Selasa, 04 September 2012

AS Ingin Indonesia Terlibat di Laut Cina Selatan


Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (3/9) petang. Dia akan menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Kunjungan sepuluh hari Clinton dimulai 30 Agustus kemarin. Salah satu misinya adalah menyatukan perbedaan pandangan di antara negara anggota ASEAN terkait konflik dengan Cina. Dia juga akan membahas kerjasama komprehensif Jakarta-Washington.
Pada Juli lalu, Clinton juga mengunjungi wilayah Asia Tenggara dan melakukan penjajakan dengan para pejabat Kamboja dan beberapa negara lain untuk menyelesaikan sengketa dengan Cina, namun langkah itu tidak membuahkan hasil.
Clinton kali ini akan berbicara dengan pejabat tinggi Jakarta untuk mencari solusi atas apa yang disebutnya perseteruan Cina dengan negara-negara Asia Tenggara. Dia mampir di Indonesia setelah merampungkan misinya di Australia sebagai salah satu sekutu pertahanan dan keamanan AS di Asia-Pasifik.
Jika benar pernyataan Perdana Menteri Julia Gillard bahwa Australia tidak mampu lagi mengirim pasukan ke Irak dan mempertahankan pasukan di negara itu tidak akan menguntungkan Australia, maka kunjungan Clinton ke Negeri Kanguru itu tidak membawa pencapaian yang berarti. Meski demikian, Canberra sebagai sekutu Washington berkewajiban untuk melaksanakan kebijakan militer dan pertahanan AS di kawasan jika diperlukan.
Memperhatikan konflik Cina dengan beberapa negara anggota ASEAN seperti Vietnam dan Filipina terkait sengketa Laut Cina Selatan, Washington ingin meminta Jakarta untuk memainkan peran penengah dalam masalah itu. Indonesia sebagai pemain kunci di ASEAN diharapkan mampu memainkan pengaruhnya di wilayah sengketa tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia di samping Vietnam dan Filipina serta anggota lain ASEAN, berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah dalam kerangaka piagam organisasi. Akan tetapi, kerjasama ekonomi ASEAN dengan Cina sedikit akan menghambat peran Indonesia untuk menengahi isu-isu yang berhubungan dengan sengketa Laut Cina Selatan.
Selain itu, kunjungan Clinton ke Jakarta juga membawa misi lain yaitu penjajakan untuk merampungkan kontrak militer senilai ratusan juta dolar. Sebuah kontrak yang secara perlahan akan membuka kehadiran AS di kawasan Asia dan ini adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh Cina.
Clinton kemudian akan melanjutkan kunjungannya ke Cina, Brunei, dan Timor Leste. Kunjungannya ke Timor Leste akan membuat dirinya menjadi menteri AS pertama yang berkunjung ke negara itu. 
Ini Agenda Pembicaraan Hillary Clinton di Jakarta
Dalam kunjungannya ke Indonesia, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton, akan membahas sejumlah persoalan. Diantaranya, mendorong kekompakan negara-negara Asia Tenggara dalam konflik perbatasan di Laut Cina Selatan dengan Cina.


Hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat pemerintah AS, yang ikut menemani Hillary dalam tur Asia-Pasifiknya. Menurutnya kedatangan Hillary ke Indonesia, juga untuk menawarkan dukungan AS dalam rencana regional.
Selain itu, pembicaraan terkait meredakan ketegangan diantara pihak-pihak yang bersengketa dengan menerapkan kode etik sengeketa perbatasan yang sudah ada.
"Dia ingin menguatkan persatuan ASEAN ke depannya," ujarnya, saat menemani Hillary di Kepulauan Cook, Senin. Seperti diberitakan oleh the Jakartapost.com.
Indonesia diketahui memainkan peran utama dalam menggagas rencana enam poin bersama setelah ASEAN gagal mencapai konsensus menyelesaikan sengketa tersebut di bulan Juli.
Pejabat itu mengatakan, Pemerintah AS akan mendorong dilaksanakannya rencana itu, terutama pelaksanaan dan penegakan kode etik, yang telah disetujui pada tahun 2002.
Keinginan AS sendiri dalam sengketa itu sendiri adalah agar setiap pihak yang bersengketa dapat mencapai resolusi damai. Atau setidaknya mencapai perkebangan yang signifikan hingga pertemuan puncak pemimpin Asia Timur pada bulan November mendatang yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden AS, Barack Obama.
Seperti diketahui, konflik di Laut Cina Selatan sudah berlangsung berlarut-larut. Konflik ini melibatkan Cina dan Filipina yang merupakan sekutu Amerika Serikat di Asia Pasifik. Hubungan kedua negara menjadi tegang terkait aktivitas mereka di Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Sabtu, 01 September 2012

ISLANDIA TIDAK MEMBERI BAILOUT, MELAINKAN MEMENJARAKAN PARA BANKIR





Berbeda dengan negara-negara neo-liberal yang mengalami krisis finansial, bangsa Islandia tidak memberi talangan pada bank-bank sekaligus memutihkan kejahatan keuangan yang dilakukan bank-bank dengan membebankan semua kerugiannya kepada rakyat. Bangsa Islandia memaksa pemerintah yang tidak kompeten untuk mundur, menasionalisasi perbankan dan memenjarakan para bankirnya, dan selanjutnya membuat konstitusi baru untuk membentuk sistem keuangan dan ekonomi yang lebih stabil dan pro-rakyat.

Itulah yang sebenarnya terjadi di Islandia. Semua tanpa sorotan media massa internasional karena tentu saja dianggap membahayakan sistem keuangan dan ekonomi global yang selama ini berlaku. Apa jadinya jika rakyat Amerika, Eropa, Indonesia dan negara-negara neo-liberal lainnya mengambil langkah serupa? Untuk Indonesia setidaknya kasus Bank Century tidak akan pernah terjadi.

Dan inilah fakta-fakta tentang apa yang terjadi di Islandia.
Th 2008 terjadi krisis keuangan. Bank terbesar dinasionalisasi. Mata uang Krona didevaluasi dan perdagangan saham dihentikan. Rakyat marah dan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di depan gedung parlemen menuntut pembubaran pemerintah yang diikuti dengan pengunduran diri perdana menteri dan seluruh jajaran kabinetnya.

Negara dalam keadaan genting. Sebuah undang-undang ditetapkan untuk membayar kembali hutang negara kepada Inggris dan Belanda senilai 3,5 miliar Euro yang akan dibayarkan secara bulanan selama 15 tahun dengan bunga 5,5%.

Th 2010 rakyat yang memendam kemarahan karena penyelesaian hutang yang tidak adil kembali melakukan aksi demonstrasi besar-besaran menuntut dilakukannya referendum. Presiden menyerukan diadakannya sidang umum parlemen untuk menentukan referendum. Bulan Maret 2010 parlemen dengan suara 93% menyetujui dilakukannya referendum sekaligus menolak pembayaran hutang. Pemerintah memulai penyidikan terhadap orang-orang yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya krisis keuangan. Beberapa bankir ditangkap dan sebagian tersangka lainnya melarikan diri ke luar negeri.

