Jumat, 15 Juni 2012

ECONOMIC HIT MAN



Suatu hari di tahun 1990-an, aku tengah melihat nilai ujian mata kuliah Ekonomi Indonesia yang diajar oleh Dr Boediono (mantan Kepala Bappenas, Menkeu, Menko Ekuin, kini menjabat Gubernur BI). Aku sangat optimis bahwa nilai ujian aku tidak mengecewakan karena aku bisa menjawab pertanyaan dengan baik dengan disertai data-data dan analisa yang cukup. Namun aku terkejut dan kecewa karena nilai yang aku dapatkan tidak seperti harapan. Aku hanya dapat nilai C, sementara rata-rata temanku mendapat nilai B.
Dengan tertunduk aku berjalan pulang. Di tengah jalan aku bertemu temanku, Gunawan, yang “cengar-cengir” melihat ke arahku. Dan sebelum aku mengatakan apa yang ada di pikiranku, ia sudah berkata: “Kan sudah saya ingatkan, jangan gunakan buku Sritua Arief (seorang pemikir ekonomi sosialis dari Universitas Nommensen Medan) sebagai referensi,” katanya.
Aku heran sekaligus penasaran dengan perkataan Gunawan, dan sebelum aku mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan ia langsung memberikan penjelasan. Menurutnya nilai mengecewakan yang aku dapatkan disebabkan pandangan yang berbeda secara ekstrim antara Dr Budiono dan Dr Sritua Arief. Menurutnya Dr Budiono adalah agen kapitalis yang mendukung prinsip persaingan bebas tanpa campur tangan pemerintah, sementara Dr Sritua Arief adalah seorang idealis yang cenderung pada paham sosialis yang menginginkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian demi kepentingan rakyatnya. Sebagai salah satu dalilnya Gunawan menyebutkan track record pendidikan Dr Budiono yang di antaranya adalah di Wharton School, sebuah sekolah bisnis elit di Amerika.
Seiring berjalannya waktu, pandanganku semakin terbuka tentang peranan agen-agen kapitalis yang bekerja untuk para pemilik modal dari luar-negeri dengan bekerja sebagai teknokrat seperti Dr Boediono atau anggota Mafia Barkeley yang mengendalikan perekonomian Indonesia setelah Soeharto berkuasa. Dan kesadaran tersebut semakin tebal setelah munculnya buku Confessions of an Economic Hit Man yang ditulis John Perkins. Buku yang sebenarnya sudah terbit tahun 2004 namun baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia tahun 2005 itu semakin menanamkan kesadaran aku bahwa selama ini kita telah ditipu mentah-mentah oleh para kapitalis asing dan kroni-kroninya dan telah dikondisikan sedemikian rupa untuk tidak bisa melawan.
Tulisan berikut ini adalah rangkuman dari wawancara John Perkins dengan Amy Goodman yang dimuat dalam situs internet Democracy Now, Selasa 9 November 2004. John Perkins mendefinisikan dirinya sebagai bekas "economic hit man", yaitu profesional bergaji tinggi yang kerjanya menipu negara-negara miskin di seluruh dunia hingga triliunan dolar dengan memberikan pinjaman yang tidak mungkin terlunasi kemudian memerasnya sebagai kompensasi ketidakmampuan membayar. 20 tahun sebelum menulis buku Confession of an Economic Hit Man (pengakuan seorang economic hit man), ia telah mencoba menulis buku tersebut dengan judul yang mirip, "Conscience of an Economic Hit Man" atau kesadaran seorang economic hit man. Buku tersebut didekasikan untuk dua orang klient yang ia hormati: Jaime Roldos, Presiden Ecuador, dan Omar Torrijos, Presiden Panama. Keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan yang menurut Perkins, direkayasa oleh dinas rahasia Amerika, CIA, karena menolak tunduk pada para kapitalis Amerika yang ingin menguasai dunia.
"Kami, economic hit man, gagal mengamankan Roldos dan Torrijos, maka tipe lain dari hit man, yaitu agen-agen pembunuh CIA yang selalu berada di belakang kami, beraksi," kata Perkins.
Perkins menambahkan dirinya telah dibujuk untuk menghentikan penulisan buku tersebut, dengan suap wanita dan harta, serta ancaman, dan ia terbujuk. Namun beberapa kejadian di dunia membuatnya mulai dan mulai lagi untuk menulis. Kejadian-kejadian itu adalah invasi Amerika ke Panama tahun 1980, Perang Teluk I tahun 1990, ekspedisi Amerika di Somalia tahun 1994, dan kemunculan Osama bin Laden paska tragedi WTC 2001. Namun karena ancaman dan suap yang semakin intens, ia berhenti menulis. Sampai akhirnya, setelah kesadaran untuk mengungkapkan kebenaran tidak lagi bisa dicegah, ia menerbitkan bukunya itu dengan judul "Confessions of an Economic Hit Man".
Perkins direkrut oleh dinas rahasia Amerika, National Security Agency (NSA) saat masih kuliah bisnis tahun 60-an. Namun meski resminya bekerja untuk dinas rahasia negara, sebenarnya ia bekerja untuk perusahaan swasta. Dari tahun 1971 sampai 1981, sebagai agen NSA ia bekerja untuk perusahaan konsultan internasional Chas T. Main yang berbasis di Boston, dengan missi utama membangun kerajaan Amerika dengan membuat situasi dimana sebanyak mungkin kekayaan luar negeri masuk ke negara dan perusahaan-perusahaan dan pemerintah Amerika. Menurutnya missi tersebut berhasil gemilang. Hanya dalam waktu 50 tahun sejak PD II dengan tanpa banyak mengeluarkan senjata (kecuali kasus tertentu seperti di Irak) mereka berhasil membawa Amerika membangun kekuasaan yang tak tertandingi sepanjang sejarah. Kekuasaan tersebut, berbeda dengan kekuasaan-kekuasaan lainnya di masa lalu, diperoleh dengan manipulasi ekonomi, penipuan, pelanggaran hukum, maupun rayuan untuk meniru gaya hidup .
