok Zionis Kabala adalah dengan menyusun program Live Spy Satellite untuk mengontrol warga melalui satelit yang diatur sedemikian rupa, dimana satelit yang digunakan dalam Live Spy Satellite kerap disebut Satelit Big Brother. Program ini dalam draft penyusunan dan pengesahan di parlemen mendapat kecaman dan penolakan keras dari masyarakat, sehingga parlemen menangguhkan program ini hingga pemerintahan Bush berakhir, dan di era Obama program ini tidak begitu jelas kelanjutannya, walaupun dalam kampanye pemilunya Obama pernah mengatakan akan menganulir program ini, termasuk merevisi Patriot Act, namun kenyataannya hal tersebut tidak pernah terjadi, karena sebenarnya orang-orang yang berada di balik Obama adalah orang yang sama yang mengendalikan Bush. Hal ini lah yang menjadi penghubung utama antara agenda satelit Big Brother dengan tayangan Big Brother dalam konotasi yang sesungguhnya, yaitu sebuah upaya riset dan propaganda nyata dalam bentuk reality show yang tidak berorientasi penuh pada uang (hasil vote), namun pada upaya untuk menganalisa psikologis massa atas program ini, terkait mekanisme dari diberlakukannya sistem kependudukan global dan kontrol populasi di bawah satu rezim pemerintahan dunia Zionis Kabbala dibawah tuntunan Dajjal atau Anti-Christ sang juru selamat palsu kaum Yahudi. Kebanyakan dari awam pasti akan berkata jika pemaparan skema ini terlalu berlebihan seperti film fiksi Hollywood saja, namun seperti inilah keadaaan yang sesungguhnya, yang jika terus dikaji, bahkan kondisi dunia kita saat ini bahkan jauh lebih aneh dari film fiksi, dan lebih menyeramkan dari film horror, dan untuk tayangan Big Brother yang saat ini di Indonesia mendapat rating yang cukup tinggi sebenarnya tidak ada efek buruk ketika kita menontonnya, meskipun kemudian propaganda yang suguhkan di ‘riset’ ini dalam suatu kondisi dapat mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk mengganggap bahwa pengekangan hak dasar sipil oleh pemerintah adalah hal yang sah. Just enjoy the show, Big Brother is watching you.. Abdi Sapta Gelora Aritonang, Mahasiswa FISIP Hubungan Internasional Universitas Nasional, dan Network Associate Global Future Institute |
Kamis, 01 Maret 2012
Menguak Propaganda Zionis Kabbalah Dalam Tayangan Televisi Big Brother
Palsukan Faktur, Pentagon Gelapkan Dana Perang
Global Future Institute
| |
Pengadilan Amerika Serikat mengumumkan, Departemen Pertahanan (Pentagon) melakukan pemalsuan faktur pembayaran sepuluh kali lipat untuk setiap barang yang dijual ke departemen ini terkait Irak. Aksi ini membuat Pentagon meraih keuntungan sangat besar, namun merugikan negara.
| |
"Mitra Pentagon terkadang menulis faktor barang yang mereka jual kepada departemen ini hingga 128 kali lipat dari harga sebenarnya. Pentagon sendiri kemudian membayar sesuai dengan faktur tersebut." Demikian sesuai dengan laporan Associated Press.
Laporan yang mengutip Stuart Brown, jaksa khusus AS di bidang rekonstruksi Irak menambahkan, perusahaan ANHAM LLC, mitra AS yang berpusat di sekitar Washington mengizinkan anak perusahaannya di Irak untuk menulis faktur setiap pembelian oleh Pentagon beberapa kali lipat dari harga sebenarnya. Kontrak antara ANHAM LLC dan Pentagon di Irak serta Afghanistan senilai empat miliar dolar. Penyidik kejaksaan AS kini tengah menyelidiki seluruh perincian kontrak tersebut. Ini bukan skandal baru soal penggelapan dana oleh Pentagon di perang di seluruh dunia. Sebelumnya aksi serupa AS di Afghanistan dan pemanfaatan situasi perang oleh Washington untuk mengumpulkan kekayaan kawasan melalui penggelapan juga terbongkar. | |
Waspadai Jebakan Para Broker Revolusi
Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
Kita sebagai bagian dari komponen strategis bangsa, harus memiliki kemampuan membaca konteks dari suatu peristiwa kejadian, sekaligus mampu membaca konstalasi politik yang tercipta dari kekuatan-kekuatan politik yang bermain. |
Beberapa waktu belakangan ini, sepertinya gerakan melengserkan SBY, menaikkan Wapres Budiono sebagai presiden pengganti dan kemunculan Sri Mulyani Indrawati sebagai Presiden RI hasil Pemilu 2014 berada dalam satu tarikan nafas dan bertumpu pada satu agenda tunggal.
Kabar burung yang sekarang ini beredar santer bahwa SBY akan dilengserkan dari tampuk kekuasaan setelah lebaran, atau selambat-lambatnya pada akhir 2012. Meski ini spekulasi, tapi masuk akal adanya. Beberapa indikasi memperlihatkan hal tersebut secara nyata: 1. Pembusukan terhadap Partai Demokrat dan orang-orang di lingkar inti SBY semakin marak dan jadi tontonan public setiap hari. 2. Barisan sakit hati dari kubu SBY sendiri maupun kelompok-kelompok yang semakin tidak puas terhadap rejim SBY semakin menguat. 3. Donatur dan Memorundum of Agreement antar kelompok gerakan anti SBY nampaknya sedang dan akan dibuat untuk mencapai satu sasaran pokok: Penggulingan SBY dari tampuk kekuasaan. 4. Beberapa kelompok strategis dikabarkan sudah meng-kavling pos-pos strategis dan bagi-bagi kue seandainya SBY nanti lengser. 5. Adanya indikasi kuat menuju perjanjian baru antara para broker revolusi dengan para perancang tata dunia baru dan pemerintahan satu dunia yang dimotori oleh jaringan-jaringan pendukung Rockefeller, Rotschild dan JP Morgan. 6. Mendorong kelompok maupun perorangan yang punya libido politik yang tinggi untuk masuk dalam pagelaran revolusi premature yang ujung ceritanya bukan terciptanya perobahan menuju masyarakat sejahtera dan adil, melainkan mundurnya kehidupan bangsa pada titik nadir. Revolusi premature, inilah gagasan utama tulisan saya, sehingga kita sebagai bagian dari komponen-komponen bangsa harus bisa membaca konteks dari suatu peristiwa kejadian dan sekaligus memahami konstalasi politik yang tercipta dari berbagai kekuatan-kekuatan politik yang bermain dalam “Pagelaran Pura-Pura ini.” Betapa tidak. Menurut beberapa sumber yang berhasil dihimpin tim riset Global Future Institute, skenario pelengseran SBY sebenarnya hanya fase awal menuju terwujudnya skenario memunculkan Sri Mulyani sebagai Presiden pada Pemilu 2014 nanti. Begitu SBY lengser, maka para penggerak aksi pelengseran SBY akan diakomodasi isu-isu strategis yang diusungnya oleh Wapres Budiono, dan pada saat yang sama akan disusun formasi cabinet baru dengan dasar Resufle cabinet. Kedua, aktor-aktor kunci dari gerakan pelengseran SBY tersebut akan dimasukkan sebagai bagian dari gerbong baru Wapres Budiono. Ketiga, Wapres Budiono akan segera menyusun tim untuk merumuskan formula aturan permainan baru dalam Pemilu 2014, namun dengan agenda tunggal: Memunculkan Sri Mulyani sebagai calon Presiden RI 2014 melalui kendaraan politik yang disepakati. Inilah yang saya maksud di awal tulisan agar kita mewaspadai manuver politik para broker revolusi untuk menciptakan revolusi semu yang sejatinya adalah skenario kudeta tanpa revolusi, apalagi yang berdampak revolusioner. |
Jurus Sakti “PECAH BELAH” SESAMA KELOMPOK ISLAM ala RAND Corporation
Hendrajit dan Ferdiansyah Ali Global Future Institute
| |
Entah bocor, atau sengaja dibocorkan guna membentuk opini, atau cuma sekedar deception, atau lainnya -- entaDEMOCRATIC ISLAM: Partners, Resources anhlah! Yang jelas, dekade 2003-an muncul dokumen RAND Corporation berjudul:"CIVIL d Strategies".
