Senin, 09 April 2012

Hugo Chavez, Presiden Sayang Rakyat



ULFA ILYAS, Berdikari Online
BBM nya termurah di dunia, rumah rakyat pun digratiskan. Pemerintah yang sayang pada rakyatnya: Venezuela Mensubsidi 100% Perumahan Rakyatnya. Di Indonesia, negeri tempat kita berpijak, pemerintah sedang sibuk- sibuknya mendorong penghapusan subsidi untuk rakyat. Alasannya, kata jubir-jubir pemerintah, anggaran subsidi sudah terlampau membebani APBN. Tersinggung dengan pernyataan pemerintah ini, seorang teman saya bergumam, “kok ada negara yang pelit terhadap rakyatnya sendiri”.
Di Venezuela, negeri yang sedang menjalankan revolusi, pemerintah disana sedang gencar-gencarnya mensubsidi rakyat. Yang terbaru, Presiden Hugo Chavez memastikan bahwa setiap keluarga di Venezuela, khususnya yang pendapatan rendah, bisa memiliki rumah dengan disubsidi 100% oleh pemerintah. Ini bukan kebijakan Chavez secara pribadi. Kebijakan ini merupakan perintah dari UU perumahan Venezuela yang baru. Di salah satu pasalnya, tepatnya pasal 22, diatur ketentuan: setiap warga negara berhak mengakses perumahan yang layak dan sesuai dengan standar hidup sehat dan adil.
Di dalam UUD itu juga ada kewajiban negara untuk memberi perlakuan khusus kepada rakyat yang tidak punya pendapatan, pendapatan rendah, atau sektor-sektor sosial yang selama ini terpinggirkan. Juga, di luar itu, ada perlakuan khusus terhadap orang lanjut usia, cacat, dan atau karena status penyakit. UU ini juga menjamin hak masyarakat adat untuk mendapatkan rumah layak.
Selain itu, pada pasal 13 UU perumahan itu terdapat ketentuan tentang standar perumahan yang disebut “layak”: sehat, dilengkapi fasilitas dasar, dekat dengan komunitasnya, dan lain-lain. UU perumahan ini sudah dirancang sejak awal tahun 2011. Saat itu, Chavez menerima proposal dari gerakan yang disebut gerakan “keluarga tanpa rumah”. Setelah melalui pendiskusian panjang, proposal ini dibawa ke Majelis Nasional (parlemen Venezuela). Subsidi Sosial Menurut Chavez, UU perumahan itu hendak mengikuti prinsip sosialis: setiap orang bekerja sesuai kemampuan dan mendapatkan sesuai kebutuhan.
Kebijakan subsidi perumahan ini dikritik oleh oposisi. Di mata oposisi, program semacam itu tidaklah masuk akal. Akan tetapi, Chavez segera membalas, “langkah semacam itu memang tidak mungkin terjadi di dalam sistim kapitalisme, tetapi sangat mungkin terjadi di bawah sosialisme.” “Tentang subsidi,” kata Chavez, “kaum borjuis menganggap langkah itu sangat tidak bertanggung jawab, sebab hanya menghambur-hamburkan uang dan tidak lebih dari langkah populisme.”
Akan tetapi, bagi Chavez, negara dibentuk memang untuk melayani rakyat. Sehingga, apapun yang menjadi kebutuhan rakyat, negara harus siap memberikan pelayanan terbaiknya. Chavez yakin, program semacam ini akan memastikan seluruh keluarga di Venezuela bisa mengakses rumah layak. Sementara itu, menjelang pemilu presiden pada tahun 2012 mendatang, Chavez mengingatkan
agar rakyat mempertahankan kemajuan saat ini. Termasuk dalam persoalan perumahan. Chavez mengingatkan, jika sampai kaum borjuis bisa menang pemilu dan berkuasa di Istana Miraflores (istana kepresidenan), maka program perumahan akan hancur berantakan. Pasalnya, kaum borjuis menuntut agar negara tidak mengatur ekonomi, termasuk soal perumahan. Mereka menuntut agar urusan ini diserahkan kepada swasta. “Jangan lupakan ini compatriot.
Anda tidak akan pernah punya rumah lagi,” kata Chavez, di Istana Miraflores, sesaat sebelum berangkat ke Kuba untuk menjalani pengobatan. Chavez berjanji akan terus melanjutkan program-program sosialnya. Akan tetapi, pada sisi yang lain, ia meminta kepada aparatus negara untuk melakukan efisiensi alias mengurangi belanja- belaja yang tidak penting. Tahun lalu, pemerintahan Chavez sibuk memaksimalkan pembangunan perumahan. Ia bertekad membangun 2 juta rumah hingga 2017. Semua itu untuk memastikan seluruh rakyat Venezuela bisa punya rumah layak. 