Metode economic hit man dimulai 1950, saat Kermit Roosevelt, cucu mantan presiden Teddy Roosevelt, berhasil menggulingkan Mossadegh, Perdana Menteri Iran yang memerintah Iran melalui pemilu demokratis. Mossadegh harus digulingkan karena berani menabuh genderang perang terhadap para kapitalis barat dengan menasionalisasi perusahan minyak milik Amerika dan Inggris. Penggulingan berhasil tanpa harus melalui kudeta berdarah, cukup mengeluarkan dana beberapa juta dolar untuk membayar jendral-jendral, komprador-komprador dan politikus oportunis yang diketuai oleh Shah Iran. Masalahnya adalah Kermit adalah agen CIA, pegawai pemerintah Amerika. Jika terbongkar kedoknya, Amerika bakal kesulitan, sangat memalukan. Maka diputuskan, dinas-dinas rahasia seperti NSA dan CIA digunakan untuk merekrut profesional potensial seperti Perkins dan mengirimkannya sebagai tenaga ahli di perusahaan konsultan atau perusahaan konstruksi. Bila terbongkar, pemerintah Amerika tidak bisa dipersalahkan begitu saja. 
Mengenai aktivitasnya sebagai econoic hit man ia menjelaskan, selaku konsultan dirinya lebih banyak bekerja sebagai makelar proyek dan tukang lobi yang menawarkan pinjaman kepada pemerintah negara-negara miskin dengan dana yang disediakan oleh World Bank, IMF, atau bank-bank komersial Amerika dan Eropa. Pinjaman yang diberikan sangat besar nilainya, katakanlah beberapa miliar dolar, atau setara beberapa puluh triliun rupiah. Dari nilai pinjaman itu 90% di antaranya secara efektif balik lagi ke Amerika melalui jasa konsultan dan perusahaan-perusahaan kontraktor Amerika yang mengerjakan proyek-proyek yang dibiayai dana pinjaman tersebut, seperti Halliburton atau Bechtel Corp. Untuk memuluskan aksinya perusahaan-perusahaan tersebut menarik kerjasama dengan segelintir penguasa lokal dan perusahaan-perusahaan milik keluarga mereka. Sedangkan sebagian besar penduduk lainnya harus menanggung beban hutang yang menumpuk disertai bunganya yang mencekik.
Negara seperti Ecuador harus mengeluarkan lebih dari separoh anggaran negaranya hanya untuk membayar hutang. Sedangkan Indonesia harus mengeluarkan sekitar Rp 100 triliun setahun hanya untuk membayar pokok hutang dan bunganya, jauh lebih tinggi dari anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan. Dengan hutang yang menumpuk itu negara-negara pengutang relatif telah menjadi negara jajahan. 
“Jika kami membutuhkan minyak, kami akan datang ke pemerintah Ekuador dan mengatakan: Lihat kalian belum bisa melunasi hutang kalian, jadi biarkan perusahaan-perusahaan minyak kami mengambil minyak yang ada di hutan Amazon. Dan saat ini kami sedang menjarah hutan Amazon,” kata Perkins.
Adapun mengenai alasannya menulis buku tersebut, Perkins mengatakan, “Karena negara ini (Amerika) harus sadar. Rakyat negeri ini harus tahu bagaimana kebijakan luar negeri dijalankan, bagaimana bantuan luar negeri yang sebenarnya, bagaimana perusahaan-perusahaan bekerja, kemana saja pajak yang dibayarkan rakyat mengalir. Aku tahu kita akan menuntut perubahan.” 
Selain kasus-kasus tersebut di atas, Perkins juga mengungkap kasus-kasus menarik lainnya, seperti hubungan keluarga kerajaan Saudi dengan penguasa Amerika, serta faktor yang mendasari penyerbuan Amerika ke Irak.
Menyusul krisis energi akibat embargo minyak oleh OPEC tahun 1974 yang disulut oleh perang Yom Kippur antara Arab melawan Israel, Amerika Serikat bertekad untuk mencegah hal ini terulang karena bisa menghancurkan ekonomi Amerika. Oleh karena itu Departemen Keuangan mengirimkannya ke Saudi Arabia sebagai tulang punggung OPEC, untuk membujuk keluarga kerajaan Saudi. Dan hasilnya adalah kesepakatan: Arab Saudi akan menginvestasikan uangnya ke Amerika, Amerika melalui perusahaan-perusahaan konstruksinya membangun infrastruktur Arab Saudi dari hasil investasi yang diperoleh. Kesepatan lainnya adalah Amerika menjamin kelangsungan kekuasaan keluarga kerajaan Saudi. Namun yang paling penting bagi Amerika adalah bahwa Saudi menjamin pasokan minyak ke Amerka.
Jadi kalau sekarang kita lihat Arab Saudi menjadi lunak terhadap Israel dan Amerika, termasuk mengijinkan pasukan Amerika bercokol di tanah haram, itu tidak lain karena keberhasilan kerja para economic hit man.
Adapun yang terjadi di Irak berbeda dengan Saudi. Saddam Hussein yang diharapkan bisa menjadi boneka Amerika dengan imbalan yang sama, menolak. Amerika sudah memutuskan untuk menghabisi Saddam dengan menggunakan agen-agen rahasianya. Namun Saddam tidak kalah cerdik, ia memerintahkan semua pengawal pribadinya berdandan dan berpenampilan persis seperti dirinya sehingga usaha CIA mendekatinya gagal. Maka diluncurkanlah senjata terakhir, yaitu ribuan muda-mudi Amerika yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang kini harus berkubang dalam pertempuran yang mematikan di Irak.
Adapun mengenai kematian Presiden Panama Omar Torrijos, Perkins menjelaskan: Pada saat Amerika diperintah oleh Presiden Jimmy Carter di tahun 70-an, Panama dan Amerika menandatangani Perjanjian Kanal (Canal Treaty) dimana Amerika akan menyerahkan pengelolaan Terusan Panama kepada pemerintah Amerika dengan imbalan tertentu. Namun kemudian Torrijos yang melihat kerugian dalam perjanjian itu mengadakan perundingan diam-diam dengan Jepang untuk membangun kanal permukaan laut (sea-level canal). Hal ini mengecewakan Bechtel Corporation yang sudah digadang-gadang bakal memenangkan tender. Presdir Bechtel saat itu adalah George Schultz dan wakilnya Casper Weinberger. Saat Ronald Reagan menjadi presiden Amerika, ia merekrut Schultz sebagai Menlu dan Weinberger sebagai Menhan. Selanjutnya mereka berdua menekan Torrijos untuk melanjutkan negosiasi Amerika-Panama dan menghentikan negosiasi dengan Jepang, namun Torrijos menolak. Maka CIA pun beraksi dan meninggallah Torrijos dalam kecelakaan pesawat yang dipicu oleh ledakan bom yang dipasang dalam tape recorder.
“Hampir semua kalangan inteligen Amerika Latin tahu penyebab kecelakaan itu. Namun tentu saja kita tidak pernah mendengar hal itu di sini (Amerika),” kata Perkins.