Akhirnya sebuah panitia dibentuk untuk membuat konstitusi baru. Panitia terdiri dari 25 orang ahli yang tidak terkait dengan partai politik. Hasil kerja panitia disahkan oleh parlemen menjadi konstitusi baru pada bulan Februari 2011 sebagai hadiah bagi rakyat Islandia.

Rakyat Islandia telah memberi contoh paling "indah" dalam dunia politik modern. Sudahkan media massa memberitakannya?




Sumber:
"Icelanders Didn’t Bail Out The Bankers – They Prosecuted Them And Created Something New"; Before It’s News; 11 April 2012

Jumat, 31 Agustus 2012

"The Indonesian Godfather"


Berikut saya paparkan tentang Orang Yang Paling 'Berbahaya' di Indonesia Berdasarkan informasi yang ada dan analisa sendiri. "Berbahaya" disini bukan berarti Tokoh tersebut adalah pasti penjahat, kriminal atau punya reputasi buruk. Melainkan potensi yang dimilikinya tersebut mencakup : pengaruh dan jaringan yang dia miliki, kemampuan keuangan dan usahanya, relasi luasnya, karakternya, kadar integritas dan loyalitasnya pada negara dan bangsa, kemampuannya menggerakan perobahan ideologi, sosial, politik dan keamanan.


Kita tahu dulu ADI SASONO mantan menkop dan ketua Dekopin pernah dinobatkan sbg "THE MOST DANGEROUS MAN IN INDONESIA" oleh TIMES. Siapakah yang paling tepat saat ini dinobatkan sebagai the most dangerous man in indonesia? Saya coba ungkapkan nama-namanya dan pilih 1 orang.
Saya pernah sebut Aburizal Bakrie sebagai orang yang paling berpengaruh di Indonesia. Pernah sebut Harry Tanoe sebagai Raja Media Indonesia. Pernah saya paparkantentang Prabowo, Tommy winata, Hartati, Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra atau Chairul Tanjung dan seterus. Saya tidak nominasikan Hariman Siregar, Syahganda Nainggolan, Fardjoel dan sejumlah mantan aktivis mahasiswa lainnya. Kelasnya beda.
Sejumlah mantan-mantan jenderal pun tak saya nominasikan karena pengaruh militer pudar sejalan era demokrasi & reformasi. Mereka gagap beradaptasi. Mantan-mantan jenderal kita sekarang sedikit banget yang terjun ke dunia politik, bangun jaringan dan pengaruh. Lebih banyak nikmati hidup dan nambah harta.
Jadi, kita sudah punya short list nominator yang akan dinobatkan sebagai "Orang Yang Paling Berbahaya di Indonesia". Mereka adalah : Aburizal Bakrie, Harry Tanoe, Prabowo dan Dahlan Iskan. Sekarang kita eliminasi satu demi satu dari 4 nama ini. Saya skip nama Dahlan Iskan. Alasannya, meski dia raja media dan populer, tapi dia tidak punya kemampuan untuk mempengaruhi rakyat Indonesia.
Tinggal 3 nama : Ical, HT dan Prabowo. Ical adalah ketua partai Golkar. Partai paling kuat di Indonesia. Tapi dia kita coret juga. Meski Ical adalah orang terkaya, pemilik TV one dan ketum partai, tapi dia nasionalismenya tinggi. Dia tdk "berbahaya".
Pengaruh Ical untuk mengendalikan pikiran, hati dan perilaku rakyat juga rendah. Ical tidak lolos di final. Tinggal 2 nama : PS dan HT. Prabowo juga terpaksa mesti dicoret dari daftar orang yg paling berbahaya. Meski dia akhir-akhir ini dia populer dan jaringannya kuat.
Tokoh yang saya nobatkan jadi "The Most Damgerous Man in Indonesia" berdsarkan kriteria tadi adalah : Hary Tanoesudibjo ! Apa alasannya? HT usia 47 tahun, orang terkaya No. 20 di Indonesia, penguasa media dan sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Tokoh Partai Nasdem.
Dimana letak "BERBAHAYANYA" dari seorang Hary Tanoe ini??. Pertama : HT adalah pemilik dan pengendali media utamanya Stasiun TV. Akibat dari pengaruh siaran-siaran TV nya luar biasa. HT punya kontribusi yang besar menciptakan sifat, sikap dan perilaku rakyat bangsa menjadi komunitas yang hedonis pragmatis oportunis. Siaran-siaran TV nya dipenuhi dengan acara-acara sinetron yang tak bermutu. Yang sangat kuat pengaruhnya dlm membentuk persepsi dan perilaku.
Jaringan Hary Tanoe juga sangat luas di dalam dan luar negeri. Di Perusahaannya sendiri banyak eks jendral dan pejabat tinggi jadi stafnya. Jaringan internasionalnya jangan diragukan. Dia dikenal dekat dengan Soros. Bahkan disebut-sebut HT lah yang bawa Soros ke cendana dulu.
Hary Tanoe ini sendiri awalnya adalah kader cendana melalui Titiek Suharto, Prabowo dan Bambang Trihadmodjo. Dia juga kadernya Antony Salim. Sekarang ini, sesuai informasi yang saya peroleh dari komunitas intelejen, HT sedang persiapkan diri utk jadi King Maker di Indonesia. Dengan pengaruh media, konglomerasi perusahaan-perusahaan keuangannya dan jaringan dalam luar negerinya, HT sangat mungkin capai tujuannya.
Sejumlah tokoh politik terkemuka dan tokoh-tokoh yang diprediksi bakal jadi pimpinan bangsa, diduga juga sudah tersentuh binaan Hary Tanoe. Kekurangan pengaruh HT di akar rumput / masyarakat bawah akan ditutupi dan disalurkan melalui tangan-tangan tokoh-tokoh yang jadi binaanya itu.
"Kesaktian" HT ini sudah teruji. Dia bisa kalahkan orang yang paling berkuasa dulu : Tutut Suharto. Dia bisa bungkam Kejaksaan agung dan Istana. Mudah diprediksi HT juga akan enteng bungkam KPK dalam kasus suap dan korupsi Pajak PT. Bhakti Investama. Tokoh-tokoh besar bangsa pun banyak yang bergantung padanya. Seperti Jusuf Kalla yang sangat tergantung pada Nasdem partai milik Harry Tanoe.
Jika tidak ada aral melintang, kebesaran Hary Tanoe akan mengalahkan kebesaran keluarga Cendana yang pernah jadi mentornya. Dengan jaringan keuangan internasionalnya dan Soros sebagai porosnya, tidak sulit bagi HT obok-obok pasar modal dan ekonomi RI. Bagaimana dengan latar belakang etnisnya yang keturunan Cina itu? No problemo. Indonesia sudah semakin permisif dan welcome dengan perbedaan SARA.
Kemenangan Jokowi - Ahok pada putaran pertama Pilgub DKI membuktikan bahwa sebagian besar rakyat sudah tidak terlalu primordial lagi. Informasi yang saya terima dari jaringan intelejen, dukungan penuh Hary Tanoe kepada Jokowi Ahok, salah 1 tujuannya adalah untuk kepentingan HT. Bahkan saya mendapatkan informasi (blm terverifikasi) bahwa pendanaaan kampanye Jokowi Ahok terbesar bersumber dari HT. Benerkah? Bahkan disebut-sebut Prabowo dan Hasjim Djojohadikusomo malah tidak keluarkan uang untuk pendukungan Jokowi Ahok. Benerkah ?
Kembali ke Hary Tanoe yang fenomenal itu, banyak alasan dan argumentasi kenapa HT kita nobatkan sebagai The Most Dangerous Man In Indonesia. Dengan kekuatan dan uang cendana, soros, komunitas keuangan internasional, para tokoh-tokoh binaanya (sipil/milter) serta kerajaan medianya. Dengan itu semua, Hary TanoeSoedibjo dapat mempengaruhi sebagian rakyat Indonesia secara tidak langsung, bahkan sampai ke kamar tidur !
Apakah Hary Tanoe itu adalah "tangan" dari kekuatan global (lebih sering kita sebut konspirasi global) di Indonesia? Harus diingat bahwa orang yang paling berbahaya atau paling berpengaruh adalah orang yang menguasai informasi. Sekarang ini ERA INFORMASI !!
Apakah ada Tokoh lain yang lebih "berbahaya" dari Hary Tanoe ? Mungkin, tapi saya belum mengetahui sepak terjangnya. Saya cukupkan dulu sampai disini. Nanti kita lanjutkan dengan penjelasan yang lebih detail dan lengkap. Sekian, terima kasih, WASPADALAH !!!