Penggeseran Dolar Amerika dari Pasar ALBA



(IRIB Indonesia/MZ)
Menjelang konferensi tingkat tinggi negara-negara anggota Aliansi Bolivaria untuk Negara-Negara Amerika (ALBA), masalah pembentukan mata uang kolektif regional di Amerika Latin kembali mencuat dan menjadi perhatian. Para pemimpin negara-negara ALBA berencana pada sidang mereka Selasa (10/4), akan membahas dua masalah penting yang akan berpengaruh kuat pada posisi global dolar Amerika Serikat. Di satu sisi, menurut rencana negara-negara ALBA mengagendakan pembahasan penetapan mata uang regional baru yang akan diberi nama Sucre dan juga soal reduksi tingkat transaksi dengan dolar. Terealisasinya dua target tersebut, sangat menyakitkan bagi Amerika Serikat karena kawasan itu adalah "halaman belakang" Negeri Paman Sam.
Berbeda dengan setengah abad lalu, dolar Amerika Serikat yang sangat dominan dan berkuasa, kini sebagian negara dunia dan blok-blok regional justru berlomba-lomba menghindari penggunaannya dan bahkan berupaya membentuk mata uang kolektif baru.
Setelah Eropa membentuk mata uang Euro, kini giliran wilayah Amerika Latin yang mengincar penetapan mata uang baru. Meski banyak persyaratan yang harus dipenuhi agar kekuatan mata uang Amerika Latin setingkat dengan Euro, akan tetapi tekad negara-negara di kawasan untuk menggeser dolar Amerika Serikat dari sektor perdagangan mereka membuktikan melemahnya pengaruh Negeri Paman Sam dalam perekonomian global.
Dalam beberapa tahun terakhir, posisi dolar Amerika Serikat semakin merosot bak terjun bebas. Betul bahwa dulu dolar adalah milik sebuah negara terkuat dan terkaya di dunia yang bahkan mampu berperan sebagai kas dunia. Akan tetapi kini, Amerika Serikat telah berubah menjadi negara dengan utang terbanyak di dunia. Jumlah kredit Amerika Serikat telah mencapai 15 trilyun dolar dan defisit bujetnya telah melampaui angka 1,5 trilyun  dolar.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat juga mengalami defisit pertukaran perdagangan dengan sebagian besar negara dunia dan rakyat AS alih-alih memproduksi dan memberikan layanan jasa, justru menjadi konsumen produk negara-negara lain.
Dalam kondisi ini, logika ekonomi menggarisbawahi bahwa dolar Amerika Serikat tidak dapat diandalkan untuk menjadi mata uang dalam simpanan devisa negara. Akan tetapi, jika dolar Amerika Serikat tetap digunakan, ini membuktikan peran kekuatan politik dan militer Amerika Serikat dalam mendikte kehendaknya kepada negara-negara dunia.
Poin lainnya adalah bahwa dunia secara gradual menyadari pentingnya untuk segera melepas ketergantungannya terhadap dolar Amerika Serikat. Oleh karena itu, banyak negara yang kini melirik mata uang baru atau menetapkan paket yang terdiri dari sejumlah valuta asing dalam transaksi perdagangan mereka. Paket valuta asing itu adalah untuk mengantisipasi kerugian jika nilai tukar dolar Amerika Serikat anjlok. 

Apa Untungnya Menjadi Anggota PBB?



Persepsi yang ada, sebuah negara, jika tidak menjadi anggota PBB, akan banyak mengalami kesulitan. Bakal terkucil atau dikucilkan. Sebaliknya menjadi anggota PBB seakan-akan berada dalam perkumpulan elit dunia. PBB merupakan sebuah organisasi eksklusif, prestisius dan powerfull . Derajat sebuah bangsa, dengan sendirinya terangkat.Mayoritas negara di dunia menjadi anggota PBB. Fakta inilah yang mungkin membuat banyak negara berpendapat menjadi anggota badan dunia tersebut adalah sangat penting.
Persepsi yang ada, sebuah negara, jika tidak menjadi anggota PBB, akan banyak mengalami kesulitan. Bakal terkucil atau dikucilkan. Sebaliknya menjadi anggota PBB seakan-akan berada dalam perkumpulan elit dunia. PBB merupakan sebuah organisasi eksklusif, prestisius dan powerfull . Derajat sebuah bangsa, dengan sendirinya terangkat.
Faktor ini kemungkinan yang mendorong Palestina ingin menjadi anggota ke -194 badan dunia tersebut. Padahal kalau berfikir lebih rasional, belajar secara kritis dari berbagai peristiwa di dunia, postur PBB tidaklah sehebat seperti yang diperkirakan. Tanpa menjadi anggota PBB-pun sebuah negara akan tetap survive. Tidak ada jaminan postur Palestina otomatis akan jauh lebih baik sekiranya sudah menjadi anggota PBB.
Swiss merupakan contoh faktual. Negara yang terletak di jantung Eropa ini tetap memilih menjadi negara netral di dunia. Swiss tidak menjadi anggota PBB tetapi menyewakan lahannya di Jenewa untuk Markas Besar PBB terbesar setelah New York.