| |
RAND Corp adalah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS). Sebelumnya ia perusahaan bidang kedirgantaraan dan persenjataan Douglas Aircraft Company di Santa Monica-California, namun entah kenapa beralih menjadi think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer.
Garis besar dokumen Rand berisi kebijakan AS dan sekutu di Dunia Islam. Inti hajatannya adalah mempeta-kekuatan (MAPPING), sekaligus memecah-belah dan merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam melalui berbagai (kemasan) pola, program bantuan, termasuk berkedok capacity building dan lainnya. Sedang dokumen lain senada, terbit Desember tahun 2004 dibuat oleh Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council) atau NIC bertajuk Mapping The Global Future. Tugas NIC ialah meramal masa depan dunia. Tajuk NIC di atas pernah dimuat USA Today, 13 Februari 2005 -- juga dikutip oleh Kompas edisi 16 Februari 2005.
Inti laporan NIC tentang perkiraan situasi tahun 2020-an. Rinciannya ialah sebagai berikut: (1) Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia, dengan China dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia; (2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS; (3) A New Chaliphate: Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat; dan (4) Cycle of Fear: Muncul lingkaran ketakutan (phobia). Yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia -- kekerasan akan dibalas kekerasan.
Jujur harus diakui, ke-empat perkiraan NIC kini riil mendekati kebenaran terutama jika publik mengikuti “opini global” bentukan media mainstream yang dikuasai oleh Barat. Isi dokumen NIC di atas menyertakan pandangan 15 Badan Intelijen dari kelompok Negara Barat. Tahun 2008 dokumen ini direvisi kembali tentang perkiraan atas peran AS pada tata politik global. Judulnya tetap Mapping The Global Future, cuma diubah sedikit terutama hegemoni AS era 2015-an diramalkan bakal turun meski kendali politik masih dalam cengkeraman. Tahun 2007, Rand menerbitkan lagi dokumen Building Moderate Muslim Networks, yang juga didanai oleh Smith Foundation. Dokumen terakhir ini memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia. Baik Rand maupun Smith Foundation, keduanya adalah lembaga berafiliasi Zionisme Internasional dimana para personelnya merupakan bagian dari Freemasonry-Illuminati, sekte Yahudi berkitab Talmud. Gerakan tersebut memakai sebutan “Komunitas Internasional” mengganti istilah Zionisme Internasional. Maksudnya selain menyamar, atau untuk mengaburkan, juga dalam rangka memanipulasi kelompok negara non Barat dan non Muslim lain. Pada gilirannya, kedua dokumen tadi diadopsi oleh Pentagon dan Departemen Luar Negeri sebagai basis kebijakan Pemerintah AS di berbagai belahan dunia. Berikut ialah inti resume dari Agenda dan Strategi Pecah Belah yang termuat pada kedua dokumen tersebut, antara lain: Pertama, Komunitas Internasional menilai bahwa Dunia Islam berada dalam frustasi dan kemarahan, akibat periode keterbelakangan yang lama dan ketidak-berdayaan komparatif serta kegagalan mencari solusi dalam menghadapi kebudayaan global kontemporer; Kedua, Komunitas Internasional menilai bahwa upaya umat Islam untuk kembali kepada kemurnian ajaran adalah suatu ancaman bagi peradaban dunia modern dan bisa mengantarkan kepada Clash of Civilization (Benturan Peradaban); Ketiga, Komunitas Internasional menginginkan Dunia Islam yang ramah terhadap demokrasi dan modernitas serta mematuhi aturan-aturan internasional untuk menciptakan perdamaian global; Keempat, Komunitas Internasional perlu melakukan pemetaan kekuatan dan pemilahan kelompok Islam untuk mengetahui siapa kawan dan lawan, serta pengaturan strategi dengan pengolahan sumber daya yang ada di Dunia Islam; Kelima, Komunitas Internasional mesti mempertimbangkan dengan sangat hati-hati terhadap elemen, kecenderungan, dan kekuatan-kekuatan mana di tubuh Islam yang ingin diperkuat; apa sasaran dan nilai-nilai persekutuan potensial yang berbeda; siapa akan dijadikan anak didik; konsekuensi logis seperti apa yang akan terlihat ketika memperluas agenda masing-masing; dan termasuk resiko mengancam, atau mencemari kelompok, atau orang-orang yang sedang dibantu oleh AS dan sekutunya; Keenam, Komunitas Internasional membagi Umat Islam ke dalam Empat Kelompok, yaitu: (1) Fundamentalis: kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat Kontemporer, serta menginginkan formalisasi penerapan Syariat Islam; (2) Tradisionalis: kelompok masyarakat Islam Konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang kepada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya; (3) Modernis: kelompok masyarakat Islam Modern yang ingin reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas; (4) Sekularis: kelompok masyarakat Islam Sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan privasi dan dipisah sama sekali dari urusan negara. Ketujuh, Komunitas Internasional menetapkan strategi terhadap tiap-tiap kelompok, sebagai berikut: 1) Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis dengan tata cara sebagai berikut: (a) menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak-akuratannya; (b) mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktivitas illegal; (c) mengumumkan konsekuensi dari tindak kekerasan yang mereka lakukan; (d) menunjukkan ketidak-mampuan mereka untuk memerintah; (e) memperlihatkan ketidak-berdayaan mereka mendapatkan perkembangan positif atas negara mereka dan komunitas mereka; (f) mengamanatkan pesan-pesan tersebut kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita; (g) mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan kaum fundamentalis, ekstrimis dan teroris; (h) kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan; (i) mendorong para wartawan untuk memeriksa isue-isue korupsi, kemunafikan, dan tak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris; (j) mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis. 2) Beberapa aksi Barat memojokkan kaum fundamentalis adalah dengan menyimpangankan tafsir Al-Qur’an, contoh: mengharaman poligami pada satu sisi, namun menghalalkan perkawinan sejenis di sisi lain; mengulang-ulang