Senin, 20 Agustus 2012


17 Agustus: Merdeka Tapi Tidak Independen

dina y sulaiman
Tepat tanggal 17 Agustus, 67 tahun yang lalu, Ir. Sukarno memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejak itu pula, Indonesia menjadi sebuah negara merdeka, yang tidak lagi berada di bawah penjajahan negara manapun. Sepuluh tahun kemudian, saat membuka Konferensi Asia Afrika di Bandung (tahun 1955), Presiden Sukarno mengingatkan bangsa-bangsa Asia Afrika yang saat itu baru lepas dari penjajahan, bahwa penjajahan kini telah berubah bentuk.

Saya harap Anda tidak memikirkan kolonialisma dalam bentuk klasik sebagaimana yang diketahui baik oleh kami bangsa Indonesia, maupun oleh saudara-saudara kami dari berbagai bagian Asia dan Afrika. Kolonialisme juga memiliki penampilan yang modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan juga kontrol fisik yang dilakukan sekelompok kecil orang asing dalam sebuah bangsa. Kolonialisme adalah musuh yang sangat pintar dan ambisius, dan dia muncul dalam berbagai kedok. Kolonialisme tidak menyerahkan (bangsa) jarahannya dengan begitu saja. Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kolonialisme itu menampilkan dirinya, dia tetaplah sesuatu yang jahat, dan dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini.

Kini, setelah 57 tahun berlalu sejak Sukarno menyampaikan pidato yang heroik itu, bangsa Indonesia tak kunjung lepas, bahkan semakin dalam berada dalam cengkeraman, dari kolonialisme modern. Kolonialisme modern itu kini muncul dengan istilah-istilah yang terasa keren, seperti Structural Adjustment Programme, soft loan, foreign investment, atau liberalisme pasar.

Kolonialisme modern itu muncul dalam bentuk ratifikasi UU yang tunduk pada penjajahan organisasi internasional. Misalnya, Indonesia sejak tahun 1994 telah menjadi anggota WTO dan diratifikasi dengan UU no. 7 tahun 1994. Namun, meskipun WTO mengklaim bahwa tujuan organisasi ini adalah “to improve the welfare of the peoples of the member countries” (untuk meningkatkan kemakmuran bangsa-bangsa negara anggota), kenyataannya, 18 tahun setelah begabung dengan WTO, Indonesia semakin lama justru semakin bergantung pada produk pangan impor. Negeri yang subur serta memiliki curah hujan tinggi dan banyak sumber daya manusia ini, setiap tahunnya harus menganggarkan dana sebesar 50 trilyun rupiah untuk mengimpor kedelai, gandum, daging sapi, susu, gula,  bahkan garam. Indonesia, negara dengan garis pantai terpanjang di dunia; negara yang seharusnya kaya garam, justru per tahunnya mengimpor garam senilai 900 milyar rupiah.
Lalu, kemana para petani kita? Mengapa negeri yang subur ini harus mengimpor bahan pangan? Sebabnya, karena Indonesia tunduk pada Perjanjian Pertanian (AOA, Agreement on Agriculture).  Melalui AOA, WTO mewajibkan negara-negara anggotanya untuk membuka pasar domestik untuk barang-barang impor dan sebaliknya, negara-negara anggota juga berhak melakukan ekspor ke negara manapun. Secara garis besar, ada tiga bidang yang diatur oleh AOA, yaitu: market acces (mewajibkan negara-negara menurunkan tarif dasar impor pertanian), domestic support (mewajibkan dibatasinya subsidi dan proteksi pemerintah terhadap sektor pertanian dalam negeri), dan export subsidy (mewajibkan dibatasi atau bahkan dihapuskannya subsidi ekspor produk pertanian).

Dua eksportir utama pertanian dunia, yakni AS dan Uni Eropa sangat diuntungkan oleh perjanjian seperti ini. Karena tarif dasar impor diturunkan, mereka bisa menjual produk mereka dengan harga murah di negara-negara berkembang. Sebelum adanya aturan AOA, umumnya produk impor dikenai pajak tinggi, sehingga harganya lebih tinggi dari produk dalam negeri. Dengan demikian, konsumen harus memilih: membeli produk impor yang berharga mahal namun berkualitas tinggi, atau produk lokal dengan harga murah meski kualitasnya tak sebagus produk impor. Namun, adanya penurunan tarif impor membuat harga barang impor seringkali malah lebih murah dari produk lokal. Akibatnya, produsen pertanian dalam negeri mengalami kerugian dan kemunduran.

Selain itu, larangan subsidi dan proteksi terhadap pertanian membuat para petani menjadi rentan. Harga produk mereka fluktuatif, ketersediaan benih dan pupuk juga tidak terjamin dan harganya tidak stabil. Petani Indonesia juga tidak mendapatkan subsidi ekspor sehingga jika mereka mengekspor produk, harganya akan mahal sehingga sulit bersaing dengan produk dari AS atau Uni Eropa. Apalagi, petani-petani Indonesia umumnya miskin, memiliki lahan yang sempit, tidak terorganisasi, dan lemah.  Sebaliknya, AS dan Uni Eropa justru melakukan pelanggaran terhadap AOA dengan tetap mensubsidi petani. Selain itu, mereka juga memiliki teknologi pertanian yang maju, modal yang besar, dan struktur organisasi yang kuat. Karena itulah mereka berhasil membanjiri negara-negara berkembang dengan produk-produk pertanian mereka, yang harganya lebih murah dari produk lokal.

Dalam persaingan pasar bebas seperti ini, jelas petani Indonesia semakin tersingkir. Pemerintah yang seharusnya melindungi mereka, malah lebih tunduk kepada penjajah yang berkedok organisasi internasional.