Contoh ekstrim lainnya, Irak ketika di bawah pimpinan Saddam Hussein, berstatus anggota PBB. Tapi ketika Amerika Serikat sudah membenci Saddam Hussein, dia diserang pasukan sekutu, pasukan koalisi dari berbagai negara anggota PBB. Sehingga yang menjatuhkan Saddam Hussein sejatinya adalah pasukan PBB. Wajarkah itu?
Hal yang mirip, terjadi pada Libya. Sekalipun yang menyerang Libya unsur-unsur pasukan NATO, akan tetapi keterlibatan NATO tidak lepas dari peran PBB. Sebab Resolusi PBB yang dijadikan dasar oleh NATO untuk membombardir Libya.
Secara logika, apa yang terjadi pada Libya semakin memperkuat argumen, bahwa menjadi anggota PBB, tidak menjamin akan memperoleh keuntungan. Bahkan keterlibatan NATO, organisasi yang didominasi Amerika Serikat semakin membuktikan, NATO plus PBB atau sebaliknya hanya menjadi semacam alat oleh Amerika Serikat.
Bahkan jika disimak lebih jauh, hampir semua resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB, didominasi oleh Amerika Serikat. Sehingga situasi ini memberi gambaran bahwa PBB hanya dijadikan sebagai \'alat penekan\' oleh Amerika Serikat.
Resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberi sanksi embargo kepada Libya berujung dengan pemboman oleh pesawat-pesawat NATO atas berbagai instalasi penting dan infra struktur negara itu, merupakan pelanggaran moral dan etik serius. PBB didirikan seusai Perang Dunia Kedua dan Perang Pasifik. Tujuannya mencegah terulangnya peperangan serupa.
Itu sebabnya di depan Markas Besar PBB NewYork, sebuah statue atau patung sengaja didirikan di situ. Patung dengan simbol seseorang sedang menembak pistol ke arah depan, tetapi pistol itu tidak bisa berfungsi. Moncong pistol yang sudah melepuh melambangkan, PBB tidak menghendaki penggunaan senjata dalam setiap persoalan, sekalipun hanya dengan pistol atau senjata genggam.
Dalam konteks Palestina, kalaupun diterima menjadi anggota penuh, Palestina tidak otomatis menjadi sebuah negara kuat. Dari kasus Libya, Palestina pun bisa mengalami hal yang sama. Palestina masih terbelah dua Al-Fatah dan Hamas. Yang menjadi Presiden Palestina adalah Mahmoud Abas dari Al-Fatah. Dialah yang tampil dalam perjuangan Palestina menuju ke PBB.
Tetapi secara konstitusional yang memimpin atau berkuasa di Palestina adalah kelompok Hamas, fraksi pemenang Pemilu 2006 yang ditentang serta tidak diakui Amerika Serikat. Bisa terjadi sekalipun Palestina sudah menjadi anggota PBB tetapi bila Amerika Serikat berkehendak, dia pun bisa merekayasa "penghancuran" Palestina seperti yang dilakukannya terhadap Moamme Khadafy (Libya) ataupun Saddam Hussein dari Irak.
Saat ini Palestina didukung oleh sekitar 130 negara. Namun iika timbul peperangan Palestina dengan Israel, belum tentu ke-130 negara konsisten membantu Palestina. Artinya dukungan pada Palestina, tidak tetap dan berkelanjutan. Bisa saja terjadi negara sahabat itu mendukung Palestina, tetapi hanya terbatas pada soal keanggotaan PBB.
Indonesia pun punya pengalaman pahit dengan PBB. Dalam kasus Timor Timur (sekarang Timor Leste), adalah Amerika Serikat yang mendorong Indonesia untuk menganeksasi wilayah bekas jajahan Portugal itu.
Atas dorongan Amerika Serikat tersebut pada Desember 1975 Indonesia mengirim pasukan dan menduduki Timor (Portugis). Kepentingan Washington pada era Perang Dingin itu, Timor harus bebas dari inflitrasi komunis.
Tapi di Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat bersikap pasif. Sebab aneksasi Timor ditentang oleh dua negara komunis terbesar di dunia, Uni Sovyet (Rusia) dan RRC yang sama-sama menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Akibatnya selama 24 tahun menjadi bagian dari wilayah NKRI, Timor Timur tidak pernah mendapat pengakuan PBB. Dan PBB pula yang mendorong diselenggarakannya jajak pendapat di Timor Timur pada tahun 1999. Hasil jajak pendapat akhirnya sangat merugikan Indonesia. Sehingga yang memetik keuntungan atas hadirnya PBB, sebetulnya, hanya Amerika Serikat.
Demikian dominannya Amerika Serikat di PBB, sehingga dosa-dosa Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, tidak jarang berubah menjadi "dosa putih". Yang mengubahnya PBB, sebab kalau ada unsur yang sensitif, maka yang ditampilkan bendera PBB. PBB benar-benar digunakan oleh Amerika Serikat.
Oleh sebab itu jika ingin melihat manfaat menjadi anggota PBB, maka peran dan dominasi Amerika Serikat harus dikurangi. Misalnya Markas Besar PBB harus direlokasi ke luar wilayah Amerika Serikat. Kekuatan Hak Veto ditangan lima anggota tetap Dewan Keamanan perlu ditinjau termasuk jumlah anggotanya. Jika tidak, PBB selama-lamanya hanya akan menjadi alat penekan Amerika Serikat.
 [Islam Times/on/inilah.com]