DEMOKRASI MILIK SIAPA?





Ketika para pendiri negara Amerika memproklamirkan kemerdekaan bangsa Amerika Serikat tahun 1774, mereka sama sekali tidak pernah membayangkan negaranya akan dibentuk sebagai negara republik seperti sekarang, dimana semua rakyat berhak menentukan pemimpinnya melalui pemilu yang diadakan secara reguler; kekuasaan dibagi-bagi antara eksekutif, legislatif, yudikatif; dan dan penguasa dibatasi masa kekuasaan¬nya. Dalam pikiran mereka sebenarnya adalah Amerika akan dibentuk sebagai sebuah negara kerajaan sebagaimana umumnya negara-negara lainnya di dunia saat itu. Permalahannya adalah siapa yang akan dijadikan sebagai raja. Untuk itulah para pendiri Amerika kemudian berupaya mencari calon raja yang tepat. 
Pemimpin kemerdekaan George Washington pada awalnya ditawari menjadi raja, namun menolak karena merasa tidak pantas mengingat ia bukan bangsawan tinggi. Para pendiri Amerika kemudian mengalihkan pandangannya kepada Charles III Edward Stuart, mantan raja Inggris yang tersingkir dari perebutan kekuasaan di negerinya dan tengah menjalani kehidupan dalam pengasingan di Florence, Italia. Ia pun menolak karena menganggap Amerika negara barbar yang tidak setara dengan negara-negara Eropa saat itu. 
Akhirnya, setelah tidak ada lagi calon raja Amerika yang tepat, para pendiri Amerika memutuskan membentuk negara sendiri yang berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya saat itu.
Acuan mereka satu-satunya tentang negara republik adalah negara Romawi (berdiri abad 7 SM). Namun sebenarnya Romawi sendiri sebenarnya bukan sebuah contoh negara republik yang baik. Keputusan rakyat Romawi mengganti sistem kerajaan menjadi republik (abad 3 SM) dimana rakyat memilih sendiri pemimpinnya hanya menimbulkan berbagai pertikaian yang terus menerus hingga akhirnya muncul Julius Caesar, seorang penguasa diktator yang menobatkan dirinya menjadi kaisar sekaligus mengakhiri sistem republik (abad 1 SM). Selama keberlangsungan Romawi yang mencapai usia 2000 tahun (runtuh pada abad 15 masehi karena penyerbuan bangsa Turki), sistem republik hanya bertahan dua abad saja.
Hal berbeda terjadi saat pemimpin kita mendirikan negara Indonesia. Tidak ada keraguan sedikitpun di antara pemimpin kita untuk membentuk negara republik. Hal ini tidak lain karena sistem negara seperti itulah yang sedang ngetrend saat itu. Lagipula para pendiri bangsa Indonesia yang berpendidikan barat tentu saja tidak memiliki wawasan lain yang lebih jelas selain demokrasi barat.
Saat ini sistem negara kerajaan yang menjadi sistem sosial yang dianut oleh manusia hampir sepanjang sejarah telah menjadi sesuatu yang langka, ditinggalkan karena dianggap kuno dan terbelakang. Selama empat ratus tahun terakhir kita menyaksikan sebuah revolusi sosial yang tidak tertandingi dalam sejarah manusia. Dan layaknya sebuah revolusi, kita telah menyaksikan berbagai peristiwa tragis selama lima ratus tahun terakhir. Di Inggris terjadi pemberontakan parlemen dan hukuman mati terhadap raja Charles II. Di Perancis terjadi revolusi menggulingkan raja Louis XVI. Di Rusia terjadi revolusi menggulingkan Tsar Nicholas II. Pendek kata di seluruh permukaan bumi terjadi perubahan sosial besar-besaran yang berujung pada penumbangan kekuasaan raja-raja, bangsawan dan pendeta menjadi suatu tata dunia baru yang dinamakan demokrasi dimana kekuasaan berada di tangan rakyat. Raja terakhir yang terguling adalah raja Nepal belum lama ini.
Perlu dicatat setidaknya ada beberapa peristiwa besar lain yang mengakselerasi revolusi global tersebut, diantaranya Gerakan Reformasi yang memecah umat Kristiani menjadi Protestan dan Katholik, Perang Krim, Perang Dunia I, Depresi Besar, dan Perang II. Setelah itu semua hampir tidak ada lagi negara-negara kerajaan yang kuat dunia sementara negara kependetaan Vatikan hanya menjadi sebuah negara simbolis. Umat Islam pun mengalami akibat yang sama dalam bentuk runtuhnya kekhilafahan Turki dan berdirinya negara-negara nasionalis Islam yang terpecah-pecah.
Mengingat tidak ada revolusi tanpa penggeraknya maka timbul pertanyaan, siapa penggerak revolusi itu? Para tokoh intelektualkah seperti Immanuel Kant, JJ Rosseau, dan Montesque yang tulisan-tulisan mereka dianggap menjadi pelopor ide–ide tentang demokrasi modern? Tentu tidak karena hanya dengan tulisan-tulisan mereka tidak akan mampu menggerakkan seratus orang untuk berdemonstrasi di jalan-jalan. Para senimankah seperti Michael Angelo, Leonardo da Vinci dan Bottichelli? Mereka pun setali tiga uang. Para jendralkah seperti Cromwell, Napoleon dan Bismarck? Mereka pun tidak akan mampu mengumpulkan seribu tentara untuk berperang terus-menerus selama sebulan saja.
Aku tidak ingin menebak-nebak figur-figur di balik revolusi dunia tersebut. Aku hanya bisa sedikit menganalisa bahwa figur-figur itu adalah orang-orang yang mempunyai kekayaan luar biasa besar sehingga bisa mempublikasikan secara massal karya-karya para filsuf dan intelektual yang mampu menggelorakan pikiran rakyat dan menggerakkan ribuan rakyat untuk menentang pemimpin-pemimpin mereka sendiri, membiayai petualangan jendral Cromwel dan Napoleon, membiayai Revolusi Bolshevik Rusia, serta memborong dan menjual saham-saham hingga menimbulkan kepanikan pasar pemicu peristiwa Depresi Besar.
Kita tentu sadar bahwa selama ini pikiran kita telah dimonopoli oleh beberapa “kebenaran” yang sudah diterima umum selama berpuluh tahun seperti demokrasi, liberalisme, sekularisme, persaingan bebas, dan sebagainya. Namun meskipun selama ratusan tahun “nilai-nilai ideal” tersebut diterapkan oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia, keadaan dunia jauh dari kondisi ideal: peperangan, kerusuhan, penindasan, kemiskinan, ketidak adilan dan kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana. 
Hal ini pun sangat dirasakan oleh rakyat Indonesia beberapa tahun terakhir, justru sejak gerakan reformasi berhasil menumbangkan kekuasaan tiran rejim Orde Baru. Sejak reformasi Indonesia dipuji-puji sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Namun kondisi riel rakyat justru semakin sengsara. Pertikaian dan kerusuhan terjadi di mana-mana karena pilkada. BBM dan sembako semakin langka dan harganya terus membumbung naik. Aset-aset nasional semakin banyak dikuasai orang asing. Fenomena gizi buruk semakin banyak terjadi dimana-mana.
Program-program hebat jaman Orde Baru seperti intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, transmigrasi, pembangunan infrastuktur dan pengembangan industri pun kini hanya impian kosong belaka karena pemerintah terlalu sibuk mengurusi berbagai kerusuhan, distribusi sembako, korupsi, narkoba dan kriminalitas, sementara dana APBN yang bocor di sana-sini lebih banyak untuk membayar subsidi bagi para pengemplang BLBI, membayar bunga hutang dan membiayai gaya hidup boros para pejabat publik.
Aku berfikir, setelah kegagalan model pemerintahan demokrasi selama ini, mungkin kinilah saatnya untuk kembali ke model pemerintahan lain, yaitu pemerintahan yang berlandaskan agama (theokrasi) seperti Iran, atau ke model pemerintahan diktator seperti Rusia dan China. Pilihan pertama tidak melanggar konstitusi karena UUD kita secara gamblang menyebutkan negara Indonesia lahir karena kehendak Tuhan. Pilihan kedua juga beralasan mengingat justru di negara-negara diktator seperti Rusia dan Cina pembangunan bisa dilaksanakan dengan terarah dan teratur, sehingga kesejahteraan rakyat lebih mudah tercapai. Hal ini sama dengan Indonesia di masa-masa awal dan pertengahan pemerintahan Orde Baru sebelum terbelit budaya KKN.
Dalam hal ini aku tidak sendirian. Survey yang dilakukan oleh Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (GMPI) tahun 2006 di beberapa universitas top di Indonesia menyebutkan sebanyak 80% mahasiswa memilih syariah Islam sebagai dasar negara (Kompas, 4/3/08). Forum Rektor dalam Konvensi Kampus III di Yogyakarta tahun 2006 juga telah mengusulkan agar dilakukan kaji ulang terhadap konstitusi negara. Maka boleh jadi kinilah saat yang tepat untuk mencoba model pemerintahan alternatif tersebut.