tayangan aksi-aksi umat Islam yang mengandung kekerasan di televisi, sedang kegiatan konstruktif tidak ditayangkan; kemudian “mengeroyok” dan menyerang argumen narasumber dari kaum fundamentalis dengan format dialog 3 lawan 1 dan lainnya; lalu mempidana para aktivis Islam dengan tuduhan teroris atau pelaku kekerasan dan lain-lain. 3) Mendorong kaum tradisionalis untuk melawan fundamentalis, dengan cara: (a) dalam Islam tradisional ortodoks banyak elemen demokrasi yang bisa digunakan counter menghadapi Islam fundamentalis yang represif lagi otoriter; (b) menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis; (c) memperlebar perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis; (d) mencegah aliansi kaum tradisionalis dan fundamentalis; (e) mendorong kerja sama agar kaum tradisionalis lebih dekat dengan kaum modernis; (f) jika memungkinkan, kaum tradisionalis dididik untuk mempersiapkan diri agar mampu berdebat dengan kaum fundamentalis, karena kaum fundamentalis secara retorika sering lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik “Islam pinggiran” yang kabur; (g) di wilayah seperti di Asia Tengah, perlu dididik dan dilatih tentang Islam ortodoks agar mampu mempertahankan pandangan mereka; (h) melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme berbeda; (i) memperuncing khilafiyah yaitu perbedaan antar madzhab dalam Islam, seperti Sunni - Syiah, Hanafi - Hambali, Wahabi - Sufi, dll; (j) mendorong kaum tradisionalis agar tertarik pada modernisme, inovasi dan perubahan; (k) mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas penguasa yang terinspirasi oleh paham fundamentalis; (l) Mendorong popularitas dan penerimaan atas sufisme; 4) Mendukung sepenuhnya kaum modernis, dengan jalan: (a) menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi; (b) mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda; (c) memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam; (d) memberikan mereka suatu platform publik; (e) menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web Sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolahan, lembaga-lembaga dan sarana lainnya; (f) memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan “counterculture” kaum muda Islam yang tidak puas; (g) memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayanya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan; (h) membantu dalam membangun organisasi-organisasi sipil independen, untuk mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka. Beberapa bukti tindakan program ini misalnya mengubah kurikulum pendidikan di pesantren-pesantren dengan biaya dari Barat, kemudian menghembuskan dogma “Time is Money - dengan pengeluaran sekecil-kecilnya menghasilkan pendapatan sebesar-besarnya”. 5) Tempo doeloe, pernah dalam mata pelajaran PMP dtampilkan gambar rumah ibadah masing-masing agama dengan tulisan dibawahnya: “semua agama sama”. Mendirikan berbagai LSM yang bergerak dibidang kajian filsafat Islam, menyebar artikel dan tulisan produk LSM yang dibiayai Amerika. Intinya menyimpulkan bahwa semua agama adalah hasil karya manusia dan merupakan peradaban manusia. Tujuannya tak lain guna menggoyah keyakinan beragama, termasuk mendanai beberapa web site di dunia maya dan lainnya. 6) Mendukung secara selektif kaum sekularis, dengan cara: (a) mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai musuh bersama; (b) mematahkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideologi kiri; (c) mendorong ide bahwa dalam Islam, agama dan negara dapat dipisahkan dan hal ini tidak membahayakan keimanan tetapi malah akan memperkuat. 7) Untuk menjalankan Building Moderate Muslim Networks, AS dan sekutu menyediakan dana bagi individu dan lembaga-lembaga seperti LSM, pusat kajian di beberapa universitas Islam maupun universitas umum lain, serta membangun jaringan antar komponen untuk memenuhi tujuan-tujuan AS. Contoh keberhasilan membangun jaringan ini ketika mensponsori Kongres Kebebasan Budaya (Conggress of Cultural Freedom), dimana pertemuan ini berhasil membangun komitmen antar elemen membentuk jaringan anti komunis. Hal serupa juga dilakukan dalam rangka membangun jaringan anti Islam. Kemudian membangun kredibilitas semu aktivis-aktivis liberal pro-Barat, demi tercapai tujuan utama memusuhi Islam secara total. Bahkan apabila perlu, sikap tidak setuju atas kebijakan AS sesekali diperlihatkan para aktivisnya seolah-olah independen, padahal hanya tampil pura-pura saja. AS dan sekutu sadar, bahwa ia tengah terlibat dalam suatu peperangan total baik fisik (dengan senjata) maupun ide. Ia ingin memenangkan perang dengan cara: “ketika ideologi kaum ekstrimis tercemar di mata penduduk tempat asal ideologi itu dan di mata pendukung pasifnya”. Ini jelas tujuan dalam rangka menjauhkan Islam dari umatnya. Muaranya adalah membuat orang Islam supaya tak berperilaku lazimnya seorang muslim. Pembangunan jaringan muslim moderat ini dilakukan melalui tiga level, yaitu: (a) menyokong jaringan-jaringan yang telah ada; (b) identifikasi jaringan dan gencar mempromosi kemunculan serta pertumbuhannya; (c) memberikan kontribusi untuk membangun situasi dan kondisi bagi berkembangnya sikap toleran dan faham pluralisme. Sebagai pelaksana proyek, Departemen Luar Negeri AS dan USAID telah memiliki mandat dan menunjuk kontraktor pelaksana penyalurkan dana dan berhubungan dengan berbagai LSM, dan para individu di negeri-negeri muslim yaitu National Endowment for Democracy (NED), The International Republican Institute (IRI) The National Democratic Institute (NDI), The Asia Foundation (TAF), dan The Center for Study of Islam and Democracy (CSID). Pada fase pertama, membentuk jaringan muslim moderat difokuskan pada organisasi bawah tanah, dan kemudian setelah melalui penilaian AS selaku donatur, ia bisa ditingkatkan menjadi jaringan terbuka. Adapun kelompok-kelompok yang dijadikan sasaran perekrutan dan anak didik adalah : (a) akademisi dan intelektual muslim liberal dan sekuler; (b) cendikiawan muda muslim yang moderat; (c) kalangan aktivis komunitas; (d) koalisi dan kelompok perempuan yang mengkampanye kesetaraan gender; (e) penulis dan jurnalis