Amerika Serikat Khawatir Media Internet Jadi Media Arus Utama Baru, Pentagon Nyatakan Media Cyber Sebagai Medan Tempur



Pemerintah Amerika Serikat  nampaknya sudah mulai terganggu dengan maraknya media media alternatif yang mampu mengimbangi infomasi informasi  yang disebarkan oleh pihak resmi di Washington terhadap sepak terjang AS di beberapa negara. 
Baru baru ini, Departemen Pertahanan (Pentagon) mencanangkan kepada publik bahwa  media cyber atau internet sebagai wilayah pertempuran  baru. Ini tentu saja menarik karena justru Pentagon, yang terkait dengan perang militer, ternyata mulai terjun juga di ranah perang media yang notabene masuk kategori perang non-militer yang seharusnya militer  tidak  berhak ikut campur. 
Sayangnya, Pentagon tidak merinci dengan cara bagaimana angkatan bersenjata AS  akan melancarkan perangnya lewat situs situs di media internet. Namun  tak pelak lagi bahwa Departemen Pertahanan AS sudah bertekad untuk menghadapi berbagai serangan serangan opini dan informasi yang berasal dari berbagai negara dan kelompok-kelompok strategis  non negara yang mampu menyajikan informasi informasi tandingan terhadap sajian berita berita resmi media arus utama di  AS seperti The Washington Post, The New York Times,  Miami Herald, dan sebagainya. 
Bisa dimengerti  jika  AS sangat  kuatir dengan aksi informasi  tandingan  yang dilancarkan berbagai negara dan aktor aktor non negara yang melawan dominasi korporasi korporasi  AS yang berada di belakang media media arus utama tersebut di atas. Karena berbagai korporasi raksasa minyak milik Rockefeller group seperti Exxon Mobi, Chevron, Shell dan sebagainya, memang sangat mengandalkan sajian sajian informasinya dari  media media internet
Seperti terurai dalam dokumen rencana Pentagon tersebut, pemerintah AS berpandangan bahwa media internet telah digunakan oleh intelijen intelijen luar negeri  untuk membuka dan membongkar jaringan jaringan rahasia mereka. 
Tapi itu kan dalih resmi Pemerintah AS. Sejatinya, mereka mengakui betapa dahsyatnya kekuatan media cyber (internet) sebagai media alternatif. Dan bahkan pada perkembangannya di masa depan, bisa menjadi satu media arus utama baru mengimbangi dan mematahkan media media arus utama yang dibiayai oleh korporasi korporasi global di Washington. 
Bahkan yang lebih menakjubkan lagi, Pentagon mengakui bahwa jaringan dan sistem pentagon telah berhasil ditembus oleh berbagai negara dan kelompok kelompok strategis non negara melalui media cyber ini, 
Maka dari itu, keterlibatan langsung Pentagon dalam perang cyber melawan yang mereka anggap sebagai musuh musuh di ranah informasi dan pemberitaan, menggambarkan secara jelas betapa AS mulai tersuduut dalam perang informasi berskala global. 
Buktinya, melalui  rencana strategis Perang Informasi Pentagon  di ranah media internet, pada perkembangannya akan melibatkan juga Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security). Sebagai bagian dari upaya lintas kementerian, dan juga sektor sektor swasta strategis, untuk mengidentifikasi dan menjinakkan  aksi aksi informasi  dari  negara-negara dan kelompok kelompok strategis non negara, yang mereka anggap bakal menghancurkan infrastruktur strategis AS dan para sekutu barat lainnya.
Pada perkembangan tahapan ini, berbagai kalangan di dalam negeri AS sendiri, mulai kuatir jangan jangan manuver ofensif Pentagon tersebut akan mencampuri dan ikut mengatur kewenangan kewenangan pengelolaan media internet di AS itu sendiri. 
Salah satu yang mencemaskan, Pentagon mulai mendorong beberapa perusahaan pengelola media internet, untuk mengembangkan semacam program rintisan (Pilot Project), agar secara sukarela berbagi informasi  terkait dengan semua aktivitas media internet. Berarti ini kan semacam upaya dari Pentagon agar perusahaan perusahaan pengelola internet untuk memainkan peran sebagai unsur unsur garis depan dari operasi  intelijen Pentagon. 
Sebagai efek dari Program Pertempuran Cyber ini, AS akan menggalang dan merekrut tenaga tenaga ahli  Information Technology (IT), yang tentunya dengan mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk menggaji pemanfaatan keahlian mereka.
Dalam skema ini, Pentagon dan Homeland Security Department  barang tentu akan memotivasi temuan temuan baru di ranah teknologi, kerjasama dengan sektor sektor bisnis berskala menengah dan kecil.
Lepas dari rencana strategis Pentaton tesebut, berita bagusnya bagi kita di Indonesia jelaslah sudah. Betapa aksi informasi alternatif yang dilancarkan kawan kawan yang berhaluan kritis terhadap imperialisme Amerika, termasuk kami kami ini Global Future Institute, dan media web kami The Global Review,  ternyata telah memberi kontribusi yang cukup berarti dalam rangka memberi panduan informasi perkembangan dunia, sebagaimana moto media cyber kami. 

Hendrajit, Peneliti Senior Global Future Institute

Minggu, 08 April 2012

Proses Ubah Air Kencing Jadi Energi



Peneliti di Belanda menemukan alternatif unik untuk menggantikan energi yang berasal dari fosil. Air kencing atau urin pun dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan.
Seperti diberitakan Radio Nederland (RNW), energi terbarukan unik ini dikembangkan oleh lembaga penelitian DHV bekerja sama dengan Universitas Delft. Paten untuk penelitian ini pun telah mereka dapatkan di Cina, Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.
Lalu bagaimana proses mengubah urin menjadi energi?
Para peneliti mengembangkan penelitian dengan membangun tempat pengolahan di Groningen. Di sini, urin yang dikumpulkan diolah, pertama dengan menyaring air dari polutan yang ada di air seni.
Hasilnya, akan terproduksi kristal-kristal garam. Selanjutnya, kristal garam itu akan diuraikan menjadi pupuk, fosfat, dan amoniak. Kemudian, gas amoniak akan dibawa ke Delft.
Setelah itu amoniak itu akan dialirkan ke fuel cell. Dengan mudah, proses pengubahan menjadi energi listrik pun berlangsung di fuel cell.
Dengan pasokan urin yang selalu tersedia, energi listrik yang dihasilkan pun bisa diadakan setiap saat. Berbeda dengan energi yang dihasilkan dari angin dan minyak, yang bergantung pada kondisi alam.