TAMPARAN PERTAMA DI WAJAH AMERIKA



Tgl 30 April yang lalu rakyat Vietnam memperingati hari kemenangan mereka atas Amerika. Tgl itu, tahun 1975 pasukan Vietnam Utara dan gerilyawan Vietcong (gerilyawan komunis Vietnam Selatan) memasuki kota Saigon (kini Ho Chi Mint) dan sekaligus mengakhiri pendudukan Amerika atas negeri tersebut. Inilah kekalahan militer pertama yang dialami Amerika. Dan sejak saat itu kekalahan-kekalahan demi kekalahan terus diterima negara ini. Sayangnya Amerika tidak pernah belajar dari sejarah.

Setelah kekalahan penjajah Perancis dari para pejuang Vietnam, ditandatanganilah Perjanjian Geneva tahun 1954 yang isinya memisahkan untuk sementara Vietnam menjadi dua, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, dan selanjutnya akan diadakan pemilihan umum dua tahun kemudian untuk memilih pemerintahan yang sah bagi semua rakyat Vietnam. Namun Amerika mengkhianati perjanjian ini karena kekhawatiran komunis di bawah kepemimpinan Ho Chi Minh, akan memenangkan pemilihan umum.

Untuk itu Amerika membentuk pemerintahan boneka yang korup di Vietnam Selatan. Selanjutnya untuk mengamankana kepentingannya, Amerika mengerahkan pasukannya untuk mendukung regim bonekanya. Untuk mendapat alasan pengerahan pasukan, Amerika merancang "Insiden Teluk Tonkin". Amerika, dengan menggunakan media massa, menyebarkan berita tentang diserangnya kapal perang Amerika di Teluk Tonkin oleh pasukan Vietcong, meski kemudian terbukti berita tersebut bohong. Sama seperti ketika pemerintah Amerika dan media massanya gembar-gembor tentang senjata pemusnah Irak yang dijadikan alasan penyerbuan Irak tahun 2003 yang terbukti kemudian sebagai kebohongan. 

Ketika perang memuncak, presiden Lyndon Johnson memerintahkan penambahan pasukan Amerika di Vietnam hingga mencapai 500,000 pasukan pada tahun 1968. Kala itu tidak ada ahli militer yang berfikir Amerika akan bisa kalah. Dengan jumlah pasukan yang beberapa kali lipat tentara Amerika di Afghanistan saat ini, plus persenjataan yang jauh lebih superior, para pemimpin Amerika tidak pernah membayangkan negara kecil seperti Vietnam bisa mengalahkan mereka. Jika Anda melihat film "Apocalypse Now" pada adegan penyerangan pasukan kavaleri udara Amerika, Anda tidak akan pernah membayangkan Amerika bisa kalah. 

Namun demikian beberapa pejabat inteligen Amerika memberikan peringatan bahaya yang dihadapi Amerika di Vietnam, termasuk resiko mengalami kekalahan. Pada bulan September 1967, Direktur CIA Richard Helms menulis laporan kepada presiden Johnson berjudul “Implications of an Unfavourable Outcome in Vietnam” yang menyimpulkan bahwa kemungkinan kegagalan Amerika di Vietnam tidak berarti akan menjadi pintu masuk berkuasanya komunisme di seluruh kawasan Asia Timur. Dokumen tersebut membantah argumen para pejabat Amerika yang menjadikan ancaman serbuan komunisme di Asia Timur melalui Vietnam sebagai alasan perang.

Dokumen tersebut justru mengingatkan bahwa kegagalan Amerika di Vietnam akan menunjukkan kelemahan Amerika, hal yang justru akan meningkatkan moral musuh-musuh Amerika. Di atas segalanya dokumen tersebut mengingatkan bahwa kegagalan Amerika akan menunjukkan bahwa "Amerika tidak akan sanggup menghancurkan sebuah gerakan revolusi besar yang digerakkan oleh kelompok yang berdedikasi, kompeten dan mendapat dukungan rakyat."

Namun laporan tersebut tidak bisa mengurangi keyakinan para pemimpin Amerika tentang hasil akhir perang. Pada tahun 1968 jumlah pasukan Amerika di Vietnam bahkan mencapai 530.000. Bersama 800.000 pasukan Vietnam Selatan mereka berhadapan dengan 600.000 pasukan Vietnam Utara dan Vietcong. Dari jumlah tersebut tampak pihak Amerika memiliki keunggulan kuantitas. Ditambah keunggulan udara dan laut yang dimiliki, tampak Amerika memiliki keunggulan mutlak dibanding musuhnya.