moderat. Para pejabat Kedutaan Amerika di negeri-negeri muslim harus memastikan bahwa kelompok ini terlibat, dan sesering mungkin melakukan kunjungan ke Paman Sam. Adapun prioritas pembangunan jaringan untuk muslim moderat ini diletakkan pada sektor: (a) Pendidikan Demokrasi. Yaitu dengan mencari pembenaran nash dan sumber-sumber Islam terhadap demokrasi dan segala sistemnya; (b) dukungan oleh media massa melakukan liberalisasi pemikiran, kesetaraan gender dan lainnya -- yang merupakan “medan tempur” dalam perang pemikiran melawan Islam; (c) Advokasi Kebijakan. Hal ini untuk mencegah agenda politik kelompok Islam. AS dan sekutu sadar bahwa ide-ide radikal berasal dari Timur Tengah dan perlu dilakukan “arus balik” yaitu menyebarkan ide dan pemikiran dari para intelektual moderat dan modernis yang telah berhasil dicuci otak dan setuju westernisasi yang bukan berasal dari Timur Tengah, seperti Indonesia dan lainnya. Tulisan dan pemikiran moderat dari kalangan di luar Timur Tengah harus segera diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kemudian disebarkan di kawasan Timur Tengah. Agaknya inilah jawaban, kenapa Indonesia seringkali dijadikan pertemuan para cendikiawan dan intelektual muslim dari berbagai negara yang disponsori AS dan negara Barat lain. Banyak produk baik tulisan maupun film diproduksi “Intelektual Islam Indonesia”, kemudian disebarkan dan diterjemahkan dalam bahasa Arab. Semua bantuan dana dan dukungan politik ini tujuannya guna memecah-belah umat Islam. Seperti berkembang banyak LSM memproduk materi-materi dakwah atau fatwa namun isinya justru “menjerumuskan” Islam, termasuk munculnya banyak tokoh liberal sebagai opinion maker di tengah masyarakat, merupakan isyarat bahwa konspirasi menghancur Islam itu ada, nyata dan berada (existance). Yang paling memprihatinkan, justru jurus pecah belah dilakukan menggunakan tangan-tangan (internal) kaum muslim itu sendiri di negara tempat mereka lahir, tumbuh dan dibesarkan, sedang mereka “tak menyadari” telah menjadi penghianat bagi bangsa, negara dan agamanya! | |
Antara Hutang Indonesia, Mafia Berkeley, Soekarno, Amerika, dan CIA
Rangkuman dari buku kara David Ransom, seorang warga Negara Amerika lulusan Havard yang menjadi anggota dari Pasific Studies Center.
| |
Sekedar informasi bahwa Pasific Studies Center adalah merupakan lembaga pusat studi masalah-masalah yang terkait dengan wilayah pasifik, sedangkan posisi dari David Ransom di lembaga itu sendiri dikhususkan untuk mempelajari Indonesia.
Judul dari buku itu adalah “Berkeley Mafia and Indonesian Massacre”. Buku ini dahulu sempat diterjemahkan dan dimuat sebagai tulisan bersambung di Majalah Dwiwarna Jakarta tahun 1970.
Terjemahan judul buku tersebut cukup menohok, yakni “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia. Dalam tulisan tersebut ada beberapa hal yang diungkapkan oleh David Ransom, yang antara lain : Kronologis penggulingan Soekarno, yang tidak lain adalah campur tangan Amerika melalui jaringan-jaringan terselubungnya. Ini berawal saat munculnya pengakuan kemerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1950, pengakuan tersebut ternyata mensyaratkan Indonesia untuk menanggung beban utang luar negeri yang dibuat oleh pemerintahan Hindia Belanda. Alhasil, sejak tahun 1950 bangsa Indonesia mewarisi utang Hindia Belanda sebesar US$ 4 Miliar. Dan dengan adanya hutang tersebut, pemerintahan Soekarno tidak bisa lepas dari tekanan pihak pemberi hutang (baca: Amerika). Tekanan tersebut antara lain adalah adanya intervensi saat periode 1950-1956. Yakni saat adanya tekanan dari Amerika Serikat bahwa Indonesia harus mengakui keberadaan pemerintahan Bao Dai di Vietnam. Klimaksnya adalah saat terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia tahun 1964. Dimana ketika itu Malaysia didukung oleh Inggris. Pemerintahan Soekarno yang saat itu geram, lantas menasionalisasi seluruh perusahaan Inggris di Indonesia. Hal tersebut adalah kali kedua pemerintahan Soekarno melakukan nasionalisasi setelah menasionalkan perusahaan milik Belanda tahun 1956. Adapun rupanya, Amerika Serikat turut campur dengan masalah tersebut. Pemerintahan Amerika menuntut bahwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia harus segera diakhiri. Hal tersebut yang lantas menyulut kemarahan Soekarno hingga mengatakan “go to hell with your aid”. Penolakan keras tersebutlah yang membuatnya harus menyerahkan tangkup kepemimpinan Negara pada Soeharto, tepat pada tanggal 11 Maret 1966. Kebijakan politik Amerika Serikat dengan dalih antikomunisnya telah menjerat bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain untuk masuk ke dalam strategi globalnya. (Baca: Liberal dan kapitalisasi) Langkah-langkah yang dilakukan oleh badan intelijen Amerika Serikat (Baca: CIA) telah menyusupi hampir semua badan, lembaga, kekuatan sosial-politik, dan oknum-oknum penting untuk kemudian diperalat. Yayasan-Yayasan yang menyediakan dana-dana bantuan pendidikan semacam Ford Fondation dan Rockefeller Foundation, yang disamping sering memberi bantuan-bantuan perlengkapan, tenaga-tenaga ahli, juga membiayai pengiriman mahasiswa-mahasiswa diluar negeri adalah merupakan alat, pangkalan (sarang) dan kedok CIA untuk melancarkan operasi-operasinya ke berbagai penjuru dunia. Perguruan-perguruan tinggi semacam: Berkeley, Cornell, MIT (baca : Massachusetts Institute of Technology), Havard dan lain-lain telah dijadikan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-ilmu liberal dan meng-amerika-kan para mahasiswa yang datang dari berbagai negeri, serta menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika (baca:CIA) yang setia. Bahwa banyak badan-badan pendidikan dan perikemanusiaan sekedar dijadika kedok semata-mata untuk kepentingan CIA. Mengapa Soekarno mesti digulingkan dan nasionalisme yang dibawanya mesti dihancurkan. Bagaimana kaum Sosialis Kanan/PSI telah berpuluh tahun mengadakan persekongkolan dengan CIA untuk merebut kekuasaan di Indonesia ini dari tangan Soekarno. Bagaimana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta telah dijadikan dapur dan sarang komplotan PSI-CIA dan untuk dari situ melancarkan