Angelina Jolie, Syria, dan Humanitarian Intervention



Meski secara de facto upaya para pemberontak telah gagal menggulingkan Bashar Assad, namun konflik di Syria masih belum reda.  Negara-negara Barat, Turki, dan Arab (Saudi, Qatar, Emirat, Libya)  yang selama ini mendukung kelompok pemberontak  (mulai dari dana, senjata, dan bahkan mengirim pasukan untuk membantu kelompok pemberontak), masih terus melancarkan upaya-upaya untuk menghalangi proses stabilisasi di Syria.
 Kebenaran di Syria satu persatu mulai terungkap (antara lain, pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh AS dan sekutunya dengan mengirim pasukan dan senjata secara illegal ke Syria; laporan-laporan dari media Barat sendiri tentang aksi brutal para pemberontak dalam membunuhi orang-orang pro Assad), namun AS dan sekutunya tetap tak mau berhenti mengganggu Syria.
Kabar terakhir menyebutkan bahwa empat senator AS, salah satunya John McCain, menyerukan agar AS memberikan bantuan senjata kepada pemberontak Syria. Obama dan PM Turki, Erdogan, juga diberitakan telah bertemu untuk membahas pemberian bantuan peralatan kepada para pemberontak.
Saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang hipokritas Barat dan betapa media Barat telah berhasil menipu banyak orang, melakukan pembunuhan karakter terhadap Assad, bahkan sampai-sampai ada orang Indonesia yang menggalang dana untuk ‘korban’ Assad. Saya ingin menyoroti masalah ‘bantuan internasional’ dari sisi kajian Hubungan Internasional.
Pertanyaannya, bila di sebuah negara, katakanlah Syria, benar-benar terjadi kejahatan kemanusiaan; katakanlah Assad memang benar-benar membunuh 7000 atau 9000 rakyatnya (sungguh fantastis, dan anehnya ada saja yang percaya mati pada angka ini meski sudah disodori berbagai berita pengimbang), sejauh mana negara asing boleh melakukan intervensi: mengirim bantuan senjata?
Dalam kajian Hubungan Internasional, ada yang disebut ‘Humanitarian Intervention’ atau intervensi kemanusiaan. Menariknya, aktris cantik Angelina Jolie kini sudah direkrut oleh PBB untuk menjadi ‘juru bicara’ bagi doktrin ini. Mungkin, jika Jolie yang angkat bicara, kata ‘humanitarian intervention’ jadi terdengar lebih seksi dan lebih manusiawi. Dalam wawancaranya dengan AlJazeera, Jolie menyatakan dukungannya bagi humanitarian  intervention di Syria.
Memang, kata humanitarian  intervention –apalagi bila keluar dari bibir Jolie yang seksi, seolah terdengar mulia. Namun sesungguhnya humanitarian  intervention adalah serangan militer. Intervensi kemanusiaan berbeda dengan ‘bantuan kemanusiaan’ yang biasa dilakukan negara-negara saat mengirim obat atau uang ke negara-negara yang tertimpa bencana. Humanitarian  intervention  adalah serangan militer yang dianggap ‘layak’ untuk dilakukan sebuah negara terhadap negara lain dengan alasan kemanusiaan.
Contoh konkritnya, NATO dianggap boleh mneyerang Libya dan menggulingkan Qaddafi karena konon Qaddafi adalah diktator yang menyengsarakan rakyatnya. Kini, banyak pihak yang menyerukan serangan militer AS dan NATO ke Syria dengan alasan Assad sudah membunuhi ribuan rakyatnya.
Dalam kajian Hubungan Internasional dan Hukum Internasional, legalitas humanitarian  intervention masih jadi perdebatan. Sebab utamanya ada di doktrin ‘kedaulatan negara’. Negara dianggap sebagai entitas yang berdaulat sehingga berhak penuh dalam mengendalikan rakyat, menetapkan hukum, dan mengamankan wilayahnya.  Bila doktrin kedaulatan negara ini diterima (dan kenyataannya, semua negara di dunia ini menyatakan menerima doktrin ini), artinya, tidak ada negara yang berhak melakukan intervensi terhadap sebuah negara lain, apapun alasannya. Aturan PBB pun juga menyatakan bahwa sebuah negara tidak boleh melakukan serangan militer terhadap negara lain, kecuali bila ada izin dari Dewan Keamanan PBB.
Namun masalahnya, izin dari DK PBB pun sangat bergantung pada kepentingan negara-negara pemegang veto. Dalam kasus Irak, DK PBB sama sekali tidak memberikan izin, namun AS dan sekutunya tetap menyerang Irak. Dalam kasus Libya, DK PBB memang memberikan izin untuk ‘melakukan segala hal yang dianggap perlu demi melindungi rakyat sipil Libya’. Saat itu, Rusia dan China abstain. Dalam kasus Syria, Rusia dan China menggunakan hak vetonya dan menolak dilancarkannya serangan militer atas nama PBB ke Syria.
Bila kita melihat pada sejarah munculnya doktrin  humanitarian  intervention, akan terlihat bahwa sejak awal memang doktrin ini dibuat untuk mengakomodasi kepentingan Barat. Kochler (Humanitarian Intervention in the Context of Modern Power Politics,  2000), menulis bahwa doktrin humanitarian  intervention pertama kali dikemukakan pada tahun 1800-an oleh Eropa dalam menghadapi Imperium Turki. Menurut Kochler, salah satu kriteria utama dalam menjustifikasi humanitarian  intervention adalah ‘ketidakadilan dan kekejaman’ yang menyinggung moral Kristen dan peradaban Eropa. Atas kriteria itulah Eropa merasa berhak untuk melakukan serangan militer ke wilayah-wilayah yang dikuasi Turki, yaitu Yunani (1826), Syria (1860), Armenia (1896), dll.
Lebih lanjut Kochler mengungkapkan bahwa realitas di balik doktrin humanitarian  intervention sesungguhnya adalah agenda kolonialisme Eropa terhadap Imperium Ottoman. Ketika mereka menyerang Turki dengan alasan kemanusiaan, yang sesungguhnya terjadi malah pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan, dan perlakuan brutal terhadap orang-orang muslim yang mereka anggap sebagai kaum barbar. Kochler menyatakan, “Prinsip kemanusiaan didefinisikan berdasarkan dogma relijius yang parameternya adalah agama Kristen.”
Di era modern, lanjut Kochler, arogansi Eropa yang menganggap dirinya sebagai pihak yang berahak melancarkan perang atas nama kemanusiaan (jus ad bellum), diwakili oleh PBB. PBB kini dianggap sebagai badan yang berhak ‘memoderatori’ perang atas nama kemanusiaan. Masalahnya, pengambilan keputusan di DK PBB sangat bergantung kepentingan negara-negara adidaya. Itulah sebabnya, serangan militer terhadap Israel yang  sudah jelas-jelas melakukan kejahatan kemanusiaan di Palestina tidak dilakukan; serangan militer atau bahkan kecaman pun tidak dilakukan kepada Bahrain yang jelas-jelas represif terhadap rakyatnya.  Sebaliknya, serangan terhadap Irak dan Libya yang kaya minyak, dianggap legal karena ‘demi menyelamatkan rakyat Irak dan Libya’.
Praktik-praktik doktrin humanitarian  intervention di era modern ini menunjukkan bahwa doktrin ini masih tetap seperti semula: penuh kemunafikan.
Argumen lain yang menunjukkan kemunafikan doktrin ini adalah penggunaan strategi perang yang dilakukan negara-negara adidaya. Meskipun dibungkus label ‘kemanusiaan’, nyatanya mereka tetap menggunakan bom yang dijatuhkan dari pesawat. Bom, adalah senjata pembunuh massal yang tidak memiliki mata. Ia akan menghancurkan siapa saja dan apa saja. Dalam kasus Libya, meski atas izin PBB dan meski atas nama kemanusiaan, NATO justru telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Itulah sebabnya, kini ada gerakan untuk mengajukan NATO ke Pengadilan Penjahat Perang Internasional dengan tuduhan melakukan intervensi terhadap sebuah negara berdaulat, melakukan serangan dan pengeboman terhadap kota-kota, desa, menghancurkan gedung-gedung, dan membunuh rakyat sipil yang tidak bisa dijustifikasi sebagai kepentingan militer (berdasarkan The Hague International Penal Court semua perilaku NATO ini sudah cukup alasan untuk divonis sebagai penjahat perang).
Kembali kepada Angelina Jolie, apapun justifikasi yang diberikannya dalam mendukung humanitarian intervention, sesungguhnya semua itu hanya eufemisme belaka. Humanitarian intervention sesungguhnya adalah perang, tidak lebih. Libya sudah pernah menjadi korbannya. Negara yang awalnya salah satu yang terkaya di Afrika itu kini hancur dan jatuh miskin setelah dibombardir  NATO. Sama sekali tidak ada sisi ‘kemanusiaan’ dalam perang ini, yang ada hanya kehancuran bagi rakyat Libya. Keuntungan terbesar didapatkan oleh negara-negara sponsor perang, mulai dari konsesi minyak hingga debitor baru (Libya terpaksa berhutang banyak pada Barat untuk rekonstruksi negaranya).
Apakah kini dunia akan membiarkan nasib yang sama menimpa Syria? 
Dina Y. Sulaeman- alumnus magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