Namun pasukan Vietnam Utara dan Vietnam berhasil menerapkan strategi yang jitu untuk menghadapi Amerika dan sekutu-sekutunya. Mereka menghindari pertempuran langsung skala besar, melainkan menerapkan perang gerilya yang menyerang sasaran-sasaran tertentu pada waktu-waktu tertentu. Strategi ini berhasil menempatkan Amerika sebagai buruan yang membuat pasukan Amerika terikat dengan pertahanan pangkalan-pangkalan mereka di Vietnam. Keunggulan Amerika menjadi tidak berarti.

Keuntungan terbesar gerilyawan komunis Vietnam adalah mereka mendapat dukungan luas dari rakyat Vietnam yang tidak saja menyediakan kader pasukan namun juga logistik dan data-data inteligen. Di banyak tempat tidak bisa lagi dibedakan antara gerilyawan dan rakyat jelata, memaksa Amerika melakukan tindakan-tindakan yang tidak populer seperti membunuhi rakyat sipil. Amerika juga memaksa 1/3 penduduk Vietnam Selatan untuk pindah ke tempat-tempat relokasi untuk memisahkan mereka dari gerilyawan.
Di sisi yang lain lebih dari 60.000 prajurit Amerika tewas selama perang Vietnam, lebih banyak lagi mereka yang pulang ke tanah air dalam keadaan mengalami gangguan kejiwaan akibat perang. Sebagai pasukan pendudukan, pasukan Amerika tidak mempunyai kekuatan moral. Sebaliknya pasukan-pasukan komunis Vietnam justru memiliki moral yang tinggi sebagai pembela tanah air yang mendapat dukungan sebagian besar rakyat Vietnam.

Sentimen-sentimen tersebut menimbulkan terjadinya gerakan-gerakan penolakan perang di antara para prajurit dan veteran Amerika sendiri yang semakin membuat moril pasukan Amerika runtuh. Di berbagai medan pertempuran para perwira Amerika melihat pasukannya kocar-kacir. Tidak ada lagi semangat seperti saat pasukan kavaleri udara melakukan serangan dalam film "Apocalypse Now". Departemen Pertahanan Amerika mencatat terjadi sekurangnya 500.000 insiden desersi selama perang. Gerakan anti perang juga semakin kuat di dalam masyarakat.

Menurut berbagai jajak pendapat mengenai perang yg dilakukan th 1971 sebanyak lebih dari 71% rakyat Amerika melihat perang Vietnam sebagai "kesalahan" dan 58% menganggapnya sebagai sesuatu yang "amoral". Upaya keras pemerintah untuk meredam gerakan-gerakan anti perang justru menambah hancur reputasi Amerika sebagai bangsa, sebagaimana saat aparat keamanan memukuli dengan beringas para peserta pawai anti perang yang digelar di luar arena Konvensi Partai Demokrat tahun 1968.

Namun meski dengan semua kejahatan dan penderitaan yang terjadi, tidak ada pemerintahan yang peduli dan mempertimbangkan hal itu hingga pada satu titik dimana Amerika sadar bahwa mereka telah kalah dan harus menarik diri dari Vietnam. Kekalahan tersebut memberikan pukulan telak bagi elit penguasa Amerika. Secara luas mereka menjadi sasaran kritikan dan hujatan, sebagaimana juga terjadi dalam Perang Irak hingga mantan presiden George W. Bush tidak akan bisa tenang berada di tempat-tempat publik tanpa mendapat kecaman verbal maupun serangan fisik rakyat Amerika sendiri.

Kekalahan Amerika di Vietnam merupakan bentuk kemenangan masyarakat yang tertindas oleh kekuatan jahat terbesar dalam sejarah, Amerika. Untuk pertama kalinya, Perang Vietnam menunjukkan kepada seluruh manusia di bumi bahwa terdapat keberbatasan bagi Amerika untuk meraih semua agenda mereka. hingga menginspirasi rakyat Lebanon, Somalia, Irak dan Afghanistan untuk memberikan tamparan menyakitkan kepada Amerika.

Namun Amerika tidak pernah mau belajar. 

Rabu, 13 Juni 2012

Chomsky: Amerika Mewariskan Kekebalan Totalnya Kepada Israel



(IRIB Indonesia/MZ)   
Seorang analis politik terkemuka Amerika menyatakan bahwa Israel akan beraksi dengan melakukan berbagai pelanggaran hukum internasional menyusul para pejabat Zionis adalah klien dari Amerika Serikat dan oleh karena itu mereka menikmati kekebalan total. Demikian dilaporkan Press TV.
"... Itu (Israel) adalah negara klien Amerika Serikat; Amerika Serikat memiliki kekebalan total dan yang diwariskan kepada sekutu dan kliennya," kata filsuf dan ahli linguistik Amerika, Noam Chomsky dalam wawancaranya dengan Press TV Rabu (13/6).
Pernyataan itu dikemukakan Chomsky menyinggung komitmen Presiden AS Barack Obama pada 5 Juni yang kembali menyatakan dukungan tak tergoyahkan Washington terhadap Tel Aviv. Ditambahkannya bahwa jelas Washington lebih perhatian terhadap Israel ketimbang Palestina.

Obama, mengemukakan pernyataannya itu dalam pertemuan antara Kepala Staf Gedung Putih, Jack Lew dan delegasi komunitas Ortodoks Yahudi AS. Bahkan Obama juga meminta audiens untuk tidak meragukan loyalitasnya kepada Israel.

"Seperti itulah kekuatan," tutur Chomsky seraya menegaskan, "Jadi Amerika Serikat tidak mungkin diseret ke pengadilan internasional. Upaya pihak yang ingin melakukannya, akan diabaikan oleh Mahkamah Internasional-AS."

Chomsky lebih lanjut menjelaskan bahwa apa yang dimaksud AS ketika menyinggung masyarakat internasional berbeda dari istilah yang dipahami pada umumnya.

"Ketika istilah (masyarakat internasional) digunakan di Barat, masyarakat internasional mengacu pada Amerika Serikat dan siapa saja yang kebetulan bersamanya. Jika seandainya sebagian besar dunia menentang, maka [menurut Amerika Serikat] mereka bukan bagian dari masyarakat internasional," ungkap Chomsky.

Selasa, 12 Juni 2012

Harus Cukup Jeli Melihat Ada Indikasi Kekuatan Asing Di Papua



Sikon "petrus" di papua, mirip jelang jajak pendapat di Timtim. Publik jangan terkecoh isu HAM Media-LSM-politisi agen Konspirasi Global (KG). Merapatnya 2500 marinir AS di Darwin indikasi betapa pentingnya Freeport mirip sebagai negara bagiannya KG. Fakta, tidak pernah ada ke bisingan politik internasional tentang Freeport, bermakna bahwa Freeport sudah jadi bagian kuat KG. Ribut-ribut sekitar lokasi justru sebagai adegan kecil untuk mengamankan "isi" kerajaan Freeport yang terdiri dari ribuan agen CIA dan antek-antek KG bangsa Indonesia. 