gerilya politik dan subversinya kemana-mana. Bagaimana bantuan-bantuan ahli dari A.S seperti Guy Parker, George Kahin, John Howard, Harris, Glass-burner, dan kaum Sosialis Kanan/PSI semacam : Soemitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, Sadli, Emil Salim, Subroto, Barli Halim, dan Sudjatmoko yang popular sebagai kaum teknokrat-ekonom caliber internasional dan dahulu berhasil menduduki posisi-posisi penting dalam lembaga-lembaga pemerintahan puncak, telah lama “mengadakan permainan bersama yang lihai”. Apa peranan dan usaha kaum Sosialis Kanan/PSI yang berkerumun di sekitar Jendral Soeharto saat itu. Dan lain-lainnya. Terlepas dari pernyataan beberapa pihak bahwa tulisan tersebut adalah salah, palsu dan hanya fitnah belaka, menurut saya yang terpenting adalah para generasi muda ‘melek’ akan sejarah bangsanya sendiri. ‘Melek’ disini konotasinya mengarah kepada keingintahuan yang besar akan sejarah di masa lalu, yakni dengan tidak acuh terhadap segala informasi dan senantiasa melakukan Cross Check pada info apa pun yang beredar. Mengingat masa kini adalah buah dari masa lalu, maka perlu adanya suatu Aware yang tinggi terhadap sejarah, sehingga langkah kita ke depan bisa lebih tepat atau minimnya tidak mengulangi kesalahan yang dahulu dibuat oleh para pendahulu kita. Karena tentunya kita semua tidak menginginkan terjatuh pada kesalahan yang sama, seperti halnya keledai yang jatuh di lobang yang sama. | |
Narko-Kolonialisme Ala CIA
| Sofyan Ahmad | |
![]() | |
Benang kusut perdagangan narkoba internasional semakin kukuh dengan terlibatnya lembaga-lembaga intelijen dunia. Central Intelligence Agency (CIA) sebagai agensi paling aktif dan dinamis tentu membutuhkan banyak dana untuk menyokong seluruh operasi clandestine (bawah tanah) di dunia. Hampir pasti berperan dalam setiap pergolakan politik di dunia, operasi-operasi CIA itu tentu membutuhkan aliran finansial yang stabil. Dan dana narkoba mampu menutupi kekurangan yang sangat besar disetiap operasi. Eksekutif Direktur UNODC (United Nations Office of Drugs Control), Antonio Maria Costa yang bermarkas di Wina mengungkapkan bahwa dana narkoba (black budget) menjadi satu-satunya sumber kapital saat krisis pendanaan terjadi pada akhir tahun. Dan dana dari narkoba itu seringkali lolos audit dan laporan resmi, karena itu terdapat sejumlah kejadian dimana CIA tidak pernah memberikan laporan detil setiap operasi dengan siapa pun di Washington.
CIA memiliki sejarah panjang hubungan dengan mafia. Pada Perang Dunia II, CIA memanfaatkan pengaruh Lucky Luciano untuk menggalang dukungan rakyat Sicilia sebelum pendaratan pasukan Sekutu di pulau tersebut dan mengusir pasukan Jerman. Kini, CIA merentangkan tali kendalinya di berbagai belahan dunia yang diketahui sebagai pusat-pusat produksi opium di Segitiga Emas dan Afghanistan, kokain di Nikaragua maupun tempat lain. Segitiga Emas dan CIA Keterlibatan CIA dalam bisnis opium di Segi Tiga Emas (Golden Triangle) dimulai ketika medio 1960-an yang menandai puncak industri heroin Eropa mengalami kemunduran cepat. Awal 1960, Italia mulai menghancurkan jaringan mafia Sicilia, tahun 1967 Turki mulai membakar ladang-ladang opium di pegunungan Anatolia untuk memotong jalur suplay laboratorium pengolahan heroin di Marseille. Tidak ingin kehilangan sumber daya yang melimpah, mafia Corsica bersama mafia Amerika mengalihkan sumber pasokannya ke Asia Tenggara yang masih surplus opium berikut rezim korup yang “mendukung” situasi kondusif bagi produksi heroin skala besar. Awal 1950, CIA mendukung pembentukan gerilyawan nasionalis China di Burma (Myanmar), grup yang masih mengendalikan setidaknya setengah suplai opium dunia, dan di Laos menciptakan bandar senjata gelap Meo yang dimana komandannya mengolah heroin untuk dijual termasuk pada tentara Amerika di Vietnam Selatan. Akhir 1969, laboratorium heroin menjamur di tiga perbatasan yang meliputi Burma, Thailand dan Laos. Hasil pengolahan heroin di Asia Tenggara tersebut mulai membanjiri Amerika Serikat dalam jumlah yang tak dapat diprediksikan, efeknya tentu terlihat pada meroketnya jumlah pecandu narkoba. Disaat pegunungan Laos terisolasi dari lalu-lintas darat dan udara, kendaraan dan pesawat CIA leluasa kelar masuk kawasan itu, dan opium mulai mengalir deras keluar dari desa-desa Laos menuju titik transit seperti Long Tieng. Intervensi bawah tanah CIA mulai menghasilkan peningkatan volume peredaran narkotika. Maskapai milik CIA, Air America mulai menerbangkan opium Meo keluar dari perbukitan Long Tieng dan Vientiane. Arti penting dari klien-klien CIA terutama dalam pertumbuhan perdagangan heroin Segitiga Emas terungkap secara tidak sengaja oleh agensi sendiri ketika membocorkan laporan rahasia soal peredaran opium Asia Tenggara ke surat kabar New York Times. Divisi analis CIA mengidentifikasi sekitar dua puluh satu pusat pengolahan opium terdapat di perbatasan tiga negara, Burma-Thailand, dan Laos. Tujuh diantaranya mampu memproduksi heroin kualitas 4 dengan kemurnian 90-99 %, ketujuh laboratorium tersebut berlokasi di Tachilek (Myanmar), Ban Houei Sai dan Nam Keung (Laos), dan Mae Salong (Thailand). Pusat pengolahan tersebut berlokasi di wilayah yang sepenuhnya dalam pengendalian grup paramiliter binaan Amerika di Segitiga Emas. Kawasan Mae Salong merupakan pusat Nationalist Chinese Fifth Army yang terlibat dengan CIA sejak 1950. Laboratorium Nam Keung dikuasai oleh Mayor Chao La, komandan pasukan bayaran Yao binaan CIA di barat laut Laos. Laboratorium dekat Ban Houei Sai adalah milik Jenderal Ouane Rattikone, mantan kepala angkatan darat militer Laos, satu-satunya pasukan militer di dunia non AS yang sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah AS. Pabrik heroin dekat Tachilek dioperasikan oleh satu unit pemberontak Burma (Myanmar) dan pasukan Shan yang mengendalikan sebagian besar peredaran narkotika keluar Burma. Sumber lain mengungkapkan sejumlah keberadaan laboratorium heroin yang dioperasikan dekat Vientiane di bawah perlindungan Jendral Ouane Rattikone. Dan akhirnya, Biro Narkotika AS melaporkan bahwa Jendral Vang Pao, panglima pasukan rahasia CIA, telah mengoperasikan