Tidak Benar Cadangan Minyak Habis



Sebagai sebuah catatan pribadi, saya telah meneliti masalah minyak, sejak terjadi guncangan harga minyak pada 1970an. Saya merasa tergugah pada 2003 oleh teori “Puncak Minyak” Teori ini sepertinya mampu menjelaskan keputusan Washington (yang sebelumnya tak bisa dijelaskan) untuk mempertaruhkan semuanya dalam penyerangan militer terhadap Irak.Para pendukung teori ini, yang dipimpin oleh ahli geologi BP, Collin Campbell dan bankir asal Texas, Matt Simmons, mengatakan bahwa dunia sedang menghadapi sebuah krisis baru yang mengakhiri masa minyak berharga murah, 
atau puncak Puncak Minyak Absolut, yang diperkirakan dapat terjadi pada 2012, atau 2007. Minyak sudah mencapai tetes terakhirnya. Mereka menekankan bahwa harga minyak dan gas yang terus membumbung, adalah akibat dari makin berkurangnya pasokan minyak dari Laut Utara dan Alaska, juga wilayah penghasil minyak lainnya.
Menurut Campbell, bukti utama adalah sejak 1960-an di Laut Utara, tak pernah lagi ditemukan lagi ladang minyak baru. Dengan argumen ini, ia rupa-rupanya berhasil meyakinkan Agensi Energi Internasional (IEA) dan juga pemerintah Swedia. Namun ini tak serta-merta membuktikan bahwa Campbell benar.

Fosil Intelektual?
Penganut Teori Habisnya Cadangan minyak mendasarkan teori ini pada buku-buku teks geologi Barat yang konvesional, kebanyakan dibuat oleh ahli Geologi Amerika dan Inggris, yang mengklaim bahwa minyak adalah “bahan bakar fosil,” sebuah akumulasi residu biologis dari tulang-tulang dinosaurus atau tanaman laut (algae) yang telah memfosil, yang menyebabkan persediaan dalam jumlah terbatas. Asal muasal biologis ini menjadi dasar teori Puncak Minyak, juga digunakan untuk menjelaskan mengapa minyak hanya bisa ditemukan di bagian dunia tertentu, dimana fosil-fosil terperangkap secara geologis jutaan tahun lalu. Artinya, jasad dinosaurus mati terkompresi dan selama puluhan juta tahun memfosil, dan terperangkap dalam reservoar bawah tanah (antara kedalaman 4000-6000 kaki). Dalam kasus tertentu, sejumlah besar residu biologis ini semestinya terperangkap dalam formasi bebatuan di lepas pantai lautan dangkal, semisal di teluk Meksiko, Laut Utara atau Teluk Guinea. Tugas utama geologi adalah untuk menemukan kantung-kantung minyak ini dalam lapisan kulit bumi-- disebut reservoar-- yang terletak dalam cekungan sedimen.
Teori alternatif tentang terbentuknya minyak sesungguhnya telah ada sejak awal tahun 1950-an di Rusia. Teori ini nyaris tak diketahui di Barat. Teori ini mengklaim bahwa asal-muasal biologis minyak bumi, sebagaimana dikemukakan para ahli geologi Inggris dan Amerika, adalah seseuatu yang absurd dan tak dapat dibuktikan. Teori ini menunjukan bahwa meskipun para ahli geologi Barat telah berulangkali meramalkan keterbatasan cadangan minyak sejak abad sebelumnya, cadangan minyak baru masih terus-menerus ditemukan.
Penjelasan ini tak hanya ada secara teoretis semata. Munculnya Rusia dan sebelumnya Uni Soviet sebagai salah satu produsen minyak dan gas alam terbesar merupakan bukti nyata kebenaran teori alternatif ini. Teori ini memiliki konsekuensi geopolitik yang teramat besar.