Kolonialisme modern hari ini juga muncul dalam kedok pakar-pakar ekonomi yang telah dididik puluhan tahun di negara-negara Barat, lalu mereka mendidik ekonom-ekonom di Indonesia dengan tesis-tesis yang menyesatkan. Mereka menjadi pejabat, peneliti, dan dosen, yang berkoar-koar bahwa kemajuan ekonomi  akan bisa dicapai bila para pelaku pasar dibiarkan bebas tanpa intervensi pemerintah. Faktanya, para pelaku ekonomi yang kuat, melakukan berbagai intervensi kepada pemerintah Indonesia bahkan sejak pembuatan undang-undang. Mereka membiayai pembuatan UU di Indonesia, dengan imbalan hutang. Dalam posisi bargaining yang lemah ini, kalaupun pemerintah berniat intervensi demi membela rakyatnya sendiri, juga tetap akan kalah.

Rizal Ramli (2012) menuliskan contoh-contoh kasus pembuatan UU yang dibiayai oleh hutang luar negeri. Asian Development Bank menawarkan pinjaman U$300.000.000,00 dengan syarat Pemerintah Indonesia membuat Undang- Undang Privatisasi BUMN. Bank Dunia memberikan pinjaman U$400.000.000 dengan syarat Indonesia membuat Undang-Undang Privatisasi Air. Melalui UU ini, air yang seharusnya dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat (berdasarkan UUD 1945) malah diswastanisasi. Begitu pula Undang-Undang Migas.  Ketika undang-undang dalam negeri dibiayai asing (itupun dalam bentuk hutang yang harus dibayar berikut bunganya), hampir pasti isinya akan berpihak kepada asing, bukan kepada rakyat. Sungguh  ini sebuah penjajahan yang terang-terangan, namun entah mengapa tak disadari oleh para pakar ekonomi itu.

Ketika UU persaingan bisnis sudah ‘diatur’, dimanakah letak keadilan dalam ‘kebebasan pasar’? Tak heran bila Stiglitz (2002) mengumpamakan kebebasan pasar ini sebagai berikut, “Negara-negara berkembang dan miskin bagaikan kapal layar kecil yang langsung disuruh berlayar di lautan buas, padahal lubang-lubang di kapal itu belum ditambal, kaptennya belum di-training, dan pelampung/alat pengaman belum dipasang di  kapal kecil itu.”

Penjajahan hari ini, tidak lagi dilakukan oleh tentara asing, melainkan muncul dalam bentuk perusahaan multinasional. Mereka merangsek pasar Indonesia. Pengusaha domestik tersingkir karena tak kuat bersaing. Mulai dari penghapus pensil dan serutan pensil, hingga air mineral, teh, gula, rokok, sabun, pasta gigi, komputer, danhandphone, semua disediakan oleh perusahaan-perusahaan asing (atau perusahaan lokal yang dimiliki asing). Indonesia hanya menjadi pasar dan penyedia sumber daya murah bagi perusahaan multinasional itu.

Yang lebih jahatnya, perusahaan-perusahaan multinasional itu lebih suka menguasai modal, bukan properti. Dengan cara ini, mereka lebih leluasa memindahkan modalnya kemanapun yang lebih menguntungkan. Ngaire Woods (2001) menyebutnya, footloose modern bussiness, dimana pemodal dengan mudah keluar dari sebuah negara bila pemerintah negara itu tidak memberlakukan kebijakan liberal yang menguntungkan mereka. Hari ini pemodal bisa buka pabrik di negara A, namun bila esok hari negara B yang menawarkan upah buruh lebih rendah, dia akan menutup pabrik di A dan buka pabrik di negara B. Sama sekali tidak dipedulikan bagaimana nasib para buruh yang secara mendadak menjadi penganggur.

Bahkan, untuk menghindarkan diri dari kewajiban UU Tenaga Kerja, para pemilik modal memberlakukan sistem outsourcing dan sistem kontrak. Misalnya, untuk tenaga kebersihan, perusahaan A tidak langsung mempekerjakan pegawai, melainkan memakai jasa perusahaan kebersihan. Perusahaan kebersihan ini yang merekrut pegawai untuk kemudian bekerja di perusahaan A. Para pegawai itu mendapat gaji dari perusahaan kebersihan, bukan dari perusahaan A. Perusahaan kebersihan pun umumnya menggunakan sistem kontrak, per-3 bulan, atau bahkan per bulan, sehingga si pegawai sewaktu-waktu bisa kehilangan pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Sistem ini tak lebih dari perbudakan abad modern.

Bila uraian ini dilanjutkan lagi, saya rasa, saya tak sanggup menahan air mata. Jadi, mari kita kembali kepada pidato Sukarno di depan Konferensi Asia Afrika.  Lima puluh dua tahun yang lalu, Sukarno telah memperingatkan bahwa kekuatan kolonial tidak akan begitu saja melepaskan bangsa jarahannya. Mereka sepakat untuk menarik mundur pasukan bersenjata mereka. Namun, penjajahan puluhan tahun telah berhasil menginternalisasi nilai-nilai penjajahan kepada kaum pribumi. Inilah yang dianalisis Fanon dalam bukunya “Black Skin, White Mask”.  Kolonialisme justru diinternalisasi oleh bangsa terjajah sehingga mereka justru punya mentalitas penjajah, dan bahkan ingin untuk menjadi mirip (menyamai) penjajah.   Mereka silau dan kagum pada penjajah dan memandang apa-apa yang datang dari penjajah (=Barat) adalah sesuatu yang hebat dan benar.

Pada perayaan 17 Agustus di tahun 2012 ini, kita perlu menyadari, bahwa kita sudah merdeka dari penjajahan bersenjata, tapi belum independen. Kita masih bergantung kepada para penjajah, masih mengagumi mereka, dan bahkan masih menjadi budak mereka.  Lalu apa yang harus kita lakukan? Agaknya, kesadaran diri, kebangkitan harga diri, dan kemauan untuk melepaskan diri dari hegemoni pemikiran kaum penjajah adalah kuncinya. Ingatlah kata Sukarno, “Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kolonialisme itu menampilkan dirinya, dia tetaplah sesuatu yang jahat, dan dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini.”

Jumat, 17 Agustus 2012

Suriah dan Kebohongan Media Mainstream
Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.

Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.

Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC.

Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias.

Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah.

Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut.



Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer."

Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci."

Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun.

Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika.

Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar.

Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA  bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO.

TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar.

Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi.

Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa  minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui  ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. 

Rabu, 15 Agustus 2012

Sosok Dibalik Bos Besar SBY dan Demokrat


Hartati Murdaya Poo, Wanita Paling Sakti di Indonesia
Saya pernah ungkap siapa itu Hartati Murdaya Poo. Wanita paling sakti di Indonesia. Majikan SBY & Ani SBY. Pernah juga jadi majikan Megawati. Kenapa Hartati Murdaya disebut sebagai Majikan SBY, Ani SBY atau Megawati? Karena mereka bisa berkuasa jadi presiden karena uang Hartati MP. Sebagai konglomerat, Hartati dan suaminya royal membantu dana politik untuk capres-capres atau partai-partai besar seperti PDIP dan Demokrat.