Tidak ada jejak kapal-kapal tanker yang memuat "emas, tembaga, perak" Freeport yang keluar perairan NKRI. Bhkan GoogleEarth pun tidak mampu membaca Freeport. Silahkan tweeps searching Google earth atau lainnya, maping posisi Freeport, juga Selat Malaka. Sengaja satelit KG mengaburkan wilayah tersebut. Maping Malaysia di GoogleEarth terang benderang, wilayah NKRI gelap gulita agar mudah dilalui tanpa deteksi, padahal 80% tanker minyak dunia lewat situ.
Media-LSM-NGO agen KG dengan jargon HAM mem blow-up "petrus" di Papua yang sebetulnya juga strategi KG untuk menarik perhatian dunia.
KG bermain cantik saat membebaskan Timtim, dan waspadai bahwa LSM-NGO yang dulu mengadvokasi kemerdekaan Timtim juga eksis di Papua. PT Freeport adalah negara dalam negara, berarti fasilitas militer, segala peralatan jaringan intelijennya internasional sudah mapan!
Saat ini Komisi I dengan kapasitas SDM yg baru berada di Papua untuk menyelidiki "permainan politik sebuah negara adidaya " ??? Ibarat hansip menyelidiki markas militer, sudah pasti tidak dapat apa-apa, kecuali disuap KG untuk patuh terhadap protokol KG. Dan publik yang naif dicecar media agen KG dengan sabar menanti rekomendasi "hansip", disisi lain LSM-NGO agen KG tengah berkoar cegah HAM.
LSM-NGO agen KG menguasai media Berkoar agar kekuatan militer TNI tidak mengganggu suasana rakyat Papua, membius agar publik pro KG. Yang naifnya para petinggi TNI, politisi bahkan para negarawan dan mahasiswa terjebak opini publik yang dimainkan Media agen KG, agar publik yang nasionalis duduk manis, memantau siapa yang melanggar HAM itulah sang "penjahat", padahal HAM adalah protokol KG. Apakah NKRI harus kehilangan Papua setelah Timtim lepas lewat agenda KG yang sangat elegant dimata dunia ?
Komisi I harus cukup jeli melihat ada indikasi kekuatan asing di Papua, pertanyaan besarnya apakah Komisi I berani sebut KG sebagai masih bersama? Apakah 2500 marinir AS dan ante-anteknya di NKRI bukan sebagai ancaman nyata karena media agen KG memprioritaskan kasus receh sebagai alih perhatian?
Media-LSM-NGO yang berani menyuarakan kepentingan rakyat khsusnya penyelamatan sumber daya alam adalah bukan antek KG. Yang membiarkan atau menanggapi sambil lalu kasus sumber daya alam adalah Media-LSM-NGO agen KG, apalagi yang mengatasnamakan HAM menutupi kasus sumber daya alam. Apa sulitnya agen CIA gunakan antek-antek yang berkuasa mengendalikan Freeport mengaduk aduk seluruh Papua?
Siapa yang berani melawan kekuatan KG untuk menyelamatkan NKRI? Siapkah generasi muda menerima beban ini? Masih adakah patriot bangsa saat ini? Masih dungukah kita untuk tetap berdiam diri, saling menyalahkan, arogan, dipermainkan para koruptor penghancur moral bangsa agen KG?
Tragedi bangsa tahun 1965, TNI dan publik saling membantai agar komponen bangsa saling dendam bertikai. Tragedi bangsa Tahun 1975, Timor Timur dijadikan ajang perang saudara oleh KG berujung lumpuhnya TNI karena KG memerdekakan Timtim karena sumber daya alam minyaknya. Tragedi tahun 1998, bangsa diadu domba KG, Islam stigma teroris, TNI pelanggar HAM dan hingga hari ini bangsa tidak menyadari bahwa musuh bersama adalah KG.
Telisiklah nurani kalian, agar NKRI masih dapat diselamatkan melalui hati para pejuang yang berani melawan para komprador dan antek antek KG. Tidak banyak waktu tersisa bagi penyelamatan NKRI, smoga Allah membimbing para pejuang bangsa menyelamatkan NKRI !!!

Sumber: Konspirasi Global

Senin, 11 Juni 2012

“Imperialisme dan Kapitalisme” Dimata Bung Karno



“Imperialisme itulah penghasut yang bersarang menyuruh berontak, karena itu bawalah itu ke depan polisi dan hakim”
(Bung Karno)

“Menolak Kerjasama” dengan pihak asing adalah cara Bung Karno untuk menutup peluang Penjajahan Gaya Baru (Imperialisme Moderen), karena Bung Karno sudah sangat faham dengan pola-pola yang dipakai dan cara-cara penjajah menanamkan cengkramannya di Tanah Indonesia. Membangun kekuatan Bangsa Indonesia adalah menjadi tujuannya, dan itulah tujuan akhir dari Kemerdekaan Indonesia.

Imperialisme Moderen bisa masuk lewat Kapitalisme, itu yang diyakininya. Dalam pandangan Bung Karno, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dar cara produksi yang memisahkan kaum buruh dengan alat produksi. Kapitalisme timbul dari cara produksi, yang menjadi sebab nilai lebih tidak jatuh ketangan kaum buruh, melainkan ketangan pengusaha. Kapitalisme meyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisai kapital, dan indutrieel reserve-armee (barisan penganggur). Kapitalisme mempunyai atah kepada verelendung (memelaratkan kaum buruh).**

Apa yang ditakuti dan dikatakan Bung Karno dalam Pledoinya “Indonesia Menggugat” dihadapan pemerintah Belanda 18 Agustus 1930, terjadi sekarang ini, fase imperialisme moderen lewat Kapitalisme sudah kita hadapi. Cengkraman kuku-kuku imperialisme dan bujuk rayu kaum imperialis sudah mulai kita rasakan. Sebagian besar dari bangsa ini menikmatinya sebagai upaya untuk menumpuk kekayaan dengan cara menjadi boneka kaum imperialis, dan sebagiannya lagi merasakan ketertindasan.

Kita memang butuh investor dan kita butuh pinjaman modal asing, yang menjadi masalah adalah bukan investor dan pinjamannya, yang menjadi masalah adalah sikap pemerintah yang berkuasa dalam mengarahkan kebijakannya. Prinsip dari sebuah kerjasama dengan investor asing, Negara haruslah diuntungkan, dan rakyat tersejahterakan oleh kerjasama yang dilakukan dengan pihak asing. Ini adalah hal yang tidak bisa ditawar kalau memang harus melakukan kerjasama.

Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian, dari kerjasama yang ada negara tidak diuntungkan, yang diuntungkan hanyalah pihak-pihak yang menentukan kebijakan dan yang ada dalam lingkaran kebijakan, yaitu penguasa, pembuat aturan dan haluan kebijakan, dan rakyat tidak merasakan manfaat apa-apa, terbuka lapangan pekerjaan tidak menjamin peningkatan kesejahteraan, semua tergantung aturan dan kesepakatan kerjasama.

Apakah semua ini sudah sesuai dengan cita-cita Kemerdekaan ? Jelas belum sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa. Kedaulatan rakyat saja sudah diabaikan, bagaimana mungkin rakyat akan tersejahterakan. Amanat Undang-Undang Dasar 1945 salah satunya adalah Mencapai kehidupan rakyat yang Adil dan Sejahtera, memang untuk mencapai itu tidak mudah, tapi juga tidak sulit jika diupayakan. Mencapai Indonesia Merdeka saja adalah sesuatu yang sangat sulit, tapi hal itu ternyata bisa dicapai.

Imperialisme Moderen lebih pada bentuk penjajahan secara ekonomi, yang dilakukan melalui berbagai politik ekonomi oleh negara-negara yang mempunyai kekuatan ekonomi. Penjajahan ekonomi juga dilakukan lewat industrialisasi dan desentralisasi ekonomi, inilah yang sedang kita alami. Untuk melawan penjajahan ekonomi jalan satu-satunya adalah menciptakan perekonomian yang mandiri, dengan mengembangkan sentra industri kecil dan menengah, menghidupkan perekonomian rakyat. Selain itu merubah arah kebijaksanaan kerjasama, membatasi investor asing dalam pengelolaan sumber daya alam.

Kalau tidak ada kesadaran dari penentu kebijakan dalam kerjasama dengan investor asing, maka para imperialis yang berkedok investor akan semakin merajalela, yang terjadi tidak lagi hanya penjajahan ekonomi, tapi juga sosial, budaya dan politik. gejala itu pun sudah mulai terlihat nyata. harus ada sebuah generasi baru yang mampu melakukan perubahan secara besar-besaran, yang bisa menghapuskan segala bentuk penjajahan di Tanah Indonesia yang kita Cintai ini.

“Aku satu-satunya presiden di dunia ini yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membuatkan sebuah gedung buatku. Tapi di hari berikutnya aku melarangnya. Ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka,” ujar Soekarno seperti ditulis Cindy Adams dalam buku ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia’.