Kebutuhan: Ibu kandung inovasi
Di tahun 1950-an, Uni Soviet menghadapi isolasi “Tirai Besi” oleh Barat. Perang Dingin sedang mencapai puncaknya. Russia hanya memiliki sedikit sekali cadangan minyak untuk mendanai ekonominya. Penemuan cadangan minyak baru adalah prioritas utama negara itu.
Ilmuwan di Institut Fisika - Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan juga Institut Ilmu Geologi - Akademi Ilmu Pengetahuan Ukraina mulai mengadakan penelitian pada 1940-an dengan pertanyaan mendasar: darimana datangnya minyak?
Pada 1956 Professor. Vladimir Porfir’yev mengumumkan kesimpulan mereka: Cadangan minyak dan gas tidak ada hubungannya dengan residu biologis di bawah permukaan bumi. Cadangan ini adalah materi tua (primordial) yang tersembur dari kedalaman yang jauh. Ahli geologi Soviet mematahkan kesimpulan para geolog ortodoks dari Barat. Mereka kemudian menamakan teori asal muasal minyak mereka sebagai Teori A-Biotik—tak berhubungan dengan residu biologis—untuk membedakannya dari Teori Asal Muasal Biologis Barat.
Jika teori ini benar, maka cadangan minyak bumi dunia hanya dibatasi oleh jumlah komponen hidrokabon organis yang sudah ada di kedalaman bumi sejak pertama kali bumi terbentuk. Ketersediaan minyak akan bergantung hanya kepada teknologi yang mampu menggali sumur-sumur yang amat dalam dan juga mampu mengeksplorasi ke kedalaman perut bumi. Kesimpulan mereka ini juga berarti bahwa ladang minyak lama dapat diremajakan agar terus dapat berproduksi, ladang minyak yang dapat memperbarui diri sendiri. Mereka berpendapat bahwa minyak dibentuk jauh di dalam permukaan bumi, dalam temperatur dan tekanan yang teramat tinggi, sama seperti yang terjadi dalam proses pembentukan berlian. “ 
Minyak adalah materi tua (primordial material) yang berasal dari kedalaman bumi yang berpindah ke atas di bawah tekanan teramat tinggi melalui sebuah proses yang disebut erupsi “dingin” ke atas permukaan bumi. Demikian pernyataan Porfir’yev. Timnya mematahkan ide bahwa minyak adalah residu biologis dari fossil tumbuhan dan hewan. Teori ini dipertahankan semata untuk mempertahankan mitos bahwa persediaan minyak adalah sesuatu yang (amat) terbatas.

Menyangkal Geologi Konvensional
Pendekatan ilmiah Russia dan Ukraina yang amat berbeda dalam masalah ini, memungkinkan Uni Soviet menemukan cadangan gas dan minyak dalam jumlah besar di wilayah mereka, sesuatu yang sebelumnya dianggap tak mungkin oleh ilmu geologi konvensional Barat. Teori baru ini digunakan awal 1990-an, tak berapa lama setelah runtuhnya Uni Soviet, untuk menggali cadangan minyak dan gas di wilayah yang selama lebih dari 45 tahun dianggap sebagai daerah mandul secara geologis.—Cekungan Dnieper Donets yang terdapat di antara Russia dan Ukraina.
Mengikuti perkembangan teori baru ini, para ahli kimia dan geofisika Russia dan Ukraina membuat sebuah analisis mendetail tentang sejarah tektonis dan struktur geologis dasar cekungan Dnieper-Donets. Setelah analisis tektonis dan struktur area ini dirampungkan, mereka juga membuat penyelidikan geofisika dan geokimia.
Total 61 sumur minyak baru pun digali, 37 diantaranya produktif secara komersial, sebuah penggalian dengan tingkat sukses yang amat mengagumkan—sekitar 60 persen. Luas ladang minyak baru ini sebanding dengan ladang minyak yang ada di lereng Utara pegunungan Alaska. Sebagai pembanding, sebuah penggalian Amerika dianggap berhasil jika mencapai tingkat 10 % saja. Sembilan dari sepuluh sumur yang digali biasanya adalah “lubang kering.”
Jika Rusia memiliki kemampuan ilmiah yang tidak dimiliki geologi Amerika, Rusia memiliki kartu as yang secara geopolitis amatlah penting. Tak mengherankan jika Washington kemudian mendirikan “tembok baja”—sebuah jaringan pangkalan militer dan perisai balistik anti misil di sekeliling Rusia, juga memotong jaringan pipa minyak Rusia, untuk menutup sambungan pipa minyak dan jaringan pelabuhannya di Eropa Timur, China dan bagian-bagian lain Eurasia. Mimpi terburuk Harold Mackinder—sebuah gabungan kerjasama saling menguntungkan antara negara-negara besar di wilayah Eurasia, yang lahir karena kebutuhan untuk mendanai pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan minyak—mulai menjadi kenyataan. Ironisnya, usaha Amerika yang tanpa tendeng aling-aling merebut wilayah kaya minyak Irak, dan kemungkinan besar Iran, adalah katalisator yang mendorong kerjasama antar negara Eurasia yang sebelumnya bermusuhan, China dan Rusia, juga negara-negara Eropa Timur.

Raja Puncak Minyak
Teori Puncak Minyak didasarkan pada sebuah makalah yang dibuat oleh almarhum Marion King Hubert pada 1956. Seorang ahli geologi asal Texas yang bekerja untuk Shell Oil. Ia berargumen bahwa ladang-ladang minyak berproduksi mengikuti kurva berbentuk lonceng, dan saat puncak produksi telah dicapai, penurunan yang tak dapat dihindarkan sudah pasti terjadi. Ia meramalkan bahwa produksi minyak Amerika Serikat akan mencapai puncaknya pada 1970. Sebagai orang yang 'rendah hati', ia menamai kurva temuannya ini sesuai namanya, Kurva Hubbert, dan puncak kurva sebagai Puncak Hubbert. Saat output produksi minyak Amerika mulai mengalami penurunan sekitar tahun 1970-an , Hubbert pun menjadi terkenal.
Satu-satunya masalah, kurva ini mencapai puncaknya bukan karena makin berkurangnya cadangan di ladang minyak Amerika. Kurva ini memuncak karena Shell, Mobil, Texaco, dan perusahaan lain yang bekerjasama dengan Saudi Aramco sedang membanjiri pasar Amerika dengan impor minyak murah bebas tarif yang diproduksi Timur Tengah. Dengan harga yang sedemikian rendah, banyak perusahaan minyak lokal di California dan Texas tak dapat berkompetisi dan harus menutup ladang-ladang minyak mereka.