Akhir 2003, Hartati mendapatkan "petunjuk ilahi" bahwa masa keemasan Megawati akan berakhir. SBY akan jadi penguasa baru. Tanda-tanda alam sudah ada. Hartari yang dulu sangat akrab dengan Megawati, pelan-pelan tarik diri. Mulai jarang main ke istana atau kemanggisan. Dia mulai dekati SBY & Ani SBY. Tapi suami Hartati, Murdaya Poo tetap jaga gawang. Tetap tempel Mega dan Taufik Kemas. Jaga-jaga jika Mega masih terpilih jadi Presiden.
Puncaknya ketika Mega marah besar pada SBY karena SBY menipu Megawati 4 kali tentang niat atau rencana SBY maju dalam pilpres 2004. SBY sebagai menkopolhukam ditanya 4 kali oleh Presiden Mega apakah ada rencana maju dalam pilpres atau tidak. SBY dengan tegas jawab : TIDAK !  Namun ternyata, intelejen dan staf-staf Megawati lapor bahwa SBY terus secara intensif buat persiapan untuk maju nyapres melalui Partai Demokrat. Megawati marah. Tidak mau lagi ajak SBY keliling daerah. Tidak undang SBY dalam rapat-rapat kabinet. SBY dicuekin. SBY pun ngambek dan mengadu ke pers.
Curhat dan keluh kesah SBY atas perlakuan "zalim" Presiden Megawati dimuat berbagai media nasional. SBY mengeluh dicuekin Megawati. Curhat Menkopulhukam SBY itu langsung direspon oleh Bapak Negara Taufik Kemas dengan ejekan SBY : SBY Jenderal Cengeng !! Media muat sebagai headline. Akibat ejekan Taufik Kemas terhadap SBY yang dimuat besar-besaran oleh media massa, popularitas SBY melambung. Meroket. SBY dapat simpati pers & rakyat.
Kemudian SBY undurkan diri sebagai Menkopolhukam kabinet Gotong Royong Megawati. SBY masih terlunta-lunta. Dia dikasih kantor dan modal oleh Hartati. Dengan mundurnya SBY sebagai menkopolhukam, Partai Demokrat yang tadinya hanya diurus oleh Ani SBY dan Subur Budhisantoso pun mulai dilirik SBY. SBY semula tak yakin dan tak percaya debgan partai demokrat. Tidak mau mengurus dengan serius. Ketum PD Prof Subur sering mengeluh minimnya perhatian SBY pada PD. Tapi Ani SBY selalu yakinkan Prof Subur : "wes Prof ga usah mikirin SBY. Ntar SBY urusan saya. Kita bangun aja PD baik-baik. Ntar Bapak juga ikut". 
Saat itu yang banyak bantu pendanaan partai demokrat adalah Hartati & Ventje. Hartati akrab banget dengan SBY & Ani SBY. Kemana-mana selalu bersama-sama. Ketika Hartati berhasil peroleh kredit haram 1.5 triliun dari Bank Mandiri dengan agunan tanah asset negara 33 ha di kemayoran, dia juga bantu PD. Diduga keras sebagian uang haram 1.5 Trilium dari bank mandiri itu masuk ke PD. Hanya 200 M yang digunakan untuk bangun kompleks PRJ. Selain diduga mengalir ke Partai Demokrat, uang haram 1.5 Triliun itu juga digunakan untuk take over 40% saham PT. Metropolitan Kencana.
Jadi, bisa dikatakan, Hartati Mudaya Poo ini adalah pemegang saham mayoritas di Partai Demokrat. Owner PD. Posisinya pun sekarang Dewan Pembina. Ketika SBY berkuasa jadi Presiden RI, Hartati Murdaya adalah Ratu Republik Indonesia. Semua proyek pemerintah & BUMN tak lepas dari tangannya. Pejabat-pejabat tinggi, menteri, dirjen, kepala Lembaga, direksi BUMN dan seterusnya tidak ada yang berani sama Hartati. Melawan? Pecat !
Hartati hanya tidak berkutik jika berhadapan dengan kepala daerah non Demokrat karena tangan kekuasaan SBY tidak sampai kesana seperti Bupati Buol.   Kini Hartati sudah jadi tersangka kasus Suap Buol. KPK akan segera tahan. Buruaaaan !! Ntar HMP kabur dan KPK RI tidak bisa kembangkan kasus lain.  Jika KPK RI kembangkan kasus korupsi HMP, rakyat RI pasti akan geger. Korupsinya dimana-mana sejak 15 tahun terakhir ini. SBY terancam jatuh !  Puluhan bahkan ratusan pejabat tinggi republik ini bakal nyusul jadi tersangka bersama HMP. Ada juga kasus korupsi bea masuk 300 M.   Kasus korupsi bea masuk film Impor 300 M itu sempat heboh di media massa. Terus hilang lenyap karena intervensi HMP. Dirjen BC dipecat !
Jika KPK RI serius mau usut kasus korupsi HMP yang jumlahnya berjibun dan kerugian negara puluhan triliun itu, DPR harus dukung KPK RI.   DPR harus segera cairkan anggaran KPK untuk sewa atau beli gedung baru dan rekrut ratusan penyidik. Indonesia gonjang ganjing, istana gempa ! Saya cukupkan dulu tentang HMP. Tidak boleh terlalu detail. Nanti KPK tidak bisa bekerja dan istana/cikeas mencak-mencak sama saya.
Sepak Terjang Kompol Gatot Subroto & Hubungannya Dengan Keluarga Cikeas
Yang menjadi Bendahara kelompok pengajiannya keluarga SBY adalah Kompol Gatot Subroto yang sekampung dengan SBY di Pacitan, Jatim.  Kompol Gatot Subroto ini awalnya bintara polisi yang ambil Secapa Polri. Hebatnya, Kompol Gatot Subroto menduduki jabatan Kasie Satpas SIM Polda Metro Jaya di Jl. Daan Mogot sejak th 2004-2010.  Bayangkan dia duduki jabatan basah dan empuk selama 6 tahun, melintasi 5 Kapolda Metro Jaya. Kompol Gatot Subrto menjabat Kasie Satpas SIM Polda Metro th 2004 sejak Kapolda-nya Irjen Firman Gani,  Irjen Adang Firman, Irjen Wahyono, Irjen Timur Pradopo dan Irjen Sutarman.
Jarang ada Kasie SIM menjabat selama itu, tak sembarangan orang bisa menjabatnya. Jika tidak ada bekingan orang kuat dan uang banyak, jabatan Kasie SIM hanya sebatas mimpi. Soal kemampuan nomor dua, disini tidak berlaku aturan resmi. Kompol Gatot Subroto ini sering salah tingkah dan memerah wajahnya kalau diledek… “Anda layak dapat penghargaan MURI dan Guiness Book of Record”.
Suatu ketika, Kompol Gatot Subroto pernah menjawab ketika ditanya mengenai ini, katanya: “Begini, saya ini memang ahlinya ilmu perkalian, penambahan dan pembagian, makanya saya dipercaya menduduki jabatan itu cukup lama. Setiap hari Satpas SIM Polda Metro sedikit mengeluarkan 3.000 SIM baru, belum lagi SIM perpanjangan. Sudah menjadi rahasia umum kalau mengurus SIM sendiri itu susahnya minta ampun . Tapi urus melalui biro jasa dijamin lulus, asal mau bayar Rp 500rb (SIM C) dan paling murah Rp 800rb (SIM A). Belum SIM kategori lain, kebayang setoran Biro Jasa ke Satpas SIM…
Yang lebih hebat lagi, begitu Kompol Gatot Subroto selesai menduduki jabatan Kasie Satpas SIM pada th 2010. Diapun langsung menduduki jabatan yang lebih #basah dan empuk di Direktorat Lalulintas Polda Metro. Yaitu menjadi Kasie STNK Polda Metro Jaya hingga sekarang. Anehnya lagi, posisi Kasie STNK yang sebelumnya Pos Kompol, ketika dijabat Gatot kok menjadi AKBP. Why?
Saking hebatnya Kompol Gatot Subroto ini, pada acara perpisahannya sebagai Kasie SIM Polda diadakan pesta yg sangat mewah. Kompol Gatot Subroto yang juga mantan Kasatlantas Bekasi ini pernah menolong “muka” Irjen Pol Djoko Soesilo. Irjen Pol Djoko Soesilo saat itu menjabat sebagai Dirlantas Polda Metro Jaya. Irjen Pol Djoko Soesilo ini dulu sempat tersandung kasus jual beli bantuan khusus nomor cantik Sekretariat Negara. Beberapa tahun lalu marak jual beli dua angka nomor cantik nopol bantuan Sekneg oleh Ditlantas Polda Metro Jaya. Nomor cantik ini sebetulnya TIDAK utk diperjual belikan ke masyarakat umum & hanya diperuntukkan bagi pjbt Negara. Tidak tanggung-tanggung, dua nomor cantik ini harganya cukup fantastis, bisa sampai Rp 100 – Rp 200 juta. Nah uang dari hasil jual beli nomor cantik ini tidak masuk ke kas Negara dan masuk ke kantong pejabat Ditlantas Polda Metro Jaya.
Kompol Gatot Subroto yang dekat dengan Seskab Sudi Silalahi ini berperan dalam menyelamatkan posisi Djoko. Karena jasa besar Kompol Gatot Subroto inilah Irjen Pol Djoko Soesilo menghadiahi Gatot sebagai Kasie SIM. Itulah sekelumit kisah andalan anak kesayangan Irjen Djoko Soesilo karena hubungan #khusus Kompol Gatot dengan Cikeas.