pabrik heroin di Long Tieng, pusat operasi kelompok-kelompok dukungan CIA di utara Laos. Kejatuhan pemerintahan Nasionalis China atau Kuomintang (KMT) tahun 1949 dimanfaatkan Presiden Truman untuk mengendalikan gerakan komunis yang menuju selatan ke Asia Tenggara. Sisa-sisa pasukan KMT yang terdesak saat itu terkonsentrasi di provinsi Shan Burma, mendapatkan bantuan militer dari AS untuk rencana invasi di selatan China. Namun pada kenyataannya, pasukan KMT secara militer telah gagal, tetapi mereka sukses memonopoli perdagangan opium di provinsi Shan dengan bantuan CIA. Ini dipastikan oleh intelijen Burma pada awal 1951, yang melaporkan adanya pesawat C46 dan C47 menerjunkan setidaknya lima parasut seminggu di basis KMT di Mong Hsat. Panen opium yang dikelola KMT dikirimkan ke utara Thailand untuk dijual pada kaki tangan CIA lainnya : Jenderal Phao Sriyanonda. CIA memuji kemitraan Phao-KMT yang telah menyediakan wilayah aman bagi KMT. Segera kemitraan tersebut menjadi titik penting dalam pertumbuhan perdagangan narkotika di Asia Tenggara. Dengan dukungan CIA, KMT tetap di Burma hingga 1961, saat pasukan Burma mendesak mereka mundur ke Laos dan Thailand. Pada era itu, KMT telah menggunakan segenap pengaruhnya terhadap suku-suku pegunungan untuk meningkatkan produksi opium provinsi Shan dari 40 ton di akhir PD II hingga empat ratus ton di tahun 1962. Hari ini, hampir empat puluh berkat bantuan CIA di Segitiga Emas, serdadu KMT mengendalikan hampir setengah suplai opium dunia dan separuh bisnis opium di Asia Tenggara. Politik Opium di Afghanistan Di Afghanistan, AS/NATO selalu menuduh Taliban menggunakan opium sebagai sumber dana dalam perlawanan terhadap pasukan sekutu. Ironisnya, justru di era Taliban produksi opium telah menurun tajam di seluruh negeri, mungkin pertama kalinya dalam sejarah Afghanistan. Hal ini telah ditegaskan sebelumnya oleh The Independent (19/10/2001) yang memuat tulisan Richard Lloyd Parry dari Islamabad dengan judul “End of Taliban will Bring Rise in Heroin.” Parry memperingatkan PBB bahwa kekalahan Taliban akan menciptakan gelombang besar produksi opium yang sebelumnya terhenti. Menurut Farzana Shah dari BrassTacks (Security Think Tank and Defence Analysis Consulting) yang berbasis di Pakistan, Afghanistan adalah produsen bahan utama heroin : opium, tidak ada hal baru dalam hal ini di dunia. Produksi komersial opium dimulai selama invasi Rusia di Afghanistan dimana perkiraan produksi mencapai 8250 metrik ton opium setiap tahunnya atau 86% hingga 90% dari seluruh suplai opium dunia (AmericanFreePress.net, 24/11/2008). Meningkatnya produsi opium turut mengangkat kesejahteraan para panglima klan Afghanistan, termasuk masuknya milyaran dollar ke kas CIA. Inilah yang diperjuangkan lembaga intelijen itu di Afghanistan : produksi opium, dengan kemasan tanpa merek. Peran CIA dalam awal-awal perang Afghan tidaklah terang-terangan. Untuk menghindari konflik terbuka dengan Soviet, CIA cukup memanfaatkan hubungan rahasianya dengan sejumlah panglima di Afghanistan yang menyediakan sejumlah lahan perkebunan opium. “Pada akhir invasi Soviet 1989, Afghanistan adalah produsen opium kedua terbesar dunia dengan jumlah 1350 metrik ton setelah Segitiga Emas : Laos-Thaildand-Burma-Vietnam yang memproduksi 2645 Metrik ton, jauh di atas Amerika Latin yang hanya memproduksi 112 Metrik ton,” demikian menurut badan anti narkoba AS. Afghanistan kini memimpin produksi opium di dunia setelah invasi AS tahun 2002. Tanpa dukungan aktif Pentagon dan CIA, tidak mungkin mengekspor 8000 metrik ton opium ke luar Afghanistan. Hubungan AS dengan Aliansi Utara setelah Taliban jatuh menjaminkan lisensi besar pada seluruh produsen maupun pedagang opium. CIA dan Pentagon sangat dekat dengan seluruh jaringan kriminal untuk mengamankan suplai narkoba dan mengeskpornya dengan pesawat militer AS. Banyak laporan yang menerangkan bahwa pesawat-pesawat militer yang digunakan CIA mengangkut peti mati berisi narkoba. Untuk memastikan jalur peredaran tidak terganggu, AS menunjuk seluruh bandar-bandar narkoba Aliansi Utara di setiap pos-pos kunci di Afghanistan, salah satunya adalah Ahmed Wali Karzai, Saudara Presiden Hamid Karzai. Wali Karzai adalah gubernur provinsi Kandahar dekat perbatasan Iran. Maka wajar jika kemudian Rusia menuduh Amerika tidak serius menuntaskan persoalan opium, terutama di Afghanistan. Kepala agensi pengendalian obat federal Rusia, Victor Ivanov menyatakan bahwa pasukan pendudukan AS di Afghanistan telah gagal menghentikan produksi Opium Afghanistan yang meningkat sejak invasi AS dan Sekutunya tahun 2001. Victor menuduh Presiden Obama tidak serius, sementara setiap tahun 30.000 orang tewas karena heroin yang 90% berasal dari Afghanistan. Sejak kekalahan Taliban, Rusia dan negara-negara Asia Tengah kebanjiran heroin murah dari wilayah pendudukan Amerika tersebut (www.presstv.ir, 28/02/2010). *Tulisan ini dimuat di Majalah INTELIJEN No 06/Th VIII/2011 | |
Salafi-Wahabi: Khawarij Gaya Baru???
| Rijal Mumazziq Z | |
“Keterangan tentang pengikut Muhammad Ibn Abdil Wahab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa ajaran mereka saja kaum muslimin. Sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulama’nya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka, dan dikuasai oleh tentara kaum muslimin ada tahun 1233 H” (al-Imam Muhammad Amin Affandi/ Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Mukhtar ala durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262 )
------ | |
Kutipan di atas sengaja penulis cantumkan untuk membuka review buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama, karena cukup relevan dengan kondisi di Tanah Air, dimana terdapat sebuah kelompok yang dengan mudah memusyrikkan, mengkafirkan, --dan bahkan menghalalkan darah dan harta—kaum muslimin yang tak sepaham dengan pemahamannya. Takfir dan istihlal dima’ wa amwal al-mukhalifin (pengkafiran dan penghalalan darah dan harta kaum muslimin di luar alirannya) inilah yang tampaknya relevan dengan komentar Ibn Abidin di atas, bahwa penganut ajaran Ibn Abdil Wahab adalah Khawarij gaya baru; baju berbeda, modus operandi tetap sama.