Sukses Vietnam
Saat perusahaan multinasional Amerika sibuk mengontrol ladang minyak raksasa di Saudi Arabia, Kuwait, Iran dan area lain yang mampu menyediakan minyak murah dalam jumlah besar pada 1960-an, Rusia malah sibuk menguji teori alternatif mereka. Mereka mulai menggali wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap mandul di Siberia. Disana terbukti kemudian mereka mampu membangun 11 ladang besar dan sebuah ladang raksasa berdasarkan taksiran geologis “a-biotik” mereka. Mereka menggali ke dasar bumi dan menemukan cadangan minyak bumi yang sebanding dengan yang terdapat di Lereng Utara Pegunungan Alaska.
Mereka kemudian pergi ke Vietnam pada 1980-an dan menawarkan diri untuk membiayai penggalian untuk menunjukkan bahwa teori mereka memang benar-benar bisa dibuktikan. Perusahaan minyak Petrosov menggali ladang minyak White Tiger di Vietnam 17.000 kaki di bawah laut dan berhasil mengekstrasi 6000 barel minyak setiap harinya dan memberikan sumbangan besar kepada ekonomi Vietnam. Di Rusia, para ahli geologi penganut teori A-Biotik menyempurnakan pengetahuan mereka dan Rusia kemudian muncul kembali sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia pada pertengahan tahun 1980-an. Hanya beberapa orang di Barat yang memahami kesuksesan Rusia, tak banyak yang repot-repot bertanya.
Dr. J. F Kenney adalah satu dari sebagian kecil ahli geofisika Barat yang telah mengajar dan bekerja di Rusia. Ia belajar di bawah arahan Vladilen Krayushkin, yang membangun ladang minyak Dnieper-Donets. Kenney memberitahukan kepada saya dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa “ untuk memproduksi minyak sebanyak yang telah dihasilkan oleh ladang minyak Ghawar (Saudi Arabia) dibutuhkan serpihan fosil dinosaurus yang jumlahnya - dengan asumsi efisiensi konversi 100% - memenuhi kubus berukuran 19 mil panjang-lebar-dan tingginya,” singkatnya sesuatu yang amat absurd.
Ahli geologi Barat tak pernah merasa perlu memberikan bukti nyata asal-muasal bahan bakar fosil. Mereka serta merta menganggapnya sebagai suatu kebenaran sakral. Rusia telah menghasilkan makalah-makalah ilmiah, kebanyakan dalam bahasa Rusia. Jurnal-jurnal ilmiah yang dominan di Barat tak berniat menerbitkan pandangan yang sebegitu revolusionernya. Sebab taruhannya terlalu besar, karir dan integritas seluruh profesi akademis yang berhubungan dengan ilmu ini.

Menutup Pintu
Penahanan Mikhail Khodorkovsky dari perusahaan minyak Rusia, Yukos Oil, terjadi sebelum ia bisa menjual bagian saham mayoritas Yukos kepada ExxonMobil setelah pertemuan pribadinya dengan Dick Cheney. Jika saja Exxon membeli bagian saham ini, maka perusahaan ini akan menguasai sumber daya manusia terbesar ahli geologi dan para insinyur yang dilatih dengan teknik penggalian dalam A-biotik.
Sejak 2003 Rusia makin sedikit membagi ilmu pengetahuannya. Tawaran mereka untuk berbagi ilmu dengan Amerika dan ahli geofisika dari negara lain ditanggapi dingin.
Mengapa memilih jalan beresiko tinggi dengan mengontrol Iraq? Selama seabad Amerika dan raksasa minyak Barat lainnya telah mengontrol produksi minyak dunia dengan mengendalikan Saudi Arabia, Kuwait atau Nigeria. Saat ini, setelah makin banyak ladang minyak raksasa mengalami penurunan produksi, kebanyakan perusahaan minyak raksasa melihat Irak dan Iran sebagai satu-satunya cadangan minyak murah yang tersisa. Dengan permintaan akan minyak yang makin meningkat dari China, dan India, secara geopolitis amatlah penting bagi Amerika untuk mengambil kendali langsung atas cadangan negara-negara Timur Tengah tersebut. Sebelum menjadi wapres, Dick Cheney bekerja di Halliburton Corp, perusahaan pelayanan geofisika terbesar di dunia. Satu-satunya ancaman potensial terhadap kendali Amerika terhadap minyak datang dari dalam Rusia dan raksasa energi Rusia yang kini dikendalikan negara.
Menurut Kenney, para ahli geofisika Rusia menggunakan teori brilian ilmuwan Jerman Alfred Wegener 30 tahun lebih awal daripada para ilmuwan Amerika yang baru “menemukan” Wegener di tahun 1960-an. Tahun 1915, Wegener menerbitkan sebuah teks yang amat berpengaruh The Origins of Continents and Oceans (Asal Muasal Benua dan Samudra), yang menyatakan bahwa 200 juta tahun lalu, dunia merupakan satu daratan yang teramat luas atau Pangaea, yang kemudian terpisah-pisah menjadi benua-benua sebagaimana kita kenal sekarang akibat apa yang ia sebut sebagai Continental Drift.
Hingga tahun 1960-an para ilmuwan Amerika seperti Dr Frank Press, penasihat ilmiah Gedung Putih menyebut Wegener sebagai “orang gila.” Para ahli geologi di akhir tahun 1960-an terpaksa menjilat ludah mereka kembali saat teori Wegener adalah satu-satunya yang mampu memberikan penjelasan yang memungkinkan mereka menemukan cadangan minyak dalam jumlah besar di Laut Utara. Mungkin saja dalam beberapa dekade ke depan, ahli geologi Barat akan memikirkan kembali mitologi asal muasal fosil mereka dan pada akhirnya menyadari apa yang telah diketahui Rusia sejak tahun 1950-an. Untuk sementara waktu Moskow masih memegang kartu truf energi paling besar di dunia.
F. William Engdahl