Sumber: @TrioMacan2000Rakyat

Minggu, 05 Agustus 2012

PEMBANTAIAN ATAS NAMA "DEMOKRASI" DI SYRIA


Bandingkan 2 peristiwa berikut yang terekam kamera dan beredar di mesia massa internasional. Yang pertama adalah gambar mayat-mayat pemberontak yang masih mengenakan seragam tempur lengkap dengan peluru melekat di pinggang. Gambar tersebut dirilis oleh pemerintah Syria.

Kemudian gambar berikutnya, video yang baru saja beredar di media-media massa online yang dirilis oleh pemberontak di Aleppo: Sekelompok orang berpakaian sipil diseret ke sebuah tempat lapang di bawah terik matahari. Pakaian mereka berlepotan darah yang masih mengalir dari tubuh mereka setelah menjalani "interogasi". Orang-orang bersenjata (pemberontak) berteriak-teriak di sekeliling mereka, "Allahu Akbar!". Sebagian lainnya berteriak, "Hidup Free Syrian Army!" Di sudut lain sebagian pemberontak mengabadikan peristiwa itu dengan "smartphone" mereka. Selanjutnya para tawanan itu dihadapkan pada tembok, dan tidak lama kemudian seorang eksekutor menembak kepala orang-orang itu dari jarak dekat.
Ada perbedaan mencolok antara kedua rekaman video tersebut di atas. Yang pertama adalah tentara Syria membunuh pemberontak bersenjata dalam pertempuran sengit. Sedang yang kedua pemberontak membunuhi warga sipil tak bersenjata. Meski pemberontak mengklaim mereka adalah anggota milisi pendukung pemerintah, tuduhan itu tentu saja tidak bisa diverifikasi. Lagipula banyak kasus dimana pemberontak membunuhi warga sipil hanya karena mereka menolak membantu pemberontak, atau sekedar untuk menakut-nakuti warga untuk tidak berani melawan perintah mereka. Di kantong-kantong pertahanan pemberontak yang terkepung, pemberontak biasa menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup. Dalam kasus-kasus lainnya pemberontak menculik warga demi mendapat imbalan makanan dan uang dari keluarga korbannya, namun mengembalikan mereka sudah dalam keadaan meninggal meski keluarganya sudah memberikan apa yang mereka tuntut. Motivasi lainnya dengan pembunuhan-pembunuhan itu adalah menakut-nakuti warga sehingga mereka lari dari kampung halamannya untuk menjadi pengungsi di negara lain sehingga tuduhan bahwa "pemerintah telah menindas rakyat sendiri", terlegitimasi. Untuk menambah ketakutan, pembunuhan itu terkadang dilakukan dengan cara-cara di luar bayangan: mutilasi, membedah perut wanita hamil dan mengeluarkan janinnya.

Inilah orang-orang yang oleh media-media massa barat awalnya disebut sebagai "demonstran tak bersenjata". Kemudian setelah terdapat terlalu banyak "demonstran tak bersenjata" yang memegang senjata, mereka disebut sebagai "aktifis bersenjata" dan "pejuang demokrasi melawan pemerintah yang represif". Mereka adalah orang-orang yang dilatih, diberi gaji dan senjata oleh negara-negara barat, Turki dan beberapa negara Arab.

Korban dalam video ekskusi pemberontak di atas adalah keluarga atau suku Al Berri, salah satu keluarga besar di Aleppo. Pemuka mereka yang turut dieksekusi bernama Hassan Berri Bin Zino.

Pada akhir bulan Mei lalu, lebih dari 100 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, dibantai secara keji. Anak-anak diberondong senapan dan digorok lehernya saat tengah tidur. Awalnya media massa menuduh pembantaian itu dilakukan oleh pasukan pemerintah dan milisi pendukungnya. Sebagian besar masyarakat awam di seluruh dunia percaya, dengan tuduhan itu, meski bagi yang mampu berfikir kritis sedikit saja akan mempertanyakan tuduhan itu. Bagaimana mungkin pemerintah yang terancam mendapat serangan intervensi asing melakukan aksi yang justru mengundang intervensi itu?

Namun kemudian kebenaran terkuak, pembantaian itu dilakukan oleh para pemberontak, dan korbannya sebagian besar adalah masyarakat sipil yang tidak mendukung pemberontak. Namun akan-anak kecil yang tidak mengerti apapun itu, dibantai juga.

Bulan lalu media-media massa ramai memberitakan tentang pembantaian di desa Tremseh. Kembali media massa dan para pejabat barat menuduh pemerintah Syria sebagai pelakunya. Namun kemudian terbukti bahwa para korban "pembantaian" adalah pemberontak bersenjata yang tewas melaui pertempuran sengit melawan pasukan pemerintah. Para pemberontak itu sebelumnya meneror warga Tremseh, yang kemudian meminta bantuan pada pasukan pemerintah terdekat.