**Dikutip dari buku Mahakarya Soekarno-Hatta

Hadapi 'Perang 2014' Dapur Cikeas Panik



Mungkin anda suka membaca cerita Silat Koo Ping Hoo waktu remaja dulu. Dimana peperangan penuh trik dan intrik ternyata terjadi di kalangan istana. Demikianlah kurang lebih yang kita alami dewasa ini di NKRI.Dapur CIKEAS panik. Pasalnya, siapa lagi kalau bukan ulah Dahlan Iskan, Menneg BUMN. Sudah diketahui umum bagaimana karir politik Dahlan Iskan didesain jauh hari di Dapur CIKEAS oleh Hartati Murdaya, Budi Setiawan (mantan Dirjen Agama Budha) dan Ibu Ani. Adalah Winarni, keponakan SBY dari Pacitan yang selalu berdekatan dengan Ibu Arlita (isteri Budi Setiawan dikenal dengan Pak Buset) yang menyatakan bagaimana Dahlan Iskan diminta untuk membersihkan PLN dari keroyokan supplier supplier yang mengatasnamakan Partai Demokrat sampai jatah Grup Murdaya menjadi tipis. Dari sinilah karir politik Dahlan Iskan menjadi dirut PLN dimulai dan dia menepati janji. Supplier ditertibkan. Artinya dikembalikan kepada para pemasok besar diantaranya Grup Murdaya.
Bagai disambar petir di siang bolong, ketika menjabat Menneg BUMN sekonyong-konyong bukti bukti menunjukkan bahwa Dahlan Iskan terang-terangan main mata dengan JK, kroni lamanya yang dulu mem-backup berkembangnya koran RADAR di hampir setiap Kota, menekan TRIBUN nya Kompas, dari duit tilepan Gus Dur. Adalah Alwi Hamu, sesama wartawan (pebisnis media) sahabat lamanya, yang dikenal sebagai tangan kanan JK, yang kini hotline. Kontan SBY berang. Diantaranya adalah penempatan direksi Pertamina yang dulu orang-orang JK tanpa melibatkan SBY.
Dahlan Iskan memainkan dengan kartu "profesionalisme" dengan istilah-istilah "The Dream Team", "Manufacturing Hope" dll untuk menarik simpati jajaran rakyat yang sudah muak dengan gaya politik dan permainan kekuasaan. Melalui jaringan wartawan dan media yang dimilikinya, Dahlan melakukan manuver dengan cantik. Satu kaki, menakut-nakuti SBY karena dia punya jaringan media, di kaki yang lain dia merapat ke JK kroni lamanya ketika membesarkan RADAR. Di kaki yang lain dia menjaga konsesi dengan Murdaya Grup yang selama ini mensponsorinya melenggang sebagai dirut PLN dan Menneg BUMN lewat jalan tol bebas hambatan langsung dari dapur CIKEAS.
Banyak kalangan membaca langkah Dahlan Iskan banyak mencontoh Aburizal Bakrie. Pertama mbalelo kepada konglomerat yang menjadikan dia, dalam hal Dahlan Iskan adalah Murdaya Grup. ICAL juga mbalelo kepada para konglomerat yang membiayainya masuk kembali ke politik ketika ICAL sudah dalam posisi tinggal kolor saja. Namun Dahlan lebih piawai. Karena dia lebih berpengalaman dalam mengolah pencitraan. Dia tahu apa yang disukai pembaca. Namun, bacaan intelejen biasanya lebih akurat. Keduanya, baik ICAL mau pun DAHLAN sama berangkat dari bisnis kotor untuk memperkaya diri, sehingga dengan mudah bisa dikendalikan pakai remote control untuk mempertahankan kepentingan dirinya sendiri. Keunggulan Dahlan adalah kepiawaiannya menampilkan bahwa dirinya "nothing to loose" karena sudah pernah hampir mati ketika operasi cangkok hati di RRC sehingg semua langkahnya adalah kepasrahan semata. Bagi kerja intelejen justru itu faktor yang amat bagus dan memudahkan karena tidak perlu mahal-mahal membangun kepercayaan Rakyat. Maka, apapun alasannya, langkah Dahlan Iskan patut untuk terus dibaca dengan seksama. Bagaimana dia memainkan dagangan politiknya, kemana arahnya akan dipersembahkan atau memang sekedar bermain untuk dijual kepada yang nantinya jelas potensial menang.
Kembali ke soal direksi Pertamina, Ketika dikonfrontir oleh SBY ke Karen kembali atasnama Ibu Ani disebut-sebut. Ini menarik. Ada apa dengan hubungan SBY dan isterinya? Apa benar keduanya sudah tidak sejalan dalam strategi 2014 sekaligus strategi penyelamatan paska SBY.
Bagaimana ceritanya kok JK jadi berperan penting? Kisahnya balik pertengahan tahun lalu, ketika Wapres Budiono bertemu dengan Buya Syafiie Maarif. Perbincangan dua jam lamanya, Buya menjelaskan kondisi NKRI yang sudah carut marut mulai dari sistem kenegaraan hasil amandemen yang ternyata tidak sistemik sampai praktek mafia di segala bidang akibat kepemimpinan yang lemah, akhirnya membuahkan pertanyaan dari Budiono kepada Buya, apakah yang harus saya perbuat Buya? Buya mengusulkan agar Budiono undur diri bersama jajaran menteri professional yang non partai, agar selamat.
Namun niat Budiono undur diri digagalkan oleh JK yang diam-diam main mata dengan SMI yang di backup USA. Lagian SMI tentu takluk sama JK setelah JK dapat rekaman dari seorang intel ketika SMI nangis-nangis mengadu ke JK bahwa dirinya telah ditipu dalam kasus Century. Otak penipuan justru orang yang dulu sering di banggakan oleh SMI yakni Agus Martowardoyo (AM) yang sekarang Menkeu. AM yang senantiasa tampil profesional telah memukau SMI, padahal AM lapor secara rutin ke Ical.
Kata JK: "Untuk apa Pak Budiyono mengundurkan diri? Nanti yang untung Djoko Suyanto, tentara lagi, kalau SBY lengser di tengah jalan kayak Pak Harto. Sementara Bu SMI sudah sepakat bergabung dengan saya. Saya kan sudah tua, Jadi tugas saya menyiapkan yang muda seperti Bu SMI. Peranan USA kan sudah terbukti sebagai mana 2004 dan 2009". Kontan Budiono sepakat dengan JK.
Apa betul USA hanya main SATU? Tentu tidak. JenderaL Polisi Sutanto adalah binaan yang sudah mulai dimodali besar-besaran melalui berbagai investasi perkebunan dan pertambangan. Skenario yang dibawa Jenderal Sutanto justru bagaimana membesarkan SMI untuk kemudian dijadikan tumbal. 
Mengapa JK berkepentingan untuk menghalau gerakan Djoko Suyanto yang mau melengserkan SBY ditengah jalan? Ini lah dagangan JK yang terbukti ampuh. Pasalnya SBY ingin bertahan sampai 2014, sementara kroni CIKEAS pimpinan Ibu Ani justru ingin yakin 100% bahwa pergantian kekuasaan aman terkendali dan harus jatuh ketangan CIKEAS lagi. Untuk keselamatan nasib keluarga besar. Cara paling aman adalah membuat drama Kudeta terkendali. Untuk tujuan itu lah, Djoko Suyanto merapat ke Akbar Tanjung, untuk membantu maneuver memecah Golkar sambil menyiapkan skenario "Kudeta terkendali" tersebut. Itu pula yang membuat Anas Urbaningrum berani sesumbar siap digantung di Monas. Kelompok ini sudah mulai menjajaki pasangan Djoko Suyanto dan Agung Laksono.
Disinilah SBY berada di persimpangan jalan. Safe landing macam apa. Antara bertahan 2014 atau Kudeta Terkendali. JK tahu persis, maka dagangan "Aman sampai dengan 2014" dibeli mutlak oleh SBY. JK naik daun. Langsung pegang kendali.Exercise posisi Hatta Ali sebagai Ketua MA. Sukses. Dahlan Iskan penciumannya tajam, langsung merapat ke kroni lamanya tersebut. Prinsipnya sama. Pedagang. Yang penting main dulu, sambil membaca sikon, nantinya jualan kemana, dipikir belakangan. Ini lah day to day politik, permainan bisa zig zag, tergantung kekuatan sesaat. Kayak Silat. Itu lah prinsip Pedagang. Tidak Ada menang kalah. Adanya hanya untung. Artinya ikut yang menang.
Selain SBY merapat ke JK, juga membangun aliansi dengan Prabowo dan PDIP. Sayangnya, Prabowo Dan PDIP tidak mempunyai Jaringan di lapangan yang mampu memainkan day to day politik seperti halnya Kubu JK seperti dilakukan oleh Alwi Hamu dan Dahlan Iskan. Bagi kubu ini, politik harus nyata, harus bisa menghasilkan, konkrit, apakah uang atau kekuasaan (posisi). Manuver bisa dirasakan. Tidak demikian halnya dengan Prabowo dan PDIP. Kedua kelompok ini hanya meminta kepada SBY untuk dirangkul 2014 nanti, sehingga kurang menguntungkan secara day to day politik yang justru menjadi beban SBY sekarang ini. Itu sebabnya KUBU JK jadi terasa kuat. Itu pula sebabnya Djoko Suyanto merapat Ke Akbar Tanjung, untuk mengimbangi.
Bagaimana dengan petualang politik yang menghembuskan Bu Any sebagai caprès 2014? Apa konteksnya? Nah kembali ke awal tulisan ini, yaitu DAPUR CIKEAS PANIK. Adalah Hartati Murdaya dan Ruhut Sitompul dengan motif berbeda namun sejenis. Dapur mulai berantakan. Karena selama ini bukan membangun jaringan melainkan hanya mendompleng kekuasaan Dapur CIKEAS untuk menekan sana sini. Pada akhirnya, bila nantinya gagal, tinggal kutu loncat, sebagaimana dari PDIP loncat ke Demokrat. Dan Ruhut Sitompul bisa dengan mudah di depan layar TV menangis tersedu sedan dengan berkata: "Oh Pak SBY, mengapa engkau mengkhianatiku yang selama ini setia setengah mati mendukungmu, hancurlah hatiku, leburlah harapanku, apa boleh buat, Aku terpaksa meninggalkanmu, bye bye beyeku". Maka lagu berjudul KU KAN SAMPAI DISANA diganti menjadi SENDIRI LAGI KINI AKU SENDIRI LAGI ........ Lonely .......hehe