Di Tanah Air sendiri, keberadaan kelompok ini secara massif memang tampak pasca reformasi 1998, dimana segala kebebasan berpendapat dan berserikat, dijamin oleh negara. Hingga akhirnya, jaminan kebebasan ini menjadi kecambah munculnya kelompok-kelompok eksklusif yang memperkeruh ukhuwah islamiyah dengan melakukan aksi pembusukan kaum muslimin dari dalam. Baik dilakukan dengan tindakan ekstrem (bunuh diri, misalnya), maupun hanya sebatas “dakwah dengan cara militan”. Dakwah secara militan inilah yang seringkali salah ditafsirkan serampangan dengan cara memusyrikkan dan mengkafirkan saudara-saudara seiman yang tak sepaham dengan mereka. Dan, berdasarkan pola pergerakannya, pemahaman kelompok-kelompok eksklusif ini bermuara pada Muhammad Ibn Abdil Wahab. Sosok kunci yang menjadi arsitek revolusi pemahaman keagamaan masyarakat (yang berdarah-darah) di Tanah Hijaz, yang efeknya diekspor ke luar negeri melalui berbagai cara dengan dukungan dana melimpah dari kerajaan Saudi pada era sekarang. Dalam konteks internasional, dukungan dana yang melimpah ini membuat dakwah Wahabi kian militan, sistematis, dan dogmatis. Proses ekspor paham ini memang lebih dahsyat setelah terjadinya booming efek emas hitam (baca:minyak) sejak tahun 1970-an. Di Indonesia, gejala ini bisa ditangkap pasca reformasi 1998, dimana terdapat masjid atau pesantren “tiban” (tiba-tiba ada). Masjid atau pesantren yang dibangun oleh orang luar (bukan penduduk desa), cepat berdiri karena dukungan dana melimpah, serta mengajarkan Islam yang berbeda dengan paham keIslaman masyarakat sekitarnya. Santri penghuninya pun “drop-dropan” dari luar daerah. Mereka cenderung eksklusif dan menutup diri dari pergaulan dengan masyarakat sekitar. Kasus terbaru pesantren model demikian adalah yang “pesantren” Umar Ibn Khattab yang ada di Lombok, yang tempo hari terbukti mengajarkan “kekerasan” kepada segelintir santrinya. Sebagai “garis keras”, pesantren seperti ini juga mengharamkan hormat kepada bendera, haram memakai (sebagian) hukum Indonesia karena dinilai hukum kufur, serta tak wajib taat kepada pemerntah RI yang dinilai sebagai thaghut (setan), pencangkokan ajaran Islam yang tanpa dikontekstualisasikan dengan realitas sosial, serta seringkali terjebak pada “alienasi” kebenaran (kelompok ini merasa terasing karena dirinya “benar”). Pemahaman seperti ini akhirnya tak melahirkan apa yang kita sebut sebagai tanwir al-‘uqul (pencerahan akal) dan tanwir al-qulub (pencerahan hati), dua pemahaman yang komprehensif, sublim, dan subtil untuk memahami dan melaksanakan ajaran agama. Pemahaman keagamaan seperti di atas hanya akan melahirkan sikap ekslusif, mengklaim kebenaran sendiri, dan sering menyalahkan mereka yang tak sepaham dengan dirinya. Lihatlah, bagaimana aksi Muhammad Syarif—La’natullah alaih—saat meledakkan bom bunuh diri di Masjid Polres Cirebon, beberapa bulan lalu. Dengan asumsi “berjihad” meledakkan masjid dhirar, ia membunuh dirinya. Ia merasa berjihad, meski mayoritas umat melaknat. Pola pemahaman demikian inilah yang, dalam pemahaman saya, juga dianut oleh Imam Samudera, Amrozi, dan Noordin M. Top, dll. Mutamaslif? Jika dilacak secara terminologi, istilah salaf atau salafi merupakan bentuk penisbatan kepada as-salaf, yang secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului kita atau hidup zebelum zaman kita. Secara spesifik, as-salaf yang mengacu pada sabda Rasulullah tentang khairul qurun (era keemasan) yakni pada masa Sahabat, Tabiin, hingga Tabiut Tabiin. Awal munculnya penisbatan pengikut ajaran Ibn Abdil Wahab ini dengan mencantolkan namanya pada Salaf(i), merupakan bentuk kerikuhan kelompok ini saat kaum muslimin menyebutnya sebagai Wahabi (yang dinisbatkan pada pendiri kelompok ini). Meski beda istilah, sebenarnya keduanya adalah laksana dua sisi pada sekeping mata uang. Demi efektifitas dakwahnya, mereka juga sering mengklaim diri sebagai Ahlus Sunnah (tanpa dibarengi kata al-Jamaah). Prof. Said Ramadan al-Buthy, menilai bahwa Wahabi mengubah namanya menjadi “Salafi” karena banyak mengalami kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan Wahabi. Tak heran jika ulama ahlussunnah waljamaah menjuluki mereka sebagai Mutamaslif (salafi palsu). Garis besar pemahaman saudara-saudara kita ini adalah sikap ghuluw (ekstrem) dalam beragama, jumud (statis) dalam sikap beragama, serta harfiyah dalam pemaknaan nash. Lebih ekstrem lagi, sekte ini terlibat dalam penyebaran virus takfir (pengkafiran), tasyrik (pemusyrikan), tabdi’ (pembid’ahan), dan tasykik (upaya menanamkan keraguan) terhadap para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Jadi, kalau banyak para du’at (dai) dan umat berusaha mengislamkan mereka yang belum bersyahadat, kelompok ini malah memusyrikkan, dan bahkan mengkafirkan umat yang sudah bersyahadat dengan entengnya. Lebih ekstrem lagi, jangankan dengan kaum muslimin yang berbeda paham, dengan sesama Salafi-Wahabi saja mereka saling memusyrikkan, mengkafirkan, melaknat dan mencaci maki dengan kejamnya. Kelompok Salafi Yamani (yang berafiliasi kepada syekh-syekh Yaman dan Saudi Arabia) bertengkar hebat dengan kelompok Salafi Haraki (salafi yang menerapkan system pengkaderan atau organisasi/ haraki). Di dalam buku ini, misalnya, dengan mengutip sumber orisinil, tampak secara jelas Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur al-Malanji (yang pro Umar Sewed), mencaci maki secara “dahsyat” kelompok al-Jawwas. Kedua nama terakhir ini adalah tokoh terkemuka Salafi Wahabi Indonesia (hal. 55-56). Juga terjadi perseteruan antara al-Jawwas (dengan yayasan al-Shohwahnya) dengan ja’far Umar Thalib (Panglima Laskar Jihad). Lebih detail lagi, kelompok ini sesungguhnya telah banyak terpecah belah di tingkat internasional. Di Saudi