Kini setelah kekejaman-kekejaman itu begitu gamblang dilakukan oleh pemberontak, media dan pemerintah negara-negara barat berusaha "cuci tangan" dengan mengklaim bahwa hanya sebagian kecil dari pemberontak yang merupakan teroris Al Qaida. Namun video pembantaian di Aleppo tersebut di atas membuktikan bahwa tidak ada yang bisa membedakan antara Al Qaida dengan para "pejuang demokrasi".

Berbagai tindak kekejian tersebut di atas merupakan refleksi dari tindakan orang-orang yahudi kala mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya dahulu. Cara-cara seperti itu pulal-ah yang dilakukan orang-orang arab badui munafik kala membantai keluarga Rosulullah di Karbala dahulu kala. Dan kini, kedua golongan itu bersekutu membantai rakyat Syria. Namun Allah tidak pernah diam.



Ref:
"Cold-blood massacres in Syria exemplifies West’s ‘Pro-Democracy Movement’"; Finian Cunningham; Press TV; 2 Agustus 2012


TENTARA SYRIA REBUT MARKAS PEMBERONTAK DI ALEPPO

Tentara Syria, hari Rabu (1/8), menyerbu dan berhasil merebut markas komando pemberontak yang terletak di distrik Salahuddin, Utara Aleppo, yang selama ini menjadi jantung pertahanan pemberontakan di kota terbesar di Syria ini.

Menurut laporan resmi pemerintah Syria, tentara berhasil merebut komplek sekolah yang selama ini dijadikan sebagai markas komando pemberontak dan menewaskan tidak kurang dari 150 pemberontak. Koresponden media Iran, "Press TV" melaporkan bahwa situasi di Aleppo kini mulai tenang menyusul direbutnya markas komando tersebut di atas. Namun pertempuran masih terjadi di pinggiran kota.

Sementara itu klaim media-media dan pejabat barat tentang penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh tentara pemerintah Syria terhadap pemberontak, terbantahkan sudah. Menurut jubir tim pengawas PBB di Syria, Sausan Ghosheh, pemberontak juga memiliki persenjataan berat yang membuat tentara pemerintah berhak menggunakan persenjataan beratnya. Menurut Ghosheh pemberontak memiliki tank-tank dan rudal jinjing. Pemberontak telah beroperasi di Aleppo sejak tgl 20 Juli, setelah mereka terdesak dan lari dari pertempuran di Damaskus.

Di sisi lain beredar video yang beredar di media-media online yang menggambarkan pemberontak mengeksekusi para pendukung pemerintah yang tertangkap, melanggar konvensi perang Genewa yang melindungi tawanan perang dan masyarakat sipil. Pemerintah Syria menuduh pemberontak telah melakukan "kejahatan-kejahatan yang mengerikan" terhadap rakyat sipil di Aleppo dan Damaskus.

Dalam 2 suratnya yang dikirim kepada DK PBB dan Sekjen PBB, menlu Syria Walid al-Muallem mengatakan, Selasa (31/7), bahwa pemberontak yang didukung dan dibiayai oleh Saudi, Qatar dan Turki, telah menggunakan rakyat sipil sebagai tameng hidup dan membunuhi rakyat sipil yang tidak mendukung mereka.



MAYAT PEMBERONTAK SENGAJA DIBAKAR

"Satu hari kami menerima 30, hari lainnya 40 orang terluka, tidak termasuk mayat. Beberapa hari lalu kami menerima 30 orang terluka dan sekitar 20 mayat, namun setengah dari mayat itu tidak bisa dikenali karena sudah hancur," kata seorang paramedis sebuah klinik yang berada di kawasan yang dikuasai pemberontak di Aleppo sebagaimana dikutip kantor berita "Reuters", tgl 30 Juli lalu.

Pernyataan paramedis tersebut seolah mengkonfirmasi berita-berita tentang mayat-mayat pemberontak yang sengaja dibakar sendiri oleh rekan-rekannya dalam upaya menyembunyikan identitas mereka mengingat sebagian besar dari mereka berkebangsaan asing.

Dari waktu ke waktu keberadaan pemberontak yang sebagian besar adalah orang asing, semakin jelas saja. Dari pengakuan fotografer Belanda Jeroen Oerlemans, yang pernah ditahan para pemberontak yang menyebut mereka "tidak satupun yang merupakan orang Syria", serta keberadaan Brigade Ummah, satuan pemberontak Libya binaan NATO, di medan perang Syria.

Tentu saja hal ini tidak "mengenakkan" negara-negara yang terlibat dalam konspirasi anti-Syria. Klaim mereka bahwa pemerintah Syria memerangi rakyatnya sendiri terbantahkan dengan keberadaan orang-orang asing itu. Maka untuk mengatasi terbongkarnya identitas kewarganegaraan pemberontak, diduga kuat para pemberontak sengaja membakar mayat rekan-rekannya beserta seluruh identitas yang melekat padanya. Media yang melaporkan modus "mengerikan namun menarik" itu di antaranya adalah "Press TV" Iran.

Namun demikian media-media barat pura-pura tidak mengetahui praktik keji tersebut. Alih-alih media-media barat lebih suka memberitakan pembelotan seorang diplomat Syria di Inggris, Khaled al-Ayoubi. Dengan ancaman, sogokan sekoper uang, dan janji menjadikannya pejabat tinggi setelah presiden Syria berhasil disingkirkan, tentu saja banyak orang-orang lemah  yang bersedia melakukan pengkhianatan seperti Ayoubi dan banyak pejabat Syria lainnya yang terlalu lama hidup nyaman di luar negeri. Namun masih banyak pejabat dan perwira militer Syria yang loyal dan siap mempertahankan negaranya hingga titik darah penghabisan sebagaimana mereka bertempur di Damaskus, Homs dan kini di Aleppo.



Sumber:
thetruthseeker.co.uk; 30 Juli 2012

Press TV, 2 Agustus 2012

"Aleppo rebels under fire, Syrian fighter jet flies over"; Erika Solomon;  Reuters; 30 Jul 2012


Syria, Medan Kekalahan Besar Israel/Amerika Selanjutnya

Syria bakal menjadi ladang kekalahan besar Israel/Amerika dan sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah menyusul kekalahan mereka di Gaza (2009) dan Lebanon (2006). Demikian pernyataan seorang pejabat tinggi militer Iran.

Dalam wawancaranya dengan televisi Iran "Al Alam", Senin (30/7), Wakil Panglima AU Iran Brigjen Massoud Jazayeri mengatakan bahwa peperangan yang tengah terjadi di Syria merupakan proyek lanjutan dari Perang 22 Hari Gaza tahun 2008-2009 dan Perang 33 Hari Lebanon tahun 2006 dimana Israel/Amerika berupaya mendapatkan pijakan strategis yang lebih kukuh di kawasan Timur Tengah. Namun dalam 2 peperangan tersebut Israel/Amerika mengalami kekalahan telak. Dan Israel/Amerika bakal mengalami kekalahan yang lebih besar di Syria.

"Sebuah front besar yang dipimpin Amerika dan zionisme global, sekali lagi berusaha menjerumuskan kawasan ini sebagai medan perang demi meraih tujuan jangka panjang mereka," kata Jazayeri.


Dalam Perang 22 Hari Gaza akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009 dunia menyaksikan HAMAS dan Jihad Islam yang didukung Iran, Hizbollah dan Syria berhasil memukul mundur pasukan Israel meski untuk itu harus ditebus dengan tewasnya 1.400 warga Palestina di Gaza, 300 di antaranya anak-anak.

Adapun dalam Perang 33 Hari di Lebanon tahun 2006, Hizbollah dan kelompok-kelompok perlawanan anti-Israel di Lebanon berhasil memukul mundur Israel dari Lebanon dengan menimbulkan korban besar di pihak militer Israel.

Dalam perspektif Syria saat ini, Jazayeri melihat sekutu-sekutu Israel yaitu Amerika bersama-sama Uni Eropa dan beberapa negara Arab menggalang kekuatan untuk menumbangkan pemerintahan Syria untuk digantikan dengan pemerintahan yang pro Israel/Amerika, namun pemerintah, rakyat dan tentara Syria sejauh ini "mampu mengendalikan keadaan".

"Ada kesungguhan pada pemerintah Syria untuk melancarkan serangan penuh terhadap musuh, karena tidak ada cara lain kecuali mengusir para teroris, musuh dan agresor dari bumi Syria," kata Jazayeri.

Ia menambahkan bahwa pemerintah Syria memiliki teman-teman tidak hanya di dalam kawasan, namun juga luar kawasan. Namun sejauh ini teman-teman Syria masih yakin bahwa pemerintah Syria bisa mengatasi keadaan sendiri.

"Sejauh ini belum ada urgensi bagi teman-teman dan sekutu Syria untuk masuk ke kancah pertempuran dengan kekuatan penuh, dan perkiraan kami hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat," tambahnya.

Ia juga membantah rumor tentang keberadaan tentara reguler Iran di Syria yang membantu pemerintah. Menurutnya dukungan Iran kepada pemerintah Syria sejauh ini masih dalam batas dukungan "spiritual" dan "ekonomi". Namun dukungan itu bisa berubah tergantung pada situasi di lapangan.

"Dukungan kami sangat tergantung pada kondisi di lapangan. Tanpa harus mengatakan, kami akan menjawab ancaman dengan ancaman pula," kata Jazayeri.

Mengenai paluang Iran terlibat langsung dalam konflik di Syria, Jazayeri mengatakan, "Kami sangat sensitif terhadap sekutu-sekutu kami dan gerakan perlawanan di kawasan ini, dan tidak akan membiarkan musuh untuk menang."



TENTARA SYRIA LAKUKAN PEMBERSIHAN DI ALEPPO

Setelah kekalahan telak di Damaskus dan Homs, kekuatan pemberontak kini terkonsentrasi di Aleppo, kota kuno sekaligus kota terpenting di Syria setelah Damaskus, yang menjadi penghubung urat nadi perdagangan Syria dengan Turki. Meski gagal merebut seluruh distrik di Aleppo setelah menarik diri dari Damaskus, pemberontak telah membangun kantong-kantong pertahanan di beberapa distrik di kota Aleppo. Kini pasukan Syria memusatkan perhatiannya pada kota ini.

Menurut pernyataan resmi pemerintah Syria Senin kemarin (30/7), tentara Syria telah berhasil membersihkan sebagian besar distrik di Aleppo dari pasukan pemberontak. Pada hari Minggu (29/7) pasukan Syria berhasil membersihkan kawasan Salahuddin dan Hamdaniya yang terletak di barat laut Aleppo. Saat ini pertempuran masih terjadi di selatan distrik Sokari dan pusat kawasan Bab al-Hadid.

Tentara Syria memulai operasi pembersihan pada hari Sabtu (28/7) di daerah pinggiran barat daya Aleppo. Pada hari Minggu tentara menggagalkan penyusupan besar-besaran pemberontak dari perbatasan Turki.

Menghadapi senjata-senjata berat tentara Syria serta tanpa dukungan rakyat Syria, para pemberontak hampir tidak mempunyai harapan untuk selamat dari pembersihan. Menlu Syria Walid al-Muallem dalam konperensi pers bersama dengan Menlu Iran Ali Akbar Salehi di Tehran, Minggu (29/7) mengatakan, "Kami yakin seluruh kekuatan pemberontak kini telah terkumpul di Aleppo dan mereka pasti akan dikalahkan."



MENHAN AMERIKA PANIK

Kekalahan demi kekalahan serta kondisi kritis yang kini dialami pemberontak di Syria membuat menhan Amerika Leon Panetta, panik. Pada hari Minggu (29/7) Panetta membuat pernyataan keras yang menggambarkan kepanikan.

"Jika mereka terus melakukan serangan brutal terhadap rakyatnya sendiri di Aleppo, menurut saya hanya akan membuat Assad berakhir di peti mati," kata Panetta kepada para wartawan.

"Apa yang telah dan sedang dilakukan Assad terhadap rakyatnya membuat jelas bahwa pemerintahannya akan segera berakhir. Ia telah kehilangan semua legitimasinya," tambahnya.



KAPAL-KAPAL PERANG CINA MENUJU SYRIA?

Sementara itu pada hari Minggu kemarin kalangan inteligen dan analis internasional dikejutkan dengan berita tentang kedatangan 4 kapal perang Cina melintasi Terusan Suez ke arah Laut Mediterania. Meski belum ada konfirmasi resmi, para analis yakin kapal-kapal tersebut bergerak menuju Syria untuk bergabung dengan angkatan laut Rusia yang sudah berada di sana, sebagai peringatan kepada barat untuk tidak melakukan intervensi terhadap Syria.

Laporan tersebut juga menambah kuat desas-desus yang sempat beredar bulan lalu mengenai latihan militer besar-besaran yang akan digelar bersama oleh Rusia, Cina, Syria dan Iran, meski tidak ada pernyataan resmi dari negara-negara tersebut.

Kedatangan kapal-kapal tersebut terjadi saat pertempuran di Syria memasuki tahap penentuan dimana para pemberontak kini terjepit di Aleppo setelah mengalami kehancuran dalam pertempuran di Damaskus, Homs dan kota-kota lainnya.

Cina dan Rusia yang keduanya adalah sekutu Syria telah 3 kali menveto Resolusi PBB yang bisa menjadi jalan bagi dilakukannya intervensi militer barat atas Syria. Cina, sebagaimana Rusia menolak dengan tegas setiap upaya penggulingan pemerintahan Syria secara inkonstitusional dan menyerukan dunia internasional untuk tidak melibatkan diri dalam urusan domestik Syria.



Ref:
"Syria, imminent site of third US heavy defeat in region: Iran Cmdr"; Press TV; 30 Juli 2012

"Syrian army clears two Aleppo districts of armed gangs"; almanar.com.lb; 30 Juli 2012

"US rages at Syria forces success against rebels in Aleppo"; Press TV; 30 Juli 2012

"Chinese Warship Crosses Suez, Possibly Bound for Syria"; antiwar.com; 29 Juli 2012