Arabia, misalnya terjadi friksi antara kelompok yang pro Ibn Bazz, Utsaimin, versus Salman Ibn Fahd al-Audah, Safar al-Halawi, Aidh al-Qarni (yang berporos Yayasan al-Muntada di London), sedangkan di Yaman antara Rabi Ibn Hadi dkk, versus Abul Hasan al-Ma’rawi dkk, di Yordania antara Salim I’ed al-Hilali dkk, versus Sulaiman al-Asyqar dkk. Ada beberapa hal yang menarik bagaimana kelompok ini “mengembangkan sayapnya” melalui proses “marketing” yang bombastis. Pertama, penggunaan istilah-istilah yang “wah” untuk memompa ghirah kaum muslimin. Istilah Jihad, Ijtihad, Syahid, Penegakan Syariat Islam, dll, saya setuju, asal dipergunakan sesuai dengan konteks masing-masing, dan dipergunakan secara proporsional. Jika tidak, penggunaan istilah-istilah mulia ini malah mereduksi dan menjadi antiklimaks dengan tujuan sebenarnya. Potongan Surat al-Maidah ayat 44, “waman lam yahkum bimaa anzala Allaahu faulaa-ika humu alkaafiruun” Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (QS. Al-Maidah : 44), seringkali dipakai untuk menjustifikasi kebenaran versi mereka untuk mengkafirkan orang lain. Padahal ayat inilah yang dulunya menjadi slogan Khawarij, yang setelah dimodifikasi menjadi berbunyi La Hukma Illa Lillah. Menurut al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal, yang pertama kali mengucapakan semboyan itu adalah seorang laki-laki dari Bani Sa’ad bin Manat bin Tamim, dari kalangan Bani Tamim yang bernama al-Hajjaj bin Ubaidullah yang dikenal dengan julukan al-Barq. Lihat dalam Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim ibn Abi Bakar Ahmad al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Juz I (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt. hal. 117). Abdullah Ibn Umar, ikut mensifati kelompok Khawarij engan meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah saw. yang berbunyi: “Mereka yang menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman.” Lebih lanjut saya jadi ingat dengan komentar Sayyidina Ali kr., “Kalimat benar tapi disalahgunakan (kalimatu haqqin urida biha bathilun), saat menantu Baginda Rasulullah ini melihat kelompok Khawarij membuat semboyan La Hukma Illa Lillah (tidak ada hukum selain dari Allah). Sebuah slogan yang sangat menarik dan memikat namun dipakai untuk menghalalkan darah mereka yang tidak sepaham dengan paham Salafi-Wahabi. Kedua, melalui proses “labelisasi” dan mistifikasi. Labelisasi di sini terjadi saat sekte ini menisbatkan amaliah mereka kepada generasi Salaf, yang kemudian dipakai symbol sekte ini menyebut diri sendiri, yang secara tak langsung menjustifikasi bahwa kelompok di luar mereka bukan bagian dari pengamal ajaran salafus shalih. Sedangkan mistifikasi terjadi tatkala mereka mengagungkan Muhammad Ibn Abdil Wahab sebagai mujaddid, pemberantas kemusyrikan, penegak kalimat tauhid, dll. Maka tak heran jika dua strategi di atas memakan korban yang tak ternilai. Tak hanya kaum muslimin yang tak sejalan dengan mereka yang menjadi korban “purifikasi” barbarian ini, bangunan-bangunan bersejarah peninggalan rasulullah dan para sahabat juga mereka luluh lantakkan, pembakaran manuskrip berharga dan kitab-kitab yang dianggap tak sejalan dengan paham Wahabi juga terjadi atas nama pemurnian Tauhid. Dengan referensi kitab-kitab pokok karya ulama Wahabi--yang dengan bangga mengakui perbuatan biadab di atas--Syekh Idahram dalam buku ini menyodorkan beberapa hadits shahih, dimana Rasulullah saw, jauh-jauh hari memprekdisikan munculnya kaum yang ciri-cirinya identik dengan sekte Wahabi. Maka, tak heran jika banyak ulama Ahlussunnah Waljamaah yang menolak eksistensi dan paham keagamaan sekte ini. Selain Sulaiman Ibn Abdul Wahab (yang notabene kakak Muhammad Ibn Abdil Wahab), para ulama berhasil menguak borok dan penyimpangan kaum Wahabi ini. Di antaranya Sayyid Ahmad Ibn Zaini Dahlan, al-Allamah al-Kautsari, al-Allamah al-Qusyairi, Mufti Mesir al-Syekh Ali Jum’ah, al-Muhaddits Sayyid Muhammad al-‘Alawi al-maliki, Syekh Hasan Ibn Ali Assegaf, al-Hafidz Ahmad al-Ghimari, Syekh Abdullah al-Harrari, dan banyak lagi para ulama yang menolak paham Wahabi ini. Secara blak-blakan, buku ini merekam jejak berdarah kaum Wahabi, kutipan-kutipan “menyimpang” dari literatur Wahabi serta disertai berbagai pendapat ulama yang menggugat ajaran Wahabi, dijelaskan dengan detail oleh Syekh Idahram. Berikut pemaparan lengkap berbagai redaksi hadits rasulullah yang memprekdisikan kemunculan kaum yang ciri-cirinya identik dengan sekte ini. Membaca buku ini terasa lengkap jika dilengkapi dengan sekuelnya, Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik: Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi-Wahabi, serta serial terakhirnya berjudul Ulama Sejagat Menggugat Salafi Wahabi. Membaca buku ini adalah membaca kengerian yang ditimbulkan saat dalih agama dipakai dalil pembenaran pembunuhan, perusakan, pembumihangusan keilmuan serta pelecehan kemanusiaan. Sungguhpun buku ini hanya setebal 276 halaman, namun disajikan dnegan dukungan data dan fakta yang lengkap. Semoga kehadiran buku-buku semacam ini bisa membuka pemahaman umat terhadap keberadaan sekte baru yang masih berusia kurang lebih 300 tahun, namun telah menimbulkan gelombang negatif yang tak tepermanai. Tak heran jika penulis buku ini menggunakan nama samara Syekh Idahram. Sebab, jika menggunakan nama asli, nyawa penulis buku ini pasti dihukum “bunuh”, sebagaimana beberapa abad silam Khawarij dengan mudahnya membunuh Sayyidina Ali. Bagi (Neo) Khawarij, siapapun yang mengusik pemahaman keagamaan mereka, maka siap-siaplah dihalalkan darahnya. Yang menarik, Syekh Idahram sengaja mengumpulkan dalam satu bab, hadis-hadis sahih prediksi Rasulullah tentang kemunculan sekte Wahabi ini. | |
Langganan:
Postingan (Atom)
